Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
15Activity
P. 1
Sarwo Edhi Wibowo Perintis Orde Baru Yang Tersisih

Sarwo Edhi Wibowo Perintis Orde Baru Yang Tersisih

Ratings: (0)|Views: 3,461 |Likes:
Published by Peter Kasenda
Nama Sarwo Edhie Wibowo tidak terlalu berarti apa-apa bagi kebanyakan orang sampai sebelum peristiwa kudeta Gerakan 30 September 1965. Namanya menjadi begitu dikenal ketika dia dengan kedudukan strategis sebagai Komandan RPKAD, melalui momentun yang tepat berhasil melumpuhkan markas Gestapu di Halim, dan mengeliminasi PKI di Jawa Tengah. Sarwo Edhie Wibowo mempunyai sikap tanpa kompromi dalam mempertahankan prinsip-prinsip sehingga menjauh dirinya dari pusat kekuasaaan. Sebagai Komandan RPKAD yang terlalu keras dalam menurunkan Presiden Soekarno dari kursi kekuasaannya sehingga Sarwo Edhie Wiwobo harus berpindah tempat jauh dari Jakarta. Sebagai Pangdam Bukit Barisan sikap Sarwo Edhie Wibowo yang ingin membubarkan PNI karena dianggap menganut ajaran Marxisme dan dekat dengan Presiden Soekarno, karena pilihannya itu Sarwo Edhie Wibowo harus berpindah tempat jauh di ujung Timur Indonesia Keberhasilan Sarwo Edhie Wibowo memenangkan Penentuan Pendapat Rakyat Irian Barat (Irian Jaya) ternyata hanya mengantar Sarwo Edhie Wibowo menjadi Gubernur AKABRI Umum dan Darat. Sebuah jabatan tanpa memiliki pasukan dan tanpa ada alasan yang bisa diketahui dengan pasti, Sarwo Edhie mengundurkan diri sebelum Indonesia diguncang dengan Persitiwa Lima Belas Januari 1974. Sejak itu Sarwo Edhie Wibowo tidak pernah terlibat dalam dunia militer dan perjalanan kariernya lebih banyak dihabiskan dalam Kekaryaan. Ketika Sarwo Edhie Wibowo menjadi calon anggota DPR mewakili Golkar daereh pemilihan Jakarta dengan nomor urut 1 pada tahun 1987. Ada dugaan kalau Sarwo Edhie Wibowo akan menjadi orang nomor satu dalam lembaga legislatif tersebut. Ternyata dugaan tersebut meleset, Sarwo Edhie Wibowo malahan mengundurkan diri dari DPR yang baru disandang belum sampai tujuh bulan. Perjalanan waktu telah memperlihatkan bahwa semakin jauhnya dari peristiwa yang menyebabkan nama Sarwo Edhie Wibowo menjadi sedemikian terkenal, posisi Sarwo Edhie Wibowo selanjutnya, banyak dinilai orang, tidak sepandan dengan jasa yang dimiklikinya. Tulisan ini sendiri menyoroti sumbangan Sarwo Edhie Wibowo dalam ikut menegakkan Orde Baru.


Berawal dari Purworejo
Sarwo Edhie Wibwo, lahir di Purworedjo, Jawa Tengah, Sabtu Pon 25 Juli 1925. Ia anak bungsu dari empat bersaudara keluarga R. Kartowilogo, kepala rumah gadai di Zaman Belanda. Pekerjan ayahnya adalah gambaran ideal bagi Sarwo Edhie Wibowo, model seorang pegawai negeri. Namun cita-cita itu kandas, setelah Sarwo Edhie yang doyan membaca mulai terpesona akan kemampuan serdadu Jepang mengalahkan Rusia di Manchuria. Juga karena melihat kenyataan bahwa pasukan Jepang menggulung serdadu serdadu Belanda yang menduduki Nusantara. Oleh karena itu, Sarwo Edhie Wibowo setelah tamat MULO mohon izin pada ibunya R.A. Sutini Kartowilogo untuk menjadi Heiho (pembantu tentara). Ibunya menangis, karena dia merupakan anak bungsu dan gambaran tentang militer ketika itu, mabuk-mabukan, kasar, tinggal di tangsi dan anak-anaknya tinggal di kolong ranjang. Ketika Sarwo Edhie pergi ke Surabaya untuk dididik menjadi Heiho, selama beberapa hari ibunda tercinta menangis.

Di asrama, Sarwo Edhie hanya memotong rumput, membersihkan WC dan mengatur tempat tidur tentara Jepang. Ia nyaris keluar. Tiga bulan di sana, ajudan Kohara Butai membawa Sarwo Edhie ke Magelang untuk mengikuti latihan calon bintara Pembela Tanah Air. Belum selesai dididik di sana, ia diboyong ke Bogor buat megikuti latihan sebagai calon perwira. Ternyata Sarwo Edhie memang berbakat. Ia menjadi salah satu lulusan Shodancho (Letnan Dua) terbaik, karena itu ia memperoleh pedang samurai yang agak berbeda. Ketika dia kembali ke Purwokerto, ibunya merasa senang, karena anaknya menjadi seorang tentara yang terhormat dan gagah.

Nama Sarwo Edhie Wibowo tidak terlalu berarti apa-apa bagi kebanyakan orang sampai sebelum peristiwa kudeta Gerakan 30 September 1965. Namanya menjadi begitu dikenal ketika dia dengan kedudukan strategis sebagai Komandan RPKAD, melalui momentun yang tepat berhasil melumpuhkan markas Gestapu di Halim, dan mengeliminasi PKI di Jawa Tengah. Sarwo Edhie Wibowo mempunyai sikap tanpa kompromi dalam mempertahankan prinsip-prinsip sehingga menjauh dirinya dari pusat kekuasaaan. Sebagai Komandan RPKAD yang terlalu keras dalam menurunkan Presiden Soekarno dari kursi kekuasaannya sehingga Sarwo Edhie Wiwobo harus berpindah tempat jauh dari Jakarta. Sebagai Pangdam Bukit Barisan sikap Sarwo Edhie Wibowo yang ingin membubarkan PNI karena dianggap menganut ajaran Marxisme dan dekat dengan Presiden Soekarno, karena pilihannya itu Sarwo Edhie Wibowo harus berpindah tempat jauh di ujung Timur Indonesia Keberhasilan Sarwo Edhie Wibowo memenangkan Penentuan Pendapat Rakyat Irian Barat (Irian Jaya) ternyata hanya mengantar Sarwo Edhie Wibowo menjadi Gubernur AKABRI Umum dan Darat. Sebuah jabatan tanpa memiliki pasukan dan tanpa ada alasan yang bisa diketahui dengan pasti, Sarwo Edhie mengundurkan diri sebelum Indonesia diguncang dengan Persitiwa Lima Belas Januari 1974. Sejak itu Sarwo Edhie Wibowo tidak pernah terlibat dalam dunia militer dan perjalanan kariernya lebih banyak dihabiskan dalam Kekaryaan. Ketika Sarwo Edhie Wibowo menjadi calon anggota DPR mewakili Golkar daereh pemilihan Jakarta dengan nomor urut 1 pada tahun 1987. Ada dugaan kalau Sarwo Edhie Wibowo akan menjadi orang nomor satu dalam lembaga legislatif tersebut. Ternyata dugaan tersebut meleset, Sarwo Edhie Wibowo malahan mengundurkan diri dari DPR yang baru disandang belum sampai tujuh bulan. Perjalanan waktu telah memperlihatkan bahwa semakin jauhnya dari peristiwa yang menyebabkan nama Sarwo Edhie Wibowo menjadi sedemikian terkenal, posisi Sarwo Edhie Wibowo selanjutnya, banyak dinilai orang, tidak sepandan dengan jasa yang dimiklikinya. Tulisan ini sendiri menyoroti sumbangan Sarwo Edhie Wibowo dalam ikut menegakkan Orde Baru.


Berawal dari Purworejo
Sarwo Edhie Wibwo, lahir di Purworedjo, Jawa Tengah, Sabtu Pon 25 Juli 1925. Ia anak bungsu dari empat bersaudara keluarga R. Kartowilogo, kepala rumah gadai di Zaman Belanda. Pekerjan ayahnya adalah gambaran ideal bagi Sarwo Edhie Wibowo, model seorang pegawai negeri. Namun cita-cita itu kandas, setelah Sarwo Edhie yang doyan membaca mulai terpesona akan kemampuan serdadu Jepang mengalahkan Rusia di Manchuria. Juga karena melihat kenyataan bahwa pasukan Jepang menggulung serdadu serdadu Belanda yang menduduki Nusantara. Oleh karena itu, Sarwo Edhie Wibowo setelah tamat MULO mohon izin pada ibunya R.A. Sutini Kartowilogo untuk menjadi Heiho (pembantu tentara). Ibunya menangis, karena dia merupakan anak bungsu dan gambaran tentang militer ketika itu, mabuk-mabukan, kasar, tinggal di tangsi dan anak-anaknya tinggal di kolong ranjang. Ketika Sarwo Edhie pergi ke Surabaya untuk dididik menjadi Heiho, selama beberapa hari ibunda tercinta menangis.

Di asrama, Sarwo Edhie hanya memotong rumput, membersihkan WC dan mengatur tempat tidur tentara Jepang. Ia nyaris keluar. Tiga bulan di sana, ajudan Kohara Butai membawa Sarwo Edhie ke Magelang untuk mengikuti latihan calon bintara Pembela Tanah Air. Belum selesai dididik di sana, ia diboyong ke Bogor buat megikuti latihan sebagai calon perwira. Ternyata Sarwo Edhie memang berbakat. Ia menjadi salah satu lulusan Shodancho (Letnan Dua) terbaik, karena itu ia memperoleh pedang samurai yang agak berbeda. Ketika dia kembali ke Purwokerto, ibunya merasa senang, karena anaknya menjadi seorang tentara yang terhormat dan gagah.

More info:

Published by: Peter Kasenda on Oct 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/02/2014

 
Tnrnv Jesngbe
_evh Nb`kn SkfhhTnvkgrks Hvbn Fev~ {egc Rnvsksk`
 Gele _evsh Nb`kn Skfhsh rkbej rnvaea~ fnvevrk ete,ete feck jnfeg{ejeg hvegceltek nfna~l tnvkrkse j~bnre Cnvejeg ?4 _ntrnlfnv 5;9>' Geleg{e lngmebk fnckr~bkjngea jnrkje bke bngceg jnb~b~jeg rvernck nfecek Jhlegbeg VTJEB! lnaea~klhlngr~g {egc rnter fnv`eka lna~lt~`jeg levje Cnret~ bk @eakl! beglngcnaklkgek TJK bk Mese Rngce`' _evsh Nb`kn Skfhsh lnlt~g{ek kjet regtejhltvhlk beael lnltnvre`egjeg tvkgkt,tvkgkt n`kgcce lngme~` bkvkg{e bevk t~erjnj~eeeeg' _nfecek Jhlegbeg VTJEB {egc rnvaea~ jnve beael lng~v~gjeg Tvnkbng_hnjevgh bevk j~vk jnj~eeegg{e n`kgcce _evsh Nb`kn Skshfh `ev~ fnvtkgbe`rnlter me~` bevk Mejevre' _nfecek Tegcbel F~jkr Fevkeg kjet _evsh Nb`kn Skfhsh{egc kgckg lnlf~fevjeg TGK jevnge bkegccet lngceg~r emeveg Levpkln beg bnjerbngceg Tvnkbng _hnjevgh! jevnge tkak`egg{e kr~ _evsh Nb`kn Skfhsh `ev~ fnvtkgbe`rnlter me~` bk ~m~gc Rkl~v Kgbhgnke Jnfnv`ekaeg _evsh Nb`kn Skfhsh lnlngegcjegTngngr~eg Tngbeter Vej{er Kvkeg Fever (Kvkeg Me{e+ rnvg{ere `eg{e lngcegrev _evshNb`kn Skfhsh lngmebk C~fnvg~v EJEFVK ^l~l beg Bever' _nf~e` mefereg regtelnlkakjk te~jeg beg regte ebe eaeeg {egc fke bkjnre`~k bngceg terk! _evsh Nb`knlngc~gb~vjeg bkvk nfna~l Kgbhgnke bkc~goegc bngceg Tnvkrkse Akle Fnae Meg~evk5;32' _nmej kr~ _evsh Nb`kn Skfhsh rkbej tnvge` rnvakfer beael b~gke lkakrnv beg tnvmeaegeg jevknvg{e anfk` feg{ej bk`efkjeg beael Jnjev{eeg' Jnrkje _evsh Nb`knSkfhsh lngmebk oeahg egcchre BTV lnsejkak Chajev benvn` tnlkak`eg Mejevre bngcegghlhv ~v~r 5 tebe re`~g 5;03' Ebe b~ceeg jeae~ _evsh Nb`kn Skfhsh ejeg lngmebkhvegc ghlhv er~ beael anlfece anckaerki rnvnf~r' Rnvg{ere b~ceeg rnvnf~r lnannr!_evsh Nb`kn Skfhsh leae`eg lngc~gb~vjeg bkvk bevk BTV {egc fev~ bkegbegc fna~leltek r~m~` f~aeg' Tnvmeaegeg sejr~ rnae` lnltnvak`erjeg fe`se nlejkg me~`g{e bevk tnvkrkse {egc lng{nfefjeg gele _evsh Nb`kn Skfhsh lngmebk nbnlkjkeg rnvjngea! thkk _evsh Nb`kn Skfhsh naegm~rg{e! feg{ej bkgkaek hvegc! rkbej ntegbeg bngceg mee {egc bklkjakjkg{e' R~akeg kgk ngbkvk lng{hvhrk ~lfegceg _evsh Nb`kn Skfhshbeael kj~r lngncejjeg Hvbn Fev~'
Fnveea bevk T~vhvnmh
_evsh Nb`kn Skfsh! ae`kv bk T~vshvnbmh! Mese Rngce`! _efr~ Thg 6> M~ak 5;6>'Ke egej f~gc~ bevk nlter fnve~beve jna~evce V' Jevrhskahch! jnteae v~le` cebek bk]eleg Fnaegbe' Tnjnvmeg e{e`g{e ebeae` celfeveg kbnea feck _evsh Nb`kn Skfhsh!lhbna nhvegc tncesek gncnvk' Gel~g okre,okre kr~ jegbe! nrnae` _evsh Nb`kn {egcbh{eg lnlfeoe l~aek rnvtnhge ejeg jnlelt~eg nvbeb~ Mntegc lngceae`jeg V~ke bkLego`~vke' M~ce jevnge lnak`er jng{ereeg fe`se te~jeg Mntegc lngcc~a~gc nvbeb~nvbeb~ Fnaegbe {egc lngb~b~jk G~egreve' Han` jevnge kr~! _evsh Nb`kn Skfhshnrnae` reler L^AH lh`hg k}kg tebe kf~g{e V'E' _~rkgk Jevrhskahch ~gr~j lngmebk@nk`h (tnlfegr~ rngreve+' Kf~g{e lngegck! jevnge bke lnv~tejeg egej f~gc~ begcelfeveg rngregc lkakrnv jnrkje kr~! lef~j,lef~jeg! jeev! rkgccea bk regck beg egej,
Snf= sss'tnrnvjengbe'shvbtvn'ohlNleka= lv'jengbeDcleka'ohl5
 
Tnrnv Jesngbe
egejg{e rkgccea bk jhahgc vegmegc' Jnrkje _evsh Nb`kn tnvck jn _~vefe{e ~gr~j bkbkbkj lngmebk @nk`h! naele fnfnvete `evk kf~gbe rnvokgre lngegck'
5
Bk evele! _evsh Nb`kn `eg{e lnlhrhgc v~lt~r! lnlfnvk`jeg SO beglngcer~v rnlter rkb~v rngreve Mntegc' Ke g{evk jna~ev' Rkce f~aeg bk ege! em~beg Jh`eveF~rek lnlfese _evsh Nb`kn jn Lecnaegc ~gr~j lngckj~rk aerk`eg oeahg fkgreveTnlfnae Rege` Ekv' Fna~l nanek bkbkbkj bk ege! ke bkfh{hgc jn Fhchv f~er lnckj~rkaerk`eg nfecek oeahg tnvskve' Rnvg{ere _evsh Nb`kn lnlegc fnvfejer' Ke lngmebk eae`er~ a~a~eg _`hbego`h (Anrgeg B~e+ rnvfekj! jevnge kr~ ke lnltnvhan` tnbegc el~vek{egc ecej fnvfnbe' Jnrkje bke jnlfeak jn T~vshjnvrh! kf~g{e lnvee ngegc! jevngeegejg{e lngmebk nhvegc rngreve {egc rnv`hvler beg cece`'
6
Jnlelt~eg lkakrnv _evsh Nb`kn bk~mk! nrnae` Mntegc jeae` tnvegc lnaeseg_nj~r~' Jnrkje kr~ fegce Kgbhgnke {egc lnltvhjaelekjeg jnlnvbnjeegg{e!lngbeter egoeleg bngceg ejeg jnlfeakg{e Fnaegbe' Teve tnl~be Kgbhgnke fnv~e`elngonce` jnberegceg jnlfeak Fnaegbe jn Kgbhgnke! rnretk rkbej lnlt~g{ek ngmere'^gr~j lnltnvhan` ngmere teve tnl~be Kgbhgnke (rnvle~j _evsh Nb`kn+ rnvakferbeael fngrvhjeg bngceg eaer jnj~eeeg Mntegc' Bk kgkae` tnvrele jeakg{e tnl~be njTNRE kr~ bk~mk jnrveltkaeg lkakrnvg{e fe`jeg lnaeseg c~v~,c~v~g{e '_n~be` kr~ _evshNb`kn lngckj~rk emejeg e`eferg{e nlee tngbkbkjeg TNRE Eo`leb [egk ece fnvcef~gc beael Ferea{hg KKK Febeg Jnelegeg Vej{er! {egc bkjhlegbegk han` Eo`leb[egk ngbkvk' Jnl~bkeg _evsh Nb`kn t~g rnvakfer beael tnvrnlt~veg lnaeseg _nj~r~({egc beregc ~gr~j lna~o~rk feae rngreve Mntegc+ {egc bkfhgongck rngreve GKOE bkLecnaegc' Jetrng _evsh Nb`kn {egc jnrkje kr~ bkjngea nfecek Jhlegbeg Ferea{hg YFvkcebn KPBkthghchvh fnvrnlt~v f~jeg eme lnaeseg jnj~ereg ekgc rnretk bke `ev~lnaej~jeg tng~lteeg rnv`ebet Tnlfnvhgrejeg TJK,Lebk~g beg BKRKK bk MeseRngce`'Tebe eer tnvegc jnlnvbnjeeg! _evsh Nb`kn naea~ lng{naktjeg nfkae` jnvkbktkgccegcg{e beg njeakc~ lnlfese lhvrkv ? kgok bkt~gbejg{e' Rnlfejeg _evshNb`kn ngegrkee rnter lngcngek eveg jevnge anser tnv`kr~gceg {egc leregc! {egcbkrnvkleg{e jnrkje bkbkbkj lngmebk rngreve' Jevnge jnfkeeg lnlfese nfkae` jnvk kr~lng{nfefjeg ebe hvegc,hvegc rnvrngr~ {egc lngcegccet jeae~ _evsh Nb`kn nfna~llngnlfej bngceg lhvrkv! rnvanfk` be`~a~ lnl~rev,l~rev jnvk'
?
Jnfnv`ekaeg rej naea~ fnvtk`ej tebe _evsh Nb`kn ! ke t~g tnvge` lngceaelk jnceceaeg' Jnrkje rnvmebk EcvnkLkakrnv KK! benve` J~ahg Tvhch ! {egc lnv~tejeg benve` Eo`leb [egk fnvcnvka{e ~be`bkfhl' _evsh Nb`kn bevk Tvkgc _~ver lngoevk Jhlegbeg Fvkcebn KPBkthghchvhEo`leb [egk benve` {egc bknf~r Snreg Nah bngceg oeve lnlnoe`,lnoe` lngmebkjnoka te~jegg{e' Rnvg{ere _evsh Nb`kn lnaej~jeg jneae`eg fnev bngceg tkak`egnleoel kr~' Egej f~e` _evsh Nb`kn rnvg{ere fna~l rnvaerk` ~gr~j fnvcnvka{e n`kgcce feg{ej {egc lngegck! fkgc~gc beg lkgre t~aegc'
2
5
 
 Tnvrks
k Gh' 96,> _ntrnlfnv 5;00'
6
 
_evkge`
Gh' 20,; M~ak 5;02'
?
Kfkb'
2
Elnake [egk!
 Eo`leb [egk _nhvegc Tvem~vkr RGK 
! (Mejevre= _kgev @eveteg! 5;00+! `ea' >6,>;'Snf= sss'tnrnvjengbe'shvbtvn'ohlNleka= lv'jengbeDcleka'ohl6
 
Tnrnv Jesngbe
Beael b~gke lkakrnv! _evsh Nb`kn lngc`ebetk ohfeeg {egc g{evk lnlf~er_evsh Nb`kn lngc~gb~vjeg bkvk bevk b~gke jnrngreveeg' Jnmebkeg tnvrele rnvmebk tebelee tnvegc jnlnvbnjeeg' _evsh Nb`kn fngrvhj bngceg _~jelbegk lngcngekjnfkmejegeeg! {egc lege lng{nfefjeg _evsh Nb`kn tere` nlegcer beg lngkgcceajegjhltkg{e beg ej`kvg{e lngcegcc~v bk T~vshvnbmh' Jhlegbeg Ferea{hg KKK! JetrngEo`leb [egk {egc lngcnre`~k tnvkrkse kr~ lng{~~a jn T~vshvnbmh ~gr~j lngoevk_evsh Nb`kn beg lngcemej _evsh Nb`kn ~gr~j fnvcef~gc jnlfeak' _evsh Nb`kn rej j~ee lngeltkj emejeg rnleg beg ereegg{e kr~' Jnmebkeg nv~te retk rej ele rnvmebk t~ae tebe lee n~be` vnyha~k Kgbhgnke' _evsh Nb`kn {egc fnvtegcjer Jetrngbkr~v~gjeg lngmebk Anrgeg _er~! nfecek `~j~leg bevk jhlegbegg{e {egc lngcegccet_evsh Nb`kn rej fno~ lngcerek egej f~e`g{e {egc rej fnvbkktakg' _evsh Nb`knlngc~gb~vjeg bkvk beg jnkgckgeg rnvnf~r bk~v~gcjeg nrnae` lngbeter `ebvkjeg nvresnmegceg hvegc r~e'
>
_nrnae` tngcej~eg jnbe~aereg! jevknv _evsh Nb`kn Skfhsh l~aek lngegmej'_evsh Nb`kn lngmebk Jhlegbeg Jhltk Fegr~eg Vnklng 5?! Rngreve beg Rnvkrhvk~l KYBkthghchvh (5;>6,5;>?+ beg Jhlegbeg Feaer{hg 2?;! R ) R KY Bkthghchvh (5;>>,5;>3+' _evsh Nb`kn jnl~bkeg rnvtkak` nfecek Sejka Jhlegbeg Vnklng Rev~ge!Ejebnlk Lkakrnv Gekhgea (5;>3,5;>0+ beg Jhlegbeg _njhae` Teve Jhlegbh (njevegcJhte~+' _evsh Nb`kn ej`kvg{e lngmebk Jhlegbeg VTJEB! {egc lnv~tejeg lee teakgc cnlkaegc beael tnvmeaegeg tngcefbkeg _evsh Nb`kn Skfhsh kgk rnv`ebetVnt~fakj Kgbhgnke'
Tnvrkjekeg RGK,EB ynvs~s TJK
Lngmnaegc tnvrngc`eg re`~g 5;94,eg! thkk TJK nlejkg j~er jevnge eae` er~iejrhvg{e ebeae` ebeg{e tnvakgb~gceg bevk _hnjevgh'Tvnkbng _hnjevgh ngbkvk lnlejekTJK ~gr~j lngcklfegck jnj~ereg RGK,EB' TJK l~aek lngaegoevjeg cnvejeg hingki vnyha~khgnvg{e bngceg lng~gr~r ecev _HJ_K (ekgceg _HF_K,TJK+ bkaevegc! beglngbnej rngreve ({egc lngmeaegjeg tvhcvel Okyko Lkkhg+ lnveltkgcjeg hvcegkekrnvkrhvkeag{e! j`~~g{e {egc ebe bk tnbneeg' _nlngreve kr~! nakrn RGK,EB t~g bkr~b~`lnaej~jeg jhv~tk beg lngc~a~v sejr~ beael jelteg{n egrk,Leae{ke' Jnl~bkegTJKFRK lnaejegejeg ^gbegc,^gbegc Thjhj Ecvevke lnaea~k ejk ntk`ej {egc ngckrbeg teakgc rkbej jngea elt~g bk Mese beg Feak' Tvnkbng _hnjevgh beael tkberhjngnceveeg 53 Ec~r~ 5;92! jnak`eregg{e lnlfngevjeg jnfkmejegeeg beg kjet {egcbkelfka TJK rnvnf~r'F~aeg Infv~evk 5;9>! TJK lnahgrevjeg ceceeg lngcngek tnva~g{e bkfngr~j Egcjereg Jnakle! lkakk vej{er {egc bktnvngmerek beg rnvbkvk bevk f~v~` beg regk' Lnvnje m~ce lngc~~ajeg ~te{e beael RGK bkfngr~j Jhlkevk Thakrkj {egc ae}kl rnvbeter bkgnceve,gnceve hkeak' J_EF E'@' Ge~rkhg beg J_EB Eo`leb [egk bngceg oeveg{engbkvk lnghaej ceceeg ntnvrk kr~' Thkk RGK,EB jnlfeak nlejkg rnvbnej bngcegrnvnfevg{e
 Bhj~lng Ckao`vkr 
! {egc kkg{e egreve aekg rnvbeter jere,jere
h~v ahoea evl{
'_nhae`,hae` ebe jneg tnvnjhgcjhaeg egreve RGK,EB bngceg Kgccvk‟E_ ~gr~j lnvnf~r
>
Kfkb beg
 MEJEVRE,MEJEVRE
Gh' 66?! 9,56 Hjrhfnv 5;0;'Snf= sss'tnrnvjengbe'shvbtvn'ohlNleka= lv'jengbeDcleka'ohl?

Activity (15)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Fajar Hari liked this
Ainul Yakin liked this
Agus Susilo liked this
septian_ws2179 liked this
Adila Fasha liked this
Joko Sulistiyono liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->