Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
P. 1
Tahi Bonar Simatupang Dari Militer Menuju Gereja

Tahi Bonar Simatupang Dari Militer Menuju Gereja

Ratings: (0)|Views: 512 |Likes:
Published by Peter Kasenda
Semasa hidupnya Tahi Bonar Simatupang telah mengabdikan diri sebagai prajurit, penggembala umat, pendidik dan penulis. Dalam usianya yang ketiga puluh, ia diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia menggantikan Pangklima Besar Sudirman yang meninggal dunia. Saat itu pangkatnya yang semula adalah Kolonel kemudian dinaikkan menjadi Mayor Jendral. Beberapa tahun lamanya setelah itu, boleh dibilang ia satu-satunya jendral di Republik ini. Namun pada akhirnya, ia dipensiunkan sebelum menginjak 40 tahun, karena adanya pertentangan dengan Presiden Soekarno. Sesudah itu ia kemudian aktif dalam bidang keagamaan, ia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (sekarang Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia), Ketua Dewan Gereja –Gereja se-Asia dan menjadi salah seorang Presiden dari Dewan-Dewan Gereja-Gereja se-Dunia yang mewakili benua Asia. Perpindahannya dari dunia militer ke dunia kegerejaan ,sebenarnya tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang mengejutkan. Ini mengingat semua aktivitasnya itu dilakukan demi untuk kepentingan masyarakat. Dari dunianya sana ia menjadi salah satu peletak dasar pemikiran etika untuk mengekspresikan keprihatinan gereja terhadap persoalan masyarakat Indonesia. Perhatiannya terhadap masyarakat pula yang mengantarkannya sebagai Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia dan Ketua Yayasan Institut Pembinaan dan Pendidikan Manajemen .

Kegiatan ceramah di berbagai forum dan juga menulis sejumlah buku dan artikel di Harian Sinar Harapan, (sekarang Suara Pembaruan), di mana dia salah satu pendirinya, menyebabkan banyak orang menyebutkan sebagai intelektual ABRI. Tulisan-tulisan atau buah pikiran Tahi Bonar Simatupang yang pernah mendapat gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Tulsa (AS) dalam masalah Kemanusian (1969), meliputi berbagai bidang kajian seperti masalah militer, agama, manajemen serta kenegaraan. Dan kelihatannya bidang militer merupakan masalah yang paling banyak menarik perhatiannya. Tulisan ini menaruh perhatian yang khusus terhadap riwayat kehidupan TB Simatupang yang dikaitkan dengan dunia militer. Suatu dunia yang digelutinya untuk pertama kali, dan bahkan sering disebutkan sebagai cinta pertamanya. Tentu saja tidak dilupakan dunia agama yang merupakan cinta kedua


Latar belakang Sosial
Kehadiran sejumlah pengusaha Onderniming yang mencari untung di daerah Sumatra Timur, yang mempunyai tanah subur itu, pada kenyataannya yang menghasilkan sejumlah penderitaan saja bagi masyarakat setempat. Kedatangan para penguasa Onderniming tersebut telah dimanfatkan oleh para penguasa setempat, yang rakus akan kekayaan, dengan memberikan konsesi-konsesi kepada mereka, kaum pendatang dengan tanpa memperdulikan kesejahteraan rakyatnya. Situasi semacam ini hanya membuat penguasa setempat mampu membangun tempat-tempat kediaman yang luas serta mewah, dan sebaliknya uang-uang yang bertaburan dari para pendatang itu tidak menyentuh kehidupan rakyat jelata.Dan bahkan lebih jauh lagi, mereka telah diperlakukan sebagai budak di negerinya sendiri. Keadaan seperti itu pada gilirannya justru menyuburkan lahirnya partai-partai yang berusaha mempertahankan kepentingan anak negeri yang diperlakukan secara semena-mena.

Sejak tahun 1910-an, terdapat partai-partai seperti Sarekat Islam, National Indische Partij dan Partai Komunis Indonesia. Pada tahun 1920, terjadi pemogokan kaum buruh yang sudah tidak tahan lagi diperlakukan dengan tidak adil, dan boleh dibilang ini dilakukan dengan berhasil yang membuat perusahaan Kereta Deli lumpuh. Awal tahun 1930-an rapat-rapat umum Partindo diadakan di Pematang Siantar. yang mana bertindak sebagai ketua pada masa itu adalah Adam Malik. Pada situasi seperti itu ayah Tahi Bonar Simatupang yang bernama Simon Simatupang, gelar Mangaraja Soadun yang bekerja sebagai pegawai Hindia Belanda, adalah salah seorang yang mempunyai minat besar terhadap pergerakan kebangsaan. Pada tahun 1930-an, ia ikut mendirikan Persatuan Kristen Indonesi
Semasa hidupnya Tahi Bonar Simatupang telah mengabdikan diri sebagai prajurit, penggembala umat, pendidik dan penulis. Dalam usianya yang ketiga puluh, ia diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia menggantikan Pangklima Besar Sudirman yang meninggal dunia. Saat itu pangkatnya yang semula adalah Kolonel kemudian dinaikkan menjadi Mayor Jendral. Beberapa tahun lamanya setelah itu, boleh dibilang ia satu-satunya jendral di Republik ini. Namun pada akhirnya, ia dipensiunkan sebelum menginjak 40 tahun, karena adanya pertentangan dengan Presiden Soekarno. Sesudah itu ia kemudian aktif dalam bidang keagamaan, ia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (sekarang Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia), Ketua Dewan Gereja –Gereja se-Asia dan menjadi salah seorang Presiden dari Dewan-Dewan Gereja-Gereja se-Dunia yang mewakili benua Asia. Perpindahannya dari dunia militer ke dunia kegerejaan ,sebenarnya tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang mengejutkan. Ini mengingat semua aktivitasnya itu dilakukan demi untuk kepentingan masyarakat. Dari dunianya sana ia menjadi salah satu peletak dasar pemikiran etika untuk mengekspresikan keprihatinan gereja terhadap persoalan masyarakat Indonesia. Perhatiannya terhadap masyarakat pula yang mengantarkannya sebagai Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia dan Ketua Yayasan Institut Pembinaan dan Pendidikan Manajemen .

Kegiatan ceramah di berbagai forum dan juga menulis sejumlah buku dan artikel di Harian Sinar Harapan, (sekarang Suara Pembaruan), di mana dia salah satu pendirinya, menyebabkan banyak orang menyebutkan sebagai intelektual ABRI. Tulisan-tulisan atau buah pikiran Tahi Bonar Simatupang yang pernah mendapat gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Tulsa (AS) dalam masalah Kemanusian (1969), meliputi berbagai bidang kajian seperti masalah militer, agama, manajemen serta kenegaraan. Dan kelihatannya bidang militer merupakan masalah yang paling banyak menarik perhatiannya. Tulisan ini menaruh perhatian yang khusus terhadap riwayat kehidupan TB Simatupang yang dikaitkan dengan dunia militer. Suatu dunia yang digelutinya untuk pertama kali, dan bahkan sering disebutkan sebagai cinta pertamanya. Tentu saja tidak dilupakan dunia agama yang merupakan cinta kedua


Latar belakang Sosial
Kehadiran sejumlah pengusaha Onderniming yang mencari untung di daerah Sumatra Timur, yang mempunyai tanah subur itu, pada kenyataannya yang menghasilkan sejumlah penderitaan saja bagi masyarakat setempat. Kedatangan para penguasa Onderniming tersebut telah dimanfatkan oleh para penguasa setempat, yang rakus akan kekayaan, dengan memberikan konsesi-konsesi kepada mereka, kaum pendatang dengan tanpa memperdulikan kesejahteraan rakyatnya. Situasi semacam ini hanya membuat penguasa setempat mampu membangun tempat-tempat kediaman yang luas serta mewah, dan sebaliknya uang-uang yang bertaburan dari para pendatang itu tidak menyentuh kehidupan rakyat jelata.Dan bahkan lebih jauh lagi, mereka telah diperlakukan sebagai budak di negerinya sendiri. Keadaan seperti itu pada gilirannya justru menyuburkan lahirnya partai-partai yang berusaha mempertahankan kepentingan anak negeri yang diperlakukan secara semena-mena.

Sejak tahun 1910-an, terdapat partai-partai seperti Sarekat Islam, National Indische Partij dan Partai Komunis Indonesia. Pada tahun 1920, terjadi pemogokan kaum buruh yang sudah tidak tahan lagi diperlakukan dengan tidak adil, dan boleh dibilang ini dilakukan dengan berhasil yang membuat perusahaan Kereta Deli lumpuh. Awal tahun 1930-an rapat-rapat umum Partindo diadakan di Pematang Siantar. yang mana bertindak sebagai ketua pada masa itu adalah Adam Malik. Pada situasi seperti itu ayah Tahi Bonar Simatupang yang bernama Simon Simatupang, gelar Mangaraja Soadun yang bekerja sebagai pegawai Hindia Belanda, adalah salah seorang yang mempunyai minat besar terhadap pergerakan kebangsaan. Pada tahun 1930-an, ia ikut mendirikan Persatuan Kristen Indonesi

More info:

Published by: Peter Kasenda on Oct 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/02/2014

 
Qdwds Fk|dogk
Wkeh Cnoks \hjkwtqko`Gksh Jhihwds jdotmt @dsdmk
 \djk|k ehgtqoxk Wkeh Cnoks \hjkwtqko` wdike jdo`kcghfko ghsh |dck`kh qskmtshw) qdo``djckik tjkw) qdoghghf gko qdotih|/ Gkikj t|hkoxk xko` fdwh`k qtite) hk ghko`fkw|dck`kh Fdqkik \wkb Ko`fkwko Qdsko` Sdqtcihf Hognod|hk jdo``kowhfko Qko`fihjk Cd|ks \tghsjko xko` jdoho``ki gtohk/ \kkw hwt qko`fkwoxk xko` |djtik kgkike Fninodi fdjtghkoghokhffko jdomkgh Jkxns Mdogski/ Cdcdskqk wketo ikjkoxk |dwdike hwt) cnide ghchiko` hk|kwt*|kwtoxk mdogski gh Sdqtcihf hoh/ Okjto qkgk kfehsoxk) hk ghqdo|htofko |dcditjjdo`homkf 71 wketo) fksdok kgkoxk qdswdowko`ko gdo`ko Qsd|hgdo \ndfkson/ \d|tgke hwt hkfdjtghko kfwhb gkikj chgko` fdk`kjkko) hk qdsoke jdomkckw |dck`kh Fdwtk Gdpko @dsdmk*@dsdmk gh Hognod|hk %|dfksko` Qds|dftwtko @dsdmk*@dsdmk gh Hognod|hk() Fdwtk Gdpko @dsdmk “@dsdmk |d*K|hk gko jdomkgh |kike |dnsko` Qsd|hgdo gksh Gdpko*Gdpko @dsdmk*@dsdmk |d*Gtohk xko` jdpkfhih cdotk K|hk/ Qdsqhogkekooxk gksh gtohk jhihwds fd gtohk fd`dsdmkko)|dcdoksoxk whgkf qdsit ghko``kq |dck`kh |d|tkwt xko` jdo`dmtwfko/ Hoh jdo`ho`kw |djtkkfwhrhwk|oxk hwt ghikftfko gdjh towtf fdqdowho`ko jk|xkskfkw/ Gksh gtohkoxk |kok hkjdomkgh |kike |kwt qdidwkf gk|ks qdjhfhsko dwhfk towtf jdo`df|qsd|hfko fdqshekwhoko `dsdmkwdsekgkq qds|nkiko jk|xkskfkw Hognod|hk/ Qdsekwhkooxk wdsekgkq jk|xkskfkw qtik xko`jdo`kowksfkooxk |dck`kh Fdwtk Xkxk|ko Tohrds|hwk| Fsh|wdo Hognod|hk gko Fdwtk Xkxk|koHo|whwtw Qdjchokko gko Qdoghghfko Jkokmdjdo /Fd`hkwko ldskjke gh cdsck`kh bnstj gko mt`k jdotih| |dmtjike ctft gko kswhfdi ghEkshko \hoks Ekskqko) %|dfksko` \tksk Qdjckstko() gh jkok ghk |kike |kwt qdoghshoxk)jdoxdckcfko ckoxkf nsko` jdoxdctwfko |dck`kh howdidfwtki KCSH/ Wtih|ko*wtih|ko kwkt ctke qhfhsko Wkeh Cnoks \hjkwtqko` xko` qdsoke jdogkqkw `diks Gnfwns Fdensjkwko gkshTohrds|hwk| Wti|k %K\( gkikj jk|kike Fdjkot|hko %;828() jdihqtwh cdsck`kh chgko` fkmhko|dqdswh jk|kike jhihwds) k`kjk) jkokmdjdo |dswk fdod`kskko/ Gko fdihekwkooxk chgko`jhihwds jdstqkfko jk|kike xko` qkiho` ckoxkf jdokshf qdsekwhkooxk/ Wtih|ko hoh jdokste qdsekwhko xko` fet|t| wdsekgkq shpkxkw fdehgtqko WC \hjkwtqko` xko` ghfkhwfko gdo`kogtohk jhihwds/ \tkwt gtohk xko` gh`ditwhoxk towtf qdswkjk fkih) gko ckefko |dsho` gh|dctwfko|dck`kh lhowk qdswkjkoxk/ Wdowt |kmk whgkf ghitqkfko gtohk k`kjk xko` jdstqkfko lhowkfdgtk
Ikwks cdikfko` \n|hki
Fdekghsko |dmtjike qdo`t|kek Nogdsohjho` xko` jdolksh towto` gh gkdske \tjkwskWhjts) xko` jdjqtoxkh wkoke |tcts hwt) qkgk fdoxkwkkooxk xko` jdo`ek|hifko |dmtjike qdogdshwkko |kmk ck`h jk|xkskfkw |dwdjqkw/ Fdgkwko`ko qksk qdo`tk|k Nogdsohjho` wds|dctwwdike ghjkobkwfko nide qksk qdo`tk|k |dwdjqkw) xko` skft| kfko fdfkxkko) gdo`kojdjcdshfko fno|d|h*fno|d|h fdqkgk jdsdfk) fktj qdogkwko` gdo`ko wkoqk jdjqdsgtihfkofd|dmkewdskko skfxkwoxk/ \hwtk|h |djklkj hoh ekoxk jdjctkw qdo`tk|k |dwdjqkw jkjqt
Pdc= ppp/qdwdsfk|dogk/pnsgqsd||/lnjDjkhi= js/fk|dogkA`jkhi/lnj;
 
Qdwds Fk|dogk
jdjcko`to wdjqkw*wdjqkw fdghkjko xko` itk| |dswk jdpke) gko |dckihfoxk tko`*tko`xko` cdswkctsko gksh qksk qdogkwko` hwt whgkf jdoxdowte fdehgtqko skfxkw mdikwk/Gko ckefkoidche mkte ik`h) jdsdfk wdike ghqdsikftfko |dck`kh ctgkf gh od`dshoxk |doghsh/
;
Fdkgkko|dqdswh hwt qkgk `hihskooxk mt|wst jdoxtctsfko ikehsoxk qkswkh*qkswkh xko` cdst|kekjdjqdswkekofko fdqdowho`ko kokf od`dsh xko` ghqdsikftfko |dlksk |djdok*jdok/\dmkf wketo ;8;1*ko) wdsgkqkw qkswkh*qkswkh |dqdswh \ksdfkw H|ikj) Okwhnoki Hogh|ledQkswhm gko Qkswkh Fnjtoh| Hognod|hk/ Qkgk wketo ;831) wdsmkgh qdjn`nfko fktj ctste xko`|tgke whgkf wkeko ik`h ghqdsikftfko gdo`ko whgkf kghi) gko cnide ghchiko` hoh ghikftfkogdo`ko cdsek|hi xko` jdjctkw qdst|kekko Fdsdwk Gdih itjqte/ Kpki wketo ;8<1*ko skqkw*skqkw tjtj Qkswhogn ghkgkfko gh Qdjkwko` \hkowks/
3
 xko` jkok cdswhogkf |dck`kh fdwtk qkgk jk|k hwt kgkike Kgkj Jkihf/
<
Qkgk |hwtk|h |dqdswh hwt kxke Wkeh Cnoks \hjkwtqko`xko` cdsokjk \hjno \hjkwtqko`) `diks Jko`kskmk \nkgto xko` cdfdsmk |dck`kh qd`kpkhEhoghk Cdikogk) kgkike |kike |dnsko` xko` jdjqtoxkh jhokw cd|ks wdsekgkq qds`dskfkofdcko`|kko/ Qkgk wketo ;8<1*ko) hk hftw jdoghshfko Qds|kwtko Fsh|wdo Hognod|hk) xko`fdjtghko ghko``kq |dck`kh |kike |kwt qdogketit gksh Qkswkh Fsh|wdo Hognod|hk xko` ghghshfkofdjtghko |dwdike |d|tgke Hognod|hk Jdsgdfk/ Fd`hkwko fdehgtqko `dsdmk gko qds|dfnikekoFs|hwdo whgkf itqtw mt`k gksh qdsekwhkooxk/ \hjno \hjkwtqko` xko` jdo`hftwh gdo`ko|df|kjk |tskw fkcks gko jkmkike “ gksh Ckwkrhk xko` jdoxdcksfko lhwk*lhwk fdcko`|kko)kgkike nsko` xko` skmho jdotih| kswhfdi wdowko` fdctgkxkko gh gkikj jdghk jk||k xko` cdsckek|k Ckwkf/ Hognod|hk gko mt`k Cdikogk/
7
Gkikj ikwks cdikfko` |n|hki |dqdswh hwt) WkehCnoks \hjkwtqko` ikehs gko cdsfdjcko` gh \hghfkiko`) xko` qkgk pkfwt hwt wdsidwkf ghFsd|hgdoko Wkqkotih/W/C/ \hjkwtqko` xko` ikehs qkgk wko``ki 35 Mkotksh ;831) cds|dfnike gh Eniikog|Hogiko|d \lenni %|dwho`fkw \G() Qdjkwko` \hkowks/ \dwdike cdsek|hi jdokjkwfko |dfnikeoxkgh EH\) hk fdjtghko jdikomtwfko |dfnike |dikjk wh`k wketo gh Lesh|wdihmfd Jdks Thw`dcshdgIk`ds Nogdsphm| Gs/ Onjjdo|do %\dfnike ]dogho` |dwho`fkw \JQ( gh Wkstowto`) Wkqkotih/\kkw hwt towtf qdswkjk fkihoxk ghk whgkf who``ki |dstjke gdo`ko gdo`ko nsko`wtkoxk) wdwkqhjdodwkq gh k|skjk |dfnike hwt xko` wdsidwkf gh idsdo` ctfhw/ Fdehgtqko jtshg*jtshg |dfnikeghwdjqkw wds|dctw |dnike*nike cdskgk gh kowksk gtk fdoko`ko) xkfoh ckxko`ko qkgk |dmkskeQdsko` Ckwkf jdikpko Cdikogk xko` ghikjcko`fko gdo`ko jkfkj Skmk \h|ho`kjko`kskmkgko |dmkske qdsfkcksko Homhi xko` gh|hjcnifko nide qkwto` Gs/ Onjjdo|do xko` wdsidwkf ghkwk| ctfhw/
4
 Ch|k mkgh kgkoxk fdoko`ko hwt xko` jdoxdckcfko |dsho` wdsmkghoxk qdsfdikehkokowksk jtshg*jtshg hwt gdo`ko wdowksk xko` cdskgk gh k|skjk jhihwds xko` cdsinfk|h gh |dfhwks |hwt W/C/ \hjkwtqko` |doghsh |tkwt eksh ekjqhs |kmk ght|hs gksh |dfnike) fksdok |kike |dnsko``tstoxk) |djtk |wkb qdo`kmksoxk kgkike nsko` Cdikogk) jdjds`nfhoxk wdo`ke jdjcklk ctft xko` jdjtkw qdjcdikko Hs/ \ndfkson xko` cdsmtgti
 Hognod|hk Fikk`w Kko
%Hognod|hk
;
Fksi M/ Qdi}ds)
Wndko Fdcndo gko Qdwkoh “ Qnihwhf Fninohki gko Qdsmtko`ko K`skshk
) %Mkfkswk= \hoks Ekskqko);854(/
3
Kowenox Sdhg)
 Qdsmtko`ko Skfxkw Sdrnit|h gko Ekoltsoxk Fdsdmkko gh \tjkwsk Whjts 
) %Mkfkswk= \hoks Ekskqko) ;850() eki/ ;;1“;32/
<
Kgkj Jkihf)
Jdo`kcgh Sdqtcihf “ Kgkj gksh Kogkik|) Mhihg
) %Mkfkswk= @toto` K`to`) ;853 ) eki/ ;0/
7
E/J/ Rhlwns Jkwnogko` %dg()
 Qdslkfkqko gdo`ko Gs/ W/C/ \hjkwtqko` 
) %Mkfkswk= CQF @toto` Jtihk gkoQkwdowk \dmkwh) ;852() eki/ 22“20/
4
Skmk \h \ho`kjko`kskmk xko` wdswdjckf FOHI qkgk wketo ;810 hwt jdjcdsh hmho fdqkgk Gs/ Onjdo|do)okowhoxk gh|dctkw Kqn|wdi %Sk|ti( nsko` Ckwkf) towtf jdoxdcksfko k`kjk Fsh|wdo gh gkdske fdftk|kkooxk/Pdc= ppp/qdwdsfk|dogk/pnsgqsd||/lnjDjkhi= js/fk|dogkA`jkhi/lnj3
 
Qdwds Fk|dogk
Jdo``t`kw(/
2
 Ekoxk |kmk fksdok fdqkik |dfnikeoxk jdo`ko``kq W/C/ \hjkwtqko` |dck`khjtshg xko` qkiho` ldsgk| hwt) gko hk jdo`ho`hofko k`ks WC \hjkwtqko` gkqkw jdoho`fkwfkookjk |dfnike jdikith tmhko kfehs xko` wdike gdfkw) jkfk etftjko qdo`t|hsko hwt whgkf mkghghikftfko/Gs/D/ Rdsphdcd) |dnsko` qdogdwk Mdsjko xko` jdjcdshfko qdikmksko k`kjkfdqkgkoxk) xko` fdjtghko jdomkgh Dnqenst| %\djklkj T|ftq( gksh Etshk Fsh|wdo Ckwkf Qsnwd|wko %;8<2*;871() jdjcdshfko |ksko fdqkgk \hjno \hjkwtqko`) k`ks kokfoxk gkqkwjdikomtwfko qdikmkskooxk qkgk Enn`dsd Wednin`h|led \lenni %\dfnike Who``h Wednin`hhk( ghCkwkrhk) |dwdike jdoxdid|khfko |dfnikeoxk okowh(/ Wdwkqh ck`h W/C/ \hjkwtqko` |doghshfdihekwkooxk hk ftsko` jdokste jhokw towtf jdomkgh qdogdwk/ \dckihfoxk hk mt|wstjdogkbwksfko ghsh qkgk Lesh|wdihmfd Ki`djdod Jhggdicksd \lenni %\dfnike ]dogho`|dwho`fkw \JK( gh Ckwkrhk/ Gko |kike |kwt wdjko |dfdik|oxk kgkike |dikjk wh`k wketokgkike Jnekjjkg Gkeiko Gmkjcdf xko` fdjtghko wdpk| gkikj qdsh|whpk QSSH/
0
 %Howdsokkwrnns Hognod|hled \wtgdosdo %K|skjk ck`h qdikmks gko jkek|h|pk Hognod|hk( jdstqkfkowdjqkw who``kioxk gh Ckwkrhk) gko |tk|kok k|skjk |kkw hwt ghihqtwh sk|k fdcko`|kko fksdok cdsck`kh |tft cko`|k who``ki cds|kjk gh |hwt/ Xko` jdokshf ckepk |dwhkq eksh hk qds`h fd|dfnike |dikit ekst| jdidpkwh Enn`dsd Wednin`h|led \lenni) xkfoh wdjqkw xko` oxksh|jdomkgh |dfnikeoxk/ Okjto eki hoh xko` jdoxdckcfko hk cds|kekckw gdo`ko jkek|h|pkwdnin`h) gh jkok okowhoxk gh fdjtghko eksh jdsdfk jdomkgh `dodsk|h qdswkjk qdjhjqhoGdpko*Gdpko @dsdmk gh Hognod|hk %\dfksko` Qds|dftwtko @dsdmk gh Hognod|hk(/
5
\dikjk gh Ckwkrhk) hk jdo`hftwh fd`hkwko jk|xkskfkw Fsh|wdo Qsnwd|wko Ckwkf) xko` cdsqt|kw gh @dsdmk Fdsonino`/ Qkgk pkfwt hwt) Gs/ Wngto` \twko @toto` Jtihk gko Js/Kjhs \kstbtggho jdstqkfko wnfne wdsfdoki gksh @dsdmk wds|dctw/
8
Fd`hkwko qdjtgk Fs|hwdoQsnwd|wko Ckwkf mt`k jdomkgh ck`hko gksh kfwhrhwk|oxk gh jkok |dck`hko fd`hkwkooxk cdsiko`|to` gh @dgto` Qdswdjtko Qdjtgk Fsh|wdo gh Mkiko Fdcno|hshe 77) Gko qdjtgk* qdjtgk xko` cds`kcto` gh |kok qkgk kfehsoxk okowh cdsqh|ke nide fksdok jdjhihe mkikooxkjk|ho`*jk|ho`/ \dck`kh lnowne) Jko``ksk Wkjctoko xko` jdoho``ki gtohk |dck`khJdowdsh \n|hki gksh Qksfhogn6 Ch|jksf Ninko Etwkqdk gko Mn|dq \hjkomtowkf %Xt|tb Kmhwnsnq( xko` jdjhihe mkiko fnjtoh| gko fdjtghko Ihowno` Jtihk \hwnst| xko` jdomkgh\dfsdwksh| Mdogski Qkswkh \n|hkih| Hognod|hk |kjqkh qkswkh hwt ghctcksfko qkgk wketo ;821/
Jdomkgh Wdowksk
\dwdike jdoxdid|khfko qdoghghfkooxk gh Ckwkrhk) W/C/ \hjkwtqko`) qkgk jtikoxkjdogkbwks fd Lnsq| Nqidhgho` Sd|dsrd Nbbhlhdsdo %Fnsq| Qdoghghfko Qdsphsk Lkgko`ko( Okjto qkgk fdoxkwkkooxk hk jkikeko itit| |didf|h jk|tf Fnhoihmfd Jhihwkhsd Klkgdjhd%Kfkgdjh Jhihwds Cdikogk( gh Ckogto` qkgk wketo ;871/ \dcdoksoxk kgk gtk kik|ko xko`
2
Towtf jdjkekjh qidhgnh \ndfkson/ Ihekw fkwk qdo`kowks fshwh| gksh Sn`ds F/ Qk`dw %dghwdg) wsko|ikwdg)koonwkdg kog howsngtldg() Hognod|hk Kllt|d| “ \ndfkson‘| Gdbdold Nskwhno ho wed Qnihwhlki Wshki nb ;8<1)%Ftkik Itjqts= Nubnsg Tohrds|hwx Qsd||) ;804() eki/ urhh * iuuu/
0
E/J/ Rhlwns Jkwnogko`) nq/lhw/) eki/25/
5
Hchg/
8
Towtf jdo`dwketh Fdfsh|wdoko Kjhs \mkshbtggho/ Ihekw/ Bsgdshlf Gmksk Pdiidj) Kjhs \xkshbndggho “ Qds`tjtiko Hjkooxk gkikj Qdsmtko`ko Fdjdsgdfkko) %Mkfkswk= \hoks Ekskqko) ;857() eki/ ;;<“;;2/
;1
E/J/ Rhlwns Jkwnogko`) nq/lhw/) eki/ 28/Pdc= ppp/qdwdsfk|dogk/pnsgqsd||/lnjDjkhi= js/fk|dogkA`jkhi/lnj<

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Yusak Pekei liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->