Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
hukum persaingan

hukum persaingan

Ratings: (0)|Views: 922|Likes:
Published by Putra Karno Semeru

More info:

Published by: Putra Karno Semeru on Oct 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/18/2012

pdf

text

original

 
KATA PENGANTAR
Ekonomi dunia dewasa ini bergerak sangat dinamis, dengan globalisasi sebagai motor penggeraknya. Pelan tapi pasti, globalisasi telah menjadi pendorong utama bagi munculnyaintegrasi ekonomi dunia. Di satu sisi, globalisasi telah membuka peluang yang lebih luas baginegara sedang berkembang untuk meningkatkan volume perdagangan dengan melakukanekspansi usaha ke pasar internasional. Melalui globalisasi pula dapat dilakukan peningkataninvestasi, baik langsung maupun tidak langsung yang akhirnya mendorong pertumbuhanekonomi dan lapangan kerja.Di sisi lain, globalisasi juga mendorong masuknya barang/jasa dari Negara lain dan membanjiripasar domestik. Pelaku usaha domestik kini harus berhadapan dengan pelaku usaha dariberbagai negara, dalam suasana persaingan tidak sempurna. Pelaku usaha besar dantransnasional dapat menguasai kegiatan ekonomi domestik melalui perilaku anti persaingan,seperti kartel, penyalahgunaan posisi dominan, merger/takeover, dan sebagainya.Memperhatikan persaingan antar pelaku usaha yang bertambah ketat dan tidak sempurna(imperfect competition), maka nilai-nilai persaingan usaha yang sehat perlu mendapat perhatianlebih besar dalam sistem ekonomi Indonesia. Penegakan hukum persaingan merupakaninstrumen ekonomi yang sering digunakan untuk memastikan bahwa persaingan antar pelakuusaha berlangsung dengan sehat dan hasilnya dapat terukur berupa peningkatankesejahteraan masyarakat.Secara teoritis, dalam kondisi pasar yang bersaing tidak sempurna, pelaku usaha secaraindividual atau melalui concerted action dapat menetapkan harga dan alokasi sumber dayaekonomi. Oleh karenanya, para ahli ekonomi industry telah menemukan sebuah dalil ekonomiyang menggambarkan hubungan (korelasi) antara structure (S), conduct (C), dan performance(P). Pada awalnya, organisasi industri diatur dengan sebuah paradigma yang mengatakanadanya hubungan searah antara structure, conduct and performance (SCP). Sebuah hubunganyang menggambarkan bahwa struktur (S) sebuah industri/sektor akan mempengaruhi perilaku(C), yang pada gilirannya akan menghasilkan kinerja (P) industri/sector tersebut. Kinerja industridapat berupa pertumbuhan industri, efisiensi, inovasi, deviden, profitabilitas, tingkat kepuasankonsumen dan sebagainya yang merupakan bagian dari kesejahteraan masyarakat.
 
Dalam perkembangan selanjutnya hubungan structure, conduct and performance tersebutternyata tidak lagi bergerak satu arah sebagaimana disebutkan di atas. Hasil riset ekonomimenunjukkan adanya hubungan 2 (dua) arah, hubungan saling mempengaruhi. Sebagaicontoh, melalui efisiensi (P), pelaku usaha dapat terdorong menetapkan harga lebih rendah (C)hingga ia menjadi monopoli (S). Dengan demikian kinerja dapat mengubah perilaku danakhirnya struktur pasar. Akhirnya paradigma lama berubah karena monopoli tidak selalumengakibatkan penurunan kesejahteraan rakyat.Pendekatan SCP dikenal sangat luas dan banyak diimplementasikan di beberapa negara majuseperti Amerika Serikat dan Kanada. Awalnya pendekatan tersebut lebih menekankan padaupaya merubah struktur, dari monopoli menjadi banyak pelaku usaha yang terlibat dalamsebuah industri/sektor. Dengan adanya perbaikan struktur diharapkan akan menghasilkan iklimpersaingan yang jauh lebih baik yang akan bermuara pada terjadinya peningkatankesejahteraan masyarakat.Hal ini kemudian yang melatarbelakangi mengapa hukum persaingan pada awalnya lebihdikenal sebagai hukum anti monopoli yang mengedepankan perubahan struktur sebagai syaratutamanya. Dalam perkembangan terakhir, fokus peraturan perundangan/hukum persainganlebih mengarah pada conduct/perilaku pelaku usaha. Paradigma baru ini lebih memandangconduct, yang selanjutnya disebut praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, sebagaipenyebab performansi industri rendah. Dengan demikian, boleh dikatakan bahwa hukumpersaingan lahir berawal dari dalil ekonomi. Dan hukum persaingan berkembang secaradinamis seiring dengan perkembangan paradigma Structure Conduct Performance serta risetekonomi dan hukum. Dalam perkembangan sistem ekonomi Indonesia, persaingan usahamenjadi salah satu instrumen ekonomi sejak saat reformasi digulirkan. Hal ini ditunjukkanmelalui terbitnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopolidan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Undang-Undang Nomor 5 Tahum 1999 merupakantonggak bagi diakuinya persaingan usaha yang sehat sebagai pilar ekonomi dalam sistemekonomi Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945. KelahiranUndang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 juga merupakan koreksi terhadap perkembanganekonomi yang memprihatinkan, yang terbukti tidak tahan terhadap goncangan/krisis pada tahun1997. Krisis menjelaskan kepada kita bahwa fondasi ekonomi Indonesia saat itu sangat lemah.Bahkan banyak pendapat yang mengatakan bahwa ekonomi Indonesia dibangun secara
 
melenceng dari nilai yang terkandung dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun1945.Pada masa sebelum reformasi, perekonomian didominasi oleh struktur yang terkonsentrasi.Pelaku usaha yang memiliki akses terhadap kekuasaan dapat menguasai dengan skala besar perekonomian Indonesia. Struktur monopoli dan oligopoly sangat mendominasi sektor-sektor ekonomi saat itu. Dalam perkembangannya, pelaku-pelaku usaha yang dominan bahkanberkembang menjadi konglomerasi dan menguasai dari hulu ke hilir di berbagai sektor.Disamping struktur yang terkonsentrasi, situasi perekonomian Indonesia ketika itu banyakdiwarnai pula oleh berbagai bentuk perilaku anti persaingan, seperti perilaku yang berupayamemonopoli atau menguasai sektor tertentu, melalui kartel, penyalahgunaan posisi dominan,merger/takeover, diskriminasi dan sebagainya.Akibatnya, kinerja ekonomi nasional cukup memprihatinkan. Hal tersebut ditandai denganpilihan bagi konsumen yang terbatas, kelangkaan pasokan, harga yang tak terjangkau,lapangan kerja yang terbatas, pertumbuhan industri yang lambat, daya saing produk melemahserta kesenjangan ekonomi dalam berbagai bidang kehidupan rakyat.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->