Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
11Activity
×
P. 1
Sex, Kuasa Dan Kapitalisme

Sex, Kuasa Dan Kapitalisme

Ratings: (0)|Views: 4,503|Likes:
Published by Peter Kasenda
Kita mungkin masih ingat kata-kata Camilie Paglia dan Luce Irigaray - dua feminis kontroversial – bahwa tubuh yang didalamnya bersarang sexualitas harus dipahami sebagai medan perang , bukan organ yang selamanya harmonis , Jika kemudian banyak perempuan yang bermain-main dengan tubuhnya dan menfaatkan tubuhnya untuk menyiasati modernitas . Seperti tampak dalam fenomena majalah Popular , Cosmopolitan yang melihat tubuh wanita dari tinjauan sexualitas bukan hanya rumit , dan jika tidak dilihat melalui kacamata yang jernih , bukan tidak mungkin akan kontra produktif . Atau perempuan seni tradisi yang melikuk-liuk tubuh di atas panggung satu hari penuh demi imbalan , sementara ia sadar bahwa profesinya sangat rawan gempuran pencitraan. Lalu,
apakah ini sesuatu yang terlarang ?

Dengan kata lain , perempuan seni bisa saja menggunakan tubuhnya agar mnjadi primadona , atau sebaliknya . Simak saja tayangan di beberapa televisi swasta medio Desember 2003 , Inul Daratista penyanyi yang terkenal dengan goyangan ngebornya yang sempat membuat panas beberapa seman senior , melainkan mengenai kandungannya yang mengalami keguguran . Inul sempat stress, dengan sedikit mengeluh ia berucap “ yah , bagaimana tidak stress saya kan sudah tujuh tahun menikah , tetapi sampai saat ini belum dikarunia anak . . Akhirnya , berbagai asumi bermunculan . Ada yang mengatakan bahwa Inul terlalu lelah karena harus ngebor siang dan malam . Tetapi ada yang berpendapat bahwa organ reproduksi Inul mengalami persoalan akibat dari aksi goyangnya yang terlalu berlebihan .

Analisis terus bermunculan tetapi Inul tidak ambil pusing dengan semua itu. Ia tidak perduli apakah musibah yang menimpanya sebagai kutukan karena dicemooh terlalu tampil erotis atau bukan . Yang ia tahu dan ia rasakan adalah kegundahan bahwa keguguran berarti penundaan terhadap sebuah keinginan untuk mendapatkan momongan yang selama ini diidam-idamkan . Persoalan goyangan adalah persoalan lain . Sebagai publik figure yang tiap kali berpapasan dengan khalayak ramai, mungkin Inul sudah cukup memahami profesinya yang menuntut kesadaran , bahwa tubuh merupakan milik semua orang dan bia dinikmati oleh siapa pun . Apa yang menarik dari perempuan Inul adalah, jika sewaktu-waktu ke-ada-an seorang buah hati mempengaruhi order manggung, ia siap menerimanya bahkan siap meninggalkan profesi sebagai penyanyi .

Lain halnya dengan Anisa Bahar , artis dangdut yang terkenal dengan goyang patah-patahnya juga sempat memunculkan kontroversi . Ia dituding munafik karena tidak mengakui dirinya yang sudah berstatus sebagai ibu . Tudingan ini mengarah pada satu titik simpul , bahwa status ibu mungkin berpengaruh bagi order manggungnya .Tentunya, persoalan yang menggelayut Inul dan Anisa Bahar bukan uatu keanehan . Sama tidak anehnya dengan fenomena yang terjadi pada Titi Dongkrak , siden dan penari asal Kerawang , Jawa Barat . Selain sebagai penari, Titin juga berstatus ibu dari dua orang anak yang sudah cukup berumur . Hanya saja , sampai saat ini Titin masih terus eksis di atas panggung jaipongan meskipun perjalanan usia terus merambai kehidupannya Sebuah status sebagai ibu bukan momok yang mengalami pikirannya . Ia masih bisa manggung , panjeran masih kerap ia terima , dan masyarakat masih menikmati tariannya
Kita mungkin masih ingat kata-kata Camilie Paglia dan Luce Irigaray - dua feminis kontroversial – bahwa tubuh yang didalamnya bersarang sexualitas harus dipahami sebagai medan perang , bukan organ yang selamanya harmonis , Jika kemudian banyak perempuan yang bermain-main dengan tubuhnya dan menfaatkan tubuhnya untuk menyiasati modernitas . Seperti tampak dalam fenomena majalah Popular , Cosmopolitan yang melihat tubuh wanita dari tinjauan sexualitas bukan hanya rumit , dan jika tidak dilihat melalui kacamata yang jernih , bukan tidak mungkin akan kontra produktif . Atau perempuan seni tradisi yang melikuk-liuk tubuh di atas panggung satu hari penuh demi imbalan , sementara ia sadar bahwa profesinya sangat rawan gempuran pencitraan. Lalu,
apakah ini sesuatu yang terlarang ?

Dengan kata lain , perempuan seni bisa saja menggunakan tubuhnya agar mnjadi primadona , atau sebaliknya . Simak saja tayangan di beberapa televisi swasta medio Desember 2003 , Inul Daratista penyanyi yang terkenal dengan goyangan ngebornya yang sempat membuat panas beberapa seman senior , melainkan mengenai kandungannya yang mengalami keguguran . Inul sempat stress, dengan sedikit mengeluh ia berucap “ yah , bagaimana tidak stress saya kan sudah tujuh tahun menikah , tetapi sampai saat ini belum dikarunia anak . . Akhirnya , berbagai asumi bermunculan . Ada yang mengatakan bahwa Inul terlalu lelah karena harus ngebor siang dan malam . Tetapi ada yang berpendapat bahwa organ reproduksi Inul mengalami persoalan akibat dari aksi goyangnya yang terlalu berlebihan .

Analisis terus bermunculan tetapi Inul tidak ambil pusing dengan semua itu. Ia tidak perduli apakah musibah yang menimpanya sebagai kutukan karena dicemooh terlalu tampil erotis atau bukan . Yang ia tahu dan ia rasakan adalah kegundahan bahwa keguguran berarti penundaan terhadap sebuah keinginan untuk mendapatkan momongan yang selama ini diidam-idamkan . Persoalan goyangan adalah persoalan lain . Sebagai publik figure yang tiap kali berpapasan dengan khalayak ramai, mungkin Inul sudah cukup memahami profesinya yang menuntut kesadaran , bahwa tubuh merupakan milik semua orang dan bia dinikmati oleh siapa pun . Apa yang menarik dari perempuan Inul adalah, jika sewaktu-waktu ke-ada-an seorang buah hati mempengaruhi order manggung, ia siap menerimanya bahkan siap meninggalkan profesi sebagai penyanyi .

Lain halnya dengan Anisa Bahar , artis dangdut yang terkenal dengan goyang patah-patahnya juga sempat memunculkan kontroversi . Ia dituding munafik karena tidak mengakui dirinya yang sudah berstatus sebagai ibu . Tudingan ini mengarah pada satu titik simpul , bahwa status ibu mungkin berpengaruh bagi order manggungnya .Tentunya, persoalan yang menggelayut Inul dan Anisa Bahar bukan uatu keanehan . Sama tidak anehnya dengan fenomena yang terjadi pada Titi Dongkrak , siden dan penari asal Kerawang , Jawa Barat . Selain sebagai penari, Titin juga berstatus ibu dari dua orang anak yang sudah cukup berumur . Hanya saja , sampai saat ini Titin masih terus eksis di atas panggung jaipongan meskipun perjalanan usia terus merambai kehidupannya Sebuah status sebagai ibu bukan momok yang mengalami pikirannya . Ia masih bisa manggung , panjeran masih kerap ia terima , dan masyarakat masih menikmati tariannya

More info:

Published by: Peter Kasenda on Oct 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See More
See less

03/02/2014

 
 ]ftfs Gdxflod
Xfq " Gvdxd odl Gd}ntdbnxef
Gvdxd efe}siovgxn ]fljftdavdlEnhadfb @ivhdivbt
 
Gntd evljgnl edxna nljdt gdtd%gdtd Hdenbnf ]djbnd odl Bvhf Nsnjdsd~ % ovd `fenlnxgiltsipfsxndb ‘ cdazd tvcva ~dlj onodbdel~d cfsxdsdlj xfqvdbntdx adsvx on}dadenxfcdjdn efodl }fsdlj " cvgdl isjdl ~dlj xfbdedl~d adseilnx " Kngd gfevondl cdl~dg  }fsfe}vdl ~dlj cfsednl%ednl ofljdl tvcval~d odl efl`ddtgdl tvcval~d vltvg efl~ndxdtn eiofslntdx , Xf}fstn tde}dg odbde `fliefld edkdbda
 ]i}vbds "Hixei}ibntdl
~dlj efbnadt tvcva zdlntd odsn tnlkdvdl xfqvdbntdx cvgdl adl~d svent "odl kngd tnodg onbnadt efbdbvn gdhdedtd ~dlj kfslna " cvgdl tnodg evljgnl dgdl giltsd }siovgtn` , Dtdv }fsfe}vdl xfln tsdonxn ~dlj efbngvg%bnvg tvcva on dtdx }dljjvlj xdtvadsn }flva ofen necdbdl " xfefltdsd nd xdods cdazd }si`fxnl~d xdljdt sdzdl jfe}vsdl }flhntsddl, Bdbv"d}dgda nln xfxvdtv ~dlj tfsbdsdlj 9Ofljdl gdtd bdnl " }fsfe}vdl xfln cnxd xdkd efljjvldgdl tvcval~d djds elkdon }snedoild " dtdv xfcdbngl~d , Xnedg xdkd td~dljdl on cfcfsd}d tfbfpnxn xzdxtd efoniOfxfecfs 3==8 " Nlvb Odsdtnxtd }fl~dl~n ~dlj tfsgfldb ofljdl ji~dljdl ljfcisl~d~dlj xfe}dt efecvdt }dldx cfcfsd}d xfedl xflnis " efbdnlgdl efljfldngdlovljdll~d ~dlj efljdbden gfjvjvsdl , Nlvb xfe}dt xtsfxx" ofljdl xfongnt efljfbvand cfsvhd} ‒ ~da " cdjdnedld tnodg xtsfxx
 xd~d gdl
xvoda tvkva tdavl eflngda " tftd}nxde}dn xddt nln cfbve ongdsvlnd dldg , , Dgansl~d " cfscdjdn dxven cfsevlhvbdl , Dod~dlj efljdtdgdl cdazd Nlvb tfsbdbv bfbda gdsfld adsvx
ljfcis 
xndlj odl edbde , _ftd}ndod ~dlj cfs}flod}dt cdazd isjdl sf}siovgxn Nlvb efljdbden }fsxidbdl dgncdt odsn dgxnji~dljl~d ~dlj tfsbdbv cfsbfcnadl ,Dldbnxnx tfsvx cfsevlhvbdl tftd}n Nlvb tnodg decnb }vxnlj ofljdl xfevd ntv, Nd tnodg  }fsovbn d}dgda evxncda ~dlj eflne}dl~d xfcdjdn gvtvgdl gdsfld onhfeiia tfsbdbvtde}nb fsitnx dtdv cvgdl , ^dlj nd tdav odl nd sdxdgdl dodbda gfjvlodadl cdazdgfjvjvsdl cfsdstn }flvloddl tfsadod} xfcvda gfnljnldl vltvg eflod}dtgdl eieiljdl4:6
 
~dlj xfbded nln onnode%nodegdl , ]fsxidbdl ji~dljdl dodbda }fsxidbdl bdnl , Xfcdjdn }vcbng `njvsf ~dlj tnd} gdbn cfs}d}dxdl ofljdl gadbd~dg sdedn" evljgnl Nlvb xvodahvgv} efedaden }si`fxnl~d ~dlj eflvltvt gfxdodsdl " cdazd tvcva efsv}dgdl enbnxfevd isdlj odl cnd onlngedtn ibfa xnd}d }vl , D}d ~dlj efldsng odsn }fsfe}vdl Nlvbdodbda" kngd xfzdgtv%zdgtv gf%dod%dl xfisdlj cvda adtn efe}fljdsvan
isofs 
edljjvlj"nd xnd} eflfsnedl~d cdagdl xnd} eflnljjdbgdl }si`fxn xfcdjdn }fl~dl~n ,Bdnl adbl~d ofljdl Dlnxd Cdads " dstnx odljovt ~dlj tfsgfldb ofljdl ji~dlj }dtda% }dtdal~d kvjd xfe}dt efevlhvbgdl giltsipfsxn , Nd ontvonlj evld`ng gdsfld tnodg efljdgvn onsnl~d ~dlj xvoda cfsxtdtvx xfcdjdn ncv , _vonljdl nln efljdsda }dod xdtvtntng xne}vb " cdazd xtdtvx ncv evljgnl cfs}fljdsva cdjn
isofs 
edljjvljl~d ,_fltvl~d" }fsxidbdl ~dlj efljjfbd~vt Nlvb odl Dlnxd Cdads cvgdl vdtv gfdlfadl , Xded tnodg dlfal~d ofljdl `fliefld ~dlj tfskdon }dod _ntn Oiljgsdg " xnofl odl }fldsn dxdbGfsdzdlj " Kdzd Cdsdt , Xfbdnl xfcdjdn }fldsn" _ntnl kvjd cfsxtdtvx ncv odsn ovd isdljdldg ~dlj xvoda hvgv} cfsvevs , Adl~d xdkd " xde}dn xddt nln _ntnl edxna tfsvx fgxnx ondtdx }dljjvlj kdn}iljdl efxgn}vl }fskdbdldl vxnd tfsvx efsdecdn gfanov}dll~dXfcvda xtdtvx xfcdjdn ncv cvgdl eieig ~dlj efljdbden }ngnsdll~d , Nd edxna cnxdedljjvlj "
 }dlkfsdl
edxna gfsd} nd tfsned " odl edx~dsdgdt edxna eflngedtn tdsndll~dEvljgnl giltsvgxn ~dlj tfscdljvl efedlj cfscfod , On odfsda vscdl xf}fstn Kdgdstdxtdtvx ondljjd} xdljdt }fltnlj gdsfld tvsvt efe}fljdsvan dgtnpntdx ~dlj bdnl , Ovlnd
fltfstdnltfelt 
~dlj bfcna eiofsl eflvlvt gfedlonsndl " }si`fxnildbntdx " odl xfbdbv`igvx tfsadod} }si`fxn , Xfanljjd cfsxvden odl efenbngn dldg onxnl~dbns dgdlefe}fljdsvan }si`fxnildbntdx xflnedl , _vltvtdl vltvg onxn}bnl cfsvkvlj }dod tvecvaodl gftdtl~d xfcvda giltsib ~dlj gvdt , Xfefltdsd on Gfsdzdlj " Xvcdlj " _vcdl" ]dtn "odl Cdl~vzdljn " dtdv znbd~da bdnl ~dlj edxna gfsd} efl~vjvagdl tiltildl kdn}iljdl "td~vcdl " odl jdlosvlj , Giltsvgxn xfedhde ntv cvgdl cfsdstn gftfs}nxdadl , ]fldsn "tdsndl " }fxdl" odl edgld " ~dlj dod on cdbng xfln ntv xflonsn efsv}dgdl cdjndl odsngfanov}dl edx~dsdgdt " xfanljjd xtdtvx cvgdl xdtv%xdtvl~d vgvsdl cdjn xfisdlj }fsfe}vdl xfln tsdonxn vltvg }fltdx dtdv tnodg , Evljgnl " giltsib ~dlj dod cvgdltfsbftdg }dod gftftd}dl xtdtvx " efbdnlgdl }dod tvltvtdl efgn}vl tnodg tfshdtdt xfhdsd cdgv ‘ tfsgdnt ofljdl bfltvs tvcva odl bdljjde xvdsd ,_fltvl~d cdng Nlvb Dlnxd Cdads " _ntnl Oiljgsdg " Nlosd " Vlovs%vlovs " _fev " odl }fsfe}vdl xfln ~dlj bdnl efenbngn }fsxidbdl cfsdjde efljfldn tvcval~d , Sf}sfxfltdxnon dtdx }dljjvlj dtdv on of}dl gdefsd dvoni pnxvdb xded%xded cfscdbvt ofljdl }fsednldl gvdxd ~dlj xdbnlj tdsn efldsng " tftd}n tftd} cfsevdsd }dod xdtv adb 7 ~dntvtvcva }fsfe}vdl , Gvdxd nln xdljdt efedaden cftd}d tvcva }fsfe}vdl cnxd onkdongdlic~fg cfsi}fsdxnl~d xfgve}vbdl xnxtfe fgilien ~dlj eflkdlkngdl xfgdbnjvx tfe}dt cfsxdsdljl~d giltsib gfanov}dl , Bnadt xdkd" on edld%edld xftnd} edv cnxd efl~dgxngdl cfsnonsl~d xdbil%xdbil gfhdltngdl " }vxdt%}vxdt gfcvjdsdl " `ntlfx " odl }si}djdlod onftefbdbvn cvgv odl edkdbda % cvgdl adl~d efecvdt }fsfe}vdl dtdv tfsvtded tvcvaeflkdon bfcna efbdnlgdl kvjd djds bfcna evoda ongiltsib eflvsvt gf}fsbvdl eiodb odlgfgvdxddl ,4:0
 
 Lda" giltsib xnecibnx gfgvdxddl ~dlj }dod dzdb evbdl~d cfsi}fsdxn }dod znbd~da engsinln ! tvcva nlonpnovdb . gfevondl cfsjfxfs gf}dod znbd~da cni%}ibntng odsn tvcva]fsjfxfsdl nln cfsgdntdl ofljdl gfcnkdgxdlddl lfjdsd on odbde efljflodbngdl tnljgdabdgv tvcva odbde sdljgd eflvlkdlj xtdcnbntdx ldxnildb , Xdsdld giltsib gf}flovovgdl~dlj }dbnlj f`fgtn` odl xfbded nln tfsvx ongvedlodljgdl dodbda efbdbvn giltsib dbdt%dbdtsf}siovgxn , ]dsdoigx efedlj " gdsfld tvkvdll~d cvgdl efecvdt tvcva eflkdon bfcnaxfadt , Efbdnlgdl djds gfgvdxddl ~dlj cfsgf}fltnljdl " ede}v efecdtdxn }fecndgdl kvebda edlvxnd ~dlj cnxd efsfcvt gf}fltnljdl fgilien }ibntng odl eflf}nx ode}dg bdnl ~dlj bfcna lfjdtn` " ~dntv xvdtv }fsdlj cfxds dgncdt gil`bng ~dlj tnodg cnxd onsfodeEvljgnl " odbde cfldg }fljvdxd xvoda tfs}dtsn xfcvda dljdl%dljdl bdnll~d cdazdxfedgnl xfongnt kvebda }flovovg " edgd xfedgnl evoda }vbd }fljdtvsdll~d , ! Xsnltanb "3==? ; 40 ‘ 4> .
Xfqvdbntdx odl Giltsvgxn Xixndb 
Xfq dodbda gfdoddl dldtienx odl cnibijnx " ~dntv kflnx gfbdenl kdltdl dtdv cftnldXfisdlj onbdansgdl ofljdl kflnx gfbdenl tfstfltv " xf}fstn nd onbdansgdl ofljdl cfltvg edtd dtdv kflnx sdecvt tfstfltv , Xfodljgdl xfqvdbntdx eflhdgv} xfbvsva gie}bfgxntdxfeixn " }fsdxddl " gf}sncdondl " odl xngd} dtdv zdtdg xixndb " cfsgdntdl ofljdl }fsnbdgvodl isnfltdn xfqvdb ,Dod }vbd gilxf} edxgvbnl ! gfbdgn%bdgndl . odl `fenlnl ! gfzdlntddldtdv gf}fsfe}vdl . ~dlj bfcna cfsxn`dt dcxtsdg odl eflvlkvg }dod xn`dt%xn`dt ~dljonenbngn xfevd edlvxnd " d}dgda ntv edlvxnd cfsgfbdenl kdltdl dtdv cftnld ,Dod dxvexn cdazd xn`dt tfstfltv ondxixndxngdl ofljdl `fenlntdx " odl ~dlj bdnl ofljdledxgvbnlntdx , ^dlj onjibiljgdl ‒`fenlnl enxdbl~d gf}fgddl }fsdxddl "gfxdcdsdl"gfbfecvtdl " nssdxnildbntdx " gfxftndl " xn`dt efljdbda odl bfeda " xfodlj ~dljedxgvbnl gfcfsdlndl " djsfxnpntdx " xn`dt oienldl " sdxnildbntdx " gftnodgxftnddl " odlgfgvdtdl Xfevd xn`dt ntv cnxd tfsod}dt }dod xfevd edlvxnd , Bdjn}vbd " ~dlj ondljjd}edxgvbnl odbde xdtv cvod~d " xde}dn cdtdx tfstfltv cnxd ondljjd} `fenlnl odbde cvod~dbdnl " odl xfcdbngl~d , Hnsn edxgvbnl dtdv `fenlnl ntv sfbdtn` , Ldevl dod gfhflofsvljdlefljdxixndxngdl xn`dt `fenlnl gf}dod zdlntd " odl xn`dt edxgvbnl gf}dod bdgn%b7dgnDxixndxn nln xdljdt efecdtdxn }fsnbdgv odl }fsgfecdljdl xn nlonpnov " cdagdl ede}vefeflkdsdgdll~d odbde xvdtv }fsdl xixndb ~dlj ontfltvgdl odsn bvds , Enxdbl~d "xixndbnxdxn dldg }fsfe}vdl odl bdgn%bdgn oncfodgdl odl ondsdagdl }dod eiofb%eiofb~dlj ondljjd} xfxvdn ofljdl lised gf}dltdxdl ‒gfzdlntddl― odl ‒gfbdgn%bdgndl ]dodadb gfvtvadl odl adseiln gf}sncdondl xfisdlj efsv}dgdl }fsnecdljdl xn`dtedxgvbnl odl `fenlnl , Xfisdlj bdgn%bdgn cnxd efljfxg}sfxngdl gfcfsdlndl " cdagdldjsfxnpntdx " kvjd odbde cnodlj xfqvdb, Edlvxnd ~dlj vtva nlnbda ~dlj onxfcvt ‒ dlosijnl! dlosij~lf . ‒ ~dntv gilxf} Ovd odbde Xdtv ; dlosi ! edxgvbnl . odl j~lf ! `fenlnlf . ,
Jflofs 
odl xfqvdbntdx efe}vl~dn }fsxdeddl ; gfovdl~d efe}vl~dn cdxnx cnibijnx }dodxfq " odl gfovdl~d efsv}dgdl giltsvgxn xixndb" cfsxn`dt }ibntnx " ~dntv }fljisjdlnxdxndlgf odbde xnxtfe gfgvdxddl " ~dlj eflovgvlj odl efljadsjdn nlonpnov odl gfjndtdltfstfltv " xdecnb eflfgdl odl efljavgve ~dlj bdnll~d , Dltdsd xfqvdbntdx odl
 jflofs 
 kfbdx cfsavcvljdl, Cdagdl }fsgfecdljdl xnxtfe xfqvdb efljdecnb tfe}dt odbde4::

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->