Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
18Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Unsur Ekstrinsik Dalam Puisi

Unsur Ekstrinsik Dalam Puisi

Ratings: (0)|Views: 2,412 |Likes:
Published by Mijil Aji Muliawan

More info:

Published by: Mijil Aji Muliawan on Nov 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2013

pdf

text

original

 
UNSUR EKSTRINSIK DALAM PUISI AKU1. Pendahuluan1.1 Latar BelakangMasyarakat sastra pada umumnya telah mengenal seorang Chairil Anwar, seorang penyair besaryang juga pelopor dari Angkatan 45. Walaupun ia seorang penyair besar, namun itu tidakmencerminkan kehidupannya yang nyaman seperti seseorang yang agung dan mempunyai sebuahnama besar. Kehidupannya begitu sederhana dan dinamis, bahkan lebih banyak masa-masa sulityang ia hadapi.Chairil Anwar mulai banyak dikenal oleh masyarakat dari puisinya yang paling terkenal berjudulSemangat yang kemudian berubah judul menjadi Aku. Puisi yang ia tulis pada bulan Maret tahun1943 ini banyak menyita perhatian masyarakat dalam dunia sastra. Dengan bahasa yang lugas,Chairil berani memunculkan suatu karya yang belum pernah ada sebelumnya. Pada saat itu, puisitersebut mendapat banyak kecaman dari publik karena dianggap tidak sesuai sebagaimana puisi-puisi lain pada zaman itu. Puisi tersebut tentu bukan Chairil ciptakan tanpa tujuan, hanya saja tujuandari puisi tersebut yang belum diketahui oleh masyarakat.Chairil Anwar adalah seorang penyair yang menuliskan apa saja yang ditemukannya dan dihadapinyadalam pencarian itu, sebagaimana perkataan Sastrowardoyo dalam Ginting (2007), bahwapengarang seperti Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Ajip Rosidi, dan Goenawan Mohammadterombang-ambing di antara dua kutub, kebudayaan daerah dan kota, tradisi dan modern, Timurdan Barat. Lebih lanjut lagi, dikatakan bahwa nasib manusia perbatasan adalah buah dari pencarianhendak modern itu.Jadi, puisi Aku ini adalah buah hasil dari pencarian Chairil sebagai manusia perbatasan yangterombang-ambing diantara dua kutub sebagaimana yang dikatakan oleh Sastrowardoyo. Selain itu,puisi Aku ini adalah puisi Chairil Anwar yang paling memiliki corak khas dari beberapa sajak lainnya.Alasannya, sajak Aku bersifat destruktif terhadap corak bahasa ucap yang biasa digunakan penyairPujangga Baru seperti Amir Hamzah sekalipun. Idiom binatang jalang yang digunakan dalam sajaktersebut pun sungguh suatu pendobrakan akan tradisi bahasa ucap Pujangga Baru yang masihcenderung mendayu-dayu.Puisi Aku dan Chairil Anwara adalah dua sisi yang tak pernah bisa dilepaskan. Sebagaimanapengarangnya, puisi Aku ini juga mempunyai banyak sisi yang menarik untuk diketahui lebih dalam.Oleh karena itu, penulis memilih judul tersebut untuk mengetahui lebih lanjut tentang puisi Aku danketerkaitannya dengan Chairil Anwar sebagai pengarang dari puisi tersebut. 1.2 Rumusan Masalah1. Apa yang dimaksud dengan unsur ekstrinsik?2. Bagaimana biografi singkat Chairil Anwar?3. Bagaimana unsur ekstrinsik dalam puisi Aku?
 
 1.3. Tujuan1. Menjelaskan pengertian unsur ekstrinsik.2. Memaparkan biografi singkat Chairil Anwar.3. Menerangkan unsur ekstrinsik dalam puisi Aku.2. Bahasan1. Pengertian Unsur EktrinsikKarya sastra disusun oleh dua unsur yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik, tidak terkecuali pada puisi.Unsur intrinsik karya sastra adalah unsur-unsur penyusun karya sastra yang terdapat di dalam karyatersebut, sedangkan unsur ekstrinsik karya sastra adalah unsur-unsur penyusun karya sastra yangberada di luar karya sastra (Dewi:2008).Unsur intrinsik menyusun sebuah karya sastra dari dalam yang mewujudkan struktur suatu karyasastra seperti tema, tokoh dan penokohan, alur dan pengaluran, latar dan pelataran, dan pusatpengisahan. Unsur intrinsik hanya memandang unsur-unsur yang terdapat di dalam karya saja.Penilaian yang tepat untuk menentukan unsur intrinsik ini adalah penilaian objektif, karena penilaiantersebut hanya menilai unsur-unsur yang terdapat di dalam karya yang dinilai. Penilaian objektif menganggap sebuah karya sastra adalah karya yang berdiri sendiri tanpa mengaitkan karya sastradengan sesuatu yang berada di luar karya itu, baik itu penyairnya, muapun aspek-aspek lain yangmempengaruhi.Unsur ekstrinsik sebuah karya sastra dari luarnya menyangkut aspek sosiologi, psikologi, dan lain-lain. Tidak ada sebuah karya sastra yang tumbuh otonom, tetapi selalu pasti berhubungan secaraekstrinsik dengan luar sastra, dengan sejumlah faktor kemasyarakatan seperti tradisi sastra,kebudayaan lingkungan, pembaca sastra, serta kejiwaan mereka. Dengan demikian, dapatdinyatakan bahwa unsur ekstrinsik ialah unsur yang membentuk karya sastra dari luar sastra itusendiri. Untuk melakukan pendekatan terhadap unsur ekstrinsik, diperlukan bantuan ilmu-ilmukerabat seperti sosiologi, psikologi, filsafat, dan lain-lain.Menurut Tuhusetya (2007), sebuah karya sastra yang baik mustahil dapat menghindar dari dimensikemanusiaan. Kejadian-kejadian yang terjadi dalam masyarakat pada umumnya dijadikan sumberilham bagi para sastrawan untuk membuat suatu karya sastra.Seorang sastrawan memiliki penalaran yang tinggi, mata batin yang tajam, dan memiliki daya intuitif yang peka. Kelebihan-kelebihan itu jarang sekali ditemukan pada orang awam. Dalam hal ini, karyasastra yang lahir pun akan diwarnai oleh latar belakang sosiokultural yang melingkupi kehidupansastrawannya.Suatu keabsahan jika dalam karya sastra terdapat unsur-unsur ekstrinsik yang turut mewarnai karyasastra. Unsur-unsur ektrinsik yang dimaksud seperti filsafat, psikologi, religi, gagasan, pendapat,sikap, keyakinan, dan visi lain dari pengarang dalam memandang dunia. Karena unsur-unsurekstrinsik itulah yang menyebabkan karya sastra tidak mungkin terhindar dari amanat, tendensi,unsur mendidik, dan fatwa tentang makna kearifan hidup yang ingin disampaikan kepada pembaca.
 
 Sastrawan berupaya untuk menyalurkan obsesinya agar mampu dimaknai oleh pembaca. Visi danpersepsinya tentang manusia di muka bumi bisa ditangkap oleh pembaca, dan pembaca terangsanguntuk tidak melakukan hal-hal yang berbau hedonis dan tidak memuaskan kebuasan hati. Persoalanamanat, tendensi, unsur edukatif dan nasihat bukanlah hal yang terlalu berlebihan dalam karyasastra. Bahkanunsur-unsur tersebut merupakan unsur paling esensail yang perlu digarap dengancatatan tanpa meninggalkan unsur estetikanya. Sebab jika sebuah tulisan hanya mengumbarpepatah-petitih sosial, kepincangan-kepincangan sosial, tanpa diimbangi aspek estetika, namanyabukan karya sastra. Tulisan tersebut hanyalah sebuah laporan jurnalistik yang mengeksposekejadian-kejadian negatif yang tenagh berlangsung di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, kehadiranunsur-unsur tersebut bersama dengan proses penggarapan kara sastra. 2. Biografi Singkat Chairil AnwarChairil Anwar dilahirkan di Medan pada 26 Juli 1922. Dia merupakan anak tunggal dari pasanganToeloes dan Saleha. Ayahnya bekerja sebagai pamongpraja. Ibunya masih mrmpunyai pertaliankeluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. Chairil dibesarkan dalamkeluarga yang berantakan. Kedua orang tuanya bercerai dan ayahnya menikah lagi dengan wanitalain. Setelah perceraian itu, Chairil mengikuti ibunya merantau ke Jakarta. Saai itu, ia baru lulus SMA.Chairil masuk Hollands Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktupenjajah Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs,sekolah menengah pertama Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulissebagai seorang remaja, namun tak satu pun puisi awalnya yang ditemukan. Meskipunpendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman. Iamengisi waktu luangnya dengan membaca buku-buku dari pengarang internasional ternama, sepertiRainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron.Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisitatanan kesusasteraan Indonesia.Semasa kecil di Medan, Chairil sangat dekat dengan neneknya. Keakraban ini memberikan kesanlebih pada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalahsaat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang pedihsebagaimana yang tertulis dalam kutipan (1).(1) Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahusetinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahtaSesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil sayangi. Dia bahkan terbiasa menyebutnama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu. Hal itu ia lakukan sebagai tanda bahwa ia yangmendampingi nasib ibunya. Di depan ibunya juga, Chairil sering kali kehilangan sisi liarnya. Beberapapuisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya. 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->