dunia. Dunia sains yang begitu hingar bingar memang telah memberikan sebuahkontribusi besar bagi peradaban dunia ini. Peradaban modern yang diawali denganrevolusi industri Inggris dan Perancis tahnu 1789 menjadi titik berangkatnya.Di balik kecanggihan sains modern ternyata memiliki kontribusi terhadap munculnyadiskrepansi dan dehumanisasi. Tentunya perlu ada semacam evaluasi terhadap ilmu, penggagas dan pengguna ilmu. Tak ayal muncullah apa yang disebut korupsi dalam ilmu pengetahuan yang diintrodusir oleh Arnold dalam bukunya The Corrupted Sciences:Challenging the Myths of Modern Science (1992). Ia menulis seperti ini tentang sainsmodern sekarang:
“Modern sciences and technologies are corrupt not because they are evils inthemselves… but because many perceptions in, and methods of, science are wrongin theory and in practice, and because many scientists refuse to face theconsequences of their work or make value judgements about its possibleapplications. Such an attitude makes technicians out of those who profess to practicescience.”
Menurutnya, ada semacam ketidaksejalan antara teori dan praktek dan penolakan para ilmuwan menghadapi konsekuensi dari pekerjaan mereka. Kemudian inimenghasilkan apa yang ia sebut sebagai “dosa yang mematikan dari sains modern”.Paling tidak ada delapan “dosa” yang menurutnya saling berkaitan satu sama lainnya.Pertama, orientasi mekanistis dan materialis yang eksklusif, kebanyakan sebagai warisandari agama-agama konvensional; kedua, keasyikan dalam beroperasi (’how’ things work)dengan melepaskan sebab dan akibatnya (’why’ things work).Ketiga, spesialisasi yang berlebihan yang tidak berhubungan dengan persoalan global;keempat, hanya mengungkap “pengetahuan yang tampak” (revealed knowledge) untuk menciptakan hanya satu jenis pengetahuan; kelima, melayani vested-interest dan mode;keenam, dedikasi kepada pesanan-pesanan sesuai kebutuhan, dipublikasikan,disembunyikan atau dilenyapkan; ketujuh, kepura-puraan bahwa ilmu itu adalah bebasnilai; dan kedelapan, kebanyakan dari sains dewasa ini, sebagaimana agama-agama Baratdan filsafat Barat selama ini, tidak berpusat pada manusia. Enam “dosa” terakhir