Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Islam Untuk Disiplin Ilmu Dari Sudut Pandang Psikologi

Islam Untuk Disiplin Ilmu Dari Sudut Pandang Psikologi

Ratings: (0)|Views: 514 |Likes:

More info:

Published by: Aan Safwandi EmoTicore on Nov 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/23/2013

pdf

text

original

 
ISLAM UNTUK DISIPLIN ILMU dan PSIKOLOGI
Sebelum membahas menganai hakikat pendidikan Islam sebagai disiplin Ilmu,terlebih dahulu kita bahas arti pendidikan dalam syarat-syarat suatu ilmu pengetahuan.Karena dari pembahasan ini akan muncul adanya benang merah antara pendidikan,maupun pendidikan Islam dengan ilmu pengetahuan. Menurut Dr. Sutari Barnadib ilmu pengetahuan adalah suatu uraian yang lengkap dan tersusun tentang suatu obyek.Berbeda dengan Drs. Amir Daien yang mengartikan bahwa ilmu pengetahuan adalahuraian yang sistematis dan metodis tentang suatu hal atau masalah. Oleh karena itu ilmu pengetahuan itu menguraikan tentang sesuatu, maka haruslah ilmu itu mempunyai persoalan, mampunyai masalah yang akan dibicarakan. Persoalan atau masalah yangdibahas oleh suatu ilmu pengetahuan itulah yang merupakan obyek atau sasaran dari ilmu pengetahuan tersebut. Dalam dunia ilmu pengetahuan ada dua macam obyek yaitu obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah bahan atau masalah yang menjadisasaran pembicaraan atau penyelidikan dari suatu ilmu pengetahuan. Misalnya tentangmanusia, tentang ekonomi, tentang hukum, tentang alam dan sebagainya. Sedangkanyang dimaksud dengan obyek foramal adalah sudut tinjauan dari penyelidikan atau pembicaraan suatu ilmu pengetahuan. Misalnya tentang manusia. Deri segi manakah kitamengadakan penelaahan tentang manusia itu? Dari segi tubuhnya atau dari segi jiwanya?Jika mengenai tubuhnya, mengenai bagian-bagian tubuhnya atau mengenai fungsi bagian-bagian tubuh itu. Dua macam ilmu pengetahuan dapat mempunyai obyek materialyang sama. Tetapi obyek formalnya tidak boleh sama, atau harus berbeda. Contoh ilmu psikologi dengan ilmu biologi manusia. Kedua macam ilmu pengetahuan ini mempunyaiobyek material yang sama yaitu manusia, tetapi, kedua ilmu itu mempunyai obyek formalyang berbeda.Obyek formal dari ilmu psikologi adalah keadaan atau kehidupan dari jiwa Sebelummembahas menganai hakikat pendidikan Islam sebagai disiplin Ilmu, terlebih dahulu kita bahas arti pendidikan dalam syarat-syarat suatu ilmu pengetahuan. Karena dari pembahasan ini akan muncul adanya benang merah antara pendidikan, maupun pendidikan Islam dengan ilmu pengetahuan. Menurut Dr. Sutari Barnadib ilmu
 
 pengetahuan adalah suatu uraian yang lengkap dan tersusun tentang suatu obyek2.Berbeda dengan Drs. Amir Daien yang mengartikan bahwa ilmu pengetahuan adalahuraian yang sistematis dan metodis tentang suatu hal atau masalah. Oleh karena itu ilmu pengetahuan itu menguraikan tentang sesuatu, maka haruslah ilmu itu mempunyai persoalan, mampunyai masalah yang akan dibicarakan. Persoalan atau masalah yangdibahas oleh suatu ilmu pengetahuan itulah yang merupakan obyek atau sasaran dari ilmu pengetahuan tersebut. Dalam dunia ilmu pengetahuan ada dua macam obyek yaitu obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah bahan atau masalah yang menjadisasaran pembicaraan atau penyelidikan dari suatu ilmu pengetahuan. Misalnya tentangmanusia, tentang ekonomi, tentang hukum, tentang alam dan sebagainya. Sedangkanyang dimaksud dengan obyek foramal adalah sudut tinjauan dari penyelidikan atau pembicaraan suatu ilmu pengetahuan. Misalnya tentang manusia. Deri segi manakah kitamengadakan penelaahan tentang manusia itu? Dari segi tubuhnya atau dari segi jiwanya?Jika mengenai tubuhnya, mengenai bagian-bagian tubuhnya atau mengenai fungsi bagian-bagian tubuh itu. Dua macam ilmu pengetahuan dapat mempunyai obyek materialyang sama. Tetapi obyek formalnya tidak boleh sama, atau harus berbeda. Contoh ilmu psikologi dengan ilmu biologi manusia. Kedua macam ilmu pengetahuan ini mempunyaiobyek material yang sama yaitu manusia, tetapi, kedua ilmu itu mempunyai obyek formalyang berbeda. Obyek formal dari ilmu psikologi adalah keadaan atau kehidupan dari jiwamanusia itu. Sedangkan, obyek formal dari ilmu biologi manusia adalah keadaan ataukehidupan dari tubuh manusia itu. Selanjutnya dari batasan ilmu pengetahuan di atasmengharuskan bahwa uraian dari suatu ilmu pengetahuan harus metodis. Yang dimaksuddengan metodis di sini adalah bahwa dalam mengadakan pembahasan serta penyelidikanuntuk suatu ilmu pengetahuan itu harus menggunakan cara-cara atau metode ilmiah, yaitumetode-metode yag biasa dipergunakan untuk mengadakan penyelidikan-penyelidikanilmu pengetahuan secara modern. Metode-metode yang dapat dipertanggunagjawabkan,yang dapat dikontrol dan dibuktikan kebenarannya.Melakukan sebuah pencarian ilmu menjadi sebuah tugas harian bagi paraintelektual. Pemikiran-pemikiran keilmuan yang ada senantiasa dikaji, diteliti, dandiverifikasi, sehingga menghasilkan temuan-temuan baru yang kadang mencengangkan
 
dunia. Dunia sains yang begitu hingar bingar memang telah memberikan sebuahkontribusi besar bagi peradaban dunia ini. Peradaban modern yang diawali denganrevolusi industri Inggris dan Perancis tahnu 1789 menjadi titik berangkatnya.Di balik kecanggihan sains modern ternyata memiliki kontribusi terhadap munculnyadiskrepansi dan dehumanisasi. Tentunya perlu ada semacam evaluasi terhadap ilmu, penggagas dan pengguna ilmu. Tak ayal muncullah apa yang disebut korupsi dalam ilmu pengetahuan yang diintrodusir oleh Arnold dalam bukunya The Corrupted Sciences:Challenging the Myths of Modern Science (1992). Ia menulis seperti ini tentang sainsmodern sekarang:
“Modern sciences and technologies are corrupt not because they are evils inthemselves… but because many perceptions in, and methods of, science are wrongin theory and in practice, and because many scientists refuse to face theconsequences of their work or make value judgements about its possibleapplications. Such an attitude makes technicians out of those who profess to practicescience.”
Menurutnya, ada semacam ketidaksejalan antara teori dan praktek dan penolakan para ilmuwan menghadapi konsekuensi dari pekerjaan mereka. Kemudian inimenghasilkan apa yang ia sebut sebagai “dosa yang mematikan dari sains modern”.Paling tidak ada delapan “dosa” yang menurutnya saling berkaitan satu sama lainnya.Pertama, orientasi mekanistis dan materialis yang eksklusif, kebanyakan sebagai warisandari agama-agama konvensional; kedua, keasyikan dalam beroperasi (’how’ things work)dengan melepaskan sebab dan akibatnya (’why’ things work).Ketiga, spesialisasi yang berlebihan yang tidak berhubungan dengan persoalan global;keempat, hanya mengungkap “pengetahuan yang tampak” (revealed knowledge) untuk menciptakan hanya satu jenis pengetahuan; kelima, melayani vested-interest dan mode;keenam, dedikasi kepada pesanan-pesanan sesuai kebutuhan, dipublikasikan,disembunyikan atau dilenyapkan; ketujuh, kepura-puraan bahwa ilmu itu adalah bebasnilai; dan kedelapan, kebanyakan dari sains dewasa ini, sebagaimana agama-agama Baratdan filsafat Barat selama ini, tidak berpusat pada manusia. Enam “dosa” terakhir 

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
aprilazami liked this
1 thousand reads
1 hundred reads
RaHmayanti Rahim liked this
Yusuf Phoenix liked this
Feby Polymorpa liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->