/  23
 
BAB IIIKONSEP KORUPSI DAN SANKSINYA DALAM HUKUM ISLAMA.Konsep Pemidanaan Dalam Hukum Islam
1.Pengertian
 Jarimah
dan UnsurnyaPengertian
 jarimah
atau
 jinayah
menurut Abd. Al-Qadir Awdahadalah “Perbuatan yang dilarang oleh syara’ baik perbuatan itu mengenai jiwa, harta benda, atau lainnya”.
1
 Jadi
 jinayah
merupakan suatu tindakanyang dilarang oleh syara’ karena dapat menimbulkan bahaya bagi jiwa,harta, keturunan, dan akal. Sedangkan menurut al-Mawardi
 jarimah
atau
 jinayah
adalah “Larangan-larangan syara’ yang diancam oleh Allahdengan hukuman
had 
atau
ta’zir 
”.
2
Para ulama’ dan ahli hukum Muslim awal tidak membedakanantara aspek perundangan, etika dan agama dalam syari’ah, apalagimemilah bidang-bidang hukum tertentu secara terpisah. Akibatnya prinsip- prinsip dan aturan-aturan syari’ah yang sesuai dengan apa yang dikenaldalam terminologi modern sebagai hukum pidana, pembuktian dan prosedur, hanya bisa disarikan dari risalah dan fiqh Islam yang umum danluas
3
.Oleh sebab itu, hukum Islam berbeda dengan hukum positif. HukumIslam menganggap bahwa
al-akhlak al-karimah
sebagai sendi dalam
1
Abd. Al-Qodir Awdah,
at-Tasyri’ al-Jinai al-Islami
, (Beirut: Dar al-Kutub, 1963), I: 67.
2
Al-Mawardi,
 Al-Ahkam al-Sultaniyah
, (Mesir: Dar al-Qalam, 1998), hlm. 198.
3
Abdullahi Ahmed an-Na’im,
 Dekonstruksi Syari’ah Wacana Kebebasan Sipil, Hak AsasiManusia Dan Hubungan Internasional Dalam Islam
, alihbahasa Ahmad Suaedy dan AmiruddinArrani, (Yogyakarta: LKiS, 1997), hlm. 199.
37
 
masyarakat, sehingga suatu perbuatan baru diancam pidana kalau perbuatan itu membawa kerugian pada masyarakat, sementara hukum positif tidak demikian
4
.Adapun unsur-unsur 
 jarimah
 bisa dikategorikan menjadi dua,yaitu unsur umum dan unsur khusus. Unsur umum
 jarimah
ada tigamacam, yaitu: 1) unsur formil, yaitu suatu perbuatan tidak dianggapmelawan hukum dan pelakunya tidak dapat dipidana kecuali adanya nashatau undang—undang yang mengaturnya. 2). Unsur materiil, yaitu tingkahlaku seseorang yang membentuk jarimah, baik dengan sikap berbuatmaupun sikap tidak berbuat. Dan 3). Unsur moril, yaitu pelaku
 jarimah
adalah orang yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana terhadap
 jarimah
yang dilakukannya.
5
Yang dimaksud unsur khusus adalah unsur yang hanya terdapat pada peristiwa pidana tertentu dan berbeda antaraunsur khusus pada jenis
 jarimah
yang satu dengan jenis
 jarimah
yanglainnya.2.Tujuan Pemidanaan dalam Hukum IslamMenurut al-Syatibi tidak ada satu pun dari hukum Allah yang tidak mempunyai tujuan. Hukum yang tidak mempunyai tujuan sama dengan
taklif ma la yuthaq
(pembebanan sesuatu yang tidak bisa dilaksanakan)
6
. 
4
Makhrus Munajat,
 Dekonstruksi Hukum Pidana Islam
, (Yogayakarta: Logung Pustaka,2004), hlm. 7.
5
Lihat KUHP pasal 1 ayat (1), Abd. Al-Qadir Awdah,
at-Tasyri’ 
…I: 121, Haliman,
 Hukuman Pidana Islam Menurut Ahli Sunnah Wal-Jama’ah
, (Jakarta: Bulan Bintang, 1968), hlm.48.
6
Al-syatibi,
al-Muwafaqat Fi Ushul Al Ahkam
, (Kairo: Matba’at Muhammad Ali Subayh,1970), hlm.3, 82, dan 91.
38
 
Syatibi berpandangan bahwa tujuan utama dari syari’ah ialah untuk menjaga dan memperjuangkan tiga kategori hukum, yang disebutnyasebagai
daruriyyat 
,
hajiyyat 
, dan
tahsiniyyat 
.
7
 Kajian tentang
maqashid al-syari’ah
Syatibi bertolak dari asumsi bahwa segenap syari’at yang diturunkan Allah senantiasa mengandungkemaslahatan bagi hamba-Nya untuk masa sekarang (di dunia) dansekaligus masa yang akan datang (di akhirat).
8
Dengan demikian, tujuan Tuhan menetapkan suatu syari’at bagimanusia tidak lain adalah untuk kemaslahatan manusia (
li maslahati al ‘ammah
). Termasuk di dalamnya adalah tujuan pemidanaan dalam hukumIslam, misalnya pelarangan membunuh adalah demi menjaga jiwamanusia, pelarangan minum-minuman keras sebagai bentuk penjagaanterhadap akal manusia, pelarangan zina adalah untuk menjaga kejelasanketurunan manusia dan lain sebagainya.3.Pembagian
 Jarimah
dan
Uqubah
nya
7
 
 Ibid 
. II, hlm. 4.
 Daruruiyyat 
adalah aspek-aspek hukum yang sangat dibutuhkan demi berlangsungnya urusan-urusan agama dan keduniaan manusia secara baik.
 Hajiyyat 
merupakanaspek-aspek hukum yang dibutuhkan untuk meringankan beban yang teramat berat, sehinggahukum dapat dilaksanakan tanpa rasa tertekan dan terkekang. Dan
Tahsiniyyat 
merupakan aspek-aspek hukum seperti anjuran untuk memerdekakan budak, berwudhu’ sebelum shalat, bersedekahkepada orang miskin dan sebagainya. Hal-hal tersebut bukanlah merupakan kebutuhan yangmendesak dalam pengertian apabila tidak dilaksanakan maka hukum menjadi tidak berjalan dantidak lengkap, dan tidak melaksanakannya tidaklah merugikan
daruriyyat 
atau
tahsiniyyat 
, namunmereka sangat berarti dalam memberikan nilai tambah bagi karakter syari’ah secara umum.
8
 
 Ibid 
.,
39

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...