/  11
 
 
MYOPIA MUTU SEBAGAI
 LATENT 
DALAM PERSAINGANDANPERTUMBUHAN (KEMAMPUAN) BISNIS
(Suatu Tinjauan Terhadap Arah Perkembangan Pasar dalam Kaitannya dengan Pengertian MutuSebagai Suatu Strategi Pasar dan Peran Bisnis Perusahaan- Perusahaan Negara (BUMN) danPerusahaan- Perusahaan Lokal di Indonesia)
 Oleh :
Haery Sihombing (IP)Abstrak
Pasar modern dewasa ini adalah pasar yang sedikit memberikan celah bagi (calon) pelaku- pelaku bisniskonvensional untuk bertahan dan mampu unggul terhadap pesaing- pesaingnya. Khususnya di negara-negara berkembang, pasar menjadi sangat kejam ketika hukum dan aturan- aturan yang ada belumcukup dan
reliable
keandalannya terhadap pengaturan ‘permainan’ dalam ‘perang’ bisnis antar organisasi- organisasi bisnis yang ada.Sesuai dengan laju pertumbuhan ekonomi yang terus bergerak naik sebagai gambaran dari kesadaranekonomi masyarakat di negara- negara berkembang, penggunaan sumber- sumber daya yang ada di-dan ter-‘eksploitasi’ sebesar- besarnya untuk mendapatkan dan mengejar angka pertumbuhan ekonomiyang ‘fantastis’ sebagai citra dari gempitanya pembangunan yang berhasil dilakukan pemerintah terhadapnegaranya.Kerangka standar dan ‘pengertian baru’ , seperti kepuasan pelanggan, bentuk- bentuk sertifikasi produkmaupun managemen sistem (mis : ISO dan sejenisnya, bentuk- bentuk metode dan konsep mutu : QCC,Six Sigma, Balanced Scorecard, BPR, dsb.), konsultan- konsultan managemen dan finansial lokal atauasing, terhadap organisasi- organisasi bisnis yang ada dianggap sebagai suatu pencerahan dan bentukorganisasi bisnis yang unggul. Pengertian akan mutu tidak ditempatkan dalam suatu kesadaran strategibisnis modern yaitu menjadi organisasi bisnis yang berdaulat.Pasar di negara- negara berkembang menjadi kolonial ekonomi pelaku- pelaku bisnis internasional yangsecara mudah mendikte arah pembangunan dengan eksploitasi sumber- sumber daya yang ada dinegara- negara tersebut tanpa membawanya menjadi suatu negara yang memiliki kesadaran terhadaporganisasi- organisasi bisnis yang tumbuh agar berkemampuan unggul secara internasional, sehinggapada gilirannya dapat mendukung kemampuan ekonomi negara- negara tersebut. Pasar negara- negaraberkembang, khususnya Indonesia, sekalipun pada masa ini kembali ‘menggeliat’ bangun, ternyatamenyimpan potensi- potensi untuk runtuh kembali serta ter-‘penjara’ (potensi
latent 
) dalam kerangkapeng-‘hisap’-an kekayaan semua sumber daya alamnya hingga pada saatnya habis untuk kembaliditinggalkan. (“
habis manis sepah dibuang” 
)
I. PENDAHULUAN
Sejak pertengahan tahun 90-an ketika beberapa negara- negara Asia dan Timur Jauh (
 far-east andsouth east asia
) yang digambarkan sebagai suatu regional pertumbuhan ekonomi baru, yangdikatakan sebagai daearh muculnya ‘macan asia’, mencapai tingkat pertumbuhan ekonomiyang ‘gempita’ dibanding regional- regional ekonomi di belahan dunia lainnya. Kedaan tersebuttidak terlepas dari peran dan menjadi sorotan pelaku- pelaku bisnis internasional sehinggainvestasi- investasi dari negara- negara maju mengalir deras untuk memenuhi wilayah tersebut.
 
Namun demikian, ‘gempitanya’ pertumbuhan ekonomi tadi segera diguncang dengan resesiekonomi yang berawal dari naiknya mata uang dollar terhadap mata uang lokal dikarenakankondisi pertumbuhan tadi begitu memanas dengan ‘pinjaman- pinjaman’ asing sehingga padakondisi klimaks menjadi penghancur. Kasus tersebut dapat dianalogikan seperti halnyaterhadap penggunaan energi nuklir sebagai suatu sumber energi murah yang memiliki potensidan energi yang sangat besar. Namun karena pengelolaannya tidak cukup baik, maka energitersebut kemudian tidak terkendali (reaksi berantainya) hingga menjadi penghancur besar.Beberapa negara pada kawasan tersebut mampu lolos dan kembali bertumbuh pada arahsemula untuk membangun infrastruktur ekonominya secara perlahan. Pada sisi lain, untukbeberapa negara yang runtuh tersebut, hanya terpengaruh sejenak dan kemudian bangkitsecepatnya. Indonesia sendiri, yang juga kondisi ekonominya terguncang dengan keadaantersebut, pada kenyataannya memiliki kesulitan untuk bangkit dibandingkan negara- negaralainnya pada kawasan tersebut. Keadaan tadi juga kemudian dipengaruhi oleh pertumbuhandaerah- daerah investasi baru seperti Vietnam dan kawasan sekitarnya (China, Thailand, dsb.)yang mampu memberikan tawaran yang lebih menarik bagi pelaku- pelaku bisnis internasionaluntuk menanamkan modalnya, selain dari kesadaran dan kemampuan infrastruktur internalnyayang telah terbangun menjadi bangunan persaingan bisnis.Masalah- masalah yang berkenaan dengan divestasi perusahaan- perusahaan yang runtuhketika resesi ekonomi terjadi di Indonesia, serta usaha- usaha penyehatan yang dilakukanpemerintah dengan penyuntikan dana melalui pinjaman- pinjaman dari investor moneter asing,ternyata tidak segera dengan cepat membangunkan kondisi perekonomian Indonesia untukbangun, sekalipun pada saat kini telah mulai pulih. Indonesia membutuhkan waktu yang cukuplama untuk membangun kembali kondisi ekonominya.Selayaknya orang sakit, kepulihan belum berarti kembali sehat, namun masih perlu perawatanyang cukup dan intensif untuk dikatakan sehat dan kuat. Hal ini juga berlaku terhadapkemampuan bersaing organisasi- organisasi bisnis yang ada di dalamnya, khususnyaperusahaan- perusahaan negara (BUMN) yang memiliki ciri yang kental dari campur tanganpemerintah di dalam kepentingan bisnis merujuk kepada tujuan awal dari didirikannya, serta‘pengkondisiannya’ untuk bersaing terhadap pasar lokal maupun internasional.
II. MYOPIA BISNIS : KEPUASAN PELANGGAN = MUTU.
Adalah hal yang umum ketika suatu organisasi bisnis dikaitkan dengan strategi yang berkenaandalam hal mutu, baik terhadap produk maupun
service
yang diberikan. Kata mujarab:”
Kepuasan Pelanggan
” menjadi suatu ‘paradigma’ baru bagi pelaku- pelaku bisnis diIndonesia setelah sebelumnya ke- ‘candu’-an
trend
standar intenasional seperti ISO 9001, 14001,dsb., yang menjadi suatu ‘kebanggaan’ bagi pelaku- pelaku bisnis. Keadaan tersebut juga terjadibersamaan dengan suburnya pengertain dan pemahaman terhadap konsep- konsep manajemendan kepemimpinan yang sebenarnya bukan hal yang baru. Merujuk kepada sejarah dan ajaran-ajaran filosofi maupun agama yang dianut, secara eksplisit maupun implist, telah mengatakanmengenai sesuatu yang dapat dipahami sebagai suatu sistem manajemen dan kepemimpinantersebut. Hal ini terlihat dari logika- logika perumpamaan- perumpamaan dan kisah- kisah si‘pelaku’, maupun yang berkenaan dengan ‘perilaku-perilaku’ dalam situasi dan kondisi yangdihadapinya seperti diceritakan di banyak buku- buku kepemimpinan dan manajemen ‘
best
 
seller 
’ yang menjadi bacaan umum dan populer. Covey, dengan “
The Seven Habit
” dan beberapatulisan lainnya, Aa Gym dengan “Manajemen Qalbu”, atau Gede Parama dan banyak penulislainnya menyerap pemahaman yang terdapat dalam ajaran agama untuk diartikusasikansebagai suatu konsep manajemen dan kepemimpinan. Tidaklah asing jikalau kita sendiri dapatmenggalinya dalam pemahaman anutan agama yang kita yakini, bukan?Dikaitkan dengan masalah mutu, mutu bukan suatu keunggulan bila dikatakan sebagaipembeda, namun suatu pemberian dikarenakan bagaimana mengenal dan mencintai konsumenadalah bukan suatu pembeda(2) Maka selayaknya organisasi- organisasi bisnis memberikanmutu bagi layanan dan produknya terhadap konsumen adalah sebagai suatu keharusan yangwajar. Sehingga dengan demikian, maka suatu hal yang kritis dalam persaingan efektif adalahketika kemampuan untuk mengidentifikasikan peluang dijadikan suatu prasyarat tertinggidalam usaha pengembangan bisnis (baik terhadap produk dan layanan yang diberikan) yangdilakukan oleh organisasi bisnis untuk membawanya ke pasar produk baru melalui suatuproses secara cepat(3).Pelanggan puas adalah kondisi ketika pelanggan beropini puas terhadap produk dan layananyang diterimanya, baik secara sadar maupun tidak. Tidak dikatakan apakah pengertian tadidalam konteks pelanggan memiliki perasaan bebas atau terpaksa, sadar atau tidak. Jikakepuasan pelanggan menjadi suatu kata ajaib dalam persaingan bisnis, maka kepuasan tersebutadalah suatu pemberian yang diusahakan oleh organisasi bisnis (produsen) dan bukan tidakterbatas, karena tidak semua pelanggan (konsumen) puas.Konsumen tidaklah selalu benar. Mereka bingung dan pada dasarnya emosional. Merekamembuat kesalahan- kesalahan dan mereka lupa sesuatu(2). Komponen emosional dalam dirikonsumen pada pasar modern dewasa ini adalah obyek yang menjadi motivasi konsumenuntuk membeli, sekalipun pada akhirnya tidak ada jaminan bahwa konsumen akan bertahandengan apa yang dihasilkan oleh satu produsen yang bagaimanapun baiknya suatu produk danlayanan yang mampu dan telah diberikan oleh produsen tersebut(4).Ketika organisasi- organisasi bisnis hanya menfokuskan kepuasan dalam kerangka pengejaranapa yang diinginkan oleh konsumen sebagai pengertian mutu tradisional dari bisnis, makapotensi- potensi yang dimiliknya ter-
 plot
kepada bentuk- bentuk yang mudah dilakukan dandiketahui oleh pesaing siapapun, serta mudah dipatahkan oleh pesaing- pesaing lainnya biladikatakan sebagai suatu strategi. Misal: Harga murah, siapapun tahu dan ingin. Tepat waktu,siapapun mau dan ada, serta wajar dalam keseharian manusia modern yang mempergunakanwaktu.Keunggulan dalam persaingan pasar bukan berarti kepuasan konsumen dengan hal- hal yangsudah wajar dalam hal yang seharusnya diberikan. Pengertian mutu dari kepuasaan pelangganseperti hal tersebut terlalu naif dan sempit. Kepuasan konsumen ideal adalah kepuasan yangberfokus kepada penemuan oleh konsumen sebagai suatu kesadaran terhadap suatu kebutuhanbaru melalui penterjemahan yang dilakukan oleh organisasi- organisasi bisnis dalammengartikulasikan abstraknya keinginan konsumen, serta membawa organisasi- organisasibisnis tadi berada pada posisi yang aman untuk tidak runtuh dan bangkrut! Apapun bentukpenghargaan mutu yang didapatkan oleh organisasi- organisasi bisnis, termasuk jugapenghargaan karena kepuasaan konsumen yang diberikan, tidaklah berarti bila organisasi

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...

sihombing15left a comment

Ada 2 peranan telekomunikasi dalam perpektif bisnis, yaitu ke dalam atau secara internal terhadap perusahaan telekomunikasi itu sendiri, maupun ke luar, yaitu dalam hal pengguna jasa telekomunikasi. Secara internal, telekomunikasi sebagai suatu produk adalah memerlukan pasar. Oleh karenanya, perusahaan telekomunikasi perlu memerankan dirinya terhadap pasar agar produk/jasa yang mereka jual kepada pasar dapat diterima. Kepada tingkatan pasar yang berbeda, maka dalam hal ini perusahaan perlu memformulasikan strategi bisnisnya dengan ragam aktifitas bisnis yang lentur sebagai implementasi terhadap tujuan dan visi organisasi bisnis tersebut agar perusahaan dapat memperoleh keuntungan. Sedangkan terhadap pengguna, baik perorangan maupun perusahaan, maka hakikat dari kebutuhan mereka harus disediakan oleh perusahaan penyedia layanan tadi. Bila telekomunikasi tersebut menjadi bagian dari operasional pengguna jasa layanan tersebut, maka akselerasi mobilitas dan jalannya bisnis (untuk perusahaan sebagai pengguna) harus ditetapkan apa yang menjadi pokok utama terhadap kriteria dan fitur dari telekomunikasi yang diperlukan, serta sejauh mana jenis layanan yang disediakan untuk digunakan tersebut dapat meningkatkan besaran keuntungan perusahaan sebagai pengguna. Oleh karenanya, domain telekomunikasi terhadap pasar adalah 'inti' daripada bisnis itu sendiri. Sebab bisnis adalah berpijak pada bagaimana cara mengkomunikasikan diri antara penawaran terhadap permintaan, yang tentunya pelbagai kepentingan menjadi sumber utama terhadap interaksi kedua hal tadi di mana dewasa ini peran telekomunikasi tadi bukan hanya terletak sebagai sebuah produk saja, namun juga sebagai kepentingan yang dapat dipertukarkan terhadap permintaan dan penyediaan sebagai sebuah komunikasi dan infomasi.