Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
29Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Penilaian Sikap Dan Nilai

Penilaian Sikap Dan Nilai

Ratings: (0)|Views: 5,131|Likes:
Published by Suwahono, M.Pd

More info:

Published by: Suwahono, M.Pd on Nov 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

05/22/2013

pdf

text

original

 
PENILAIAN SIKAP DAN NILAIDALAM PEMBELAJARAN FISIKA
Joko Budi Poernomo, M.pdA.PendahuluanSalah satu aspek yang mendapat sorotan tajam masyarakat dalam dunia pendidikan dewasa ini adalah lemahnya hasil pembelajaran nilai, yang berdampak rendahnya budi pekerti para lulusan pada berbagai jenjang pendidikan.Kelemahan ini disinyalir akibat lemahnya pendidikan nilai di sekolah. Guru padaumumnya hanya mengajarkan kepada siswa sejumlah pengetahuan berupa faktaatau konsep, dan dalam porsi yang terbatas juga mengajarkan keterampilan.Upaya untuk menanamkan nilai-nilai sosial, terutama yang berkaitan dengan mata pelajaran Fisika masih sangat langka di lakukan. Pada hal semua mata pelajaran,termasuk sains, memiliki tiga ranah tujuan, yakni: kognitif. afektif, dan psikomotor.Tidak berbeda, dengan proses pembelajaran, dalam pelaksanaan penilaian,aspek perkembangan sikap dan nilai, masih jarang dilakukan oleh guru Fisika dansains dewasa ini. Pada umumnya, guru Fisika, sudah merasa puas apabila siswadapat menyelesaikan soal-soal Fisika secara tertulis dengan baik, misalnya dalamUjian Nasional, dan dalam berbagai perlombaan Fisika. Kondisi ini perludiperbaiki. Semua guru, termasuk guru Fisika, ikut memikul tanggung jawabdalam menginternalisasi nilai-nilai sosial kepada siswa, dalam rangka membina pribadi siswa, untuk warga masyarakat dan warga negara yang baik, karenahakikat dari pendidikan adalah upaya pembudayaan.Dilihat dari perspektif profesionalitas guru sebagai pendidik, tugas guruadalah mengajar, melatih, dan mendidik, bukan hanya mengajar. Hal ini juga berlaku untuk guru Fisika dan guru sains. Dilihat dari perspektif taksonomi tujuan pendidikan, ada tiga domain tujuan pendidikan, yakni kognitif, afektif, dan psikomotor. Hal ini juga berlaku untuk semua mata pelajaran, termasuk mata pelajaran matematika dan sains. Penekanan pada tugas mendidik serta aspek  perkembangan sikap dan nilai pada siswa menjadi lebih penting lagi bagi guruFisika lulusan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, karena mereka ikutmembawa label dan misi Islam yang melekat pada lembaga yang meluluskan.Makalah ini berisi uraian ringkas tentang mengapa dan bagimana guruFisika sepatutnya melakukan penilaian terhadap perkembangan sikap dan nilaisiswa, sebagai hasil dari proses pembelajaran. Adapun tentang aspe pembelajaran, bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai dalam pembelajaran fisika.B.Penilaian Kelas
1.
PengertianDalam pembahasan ini, istilah
 penilaian
digunakan dalam pengertian
assessment 
dalam Bahasan Inggris. Ada beberapa istilah lain yang seringdigunakan dan berkaitan erat dengan penilaian. Istilah-istilah itu adalah: tes, pengukuran, dan evaluasi.Tes dalam proses pembelajaran adalah salah satu tehnik pengukuranuntuk mengumpulkan data tentang tingkat penguasaan kompretensi danmateri pelajaran, sebagai hasil dari proses pembelajaran, dengan caramemberikan sejumlah tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik. Tesmerupakan suatu prosedur yang sistematis untuk mengetahui dan menjelaskankarakteristik seseorang dengan menggunakan Skala angka (misalnya: 0 s.d.10) atau kategori (misalnya: berhasil, tidak berhasil, dsb.). Adapun pengukuran
(measurement)
adalah prosedur penentuan angka (biasanya
1
 
 berupa skor) untuk karakteristik tertentu dari seseorang (misalnya: tingkat pencapaian hasil belajar hasil belajar IPA, kecerdasan, dan sebagainya).
 Evaluasi
dalam bidang pendidikan menurut Nitko (1977) dapat diartikan proses sistematis dalam membuat pertimbangan (judgement) tentang nilai ataukebehargaan berkaitan dengan siswa, proses pembelajaran, atau program pembelajaran.Penilaian dalam pengertian
assessment 
dalam bidang pendidikan,menurut Popham (1995: h.3) adalah "...
a formal attempt to determine students' status with respect to educational variables of interest'.
Berdasarkan batasan ini dapat dipahami bahwa penilaian lebih luas pengertiannya dari tes.Pengertian tes lebih spesifik, merupakan salah satu tehnik pengumpulan datadalam rangka penilaian. Pengumplan data untuk kepentingan penilaian dapat juga dilakukan dengan cara lain, misalnya dengan pengamatan, pemberianangket, portofolio, dan sebagainya.Penilaian kelasa
(classroom assessment)
adalah penialaian yangdilakukan oleh guru sehari-hari selama dan setelah proses pembelajaran.Peraturan Pemerintah No. 19 Tabun 2005 tentang Standar NasionalPendidikan menggunakan istilah
 penilaian oleh pendidik.
2.
Penilaian kelas perlu dilakukan secara professionalPenilaian dalam proses pembelajaran perlu dilakukan secara profesonal:dipersiapkan dengan baik, dilaksanakan dengan baik, dan datanya diolahdengan baik, untuk memperoleh hasil penilaian yang baik pula. Hasil yang baik adalah yang reliable, valid, dan akurat. Persyaratan ini harus dipenuhi,karena informasi yang diperoleh dari hasil penilaian tersebut digunakansebagai dasar dalam pengambilan berbagai keputusan. Misalnya, keputusantentang siswa (kenaikan kelas, penjurusan); keputusan tentang prproses pembelajaran (perbaikan proses pembelajaran, remedial, pengayaan); dankeputusan tentang program pembelajaran (perbaikan atau perubahan program,dsb.).Penilaian yang tidak dilakukan secara professional, akan menghasilkaninformasi yang tidak tepat dan dapat menyesatkan. Apabila digunakan sebagaidasar dalam pengambilan keputusan akan menghasilkan keputusan yang tidak tepat dan menyesatkan pula.C.Konsep Nilai, Sikap, dan Perilaku
1.
Pengertian NilaiPara pakar psikologi dan pendidikan telah merumuskan definisi yang beragam tentang nilai. Namur dari berbagai definisi yang ada dapat ditarik  benang merah, bahwa nilai adalah sesuatu yang dijadikan sebagai kriteria bagiseseorang dalam memandang, mempersepsikan, dan melakukan sesuatu perbuatan. Misalnya, Fraenkel (1977; 1980), mendefinisikan nilai sebagaiukuran dari perbuatan, keindahan, atau harga yang diakui oleh seseorang dandia berusaha untuk berbuat sesuai dengan ukuran tersebut. Hampir samadengan batasan tersebut, Superka et al. (1976) mendefinisikan nilai sebagaikriteria untuk menentukan peringkat kebaikan, harga, atau keindahan.Definisi-definisi tersebut mencakup nilai dalam arti yang luas. Dalamkehidupan manusia terclapat berbagai nilai, meliputi: nilai moral, nilaikeindahan, nilai agama, nilai politik, dan lain-lain. Nilai merupakan sasaranyang bersifat abstrak, yang ingin dicapai oleh seseorang. Menurut Schibeci(1984), nilai mendasari pandangan hidup seseorang, dan sangat penting peranannya dalam pembentukan sikap.Berdasarkan batasan-batasan tersebut dapat dipahami bahwa nilaiseseorang tidak dapat diamati. Yang dapat diamati adalah hasil ekspresi dari
2
 
nilai dalam bentuk sikap, dan selanjutnya dalam bentuk yang lebih konkrit,diwujudkan dalam perilaku lahiriah sehari-hari. Oleh karena itu, pengukuranhasil pembelajaran nilai sering dilakukan dengan pengukuran sikap dan pengamatan terhadap perilaku. Dalam pembahasan berikut, penulis akan lebih banyak memberi penekanan pada pembentukan dan penilian sikap.
2.
Pengertian SikapPakar psikologi juga membuat rumusan yang berbecla-beds tentang batasan sikap. Fernandes (1985) mendefinisikan sikap sebagai perasaan sukaatau tidak suka tehadap sesuatu, yang dapat berupa kelompok, institusi, ataukonsep. Hampir sama dengan batasan tersebut, Anastasi (1982)mendefinisikan sikap adalah kecenderungan untuk bertindak secara suka atautidak suka terhadap perangsang tertentu. Agak berbeda dengan kedua batasandi atas, Birrent et al. (1981) mendefinisikan sikap sebagai kumpulan hasilevalusi seseorang terhadap objek, orang, atau masalah sosial tertentu. Lebihlanjut beliau menjelaskan, sikap merupakan
 stereotype
dari seseorang.Walaupun definisi yang dirumuskan berbeda-beda, namun para pakar sependapat dalam dua hal, bahwa: sikap berakar dalam perasaan seseorang,dan sikap senantiasa memiliki objek. Menurut Mehrens dan Lehmann (1991).apabila objeknya benda (konkrit atau abstrak, termasuk orang) disebut sikap
(attitude),
dan apabila objeknya profesi atau pekerjaan disebut minat
(interest).
Jadi, menurut beliau, perbedaan antara sikap dan minat terletak objeknya yang berbeda, yang satu objeknya benda (misalnya: orang,organisasi. dsb.) dan yang lain objeknya pekerjaan atau profesi (misalnya: profesi guru, dokter, dsb.).Dalam perkembangan sekarang ini, sebagian besar pakar sependapat bahwa sikap merupakan suatu perpaduan dari tiga komponen, yakni: kognisi,afeksi, dan konasi (Gahagan 1980; Sears et al. 1988). Komponen kognisiadalah keyakinan, komponen afeksi adalah perasaan suka atau tidak suka, clankomponen konasi adalah kecenderungan untuk bertindak (bedasarkan pada perasaan suka atau tidak suka tersebut). Kedudukan ketiga komponen tersebutserta hubungannya dengan pengetahuan clan perilaku dapat digambarkansebagai berikut.
-
Kg=Komponen kognisi dari sikap
-
Af= Komponen afeksi dari sikap
-
Kn= Komponen konasi dari sikapBerdasarkan gambar tersebut, dapat dijelaskan bahwa apabila seseorangmenerima sejumlah pengetahuan berupa informasi verbal, misalnya tentang bahaya virus HIV/AIDS, pengetahuan ini dapat menumbuhkan keyakinan pada orang tersebut bahwa virus HIV/AIDS berbahaya. Keyakinan seperti itu,selanjutnya menumbuhkan perasaan suka
(favorable)
atau tidak suka
(unfavorable)
terhadap sesuatu. Dalam kasus ini, akan menumbuhkan perasaan tidak suka dan bahkan takut
(unfavorable)
terhadap penularan virusHIV/AIDS. Perasaan tersebut selanjutnya menumbuhkan dorongan dalamdirinya untuk menghindar dari berbagai kemungkinan yang dapat menularkanvirus HIV/AIDS. Dorongan ini masih merupakan perilaku dalaman
(internal behavior),
 belum muncul sebagai perilaku yang dapat diamati. Selanjutnya,apabila perasaan tidak suka, takut, dan dorongan untuk menghindari
3
PengetahuanKgAfKnKonsep sikapPengetahuanPeriksa

Activity (29)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
chui_lam_1 liked this
Sube Han liked this
Farida Nurlaili liked this
Dwi Novitasari liked this
Risal Smk Jhon liked this
Sunardi HS liked this
Luthfi Saipudin liked this
Abraxas Luchenko liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->