PENJELASANATASPERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2006TENTANGPELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 41 TAHUN 2004TENTANG WAKAFI. UMUM
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf memuat beberapaketentuan dalam Pasal 14, Pasal 21, Pasal 31, Pasal 39, Pasal 41, Pasal 46, Pasal 66 danPasal 68 yang perlu diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Keseluruhanperaturan pelaksanaan tersebut diintegrasikan ke dalam satu peraturan pemerintah sebagaipelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004. Hal itu dimaksudkan untukmenyederhanakan pengaturan yang mudah dipahami masyarakat, organisasi dan badanhukum, serta pejabat pemerintahan yang mengurus perwakafan, BWI, dan LKS, sekaligusmenghindari berbagai kemungkinan perbedaan penafsiran terhadap ketentuan yangberlaku.Beberapa hal penting yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini adalah sebagaiberikut:1.Nazhir merupakan salah satu unsur wakaf dan memegang peran penting dalammengelola dan mengembangkan harta benda wakaf sesuai dengan peruntukannya.Nazhir dapat merupakan perseorangan, organisasi atau badan hukum yang wajibdidaftarkan pada Menteri melalui Kantor Urusan Agama atau perwakilan BWI yangada di provinsi atau kabupaten/kota, guna memperoleh tanda bukti pendaftaranNazhir. Ketentuan mengenai syarat yang hares dipenuhi oleh Nazhir dan tata carapendaftaran, pemberhentian dan pencabutan status Nazhir serta tugas dan masabakti Nazhir dimaksudkan untuk memastikan keberadaan Nazhir serta pengawasanterhadap kinerja Nazhir dalam memelihara dan mengembangkan potensi hartabenda wakaf.2.Ketentuan mengenai ikrar wakaf baik sccara lisan maupun tertulis yang berisipernyataan kehendak Wakif untuk berwakaf kepada Nazhir memerlukanpengaturan rinci tentang tata cara pelaksanaannya dan harta benda wakaf yangakan diwakafkan. Ikrar wakaf diselenggarakan dalam Majelis Ikrar Wakaf yangdihadiri oleh Wakif, Nazhir, dua orang Saksi serta wakil dari
Mauquf alaih
apabiladitunjuk sccara
khusus
sebagai pihak yang akan memperoleh manfaat dari hartabenda wakaf berdasarkan kehendak Wakif. Kehadiran
Mauquf alaih
dianggapperlu agar pihak yang akan memperoleh manfaat dari peruntukan harta bendawakaf menurut kehendak Wakif dapat mengetahui penyerahan harta benda wakaf oleh Wakif kepada Nazhir untuk dikelola dan dikembangkan sesuai dengan prinsipekonomi syariah.3.Sesuai dengan prinsip Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 yang tidakmemisahkan antara
wakaf ahli
yang pengelolaan dan pemanfaatan harta bendawakaf terbatas untuk kaum kerabat (ahli waris) dengan
wakaf khairi
yangdimaksudkan untuk kepentingan masyarakat umum sesuai dengan tujuan danfungsi wakaf, maka pernyataan kehendak Wakif dalam Majelis Ikrar Wakaf harusdijelaskan maksudnya, apakah
Mauquf alaih
adalah masyarakat umum atau untukkarib kerabat berdasarkan hubungan darah
(nasab)
dengan Wakif. Ini berartibahwa pengaturan mengenai wakaf berlaku baik untuk
wakaf khairi
maupun
wakaf ahli.
Peruntukan wakaf untuk
Mauquf alaih
tidak dimaksudkan untuk pemanfaatan