Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
29Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pendidikan Karakter

Pendidikan Karakter

Ratings: (0)|Views: 843 |Likes:
Published by penggawa_p4bsn

More info:

Published by: penggawa_p4bsn on Nov 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/27/2013

pdf

text

original

 
Proceedings of The 4
th
International Conference on Teacher Education; Join Conference UPI & UPSI Bandung,Indonesia, 8-10 November 2010Yoyon Bahtiar Irianto/ 
Strategi Manajemen Pendidikan Karakter 
 /2010 Page 1
STRATEGI MANAJEMEN PENDIDIKAN KARAKTER(Membangun Peradaban Berbasis Ahlaqul Kharimah)
Oleh:
DR. H. Yoyon Bahtiar Irianto, M.Pd.
(Adpend-FIP-UPI, email: abah_jbi@hotmail.com)
 Abstrak
Sudah sepuluh tahun reformasi pendidikan dilakukan, dan hampir seluruhkebijakan pembaharuan pendidikan telah diupayakan, namunsepertinya seluruh tatananhidup dan kehidupan masyarakat malah berubah ke arah yang tidak menentu. Secara tidak disadari, kehidupan masyarakat malah melunturkan sendi-sendi keimanan yang nya turut mempengaruhi kualitas kelangsungan peradaban bangsa. Penyebab utamanya tidak lain pendidikan karakter bangsa yang ‘amburadul’. Karena itu, sejalan dengan RenstraKemendiknas 2010-2014 yang telah mencanangkan penerapan pendidikan karakter, makadiperlukan kerja keras semua pihak, terutama terhadap program-program yang memilikikontribusi besar terhadap peradaban bangsa harus benar-benar dioptimalkan. Namun, penerapan pendidikan karakter di sekolah memerlukan pemahaman tentang konsep, teori,metodologi dan aplikasi yang relevan dengan pembentukan karakter (character building)dan pendidikan karakter (character education). Permasalahan yang perlu diungkap antaralain: Bagaimana kiprah pendidikan dalam peradaban bangsa? Apa makna pendidikanmoral-nilai-ahlaq dan karakter? Bagaimana peranan yang perlu dilakukan sekolah? Bagaimana strategi implementasinya dalam konteks pembelajaran di persekolahan? Dari pengalaman ada dua pendekatan dalam pendidikan karakter, yaitu: (1)Karakter yang diposisikan sebagai mata pelajaran tersendiri; dan (2) Karakter yang built-in dalam setiap mata pelajaran. Sampai saat ini, pendekatan pertama ternyata lebih efektif dibandingkan pendekatan kedua. Salah satu alasannya ialah karena para gurumengajarkan masih seputar teori dan konsep, belum sampai ke ranah metodologi danaplikasinya dalam kehidupan. Idealnya, dalam setiap proses pembelajaran mencakupaspek konsep (hakekat), teori (syare’at), metode (tharekat) dan aplikasi (ma’rifat). Jika para guru sudah mengajarkan kurikulum secara komprehensif melalui konsep, teori,metodologi dan aplikasi setiap bidang studi, maka kebermaknaan yang diajarkannya akanlebih efektifi dalam menunjang pendidikan karakter.Strategi pembelajaran yang berkenaan dengan moral knowing akan lebih banyak belajar melalui sumber belajar dan nara sumber. Pembelajaran moral loving akan terjadi pola saling membelajarkan secara seimbang di antara siswa. Sedangkan pembelajaranmoral doing akan lebih banyak menggunakan pendekatan individual melalui pendampingan pemanfaatan potensi dan peluang yang sesuai dengan kondisi lingkungansiswa. Ketiga strategi pembelajaran tersebut sebaiknya dirancang dengan sistematis agar  para siswa dan guru dapat memanfaatkan segenap nilai-nilai dan moral yang sesuaidengan potensi dan peluang yang tersedia di lingkungannya. Dengan demikian, hasil pembelajarannya ialah terbentuknya tabi’at reflektif dalam arti para siswa memiliki pengetahuan, kemauan dan keterampilan dalam berbuat kebaikan.  Melalui pemahaman yang komprehensif ini diharapkan dapat menyiapkan pola- pola manajemen pembelajaran yang dapat menghasilkan anak didik yang memilikikarakter yang kuat dalam arti memiliki ketangguhan dalam keilmuan, keimanan, dan perilaku shaleh, baik secara pribadi maupun sosial.Kata kunci: moral, value, ahlaq, character building, character education, tabi’at reflektif.
 
 
Proceedings of The 4
th
International Conference on Teacher Education; Join Conference UPI & UPSI Bandung,Indonesia, 8-10 November 2010Yoyon Bahtiar Irianto/ 
Strategi Manajemen Pendidikan Karakter 
 /2010 Page 2
A.
 
Permasalahan
 
“Nelengnengkung-nelengnengkung, geura gede geura jangkung, geura sakola sing jucung,sangkan bisa makayakeun Indung (
Nelengnengkung-nelengnengkung, cepatlah besar cepatlahtinggi, cepatlah selesaikan sekolah, agar dapat memuliakan Sang Ibu)”
 
“Ku lihat Ibu Pertiwi, sedang bersusah hati, air matanya berlinang…..hutan gunung sawahlautan, simpanan kekayaan, kini Ibu sedang lara…..”
Itulah penggalan-penggalan “dangding” (syair) pada saat Sang Ibu mengayun saya(anak). Dengan segenap kasih sayang, harapan, dan do’a, Sang Ibu berusaha membesarkansaya agar menjadi
gede
dan
tinggi
, dan berharap kembali memuliakan Sang Ibu yangmengadung, membesarkan dan mendidiknya, serta sang Ibu Pertiwi yang telah memberisaya lahan kehidupan. Sekarang, sang Ibu sedang bersedih karena anak-anaknya walaupuntelah
besar 
dan
tinggi
namun hasil dari sekolah tidak sesuai dengan harapan dan cita-citaSang Ibu. Apa yang dilakukan sekolah terhadap anak-anaknya sehingga tidak semua cita-cita dan harapan Sang Ibu dapat dipenuhi oleh sekolah? Padahal, hampir seluruh kebijakanyang terkait dengan pembaharuan pendidikan diarahkan sesuai dengan standar pendidikanyang telah ditetapkan. Namun,sepertinya seluruh tatanan hidup dan kehidupan masyarakatmalah berubah ke arah yang tidak menentu.Ketidakmenentuan yang paling berbahaya ialah lunturnya keimanan sebagaimasyarakat yang agamis. Penurunan budi pekerti, maraknya penyalahgunaan narkoba,kriminalitas, sex bebas dan tuna-susila, meningkatnya pengangguran, kemiskinan danderajat kesehatan masyarakat yang buruk, turut mempengaruhi kualitas kelangsunganperadaban masyarakat di masa depan. Penyebab utamanya tidak lain adalah pendidikankarakter bangsa yang ‘amburadul’. Walaupun visi, misi, prinsip, tujuan, strategi, programpembangunan pendidikan dirumuskan dengan sangat hebat, namun tidak ada maknanyamanakala hasil-hasil pendidikan tidak dapat meningkatkan kualitas hidup bermasyarakatdan berbangsa. Apabila pembangunan pendidikan dilaksanakan seperti itu terus-menerus,maka bangsa ini selamanya tidak akan mendapat hidayah untuk bangkit menuju kehidupanyang lebih baik.Gambaran di atas bukan hanya sekedar cerita, bahwa permasalahan mendasar bagipendidikan ialah bagaimana menyiapkan generasi yang cerdas dan memiliki karakter yangkuat untuk membangun bangsanya ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, sejalan denganRencana Strategis Kemendiknas 2010-2014 yang telah mencanangkan visi penerapanpendidikan karakter,
1
maka diperlukan kerja keras semua pihak, terutama terhadapprogram-program yang memiliki kontribusi besar terhadap peradaban bangsa harus benar-benar dioptimalkan. Namun demikian, visi penerapan pendidikan karakter di lingkungansatuan-satuan pendidikan memerlukan pemahaman yang jelas tentang konsep, teori,metodologi dan aplikasi yang relevan dengan pembentukan karakter
(character building)
 dan pendidikan karakter
(character education)
. Bagaimana kiprah pendidikan dalamperadaban bangsa? Apa makna pendidikan moral-nilai-ahlaq dan karakter? Bagaimanaperanan yang perlu dilakukan sekolah? Bagaimana strategi implementasinya dalamkonteks pembelajaran di persekolahan? Melalui pemahaman yang komprehensif inidiharapkan dapat menyiapkan pola-pola pembelajaran untuk menghasilkan anak didik 
 
Proceedings of The 4
th
International Conference on Teacher Education; Join Conference UPI & UPSI Bandung,Indonesia, 8-10 November 2010Yoyon Bahtiar Irianto/ 
Strategi Manajemen Pendidikan Karakter 
 /2010 Page 3
yang memiliki ketangguhan keilmuan, keimanan, dan keshalehan pribadi maupun sosial.Insan-insan yang shaleh ini sangat diperlukan untuk menjadi ‘kader’ yang siap ‘berjihad’membangun kembali bangsanya agar bangkit dari keterpurukan. Tanpa pijakan danpemahaman tentang konsep, teori, metode yang jelas dan komprehensif tentang pendidikankarakter, maka misi pendidikan karakter pada sekolah-sekolah akan menjadi sia-sia.
B.
 
Pendidikan dan Peradaban Bangsa
Menengok sejarah peradaban manusia, telah begitu banyak upaya untuk mewariskan pengetahuan dan keterampilan kepada generasinya. Bahkan pada akhirnyapara orang tua menunjukkan ketidaksanggupan lagi untuk mengajarkan semuapengetahuan dan keterampilan kepada anak-anaknya. Sejak saat itu, mulailah ada upayapembelajaran yang tidak formal sesuai pengetahuan yang diinginkan anaknya. Selanjutnya,seiring pengetahuan dan keterampilan yang harus dipelajari semakin kompleks, upayapembelajaran tersebut mulai diformalkan dalam bentuk persekolahan. Hal ini menunjukkanbahwa pendidikan mempunyai nilai-nilai yang hakiki tentang harkat dan martabatkemanusiaan. Namun, belakangan lembaga pendidikan yang namanya 'sekolah' inicenderung menganggap sebagai satu-satunya lembaga pendidikan. Ahirnya, manakalamembicarakan pendidikan cenderung yang dibahas adalah sekolah; Akibatnya, paradigmapendidikan yang begitu universal hanya dipandang secara adaptif daripada inisiatif.Ivan Illich
2
telah mengkritik persekolahan ini dengan pertanyaan: “Apakah sekolahitu sesuatu yang perlu dalam pendidikan?” Bahkan, Everet Reimer
3
pun menganggapbahwa pendidikan persekolahan telah ‘mati’
(school is dead).
Tentu saja, saya tidak akanterperangkap dalam konsep yang ekstrim seperti Reimer. Tetapi kritikan Illich dan Reimersetidaknya mengingatkan kita bahwa pendidikan persekolahan bukanlah satu-satunyalembaga pendidikan. Idealnya, pendidikan seharusnya merupakan gambaran kondisimasyarakat seperti yang pernah diungkapkan Nicolas Hans bahwa “pendidikan adalahwatak nasional suatu bangsa”. Bahkan dalam kelakarnya dia berkata: “ceritakansekolahmu, maka akan dapat kuceritakan keadaan masyarakat dan negaramu”.
4
Padangan tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan bukan saja hanyasekedar etika dalam arti 'baik' atau 'tidak baik', namun lebih ditekankan pada tujuanmengapa perlu ada pendidikan. Kemajuan iptek seharusnya dapat membimbing manusiauntuk mempunyai tujuan. Seperti yang manusia yang diibaratkan ‘penumpang’ kapal yangbernama Bumi, berputar di jagat kosmos, melancong ke seberang lautan waktu yang tidak terbatas. “Mereka bersenang dengan riang gembira dan makan layaknya binatang…”
5
 “Mereka punya hati, tetapi tidak bisa memahami; mereka punya mata, tetapi tidak melihat;mereka punya telinga, tetapi tidak mendengar. Benar-benar mereka mirip binatangpeliharaan, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang lalai”.
6
 Dengan kemajuan iptek manusia menjadi terserang kebingungan serta tidak tahulagi identitasnya, sehingga muncullah
absurdisme, nihilisme
, dan
hipiisme
menyerangpikiran dan ruh manusia beradab hingga menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan yangberadab. Saya yakin bahwa nilai dan tujuan pendidikan hanya akan ada apabila pendidikanitu dapat menciptakan sesuatu yang memberikan manfaat bagi kehidupan masa kini dan

Activity (29)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
sheva.assaffah liked this
Ahmad Gazali liked this
Boby Chaini liked this
Inre Volzon liked this
Amier Ulfah liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->