PENDAHULUAN
Desa di Indonesia pertama kali ditemukan oleh Mr. Herman Warner Muntinghe,seorang Belanda pembantu Gubernur Jenderal Inggris tahun 1811. Desa berasal dari bahasaIndia yakni swadesi yang berarti tempat asal, tempat tinggal, negeri asal, atau tanah leluhur yang merujuk pada satu kesatuan hidup, dengan satu kesatuan norma, serta memiliki batasyang jelas (Soetardjo: 1984). Pembentukan desa harus memenuhi persyaratan antara lain; jumlah penduduk, luas wilayah, bagian wilayah kerja, perangkat, serta sarana dan prasarana pemerintahan. (PP.No 72 Tahun 2005 Tentang Desa).Sejak kemerdekaan Republik Indonesia hingga saat ini, keberadaan Desa seakantimbul tenggelam dalam arus gelombang politik rezim yang memerintah. Padahal sejarahmenunjukkan bahwa Desa telah eksis jauh sebelumnya sebagai suatu kesatuan masyarakathukum adat dalam ikatan pola administrasi pemerintahan, ekonomi dan sosiologis yangmandiri sebagai wujud dari otonomi asli, yang berasal dari asal-usul dan adat istiadatsetempat. Desa merupakan pilar pembangunan sebuah negara. Sebagaimana kita ketahui bahwa sensus penduduk tahun 2000 menyatakan sekitar 60%, masyarakat indonesia tinggaldi pemukiman pedesaan. Saat ini ciri & problematika desa yang kita lihat yaitu rendahnyatingkat produktivitas tenaga kerja, tingginya tingkat kemiskinan, rendahnya kualitaslingkungan pemukiman & tingkat pendidikan.Saat ini masih berlaku UU No. 32 tahun 2004. Tujuan UU No.32 tahun 2004 adalahguna memodernkan pemerintahan desa agar mampu menjalankan 3 peranan utamanyasebagai: 1). Struktur perantara 2). Sebagai pelayan masyarakat 3). Sebagai agen perubahan.Desa sebagai kesatuan masyarakat hukum terkecil yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya berdasarkan asal-usuldan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati oleh negara. Pembangunan pedesaanselayaknya mengarah pada peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Pembangunan pedesaan dapat dilihat pula sebagai upaya mempercepat pembangunan pedesaan melalui penyediaan sarana dan prasarana untuk memberdayakan masyarakat, dan upaya mempercepat pembangunan ekonomi daerah yang efektif dan kokoh. Pembangunan pedesaan bersifatmulti-aspek, oleh karena itu perlu keterkaitan dengan bidang sektor dan aspek di luar pedesaan sehingga dapat menjadi pondasi yang kokoh bagi pembangunan nasional.
2