3.1.
Membangun Agribisnis Terpadu Melalui PengelolaanSumberdaya, Penguatan Modal Masyarakat danPenguatan Kelembagaan3.1.1.Ketersediaan Pangan
Ketersediaan pangan Provinsi Gorontalo selama lima tahun terakhir(2002-2006) tidak menghadapi masalah karena daerah inimerupakan penghasil beras. Surplus produksi beras rata-rata selamaperiode tersebut adalah sebesar 20 % per tahun. Produksi berasselama periode tersebutberkisar antara 96.842 tonyang terjadi pada tahun2002 dan tertinggi sebesar108.528 ton pada tahun2006. Kondumsi berasselama periode tersebutberkisar antara 83.085 tonsampai dengan 87.287 ton.Dengan tingkat produksidan konsumsi tersebut,ketersediaan panganmencukupi untuk periodewaktu tersebut. Gambar3.1. memperlihatkansurplus beras yang cukupsignifikan dan menunjangstatus ketahanan pangan. Adanya surplus produksi memungkinkanProvinsi Gorontalo untuk mengirim beras ke luar wilayah, antara lainke Ke Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara.
Gambar 3.1.
Produksi dan Konsumsi Beras di Provinsi GorontaloDengan rata-rata pertumbuhan konsumsi hanya sebesar 0,99 % danpeningkatan produksi sebesar 1,61 % pertahun, maka tidak adaalasan kuat untuk mengkhawatirkan ketahanan pangan di ProvinsiGorontalo kecuali terjadi bencana alam hebat yang menghancurkansistem produksi beras atau kegagalan panen yang merata di seluruhwilayah. Selain kondisi surplus beras, diversifikasi konsumsi panganyang terjadi secara alamiah, sangat mendukung status ketahananpangan karena secara tradisional, masyarakat Provinsi Gorontalomengkonsumsi jagung sebagai makanan pokok selain beras.
Gambar 3.2
memperlihatkan bahwa kecenderungan peningkatanproduksi yang lebih besar dari peningkatan konsumsi. Namundemikian, dalam jangka panjang perlu diwaspadai adanya fluktuasiyang sangat lebar pada balance stock setiap akhir tahun. Kondisi