Anton A Setyawan-Artikel Ekonomi& Bisnis
(termasuk pinjaman luar negeri) sangat diharapkan. Akan tetapi, kebiasaanmengharapkan pinjaman luar negeri ini mengakibatkan ketergantungankronis terhadap hutang luar negeri dan sedikit banyak membunuh kreativitaspara ekonom pemerintah untuk mencari sumber-sumber pendanaan dalamnegeri.
Kedua
, faktor eksternal. Lembaga donor asing memandang Indonesiapada akhir 60-an mengalami masa transisi baik secara ekonomi maupunpolitik, sehingga membutuhkan bantuan. Dalam perkembangannya, ketikaIndonesia mengalami
booming
ekonomi pada awal dekade 90-an, parakreditor dengan senang hati memberi pinjaman kepada Indonesia. Hal inidikarenakan, selain Indonesia termasuk
good boy
dalam soal pembayaranhutang, prospek ekonomi Indonesia yang demikian cerah (waktu itu)menambah optimisme para kreditor bahwa pinjaman mereka akanmemberikan penghasilan berupa bunga dalam jumlah besar.
Manajemen Hutang Luar Negeri
Paket deregulasi Oktober 1988, juga mempunyai kontribusi besardalam membengkaknya hutang luar negeri swasta. Paket deregulasiperbankan di ahir dekade 80-an tersebut mempermudah pendirian bank swasta. Di satu sisi paket ini mempunyai tujuan mengubah pola tabungandomestik Indonesia dalam arti meningkatkan jumlah tabungan domestik.Namun, paket ini mempunyai implikasi negatif berkaitan dengan polamanajemen hutang swasta. Bank-bank nasional yang waktu itu dikuasai olehgrup-grup usaha milik konglomerat selalu melanggar mekanisme pemberiankredit (Legal Lending Limit). Pemberian kredit kepada grup usahanyasendiri selalu melanggar ketentuan. Pada akhirnya pelanggaran tersebutmengakibatkan kredit macet yang memperburuk kondisi perekonomiannasional. Selain itu, swasta terlalu berani melakukan ekspansi jangkapanjang dengan dibiayai hutang jangka pendek.Dari sisi pemerintah, mismanajemen hutang luar negeri tersebutterjadi karena saratnya KKN dalam pengelolaannya. Kebocoran hutang luarnegeri Indonesia mencapai 30 persen (Djoyohadikusumo, 1995). Praktek KKN terjadi dalam proyek-proyek pembangunan yang dibiayai hutang luarnegeri. Sukses tidaknya manajemen hutang luar negeri sangat tergantungpada mental debitur (Wiranta, 2000). Sebagai contoh pulihnyaperekonomian Eropa pasca PD II adalah karena hutang luar negeri.Pemulihan ekonomi Eropa waktu itu tidak terlepas dari bantuan luar negeriAS di dalam paket
Marshall Plan
. Paket senilai triliunan dollar tersebutmembangkitkan perekonomian Eropa yang mengalami kehancuran baik dari
Fak. Ekonomi UMS-Oktober 20042