Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
7Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Bab 4 Desentralisasi Dan an Peraturan Perundangan Di Sektor Kesehatan

Bab 4 Desentralisasi Dan an Peraturan Perundangan Di Sektor Kesehatan

Ratings: (0)|Views: 637 |Likes:
Published by ujangketul62

More info:

Published by: ujangketul62 on Nov 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/25/2012

pdf

text

original

 
BAGIAN IV: Desentralisasi dan Pendanaan Kesehatan
 
35
BAB 4DESENTRALISASI DAN PERKEMBANGANPERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI BIDANG KESEHATAN:SEBUAH EVALUASI NORMATIF
75
 Andi Sandi Ant. T.T Vivi LignawatiPENDAHULUAN
Dari sisi leksikografi, desentralisasi adalahpembalikan dari konsentrasi administrasi padasatu pusat dan sekaligus “pemberian” kekuasaankepada daerah. Oleh sebab itu, desentralisasimenunjuk pada distribusi kekuasaan secarateritorial ( 
spatial 
 ), yang umumnya menjadi fokusdalam sebuah negara kesatuan
76
. Konsekuensihukum desentralisasi, pelaksanaannya dapatdilakukan dengan penyerahan kewenangan dan/atau urusan kepada pemerintah daerah yang lebihrendah tingkatannya. Pada sisi hukum positif,Pasal 1 huruf e UU No.22 Tahun 1999,desentralisasi diartikan sebagai penyerahankewenangan pemerintahan oleh pemerintah(pusat) kepada daerah otonom dalam kerangkaNegara Kesatuan Republik Indonesia.Berdasarkan hukum positif, NegaraKesatuan Republik Indonesia telah “memilih”untuk menyerahkan sebagian kewenangannyakepada daerah otonom. Kewenangan yang didelegasikan tersebut sangat luas, sebab Pasal 7ayat (2) UU No. 22 Tahun 1999 menggunakansistem residu
77
ketika menentukan apa saja yang menjadi kewenangan daerah. Dengan sistemresidu, kewenangan-kewenangan pusat telahditentukan secara jelas terlebih dahulu, sedangkansisanya merupakan kewenangan daerah otonom.Oleh sebab itu, kewenangan di bidang kesehatan telah dijadikan sebagai kewenanganpemerintah daerah otonom karena kewenanganitu tidak ditentukan sebagai kewenanganpemerintah pusat
78
. Hal ini pada satu sisimenguntungkan pemerintah daerah sebab denganmenggunakan kewenangannya, pemerintahdaerah dapat mengatur bidang kesehatan sesuaidengan aspirasi dan kemampuan yang dimilikinya. Akan tetapi, di sisi lain pemberian kewenanganyang didasarkan pada teritori ini telahmengakibatkan terjadinya “pengkotak-kotakan” wilayah yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Akibatnya, pelaksanaannya cenderung parsial danhanya dilakukan pada teritori yang menjadi wilayah kerja pemerintah daerah yang bersangkutan. Padahal pelaksanaan pelayananbidang kesehatan tidak mengenal batas wilayah
borderless 
 ), sehingga perlu dilakukan secarakomprehensif dan lintas batas wilayah. Salah satucontoh yang menunjukkan
borderless- 
nyakewenangan di bidang kesehatan adalah masalahpolusi, baik air, suara, maupun limbah. Ketikasuatu industri yang terletak di salah satu daerahmengeluarkan limbah yang mempengaruhikondisi kesehatan di daerah-daerah yang lain,pihak pemerintah daerah yang terkena dampak tidak mempunyai kewenangan untuk menindak industri tersebut karena industri tersebutberkedudukan di luar yuridiksinya.
75 Tulisan ini pernah disampaikan pada Seminar Perjalanan 3 Tahun Desentralisasi Kesehatan di Indonesia: Apa yang sudah dicapai dan apayang belum? Apakah lebih baik re-sentralisasi? Tanggal 17-19 Maret 2004 di Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada.76M. Fajrul Falaakh, Hukum Desentralisasi dan Otonomi Daerah, Bahan Kuliah, 2000, Magister Hukum Kenegaraan Universitas Gadjah Mada,hal. 177lihat hal. 378Lihat Pasal 7 ayat (1) UU No. 22 Tahun 1999.
 
DESENTRALISASI DAN PERKEMBANGAN PERATURAN PERUNDANGAN DI SEKTOR KESEHATAN
36
Karakteristik bidang kesehatan itulah yang perlu dijadikan perhatian bagi daerah-daerahketika melaksanakan kewenangannya di bidang kesehatan, sehingga pelaksanaan kewenangan dibidang kesehatan perlu dilakukan secara
holistic 
;tidak parsial yang dibatasi oleh wilayah kerja.Dengan melihat karasteristik itulahdiperlukan berbagai instrumen yang dapatmendukung agar tujuan pelayanan kesehatandapat tercapai. Pada bahasan ini lebih difokuskanpada salah satu instrumen, yaitu peraturanperundang-undangan. Bahasan ini bertujuanmemberikan evaluasi normatif terhadappelaksanaan desentralisasi di bidang kesehatanyang dilakukan sebelum dan sesudah berlakunyaUU No. 22 Tahun 1999. Sebagai suatu evaluasinormatif, pemaparan dalam bahasan akan dimulaidari sistem pemerintahan daerah sebagai basisuntuk melaksanakan kewenangan desentralisasi.Kemudian, berdasarkan sistem itu akan dievaluasiperaturan perundang-undangan yang dikeluarkansebagai konsekuensi hukum dari sistem yang ditentukan pada tingkat nasional. Bahasan inilebih cenderung melihat kekurangan yang ada darisetiap sistem pemerintahan daerah yang pernahdiberlakukan di Indonesia. Dengan berdasarkankekurangan-kekurangan itulah, kemudianditawarkan beberapa solusi untuk lebihmengoptimalkan sistem yang ada. Evaluasinormatif yang telah dilakukan menggunakanparameter ketersediaan peraturan pelaksana,konsistensi peraturan pelaksana dengan peraturan“payung”-nya (peraturan dasar), dan motivasiperaturan payung dan peraturan pelaksana untuk lebih memandirikan daerah dalam pengelolaankewenangan di bidang kesehatan.
DESENTRALISASI DI INDONESIA:Perang yang tidak berkesudahan
Pada subjudul ini akan diuraikan
shifting of governanc
dalam pola hubungan antarapemerintah pusat dan daerah yang pernah,sedang, dan akan diberlakukan di Indonesia. Argumen yang akan dibangun adalah, apakah
shifting 
itu lebih memandirikan pemerintah daerahatau tidak dalam melaksanakan kewenangannya?Sistem penyelenggaraan pemerintahandaerah yang ditentukan dalam Pasal 18 UUD1945 Pra-Amademen memang jauh lebih
multi interpretable 
jika dibandingkan dengan Pasal 18,Pasal 18 A dan Pasal 18 B UUD 1945Pascaamandemen. Hal ini menyebabkanpengaturan kewenangan pemerintah daerah,sangatlah tergantung pada “interpretasi dankeinginan” pemerintah pusat yang dituangkandalam undang-undang. Akibatnya, sangat sering terjadi
shifting 
kewenangan pemerintah daerah.
Shifting 
terhadap luas atau tidaknya kewenangandaerah dapat terlihat dari kewenangan yang diberikan kepada daerah berdasarkan undang-undang yang berkaitan dengan pemerintahandaerah.Undang-undang pertama yang mengaturtentang pemerintahan daerah adalah UU No.1 Tahun 1945 tentang Kedudukan Komite NasionalDaerah. UU ini menggunakan sistem formaldalam penentuan daerah kewenangan. Denganmenggunakan sistem formal kewenanganpemerintah daerah tidak ditentukan secara jelas;semua tergantung kepada inisiatif atau prakarsadaerah yang bersangkutan
79
. Batasan yang diberikan oleh UU No.1 Tahun 1945 hanyalahbahwa urusan rumah tangga yang dilaksanakandan diatur oleh pemerintah daerah tidak bertentangan dengan peraturan pemerintah pusatatau peraturan daerah yang lebih luaskewenangannya
80
Berdasarkan sistem formal ini,semua kewenangan bidang pemerintahandiserahkan kepada pemerintah daerah, sehinggakewenangan yang dimiliki daerah sangat luas.Sebelum Komite Nasional Daerahmelaksanakan kewenangannya, dikeluarkanlah
79Bagir Manan, (1994).
Hubungan antara Pusat dan Daerah menurut UUD 1945 
, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta,hal. 176.80Lihat Pasal 2 UU No.1 Tahun 1945 tentang Peraturan mengenai Kedudukan Komite Nasional Daerah menyebutkan bahwa Komite NasionalDaerah menjadi Badan Perwakilan Rakyat Daerah, yang bersama-sama dengan dan dipimpin oleh Kepala Daerah menjalankan pekerjaanmengatur rumah tangga daerah, asal tidak bertentangan dengan Peraturan Pemerintah Pusat dan Peraturan Daerah yang lebih luas daripadanya.
 
BAGIAN IV: Desentralisasi dan Pendanaan Kesehatan
 
37
UU No. 22 Tahun 1948, tentang PemerintahanDaerah, yang juga masih memberikankewenangan yang luas bagi daerah dalammelaksanakan pemerintahan di daerah. UU inimenggunakan sistem material dalam menentukankewenangan daerah. Dengan menggunakansistem material, kewenangan daerah ditentukansatu per satu (baca: secara detail)
81
. Walaupunkewenangan daerah ditentukan secara detail, wilayah administratif dan hierarkisitasantardaerah belum diatur dalam UU ini
82
.Dorongan untuk lebih mandiri, secaranasional maupun internasional, lebih terasapengaruhnya pada saat itu, sehingga terciptalahKonstitusi Republik Indonesia Serikat 1949(KRIS 1949) sebagai kontrak sosial yang tertinggidi Indonesia. Dengan KRIS 1949, bentuk negarayang disetujui oleh komponen-komponen bangsapada saat itu adalah bentuk negara federal,sehingga daerah yang ada kemudian menjadinegara bagian. Berkedudukan sebagai negarabagian, daerah memiliki kewenangan yang sangatluas untuk mengurus rumah tangganya. Walaupundemikian, undang-undang pemerintahan daerahtetap menggunakan UU No.22 Tahun 1948dengan beberapa modifikasi.Selanjutnya, sejarah kembali berulang,ketika
 jargon-jargon 
yang mengatakan bahwa KRIS1949 adalah produk kolonial Belanda berhasilmemotivasi rakyat untuk mengubah kontrak sosial-nya lagi, KRIS 1949 diganti denganUndang-undang Dasar Sementara 1950 (UUDS1950). Perubahan kontrak sosial itumenyebabkan bentuk negara Indonesia kembalike negara kesatuan. Meskipun demikian, dengansingkatnya waktu yang ada dan peraturanperalihan dalam UUDS 1950, undang-undang pemerintahan daerah tetap menggunakan UUNo.22 Tahun 1948 sebagai undang-undang organik Pasal 131 dan Pasal 132 UUDS 1950sampai terbentuknya undang-undang baruberdasarkan UUDS 1950. Undang-undang organik UUDS 1950 baru dikeluarkan padatahun 1957 melalui UU No. 1 Tahun 1957 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. UU organik ini menggunakan sistem riil (nyata) ketikamenentukan kewenangan pemerintah daerah.Dengan sistem riil, kewenangan daerah didasarkanpada kebutuhan dan kemampuan daerah secaranyata sehingga kewenangan yang menjadi milik pemerintah daerah dapat diserahkan ataupunditarik kembali oleh pemerintah pusat
83
. Realisasipenyerahan kewenangan dilakukan melalui UUNo. 6 Tahun 1959 tentang Penyerahan Tugas-tugas Pemerintah Pusat dalam Bidang Pemerintahan Umum, Perbantuan PegawaiNegeri dan Penyerahan Keuangannya kepadaPemerintah Daerah yang akan diberlakukan(pada saat itu) melalui sebuah PeraturanPemerintah (PP). PP itu baru dikeluarkan padatahun 1963 melalui PP No. 50 Tahun 1963tentang pernyataan mulai berlakunya danPelaksanaan UU No.6 Tahun 1959. Jadi,dibutuhkan sekitar 4 tahun untuk merealisasikan“janji” yang diberikan oleh UU No.6 Tahun 1959,sehingga terlihat adanya “keengganan”pemerintah pusat agar daerah lebih berkreasidalam melaksanakan kewenangannya.Selanjutnya, waktu berjalan begitu singkatsampai keluarlah Dekrit Presiden 5 Juli 1959,sehingga UUDS 1950 dinyatakan tidak berlakulagi dan diberlakukan kembali UUD 1945 olehpresiden. Presiden melalui Penetapan PresidenNo.6 Tahun 1959 dan Penetapan Presiden No.5 Tahun 1960 tetap memberlakukan UU No. 1 Tahun 1957 dengan beberapa penyempurnaan.Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kekosonganhukum yang mengatur tentang pemerintahandaerah. Meskipun telah dilakukanpenyempurnaan, sistem yang digunakan untuk menentukan kewenangan daerah tetapmenggunakan sistem riil. Kedua PenetapanPresiden itu tetap berlaku sampai tahun 1965sebab pada tahun tersebut dikeluarkan UU No.
81Falaakh, Supra Catatan 4,hal. 3.82Soehino, (1995).
Perkembangan Pemerintahan di Daerah 
, Liberty, Yogyakarta, hal. iv.83Falaakh, Supra Catatan 4, hal. 3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->