Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
32Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Teori Hukum Murni-Tugas Teori Hukum

Teori Hukum Murni-Tugas Teori Hukum

Ratings: (0)|Views: 3,366 |Likes:
Published by Ridzaldy Arfah

More info:

Categories:Business/Law
Published by: Ridzaldy Arfah on Nov 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/20/2013

pdf

text

original

 
TEORI HUKUM MURNI DAN PENGARUHNYADI INDONESIA(
cita-cita menuju terbentuknya penegakan hukum progresif 
)
Disusun Oleh : Ridzaldy Arfah
BAB IPENDAHULUANA.Latar Belakang
Dalam dunia ilmu, teori menempati kedudukan yang penting. Teori memberikansarana kepada kita untuk bisa merangkum masalah yang kita bicarakan secara lebih baik.Hal-hal yang semula tampak tersebar dan berdiri sendiri bisa disatukan dan ditunjukkankaitannya satu sama lain secara bermakna. Teori, dengan demikian memberikan penjelasan dengan cara mengorganisasikan masalah yang dibicarakannya. Teori juga bisa mengandung subyektivitas, apalagi berhadapan dengan suatu fenomen yang cukupkomplek seperti hukum. Oleh karena itulah muncul berbagai aliran dalam ilmu hukum,sesuai dengan pandangan oleh orang-orang yang bergabung dalam aliran-alirantersebut.
1
Teori hukum, menurut Bruggink, adalah merupakan suatu satu kesatuan dari pernyataan yang saling berkaitan berkenaan dengan sistem konseptual aturan-aturanhukum dan putusan-putusan hukum, dan sistem tersebut untuk sebagian yang telahdipositifkan.Sebagaimana teori pada umumnya, demikian pula teori hukum mempunyai maknaganda yaitu teori hukum sebagai produk dan teori hukum sebagai proses. Teori hukumdikatakan sebagai produk, sebab rumusan suatu satu kesatuan dari pernyataan yangsaling berkaitan adalah merupakan hasil kegiatan teoritik bidang hukum. Sedangkan
1
Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, SH
 , Ilmu Hukum
, Cet 6, Citra Aditya Abadi, Bandung, 2006, Hal 259
1
 
Teori hukum dapat dikatakan sebagai proses, adalah karena teori hukum tersebutmerupakan kegiatan teoritik tentang hukum atau bidang hukum.Berkaitan dengan ruang lingkup penyeledikan teori hukum tersebut, menurut Dias,meliputi: faktor-faktor apakah yang menjadi dasar berlakunya suatu hukum, faktor-faktor apa yang mendasari kelangsungan berlakunya suatu peraturan hukum, bagaimanadaya berlakunya, dan dapatkah hukum itu dikembangkan.Sedangkan menurut Otje Salman dan Anthon F. Susanto, adapun ruang lingkupteori hukum meliputi: mengapa hukum berlaku?, apa dasar kekuatan mengikatnya?, apayang menjadi tujuan hukum?, bagaimana seharusnya hukum itu dipahami?, apahubungan dilakukan oleh hukum?, apakah keadilan itu, bagaimana hukum yang adil.Sementara itu, teori hukum, menurut Budiono Kusumohamidjojo, merupakan usahauntuk mendekati atau menerangkan kompleks hukum sebagai fenomena dengan bertolak dari postulat-postulat atau premis-premis tertentu, dapat bersifat historis (mazhabHistoris) atau dialektis (mazhab Dialektis), ataupun bertolak dari kenyataan hukum postif (mazhab Positivis) atau dari ambisi untuk membebaskan hukum dai anasir-anasir  politik dan kekuasaan (mazhab hukum Murni)
2
.Teori Hukum tidak sama dengan apa yang kita pahami dengan hukum positip
3
, halini perlu diperjelas untuk menghindarkan kesalah pahaman. Teori Hukum dapat disebutsebagai kelanjutan dari usaha mempelajari hukum positip, setidak-tidaknya dalamurutan yang demikian itu kita dapat merekonstruksikan kehadiran teori hukum itu secara jelas. Pada saat orang mempelajari hukum posistip, maka ia sepanjang waktudihadapkan pada peraturan-peraturan hukum dengan segala cabang kegiatan dan permasalahannya, seperti kesalahannya, penafsiran dan sebagainya
4
.Tetapi sudahmerupakan sifat manusia yang tidak pernah puas dan selalu ingin bertanya ataumempertanyakan segala sesuatu. Kemampuan manusia untuk melakukan penalaran tidak ada batasnya, hal itu semakin mendorong rasa penasaran untuk mencari sesuatu yang
2
Dansur, Peranan Hakim Dalam Penemuan Hukum, Makalah, 1 Nopember 2006.
3
Prof. Dr. H.R. Otje Salman S., SH & Anton F. Susanto, SH. M.Hum,
Teori Hukum, Mengingat,Mengumpulkan dan Membuka Kembali
, Refika Aditama, hal 45.
4
Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, SH
 , Ilmu Hukum
, Cet 6, Citra Aditya Abadi, Bandung, 2006, hal259.
2
 
 baru yang berbeda dengan apa yang telah ada. Kemampuan untuk melakukan penalaranyang demikian itulah yang membawa manusia kepada penjelasan yang lebih konkrit atausebaliknya dari segala sesuatu yang terinci naik sampai penjelasan-penjelasan yang bersifat filsafat. Teori Hukum akan mempermasalahkan hal-hal seperti yang telahdijelaskan diatas, yaitu : mengapa hukum itu berlaku? apa dasar kekuatan mengikatnya?apa yang menjadi tujuan hukum? Bagaimana seharsunya hukum itu dipahami? Apahubungannya dengan individu, dengan masyarakat? Apa yang seharusnya dilakukanoleh hukum? Apakah keadilan itu? Bagaimanakah hukum yang adil?Ada beberapa aliran dalam perkembangan Teori Hukum, dan masing-masingmemiliki cara pandang yang berbeda. Namun pada kesempatan ini penulis akanmenguraikan Teori Hukum Murni yang dikembangkan oleh Hans Kelsen.Ide mengenai
Teori Hukum Murni
(the Pure Theory of Law) diperkenalkan olehseorang filsuf dan ahli hukum terkemuka dari Austria yaitu Hans Kelsen (1881-1973).Kelsen lahir di Praha pada 11 Oktober 1881. Keluarganya yang merupakan kelasmenengah Yahudi pindah ke Vienna. Pada 1906, Kelsen mendapatkan gelar doktornya pada bidang hukum. Kelsen memulai karirnya sebagai seorang teoritisi hukum padaawal abad ke-20. Oleh Kelsen, filosofi hukum yang ada pada waktu itu dikatakan telahterkontaminasi oleh ideologi politik dan moralitas di satu sisi, dan telah mengalamireduksi karena ilmu pengetahuan di sisi yang lain. Kelsen menemukan bahwa dua pereduksi ini telah melemahkan hukum. Oleh karenanya, Kelsen mengusulkan sebuah bentuk kemurnian teori hukum yang berupaya untuk menjauhkan bentuk-bentuk reduksiatas hukum. Persoalannya adalah, masih relevankah pemikiran Kelsen pada era posmodernisme saat ini?Dapatkah Yurisprudensi ini dikarakterisasikan sebagai kajian kepada hukum,sebagai satu objek yang berdiri sendiri ?, sehingga kemurnian menjadi prinsip-prinsipmetodologikal dasar dari filsafatnya. Perlu dicatat bahwa paham anti-reduksionisme ini bukan hanya merupakan metodologi melainkan juga substansi. Kelsen meyakini bahwa jika hukum dipertimbangkan sebagai sebuah praktek normatif, maka metodologi yang3

Activity (32)

You've already reviewed this. Edit your review.
Mona Sitanggang added this note
tr
1 thousand reads
1 hundred reads
Nawi Nasution liked this
miftahol liked this
Ade Yudiansyah liked this
Putu Thesa liked this
Anas Ubaidillah liked this
CeNdy Suwardi liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->