You are on page 1of 9

PENGERTIAN & DAMPAK DARI

KRISIS EKONOMI GLOBAL

Disusun oleh :
~ Weny Ariska Yulianty

~ Ade Trianda

~ Siti Harwati .

~ Dendi .

~ Tandrityanto

KRISIS EKONOMI GLOBAL

1
A. PENGERTIAN KRISIS EKONOMI GLOBAL

Krisis ekonomi Global merupakan peristiwa di mana seluruh sektor ekonomi


pasar dunia mengalami keruntuhan dan mempengaruhi sektor lainnya di seluruh
dunia. Ini dapat kita lihat bahwa negara adidaya yang memegang kendali ekonomi
pasar dunia yang mengalami keruntuhan besar dari sektor ekonominya. Bencana pasar
keuangan akibat rontoknya perusahaan keuangan dan bank-bank besar di Negeri
Paman Sam satu per satu, tinggal menunggu waktu saja. Bangkrutnya Lehman
Brothers langsung mengguncang bursa saham di seluruh dunia. Bursa saham di
kawasan Asia seperti di Jepang, Hongkong, China, Asutralia, Singapura, India,
Taiwan dan Korea Selatan, mengalami penurunan drastis 7 sd 10 persen. Termasuk
bursa saham di kawasan Timur Tengah, Rusia, Eropa, Amerika Selatan dan Amerika
Utara. Tak terkecuali di AS sendiri, Para investor di Bursa Wall Street mengalami
kerugian besar.

B. AKIBAT TERJADINYA KRISIS EKONOMI GLOBAL

1. AKIBAT KRISIS EKONOMI GLOBAL BAGI LUAR NEGERI

Pada tahun 1907 krisis perbankan Internasional dimulai di New York, setelah
beberapa decade sebelumnya yakni mulai tahun 1860-1921 terjadi peningkatan hebat
jumlah bank di Amerika s/d 19 kali lipat. Selanjutnya, tahun 1920 terjadi depresi
ekonomi di Jepang. Kemudian pada tahun 1922 – 1923 German mengalami krisis
dengan hyper inflasi yang tinggi. Karena takut mata uang menurun nilainya, gaji
dibayar sampai dua kali dalam sehari. Selanjutnya, pada tahun 1927 krisis keuangan
melanda Jepang (37 Bank tutup); akibat krisis yang terjadi pada bank-bank Taiwan
Pada tahun 1929 – 30 The Great Crash (di pasar modal NY) & Great Depression
(Kegagalan Perbankan); di US, hingga net national product-nya terbangkas lebih dari
setengahnya. Selanjutnya, pada tahun 1931 Austria mengalami krisis perbankan,
akibatnya kejatuhan perbankan di German, yang kemudian mengakibatkan
berfluktuasinya mata uang internasional. Hal ini membuat UK meninggalkan standard
emas. Kemudian1944 – 66 Prancis mengalami hyper inflasi akibat dari kebijakan
yang mulai meliberalkan perekonomiannya. Berikutnya, pada tahun 1944 – 46
Hungaria mengalami hyper inflasi dan krisis moneter. Ini merupakan krisis terburuk
eropa. Note issues Hungaria meningkat dari 12000 million (11 digits) hingga 27

2
digits.
Pada tahun 1945 – 48 Jerman mengalami hyper inflasi akibat perang dunia kedua..
Selanjutnya tahun 1945 – 55 Krisis Perbankan di Nigeria Akibat pertumbuhan bank
yang tidak teregulasi dengan baik pada tahun 1945. Pada saat yang sama, Perancis
mengalami hyperinflasi sejak tahun 1944 sampai 1966. Pada tahun (1950-1972)
ekonomi dunia terasa lebih stabil sementara, karena pada periode ini tidak terjadi
krisis untuk masa tertentu. Hal ini disebabkan karena Bretton Woods Agreements,
yang mengeluarkan regulasi di sektor moneter relatif lebih ketat (Fixed Exchange
Rate Regime). Disamping itu IMF memainkan perannya dalam mengatasi anomali-
anomali keuangan di dunia. Jadi regulasi khususnya di perbankan dan umumnya di
sektor keuangan, serta penerapan rezim nilai tukar yang stabil membuat sektor
keuangan dunia (untuk sementara) “tenang”.
Namun ketika tahun 1971 Kesepakatan Breton Woods runtuh (collapsed). Pada
hakikatnya perjanjian ini runtuh akibat sistem dengan mekanisme bunganya tak dapat
dibendung untuk tetap mempertahankan rezim nilai tukar yang fixed exchange rate.
Selanjutnya pada tahun 1971-73 terjadi kesepakatan Smithsonian (di mana saat itu
nilai 1 Ons emas = 38 USD). Pada fase ini dicoba untuk menenangkan kembali sektor
keuangan dengan perjanjian baru. Namun hanya bertahan 2-3 tahun saja.
Pada tahun 1973 Amerika meninggalkan standar emas. Akibat hukum “uang buruk
(foreign exchange) menggantikan uang bagus (dollar yang di-back-up dengan emas)-
(Gresham Law)”. Pada tahun 1973 dan sesudahnya mengglobalnya aktifitas spekulasi
sebagai dinamika baru di pasar moneter konvensional akibat penerapan floating
exchange rate sistem. Periode Spekulasi; di pasar modal, uang, obligasi dan
derivative. Maka tak aneh jika pada tahun 1973 – 1874 krisis perbankan kedua di
Inggris; akibat Bank of England meningkatkan kompetisi pada supply of credit.

Pada tahun 1974 Krisis pada Eurodollar Market; akibat west German
Bankhaus ID Herstatt gagal mengantisipasi international crisis. Selanjutnya tahun
1978-80 Deep recession di negara-negara industri akibat boikot minyak oleh OPEC,
yang kemudian membuat melambung tingginya interest rate negara-negara industri.
Selanjutnya sejarah mencatat bahwa pada tahun 1980 krisis dunia ketiga; banyaknya
hutang dari negara dunia ketiga disebabkan oleh oil booming pada th 1974, tapi ketika
negara maju meningkatkan interest rate untuk menekan inflasi, hutang negara ketiga
meningkat melebihi kemampuan bayarnya. Pada tahun 1980 itulah terjadi krisis

3
hutang di Polandia; akibat terpengaruh dampak negatif dari krisis hutang dunia ketiga.
Banyak bank di eropa barat yang menarik dananya dari bank di eropa timur.
Pada saat yang hampir bersamaan yakni di tahun 1982 terjadi krisis hutang di Mexico;
disebabkan outflow kapital yang massive ke US, kemudian di-treatments dengan
hutang dari US, IMF, BIS. Krisis ini juga menarik Argentina, Brazil dan Venezuela
untuk masuk dalam lingkaran krisis.

Perkembangan berikutnya, pada tahun 1987 The Great Crash (Stock


Exchange), 16 Oct 1987 di pasar modal US & UK. Mengakibatkan otoritas moneter
dunia meningkatkan money supply. Selanjutnya pada tahun 1994 terjadi krisis
keuangan di Mexico; kembali akibat kebijakan finansial yang tidak tepat. Pada tahun
1997-2002 krisis keuangan melanda Asia Tenggara; krisis yang dimulai di Thailand,
Malaysia kemudian Indonesia, akibat kebijakan hutang yang tidak transparan. Krisis
Keuangan di Korea; memiliki sebab yang sama dengan Asteng.

Kemudian, pada tahun 1998 terjadi krisis keuangan di Rusia; dengan jatuhnya
nilai Rubel Rusia (akibat spekulasi) Selanjutnya krisis keuangan melanda Brazil di
tahun 1998. pad saat yang hamper bersamaan krisis keuangan melanda Argentina di
tahun 1999. Terakhir, pada tahun 2007-hingga saat ini, krisis keuangan melanda
Amerika Serikat. Dari data dan fakta historis tersebut terlihat bahwa dunia tidak
pernah sepi dari krisis yang sangat membayakan kehidupan ekonomi umat manusia di
muka bumi ini.

2. AKIBAT KRISIS EKONOMI GLOBAL BAGI DALAM NEGERI

Resesi ekonomi yang kini melanda AS, juga gejolak keuangan di beberapa
belahan dunia, tak boleh dipandang remeh. Pemerintah harus waspada dan antisipatif,
karena resesi ekonomi AS kemungkinan semakin parah sehingga bisa berdampak
hebat terhadap kehidupan ekonomi di dalam negeri. Di sisi lain, sektor keuangan di
beberapa belahan dunia yang lain kini juga bergejolak dan potensial berimbas ke
mana-mana, termasuk ke Indonesia.

Eropa Timur dan Amerika Latin sebenarnya pernah mengalami krisis ekonomi
dan keuangan. Namun, saat itu krisis tersebut lebih karena pengaruh pergolakan
politik di masing-masing negara. Tapi kini krisis ekonomi di kedua kawasan amat

4
potensial karena bubble di sektor keuangan sudah amat berlebihan. Artinya, bubble
tersebut hampir pasti segera pecah. Celakanya, kalau negara-negara berkembang yang
terkena krisis ekonomi, lembaga-lembaga keuangan internasional cenderung lepas
tangan. Akibatnya, krisis yang terjadi bisa sangat parah dan potensial mengimbas ke
wilayah lain.

Warung-warung di pelosok Jakarta kini bertumbangan ke jurang


kebangkrutan. Itu sebagai bukti bahwa rakyat kebanyakan sudah tak berbelanja lagi.
Sementara lapisan atas justru berbelanja keperluan sehari-hari ke pasar-pasar modern
milik pengusaha besar. Ini menyebabkan kefailitan raksasa bagi dunia bisnis.

Saat ini dampak resesi ekonomi global yang paling dirasakan adalah pada
masyarakat menengah ke atas, terlebih mereka yang bermain saham, valuta asing dan
investasi emas.

Dari pantauan media di sejumlah pasar di tanah air, sejak BEJ melakukan
suspend pada Jum’at (10/10) kemarin, harga bahan-bahan pangan mulai merangkak
naik. Jika sudah begini, masyarakat bawah yang paling merasakan dampaknya.

Walau beberapa kebutuhan pokok, seperti harga beras masih bertahan yakni
untuk jenis IR 64 berkisar; Rp6.000/kg, beras kuku balam super; Rp7.000/ kg, minyak
goreng; Rp.8000/kg dan gula pasir Rp.6.000/kg relatif stabil. Demikian juga dengah
harga ayam kampung yang tetap di harga Rp40.000/kg dan telur bebek Rp1.300-
Rp1.400 per butir. Namun, tak ada jaminan harga-harga kebutuhan pokok ini tidak
akan merangkak naik.

Sedangkan harga bahan pangan lainnya seperti daging lembu yang sempat
bertengger di posisi Rp 60.000-Rp65.000/kg, turun menjadi Rp.45.000/kg. Sedangkan
harga-harga yang mulai naik, antara lain; ayam potong yang beberapa waktu lalu
Rp22.000/kg, kini menjadi Rp.25.000/kg. Telur ayam potong yang kemarin sempat
Rp800-Rp850/butir, kini naik, Rp.2000/butir. Harga sayur mayur seperti cabai merah
Rp20.000/kg, naik menjadi Rp. 30.000/kg. Adapun bawang merah Rp9.000 naik
menjadi Rp10.000/kg; tomat naik ke posisi Rp 6.000 per kg dari Rp.5000/kg.

5
Selain itu, kenaikan harga bahan baku di sektor properti akibat pengaruh krisis
ekonomi global, sangat mungkin terjadi. Seperti di kutip dari Antara.co.id, Wakil
Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah, Adib Adjiputra, di Solo,
beberapa waktu lalu mengatakan, harga bahan baku yang diproduksi di dalam negeri
maupun luar negeri, berpotensi terpengaruh oleh krisis ekonomi ini.

Harga bahan baku seperti besi, keramik, semen dan sejumlah aksesori rumah
lainnya yang berasal dari industri manufaktur, kata dia, sangat rentan mengalami
kenaikan.

Kenaikan bahan baku akibat dampak krisis ekonomi ini akan semakin
menyulitkan sektor properti, setelah sebelumnya juga diterpa kenaikan harga bahan
baku akibat kenaikan bahan bakar minyak (BBM).

Pada sektor properti ini, tipe rumah kelas menengah ke atas yang akan paling
besar terkena dampak terjadinya krisis ekonomi ini. Kenaikan tingkat suku bunga
pasti akan mengikutinya. Sehingga harga cicilan rumah perbulannya akan naik.
Sedangkan untuk rumah kelas menengah ke bawah sedikit tidak berpengaruh karena
sebagian sudah disubsidi pemerintah.

C. SEPULUH CARA MENGATASI KRISIS EKONOMI GLOBAL


OLEH PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

Presiden menegaskan 10 langkah yang harus ditempuh semua pihak untuk


menghadapi krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat (AS), sehingga tidak
berdampak buruk terhadap pembangunan nasional.

Pertama, Presiden mengajak semua pihak dalam menghadapi krisis global


harus terus memupuk rasa optimisme dan saling bekerjasama sehingga bisa tetap
menjagar kepercayaan masyarakat.

Kedua, pertumbuhan ekonomi sebesar enam persen harus terus dipertahankan


antara lain dengan terus mencari peluang ekspor dan investasi serta mengembangkan
perekonomian domestik.

6
Ketiga adalah optimalisasi APBN 2009 untuk terus memacu pertumbuhan
dengan tetap memperhatikan `social safety net` dengan sejumlah hal yang harus
diperhatikan yaitu infrastruktur, alokasi penanganan kemiskinan, ketersediaan listrik
serta pangan dan BBM.
Untuk itu perlu dilakukan efisiensi penggunaan anggaran APBN maupun APBD
khususnya untuk peruntukan konsumtif.

Keempat, ajakan pada kalangan dunia usaha untuk tetap mendorong sektor riil
dapat bergerak. Bila itu dapat dilakukan maka pajak dan penerimaan negara bisa
terjaga dan juga tenaga kerja dapat terjaga. Sementara Bank Indonesia dan perbankan
nasional harus membangun sistem agar kredit bisa mendorong sektor riil. Di samping
itu, masih menurut Kepala Negara, pemerintah akan menjalankan kewajibannya untuk
memberikan insentif dan kemudahan secara proporsional.

Kelima, semua pihak lebih kreatif menangkap peluang di masa krisis antara
lain dengan mengembangkan pasar di negara-negara tetangga di kawasan Asia yang
tidak secara langsung terkena pengaruh krisis keuangan AS.

Keenam, menggalakkan kembali penggunaan produk dalam negeri sehingga


pasar domestik akan bertambah kuat.

Ketujuh, perlunya penguatan kerjasama lintas sektor antara pemerintah, Bank


Indonesia, dunia perbankan serta sektor swasta.

Kedelapan, semua kalangan diharapkan untuk menghindari sikap ego-sentris


dan memandang remeh masalah yang dihadapi.

Kesembilan, mengingat tahun 2009 merupakan tahun politik dan tahun


pemilu, kaitannya dengan upaya menghadapi krisis keuangan AS adalah memiliki
pandangan politik yang non partisan, serta mengedepankan kepentingan rakyat di atas
kepentingan golongan maupun pribadi termasuk dalam kebijakan-kebijakan politik.

Kesepuluh, Presiden meminta semua pihak melakukan komunikasi yang tepat


dan baik pada masyarakat. Tak hanya pemerintah dan kalangan pengusaha, serta
perbankan, Kepala Negara juga memandang peran pers dalam hal ini sangat penting
karena memiliki akses informasi pada masyarakat.

7
D. TANGGAPAN MASYARAKAT TERHADAP KRISIS EKONOMI
GLOBAL

Sebagai insan kritis dan intelektual, kita harus menyadari dan mengakui
dampak hebat dari krisis ekonomi global ini. Karena ini bukan saja merupakan
masalah negara saja, kita sebagai rakyat yang juga terkena akibat dari krisis ini.
Sehingga menjadi kewajiban kita untuk ambil bagian dalam mencari pemecahan
persoalan dalam permasalahan ini.

Dalam persoalan sehari-hari kita sebagai rakyat melakukan sesuatu apa


adanya. Dengan cara menghemat dan selektif dalam memilih kebutuhan pokok
khususnya, adalah salah satu cara kita menghadapi krisis ekonomi global. Saran bagi
pemerintahan adalah untuk lebih memperhatikan sektor usaha kecil yang sejujurnya
hampir tidak terlirik oleh pemerintah yang terlalu memprioritaskan usaha raksasa
(perusahaan) , BUMN, dan jasa umum. Padahal sektor usaha kecil adalah salah satu
sumber mata pencaharian rakyat yang harusnya dibesarkan. Usaha kecil
dimungkinkan untuk menarik banyak investor untuk menanamkan modalnya,
sehingga rakyat menjadi mandiri dan pemerintah menjadi lebih diringankan untuk
permasalahan pemberdayaan ekonomi rakyat. Untuk selanjutnya pemerintah tinggal
menjalankan program kerja untuk mengatasi krisis global tersebut sehingga rakyat
dan pemerintah menjadi partner dalam menanggulangi permasalahan ini.

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Setelah membaca berita di atas, dapat disimpulkan bahwa:

a. Krisis ekonomi Global merupakan peristiwa di mana seluruh sektor


ekonomi pasar dunia mengalami keruntuhan dan mempengaruhi sektor lainnya di
seluruh dunia

8
b. Krisis ekonomi Global terjadi karena permasalahan ekonomi pasar di sluruh
dunia yang tidak dapat dielakkan karena kebangkrutan maupun adanya situasi
ekonomi yang carut marut.

c. Sektor yang terkena imbasan Krisis Ekonomi Global adalah seluruh sektor
bidang kehidupan. Namun yang paling tampak gejalanya adalah sektor bidang
ekonomi dari terkecil hingga yang terbesar.

d. Cara mengatasi permasalah Krisis ekonomi bagi masyarakat adalah lebih


selektif dalam memenuhi kebutuhan dan bersikap kooperatif bersama pemerintah dan
sebaliknya dari pemerintah untuk lebih sigap dalam situasi masyarakat.

You might also like