Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
18Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kebijakan Inovasi - Tatang A Taufik

Kebijakan Inovasi - Tatang A Taufik

Ratings:

4.55

(11)
|Views: 1,032 |Likes:
Published by Tatang Taufik
Bahasan singkat tentang bagaimana sebaiknya kebijakan inovasi di Indonesia dikembangkan
Bahasan singkat tentang bagaimana sebaiknya kebijakan inovasi di Indonesia dikembangkan

More info:

Published by: Tatang Taufik on Aug 02, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/17/2012

pdf

text

original

 
KEBIJAKAN INOVASI DI INDONESIA: BAGAIMANA SEBAIKNYA?
1
Tatang A. Taufik 
 ABSTRACT 
Innovation system paradigm has received growing interests among academic communities and  policy practitioners at least in the last two decades. This approach provides philosophical aswell as pragmatical basis fundamental to accelerating the enhancement of competitiveness and social cohesion which in turn as the pillars of wealth/prosperity creation. Advancement in theinnovation system has been widely recognized as the increasingly differentiating basis for competitiveness amongst countries, regions and industries. Although some different insightsand/or different aspects have been discussed in various related conceptual and empirical literature, emphasis on interaction, collaboration, and learning process aspects, and regional/local dimensions have been among the key features of the recent trends.This paper provides a very brief overview of some current issues relevant to the national and regional innovation system development in Indonesia. The paper highlights some generic important innovation policy issues and agenda to be addressed in order to enhance thecapacity and performance of the regional and national innovation system.
I.PENDAHULUAN
Kini hampir menjadi (atau setidaknya mulai berkembang mewarnai) arus utama
(mainstream)
pendekatan pembangunan bahwa peningkatan daya saing
(competitiveness)
,dalam berbagai tataran, dan kohesi sosial
(social cohesion)
2
diyakini sebagai penentukeberhasilan dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat agar semakin tinggi dan semakin adilsecara berkelanjutan. Dengan kata lain, langkah peningkatan daya saing dan kohesi sosial jugaperlu dipandang sebagai bagian integral dari penurunan “kemiskinan”
(poverty)
3
sebagai suatubentuk ketidaksejahteraan.Telaah konsep maupun beberapa bukti empiris pengalaman praktik mereka yang berhasilmenunjukkan bahwa daya saing dan kohesi sosial suatu negara, daerah atau masyarakatsangat dipengaruhi oleh perkembangan “sistem inovasi” negara, daerah atau masyarakat yangbersangkutan. Dinamika sistem inovasi menunjukkan bagaimana suatu bangsa mampumenguasai, memanfaatkan dan mengembangkan pengetahuan, berinovasi dan mendifusikaninovasi tersebut, serta berproses dalam pembelajaran dan beradaptasi terhadap beragamperubahan.Inovasi dan difusi inovasi sebagai sumber bagi perbaikan menjadi kata kunci yang tak lagidapat diabaikan. Inovasi tak lagi harus dianggap sebagai “barang” eksklusif bagi kalangantertentu atau kelompok masyarakat maju saja. Berinovasi,
 
dan demikian juga
 
mendifusikaninovasi harus menjadi “tradisi” dalam negara, daerah atau masyarakat, yang berkehendak kuatuntuk semakin sejahtera dan tak ingin “termarjinalkan” dalam tata kehidupan internasionaldewasa ini.Membangun daya saing dan memperkuat kohesi sosial memerlukan landasan kuat dankemampuan (kapasitas) mewujudkannya. Pengembangan/penguatan sistem inovasi akan
1
Bagian dari tulisan ini dimuat dalam 'Jurnal Dinamika Masyarakat Vol. VI, No. 2, Agustus 2007.' 
*
 )
Peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
2
Daya saing dalam tataran mikro, meso dan makro memiliki pengertian berbeda namun saling berkaitan.
3
 
...poverty may be defined as a human condition characterized by sustained or chronic deprivation of the resources,capabilities, choices, security and power necessary for the enjoyment of an adequate standard of living and other civil,cultural, economic, political and social rights
(UN Committee on Social, Economic and Cultural Rights, 2001).
1
 
semakin menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi pada tataran nasional maupundaerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menurunkan kemiskinan danmenghadapi tantangan dalam mempersiapkan masyarakat memasuki era ekonomipengetahuan
(knowledge economy)
dan masyakat berpengetahuan
(knowledge society)
.Tulisan ini merupakan kumpulan bahasan singkat tentang bagaimana sebaiknya kebijakaninovasi, sebagai sehimpunan dari beragam kebijakan yang saling berkaitan untukmempengaruhi perkembangan/perkuatan sistem inovasi (baik pada tataran nasional, daerahatau industrial/sektoral) dikembangkan/diperkuat sebagai bagian integral dalam mewujudkanIndonesia yang lebih sejahtera, adil, dan maju.
II.SISTEM INOVASI
“Pandangan” tentang inovasi berkembang dari waktu ke waktu. Pemahaman sebagai“proses sekuensial-linier” sangat mendominasi di masa lampau. Dorongan bahwa hasil temuan
(invention/discovery/ technical novelty)
merupakan sumber dan bentuk inovasi sebagai sekuen(urut-urutan) linier rangkaian riset dasar, riset terapan, litbang, hingga manufaktur/produksi dandistribusi (sering disebut
technology push)
berkembang terutama pada periode 1960an hingga1970an (ada sebagian yang menyatakan periode pasca Perang Dunia II hingga tahun 1960an).Kemudian, pandangan selanjutnya bahwa perubahan kebutuhan permintaanlah yang menjadipemicu atau penarik dari inovasi (sering disebut
demand pull 
) berkembang pada periodeselanjutnya sampai periode 1980an.Namun pandangan “sekuensial-linier”
 push
ataupun
 pull 
(atau ada kalanya disebut
 pipeline linear mode
) demikian disadari tidak sepenuhnya benar. Dalam sebagian besar praktiknya, inovasi lebih merupakan proses interaktif dan iteratif, proses pembelajaran
(learning  process)
yang merupakan bagian penting dalam proses sosial. Artinya, semakin dipahamibahwa inovasi pada umumnya tidak terjadi dalam situasi yang terisolasi.
4
Kesadaran akankondisi empiris dan kebutuhan akan cara pandang dan tindakan yang sistemik dan sistematisselanjutnya mendorong berkembangnya paradigma sistem inovasi.Walaupun para pakar masing-masing mengungkapkan definisi yang berbeda tentangsistem inovasi, namun esensi makna yang dimuat sebenarnya serupa dengan penekanankepentingan pada dimensi yang agak berbeda namun saling berkaitan. Cara pandangkesisteman, karakteristik dinamis, dan kontekstual merupakan ciri pokok dari paradigma sisteminovasi. Memperhatikan beberapa definisi dan uraian dalam berbagai literatur tentang sisteminovasi serta untuk memberikan suatu perspektif yang dapat digunakan sebagai landasanbersama dalam mewujudkan sistem inovasi nasional ke depan, disampaikan suatu pengertiandasar sistem inovasi sebagai berikut.Sistem Inovasi pada dasarnya merupakan sistem (suatu kesatuan) yang terdiri darisehimpunan aktor, kelembagaan, jaringan, kemitraan, hubungan interaksi dan proses produktif yang mempengaruhi arah perkembangan dan kecepatan inovasi dan difusinya (termasukteknologi dan praktik baik/terbaik) serta proses pembelajaran
.
 Dengan demikian sistem inovasi sebenarnya mencakup basis ilmu pengetahuan danteknologi (termasuk di dalamnya aktivitas pendidikan dan aktivitas penelitian, pengembangandan rekayasa), basis produksi (meliputi aktivitas-aktivitas nilai tambah bagi pemenuhankebutuhan bisnis dan non bisnis serta masyarakat umum), dan pemanfaatan dan difusinyadalam masyarakat serta proses pembelajaran yang berkembang. Pada tataran nasional, sisteminovasi disebut sistem inovasi nasional. Sementara pada tataran teritori yang lebih sempit(daerah/lokal), sistem inovasi sering disebut sistem inovasi daerah/lokal. Selain itu, dalam
4
Catatan: diskusi tentang perkembangan konsep sistem inovasi beserta beberapa literatur lain, antara lain dapatdilihat dalam buku penulis, Taufik (2005).
2
 
konteks-konteks khusus seperti sektor atau industri tertentu, maka pendekatan sistem inovasisering menggunakan istilah sistem inovasi sektoral/industrial.Pada prinsipnya terdapat 5 (lima) segi/tekanan perhatian yang umumnya diberikan padabahasan tentang sistem inovasi, yaitu (lihat Taufik, 2005c):a.Basis sistem sebagai tumpuan bagi proses inovasi beserta difusi inovasi. Hal ini berkaitanmisalnya dengan segi/aspek berikut (yang umumnya saling terkait satu dengan lainnya):
Tingkat analisis: mikro, meso dan makro.
Segi/aspek teritorial dan/atau administratif: misalnya sistem inovasi pada tataransupranasional (beberapa negara), nasional, dan sub-nasional (atau daerah).
5
Aspek bidang atau sektor: sistem inovasi sektoral/industri dan klasterisasi.
Basis aktivitas utama: misalnya sistem iptek (termasuk litbang) dan sistem produksi.b.Aktor dan/atau organisasi (lembaga) yang relevan dengan perkembangan inovasi (dandifusinya). Aktor tersebut dapat menjalankan suatu atau kombinasi peran berikut:
Pelaku yang terlibat relatif ”langsung”: adalah mereka yang perannya berhubungan”langsung” dalam rantai nilai proses inovasi, pemanfaatan dan/atau difusinya.Organisasinya dapat berupa penyedia, pengguna, dan/atau
intermediaries
, sepertimisalnya pelaku/organisasi bisnis, perguruan tinggi, lembaga litbang, organisasibisnis, organisasi profesi, atau bentuk kelembagaan koraboratif seperti aliansi/konsorsia, dan lainnya.
Pelaku yang terlibat relatif ”tak langsung”: adalah mereka yang perannya pentingnamun tidak terlibat secara ”langsung” dalam rantai nilai proses inovasi,pemanfaatan dan/atau difusinya. Pelaku ”pendukung/penunjang” ini memberikankontribusi melalui penyediaan sumber daya bagi inovasi (misalnya pendanaan danSDM terspesialisasi), fungsi pendukung berupa informasi, produk barang dan/atau jasa penunjang keahlian tertentu baik teknis, bisnis, legal atau lainnya).
Penentu/pembuat kebijakan: adalah pemerintah (atau pemerintahan) murnidan/atau organisasi/pengorganisasian yang berbentuk kuasi-publik yang berperansebagai otoritas penentu kebijakan, baik yang bersifat regulasi maupun non-regulasi.
Pendukung dalam proses kebijakan inovasi: adalah mereka yang berperanmendukung proses kebijakan, baik untuk memberikan jasa riset/pengkajiankebijakan, penasihat
(advisory body)
dan/atau peran kontrol (pengawasan).Dalam praktik sistem inovasi, suatu organisasi (atau pengorganisasian)umumnya melakukan peran majemuk, kecuali penentuan/penetapankebijakan atau regulator. Penadbiran kebijakan yang baik
(good policy governance)
perlu menghindari/meminimumkan distorsi misalnya dengan”memisahkan” perannya sebagai pihak penentu kebijakan dari keterlibatannyadalam ”aktivitas teknis” secara langsung dalam ranah kewenangannya danmenghindari/meminimumkan kemungkinan
moral hazard 
dari perannya.Pada dasarnya, perubahan yang berkembang semakin mendorong/menuntutpergeseran paradigma bagaimana para pelaku memainkan perannya lebihbaik dalam sistem inovasi. Perguruan tinggi misalnya, tak lagi ”sekedar” perlumenghasilkan SDM terdidik yang berkualitas, tetapi juga semakin mampumenjawab persoalan nyata dalam masyarakat. Kemampuannya untuk dapatmenjadi
research and entrepreneurial universit
kini dipandang semakin
5
Ada perbedaan istilah yang digunakan. Beberapa menyebut misalnya “sistem inovasi nasional/daerah
(national/regional innovation system)
”, ada juga yang menggunakan istilah “sistem nasional/daerah inovasi
(national/regional system of innovation)
untuk maksud yang sama. Dalam hal ini, penulis lebih condong memilihmenggunakan istilah “sistem inovasi nasional/daerah.” Semata karena pertimbangan semantik dan kelajimanpenggunaannya dalam sebagian besar literatur tentang sistem inovasi.
3

Activity (18)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Dudut Dwi liked this
V'ghez Ghestii liked this
Aandi Juansyah liked this
Kezia Dian liked this
rohmanhermanto liked this
tnukep liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->