Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
VEKTOR PENYAKIT MENULAR

VEKTOR PENYAKIT MENULAR

Ratings: (0)|Views: 291 |Likes:
Published by Syamsul Putra

More info:

Published by: Syamsul Putra on Nov 30, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2012

pdf

text

original

 
VEKTOR PENYAKIT MENULAR 
Vektor merupakan binatang pembawa Penyakit yang disebabkan oleh bakteri, ricketsia,virus, protozoa dan cacing, serta menjadi perantara penularan penyakit tersebut. Pencemarankarena vektor adalah terjadinya penularan penyakit melalui binatang yang dapat jadi perantara penularan penyakit tertentu akibat kondisi pencemaran vektor penyakit, antara lain:1.Perubahan lingkungan fisik seperti pertambangan, industri dan pembangunan perumahanyang mengakibarkan berkembang biaknya vektor penyakit2.Sistim penyediaan air bersih dengan perpipaan yang belum menjangkau seluruh penduduk sehingga masih diperlukan container untuk penyediaan air.3.Sistem drainase permukiman dan perkotaan yang tidak memenuhi syarat sehinggamenjadi tempat perindukan vektor 4.Sistem pengelolaan sampah yang belum memenuhi syarat menjadikan sampah menjadisarang vektor 5.Penggunaan pestisida yang tidak bijaksana dalam pengendalian vektor penyakit secarakimia beresiko timbulnya keracunan dan pencemaran lingkungan serta resistensi vektor Beberapa jenis serangga merupakan vektor utama atau vektor penting dari penyakit- penyakit tropis di Indonesia. Nyamuk Anopheles merupakan vektor utama penyakit malaria,
 Aedes Aegypti
adalah vektor utama penyakit demam berdarah, cikungunya dan demam kuning.Selain menyimpulkan bahwa serangga sebagai Vektor Penyakit Tropis di Indonesia, danmenurut regulasi kesehatan internasional dari WHO dan dikenal juga sebagai (EmergingInfectious Disease) dan pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1910. Sementara, untuk  penyakit Pes di Sulut sendiri belum pernah ditemukan (Anonim, 2003).Vektor penyakit kini telah semakin sulit diberantas. Hal ini dikarenakan vektor penyakittersebut telah beradaptasi sedemikian rupa terhadap kondisi lingkungan, sehingga kemampuan bertahan hidup mereka pun semakin tinggi. Hal ini disimpulkan dari hasil penelitian para ahli diInstitut Pertanian Bogor (IPB) Jakarta. Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukankesimpulan bahwa binatang pembawa agen penyakit, terutama nyamuk dan lalat, telah beradaptasi sedemikian rupa terhadap kondisi lingkungan, sehingga kemampuan bertahan hidupmereka pun semakin tinggi.
http//syamblog.blogspot.com 
 
Menurut Projo Danoedoro (2003) Penyakit menular merupakan Penyakit yang terkaitdengan kondisi lingkungan tidak hanya yang menular. Kondisi lingkungan yang spesifik dapatmemicu angka kejadian penyakit yang tinggi. Secara alami, wilayah gunung api biasanya miskinyodium. Daerah berbatuan kapur juga menyebabkan kandungan air tanahnya mempunyaikandungan kapur yang tinggi. Di pedalaman Kalimantan Timur, penulis pernah menjumpai air  permukaan dengan kandungan logam berat kadmium yang cukup tinggi meskipun tidak terdapatkegiatan industri di sekitarnya.Faktor non-alami juga bisa memunculkan masalah kesehatan yang perlu dipahami risikocakupan kewilayahannya. Penggunaan pestisida yang berlebihan di daerah hulu daerah aliransungai (DAS) akan mencemari air tanah dan terbawa sampai ke hilir. Jarak, arah angin, curahhujan, kemiringan lereng, gerakan air tanah, dan konsentrasi polutan industri sangat berpengaruhterhadap kesehatan penduduk di sekitar lokasi industri.Inderaja dan GIS dapat membantu mendefinisikan zona-zona dalam bentuk satuan pemetaan, memodelkan pola dan arah gerakan atau aliran pencemar. Dari sana kemudian dapatditentukan wilayah-wilayah yang berisiko tercemar, dengan memperhatikan pola permukiman,kepadatan penduduk, pola aktivitas, dan pemanfaatan air tanahnya.Dengan memahami kompleksitas fenomena penyakit dalam ruang, sebenarnya perencanaan wilayah merupakan tugas yang sangat rumit. Pilihan dalam perencanaan penggunaan lahan pertanian, misalnya, bukan lagi dalam konteks produktivitas pangan, erosi, banjir, dan kesejahteraan ekonomi petani. Di situ ada konsekuensi-konsekuensi kesehatan ketika pola tanam diubah karena menyangkut kontinuitas siklus hidup inang dan vektor pembawa penyakit. Upaya konservasi biodiversitas, seperti yang terjadi di Jerman, pun kadang-kadangtidak mudah dipertemukan dengan upaya eradikasi penyakit menular.Perencanaan bidang kesehatan pun terbantu oleh inderaja dan SIG. Suplai obat tertentulebih bisa difokuskan pada wilayah-wilayah dengan angka insidensi penyakit tertentu yang jugatinggi. Dengan demikian, kemubaziran suplai obat dan keterlambatan penanganan suatu kejadianluar biasa karena kurangnya obat bisa dihindari. Penentuan lokasi puskesmas dan pusat pelayanan kesehatan lain seyogianya tidak hanya bertumpu pada pusat-pusat kecamatan,melainkan juga akses penduduk ke lokasi yang direncanakan.
http//syamblog.blogspot.com 
 
Penyakit menular lain yang menjadi perhatian dalam pembangunan derajat kesehatanmasyarakat di Indonesia adalah: tetanus neonatorum, campak, infeksi saluran pernapasan akut,diare, kusta, rabies, dan filariasis (Depkes 2004), (Bappenas 2005).Suatu penyakit dapat menular dari orang yang satu kepada yang lain ditentukan oleh 3faktor, yakni :a.Agen (penyebab penyakit) b.Host (induk semang)c.Route of transmission (jalannya penularanAgar supaya agen (vektor) atau penyebab penyakit menular ini tetap hidup (survive) maka perlu persyaratan-persyaratan sebagai berikut :a.Berkembang bia b.Bergerak atau berpindah dari induk semangc.Mencapai induk semang barud.Menginfeksi induk semang baru tersebut.Kemampuan agen (vektor) penyakit ini untuk tetap hidup pada lingkungan manusiaadalah suatu faktor penting didalam epidemiologi infeksi. Setiap bibit penyakit (penyebab penyakit) mempunyai habitat sendiri-sendiri sehingga ia dapat tetap hidup. Dari sini timbulistilah reservoar yang diartikan sebagai berikut 1) habitat dimana bibit penyakit tersebut hidupdan berkembang 2) survival dimana bibit penyakit tersebut sangat tergantung pada habitatsehingga ia dapat tetap hidup. Reservoar tersebut dapat berupa manusia, binatang atau benda- benda mati.Upaya penanggulangan wabah meliputi:1.penyelidikan epidemiologis, yaitu melakukan penyelidikan untuk mengenal sifat-sifat penyebabnya serta faktor yang dapat menimbulkan wabah,2.pemeriksaan, pengobatan, perawatan dan isolasi penderita termasuk tindakan karantina,3.pencegahan dan pengebalan yaitu tindakan yang dilakukan untuk memberikan perlindungan kepada mereka yang belum sakit tetapi mempunyai risiko terkena penyakit,4.pemusnahan penyebab penyakit, yaitu bibit penyakit yang dapat berupa bakteri, virus danlain-lain,
http//syamblog.blogspot.com 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->