Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
7Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Mengatasi Kemiskinan

Mengatasi Kemiskinan

Ratings: (0)|Views: 217 |Likes:

More info:

Published by: H Masoed Abidin bin Zainal Abidin Jabbar on Aug 03, 2008
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/03/2014

pdf

text

original

 
YANG TELAH DITINGGALKAN ORANG MINANGDALAM UPAYA MEMERANGI KEMISKINANDITENGAH MASYARAKAT RANAH MINANGSEBUAH KACA BANDINGTINJAUAN ISLAMOleh : H. Mas'oed Abidin
PENGENTASAN KEMISKINAN
1
 
S
umatera Barat, dengan akar budaya Minangkabau, sangat intens (
basitungkin
)dalam mengantisipasi berkembangnya kemiskinan.Ada sinyalemen, tentang lahan Ranah Minang. Sebagai dikatakannya, tanah diMinangkabau, tidak (kurang) bersahabat. "
Dari keseluruhan wilayah Sumatera Barat,hanya sekitar 14 persen saja yang kondisi tanahnya subur dan cocok untuk arealpertanian
."
1
.Perlulah pula dimaklumi, sebahagian dari luas lahan dimaksud, sudah didiamianak kemenakan warga transmigrasi. Sejak dari Pasaman, Sitiung, Lunang-Silaut, SolokSelatan. Sebahagiannya pula diolah oleh perusahaan-perusahaan perkebunan, yangmenyebar dari Pasaman hingga ke batas Mandailing (Tapsel). Dari Sijunjung hingga kebatas Jambi dan Riau. Begitu pula mendekat batas Bengkulu, di ujung Pesisir Selatan.Tanah yang tadinya berada dalam status tanah ulayat Nagari, atau dalam sakopusako tinggi, pelan-pelan berangsur tergeser. Mengiring gerak roda pengembanganwilayah.Secara keseluruhan tanah-tanah kosong tadinya, kini mulai ditanami. Pelan-pelantetapi pasti, menjanjikan mutiara hijau di kepingan wilayah Sumatera Barat.Mulai dari tanaman sawit, karet, cokelat, lada/merica, kulit manis, hingga ketelapohon (ubi kayu).Masa
doeloe
seketika tanah-tanah itu belum diolah, hanya dijadikan anakkemenakan sebagai hutan tempat mencari kayu api. Paling tinggi tempat simpanan kayupembuat rumah atau untuk mencari akar-rotan.Persawahan atau perladangan anak nagari semasa itu, merupakan hasil tarukoninik-mamak. Sawah
bajanjang bapamatang
dan ladang
babiteh babentalak
. Dari mamak turunke kemenakan. Begitulah seterusnya.Letaknyapun di sekeliling Dusun Taratak. Bahkan ada yang berada di kelilingrumah tempat diam.Perkembangan dusun menjadi desa, dan
nagari masuk lurah
, anak kemenakan ikutbertambah. Rumah kecil tak mampu lagi menampung jumlah cucu dan cicit. Bangunanbarupun ditegakkan, tanah persawahan menjadi satu-satunya pilihan untuk
batagak
rumahbaru.
 Manaruko
hutan menjadi sawah, tidak lagi merupakan kebiasaan masa kini.Sebaliknya yang terjadi, mengurangi areal persawahan menjadi lokasi perumahan.Di sinilah ditemui kritisnya masalah peternakan jika dikaitkan dengan sumberpendapatan pertanian.Akan tetapi, masyarakat Minangkabau, tidak dapat dikatakan miskin dan belumpula bisa dikatakan berada. Yang jelas, mereka tetap bisa hidup dan bertahan hidup, diareal yang makin terbatas itu.Keadaan itu memungkinkan, karena adanya peran budaya Minang yang sedariawal intensif mengantisipasi gejala kemiskinan itu.Antara lain, bunyi pantun.
1
 
Prof. Emil Salim (pernah menjabat Menteri KLH, Kabinet Pembangunan V), sebagaidiungkapkan Singgalang, Rabu, 7 Juli 1993, halaman pertama, dari
Musyawarah PolaDasar Pembangunan Sumbar 
.
PENGENTASAN KEMISKINAN
2
 
Karatau madang di ulu,ba buwah ba bungo balun,marantau-lah buyuang dahulu,di rumah paguno balun.
Adanya kebiasaan merantau menjadikan pemuda-pemuda Minangkabau(Sumatera Barat), mencari hidup di lahan orang lain. Modalnya keyakinan, kemauan dan
tulang delapan karat
.Sementara itu, sang dara (gadis/remaja putri) Minangkabau, tidak pula dibiarkanhidup cengeng. Mereka diajar
bertani, merenda, menjahit, menyulam
, dan berbagaikepandaian puteri lainnya. Yang sungguhpun, dirasakan bahwa kepandaian-kepandaiansemacam itu, kini mulai terasa langka.Kalaulah kemiskinan yang ada, tidak dirasakan sebagai bahaya, itu hanyadisebabkan karena pandainya
batenggang
.Sesuai bunyi pantun;Alah bakarih samporono,Bingkisan rajo majopaik,tuah basabab bakaranopandai batenggang di nan rumik.Selanjutnya, kepandaian batenggang itu digambarkan dalam pantun lainnya;Latiak-latiak tabang ka pinang,hinggok di pinang duo-duo,satitiak aie dalam piriang,di sinan ba main ikan rayo.Falsafah budaya ini, bukannya menelorkan masyarakat yang statis. Sama sekalitidak. Bahkan melahirkan sikap jiwa yang digjaya. Satu iklim jiwa (
mentalclimate
) yangsubur. Bila pandai menggunakannya dengan tepat, akan banyak membantu dalam usahapembangunan sumber daya manusia di ranah ini.Sifat egoistis, memang kurang diminati dalam budaya Minangkabau. Membiarkankemelaratan orang lain, dengan menyenangkan diri sendiri, mungkin merupakan sikapyang tak pernah diwariskan. Yang ada, hanyalah tenggang manenggang dan
raso jo pareso
.Menurut bahasa halusnya alur dan patut.Mengatasi masalah kemiskinan ditengah kelembagaan masyarakat Minangkabau,terlihat dari usaha dan perhatian khusus terhadap kemakmuran lahiriyah (material).Ungkapan itu jelas tersimak dalam untaian pepatah yang menyibakkan artikemakmuran itu.Rumah Gadang gajah maharamLumbuang baririk di halamanRangkiang tujuah sa jajaSabuah si Bajau-bajauPanenggang anak dagang lalu
PENGENTASAN KEMISKINAN
3

Activity (7)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
r3n4ldo liked this
idrussalamh liked this
NoVaLd liked this
jemila87 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->