Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Land Reform

Land Reform

Ratings: (0)|Views: 370 |Likes:
Published by sithneonart

More info:

Published by: sithneonart on Dec 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/30/2012

pdf

text

original

 
Janji manis pemerintah membagi-bagikan lahan kepada masyarakat miskin dalam rangkareforma agraria, kemungkinan besar tidak akan berjalan seperti yang diharapkan. Setumpuk hambatan masih akan mengganjal program ini, baik dari sisi masyarakat, ketersediaan lahan,maupun masalah hukum.Setelah lama ditunggu-tunggu, satu dari sekian banyak  janji kampanye Presiden SBY, akhirnya mulai digulirkan, yakni membagi-bagikan tanah padarakyat miskin atau sering disebut dengan istilah land reform. Kepala Badan Pertanahan Nasional(BPN) Joyo Winoto mengungkapkan hal itu kepada wartawan seusai mengikuti Rapat Terbatastentang Reformasi Agraria di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/5).Joyo Winoto menjelaskan, ada tiga kriteria tanah yang dibagikan kepada penduduk miskin.Pertama, tanah-tanah yang menurut undang-undang bisa diredistribusikan, termasuk tanah-tanahhasil land reform sebelumnya, seluas 1,1 juta ha. Kedua adalah tanah-tanah yang berasal darihutan produksi konversi seluas 8,5 juta ha. Ketiga adalah tanah yang sedang diidentifikasiDepartemen Kehutanan dan BPN.Dalam tulisannya di sebuah harian terbitan ibukota, Rabu (23/5), Joyo Winoto menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan reforma agraria adalah melakukan penataan atas penguasaan, pemilikan, pemanfaatan, dan penggunaan tanah (P4T) atau sumber-sumber agraria menuju suatustruktur yang berkeadilan dan langsung mengatasi persoalannya.Menyangkut lahan-lahan yang akan dibagikan, Joyo Winoto menjelaskan lebih rinci, bahwa presiden SBY mengalokasikan 8,5 juta ha tanah yang berasal dari kawasan hutan, dan 1,1 juta hayang berasal dari berbagai sumber lainnya, termasuk diantaranya tanah kelebihan maksimum dantanah absentee yang telah ditetapkan berdasarkan UU tetapi masih belum diredistribusikan,tanah-tanah negara yang haknya telah berakhir, tanah-tanah yang pemanfaatan dan penggunaannya tidak sesuai dengan surat keputusan pemberian haknya, tanah-tanah yang secarafisik dan secara hukum terlantar, dan jenis-jenis tanah lainnya yang telah diatur UU. Namun demikian, menurut Joyo Winoto, program land reform ini belum serta mertadilaksanakan, karena saat ini jajaran BPN di seluruh Indonesia masih sedang mempersiapkandesain tahapan dan perkembangan implementasi dari reformasi agraria tersebut. Menurutnya, PPitu akan mengatur mekanisme reformasi agraria, yang dalam waktu dekat akan dikeluarkan.
 
Kendala
Jika bertitik tolak dari keberadaan lahan yang akan dibagi-bagikan, kemungkinan besar programland reform era SBY ini tidak serta merta berjalan mulus. Beberapa persoalan yang menghambat pendistribusian tanah ini, diantaranya minat warga masyarakat karena menyangkut lahan-lahanyang tidak dilengkapi dengan infrastruktur, seperti yang terjadi pada lahan-lahan tansmigrasiyang banyak ditinggalkan masyarakat transmigran.Di samping itu, bentuk pendistribusian juga menjadi sumber persoalan. Apakah lahan-lahandikelola secara nasional dan didistribusikan secara nasional ataukah oleh masing-masing daerah?Kalau dikelola secara nasional, berarti ada mobilitas penduduk (transmigrasi dan ruralisasi) darisatu daerah ke daerah lain, terutama dari perkotaan ke pedesaan. Dalam hal ini harus diingat bahwa pergerakan penduduk seperti ini, berpotensi menjadi kendala, sebagaimana keenggananmasyarakat bertransmigrasi.Sementara jika dikelola secara lokal, pada satu sisi memang akan lebih mendorong perpindahan penduduk karena tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka sebelumnya, namun pada lain sisi juga terkendala dengan ketidakseimbangan antara jumlah penduduk miskin dengan ketersediaanlahan yang akan dibagi-bagi.Di samping masalah mobilisasi penduduk, perangkat hukum pelaksana dan perangkat teknis jugamasih belum tersedia. Bahkan program reforma agraria ini, bukan tidak mungkin memicuterjadinya duplikasi hak atas tanah. Apa yang dimaksud dengan tanah absentee, tanah-tanah yang pemanfaatan dan penggunaannya tidak sesuai dengan surat keputusan pemberian haknya, tanah-tanah yang secara fisik dan secara hukum terlantar, dan jenis-jenis tanah lainnya yang telahdiatur UU.Resistensi dan konflik antara pemerintah dan masyarakat menjadi sangat memungkinkanmuncul, karena tidak seluruh tanah yang dimiliki masyarakat dan dimiliki pemerintahdisertifikasi. Dengan demikian, masing-masing dapat mengklaim tanah itu sebagai haknya.Dalam kondisi yang demikian, masalah reforma agraria yang dimaksudkan untuk kesejahteraandan keadilan, bisa berubah menjadi malapetaka, seperti yang terjadi pada reforma agraria tahun1960.Sebagai diketahui, Presiden Soekarno meluncurkan program reforma agraria pada tahun 1960 berdasarkan UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Namun program itu tidak banyak berhasil karena hak-hak atas tanah pada saat itu belum sepenuhnyatertata.Setelah Indonesia merdeka, pemerintah Indonesia berupaya untuk memperbaharui tata hukumagraria yang berangkat dari cita-cita hasil pembentukan Negara baru, yakni menciptakankesejahteraan rakyat, dengan menetapkan Undang-Undang Pokok Agraria No.5 Tahun 1960tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA). Bagian yang cukup penting dari UUPAantara lain ialah yang bersangkutan dengan ketentuan-ketentuan landreform, seperti ketentuan
 
mengenai luas maksimum-minimum hak atas tanah dan pembagian tanah kepada petani tak  bertanah. Oleh Noer Fauzi (dalam Farida, 2002:1) menyatakan bahwa semenjak tanggal 24September 1960, rakyat petani mempunyai kekuatan hukum untuk memperjuangkan haknya atastanah, melakukan pembagian hasil yang adil dan mengolah tanahnya demi kemakmuran.Bila ditinjau secara seksama maka akan jelaslah bahwa UUPA (terutama pasal 7, 10 dan 17)merupakan induk dari ketentuan landreform Indonesia, baik mulai dari menimbang hingga pasal19 dan ketentuan-ketentuan Konversi Hak atas Tanah. Dengan membaca konsiderans maupunPenjelasan dari UUPA dan pasal 1 hingga pasal 19 UUPA, mapun Ketentuan Konversi akan jelas tentang penetapan dari landreform di Indonesia (A.P.Parlindungan, 1987:4).Sebagai tindak lanjut dari ketentuan pasal 17 UUPA tentang batas maksimum-minimum pemilikan tanahdikeluarkan Undang-Undang No.56 Prp Tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian,dikenal sebagai UU Landreform. Kemudian terhadap pemberian ganti kerugian kepada bekas pemilik tanah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah No.224 tahun 1961 tentang PelaksanaanPembagian Tanah dan Pemberian Ganti Kerugian.Perkembangan lebih lanjut dari landreform di Indonesia dalam pelaksanaannya mengalamistagnasi, tersendat-sendat dan tidak tuntas terkesan dianaktirikan dalam kebijakan pembangunan bahkan baru pada tahun 1978 kemudian tahun 1983 dalam GBHN secara tegas dinyatakanlandreform sebagai suatu kemauan politik. Perubahan jaman dengan adanya liberalisasi perdagangan menempatkan tanah sebagai komoditi membuat masalah ketimpangan penguasaandan pemilikan tanah semakin kompleks dimana rakyat terutama petani kecil diposisikan sebagaikorban arus kapitalisme global. Fenomena di atas terlihat jelas, dimana rejim orde baru sejalawal langkah pemerintahannya telah meninggalkan roh dan semangat UUPA yang populis dandiganti dengan kebijakan memfasilitasi akumulasi modal. Diundangkannya UU No.5/1960 (UUPA) mengakhiri dualisme hukum agraria yang adasebelumnya berlaku di Indonesia, yakni Hukum Barat yang didasarkan pada Kitab undang-Undang Hukum Perdata dan Hukum Tanah Adat yang didasarkan pada prinsip-prinsip hukum penduduk sipil (adat) Indonesia.Tujuan pokok dari diundangkannya UUPA adalah (i) meletakkan dasar-dasar bagi penyusunanhukum agraria nasional, yang merupakan alat untuk membawakan kemakmuran, kebahagiaandan keadilan bagi Negara dan rakyat, terutama rakyat tani, dalam rangka masyarakat adil danmakmur, (ii) meletakkan dasar-dasar untuk mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalamhukum pertanahan, (iii) meletakkan dasar-dasar untuk memberikan kepastian hukum mengenaihak-hak atas tanah bagi rakyat seluruhnya.Latar belakang dari agenda atau tujuan pokok dari UUPA di atas adalah karena realitas pengaturan hukum agraria yang diwariskan pemerintah jajahan sangat bertentangan dengankepentingan rakyat dan bangsa, melahirkan sifat dualisme hukum agraria dan tidak memberikan jaminan kepastian hukum bagi rakyat asli Indonesia. Semua itu harus dihapus dan digantikandengan semangat yang didasarkan pada kepentingan rakyat dan bangsa berdasar UUD 1945.Dari penjelasan UUPA itu menunjukkan bahwa UUPA adalah anti kapitalisme dan sebaliknyamemiliki semangat kerakyatan (populis). Cita-cita UUPA adalah melaksanakan perubahan secaramendasar terhadap relasi agraria yang ada agar menjadi lebih adil dan memenuhi kepentinganrakyat petani. Terdapat tiga konsep dasar dalam UUPA (Anonim, 2002:3) yaitu:hukum agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat;Eksistensi dan wewenang Negara sebagai organisasi tertinggi bangsa dinyatakan dalam Hak Menguasai Negara atas bumi, air, dan ruang angkasa sebagai penjabaran pasal 33 UUD 1945yang digunakan untuk mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat;

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Handayani Anda liked this
Sigitheuyo Reiy liked this
RusLi- NuNin liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->