Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Aspek Non Teknis Dan Indikator Efisiensi Sistem an Tumpangsari Sayuran Dataran Tinggi (JHort_ Vol 14_no 3_2004)

Aspek Non Teknis Dan Indikator Efisiensi Sistem an Tumpangsari Sayuran Dataran Tinggi (JHort_ Vol 14_no 3_2004)

Ratings: (0)|Views: 233 |Likes:
Published by wietadiyoga

More info:

Categories:Types, Research
Published by: wietadiyoga on Dec 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/16/2013

pdf

text

original

 
1
 Jurnal Hortikultura, Tahun 2004, Volume 14, Nomor (3): 217-227
ASPEK NONTEKNIS DAN INDIKATOR EFISIENSISISTEM PERTANAMAN TUMPANG SARI SAYURANDATARAN TINGGI
Witono Adiyoga, Rachman Suherman, Nikardi Gunadi dan AchmadHidayat
Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Perahu 517 Lembang, Bandung 40391Penelitian ini dilaksanakan di sentra produksi sayuran dataran tinggi Pangalengan, JawaBarat pada bulan November 2001. Observasi lapang dan survai formal melaluiwawancara dengan 23 orang petani responden diarahkan untuk memperolehdata/informasi dasar mencakup aspek non-teknis dan indikator efisiensi sistempertanaman tumpangsari pada komunitas sayuran dataran tinggi. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa komoditas sayuran utama yang diusahakan secara monokulturmaupun tumpangsari di Pangalengan adalah kentang, kubis, petsai, cabai dan tomat.Petani mempersepsi kentang sebagai komoditas sayuran yang teknik budidayanyapaling dikuasai serta paling dapat diandalkan/menguntungkan. Sementara itu, tomatdan kubis dikategorikan sebagai jenis sayuran yang memiliki risiko produksi palingtinggi (terutama dikaitkan dengan risiko kehilangan hasil panen akibat serangan hamapenyakit). Sebagian besar petani responden cenderung lebih sering memilih sistempertanaman tumpangsari berdasarkan pertimbangan (a) memberikan ruang gerak yanglebih leluasa bagi petani untuk menghindarkan kemungkinan kehilangan hasil secaratotal serta kerugian finansial yang disebabkan oleh rendahnya harga salah satukomoditas yang ditanam, (b) memanfaatkan lahan dan energi sinar matahari secaralebih efisien, (c) instabilitas hasil yang disebabkan oleh cekaman lingkungan maupunserangan hama penyakit secara keseluruhan dapat dikurangi oleh karena sistem terdiridari dua atau lebih spesies tanaman yang berbeda, (d) memungkinkan penggunaantenaga kerja dan modal produksi secara lebih efisien, dan (e) dua atau lebih cabangusaha (jenis tanaman) yang menopang sistem tersebut dapat saling menutupi jika salahsatu di antaranya mengalami kerugian. Sebagian besar petani responden cenderungmemberikan penilaian positif terhadap status sistem pertanaman tumpangsariberkaitan dengan kemungkinan peningkatan pendapatan usahatani, pengurangan risikoharga/hasil dan pemeliharaan/ perbaikan kelestarian lingkungan. Evaluasi produktivitassistem pertanaman tumpangsari menunjukkan bahwa nisbah kesetaraan lahan untukberbagai kombinasi tanaman, berkisar antara 1,13-2,10. Berdasarkan urutankepentingannya, petani mempersepsi fluktuasi harga, ketersediaan modal dan insidenhama penyakit sebagai tiga kendala terpenting keberhasilan sistem pertanamantumpangsari sayuran dataran tinggi. Secara berturut-turut kemudian diikuti olehketersediaan lahan, ketersediaan pupuk/pestisida, ketersediaan air/pengairan, erositanah atau kesuburan tanah, ketersediaan informasi teknis dan ketersediaan tenaga kerjaKata kunci: Tumpangsari; Sayuran Dataran Tinggi; Nisbah Kesetaraan Lahan.ABSTRACT. Adiyoga, W., R. Suherman, N. Gunadi dan A. Hidayat. 2002. Nontechnicalaspects and efficiency indicators of highland vegetable multiple cropping systems. Thisstudy was carried out in November 2001, in the higland vegetable production center,Pangalengan, West Java. Field observation and formal survey to interview 23respondents were aimed to obtain information on non-technical aspects and efficiencyindicators of highland vegetable multiple cropping systems. Results indicate that potato,cabbage, chinese cabbage, hot pepper and tomato are the most common vegetablecrops grown in monocropping and multiple cropping systems. Farmers perceive potato
1
 
2
as the most familiar/manageable, in terms of cultural practices, and the most profitablecrop. Tomato and cabbage are perceived as crops that have highest risk, in relation topest and disease yield losses. There is an increasing trend of the use of multiplecropping by farmers since (a) it may avoid the yield and financial total loss, (b) it couldutilize land and lights more efficiently, (c) it may reduce the yield instability caused byenvironmental stress and pests/diseases incidence, and (d) it may use labor and capitalmore efficiently. Most respondents are in favor of or in agreement with the multiplecropping system’s potential in increasing net income, reducing price and yield risks, andmaintaining and improving environmental conservation. Productivity evaluation of multiple cropping systems shows that the land-equivalent ratio for some cropcombinations is quite high (1.13-2.10). Based on its relative importance, farmersperceive price fluctuation, working capital availability and pest and disease incidence asthe main three constraints that hamper the succesfulness of the highland vegetablemultiple cropping systems. The other secondary contraints are related to the availabilityof land, fertilizer and pesticide, water and irrigation, technical information, labor, andsoil fertility and erosion.Key words:Multiple cropping; Highland Vegetable; Land equivalent ratio
Pertanian berkelanjutan pada dasarnya merupakan suatu konsepsimenyangkut tantangan bagi produsen agar mulai mempertimbangkanimplikasi jangka panjang cara budidaya, interaksi sistem usahatani dandinamika sistem pertanian. Konsepsi ini juga mendorong konsumen agarlebih terlibat sebagai partisipan aktif dalam sistem pangan. Dalamkonteks ekologis, pertanian berkelanjutan berkaitan erat dengan upayamemelihara sistem biologis agar dapat secara kontinu memberikantingkat luaran yang sama, tanpa penggunaan masukan yang berlebih.Pada tingkatan praktis, konsepsi ini menuntut pemahaman menyangkutdinamika hara dan enerji, interaksi berbagai tanaman dan organisme laindalam suatu agroekosistem serta keseimbangannya dengan keuntungan/pendapatan, kepentingan komunitas dan kebutuhan konsumen (Dunlapet al. 1992). Strategi yang disarankan untuk memelihara dan merestorasikesehatan ekologis sistem pertanian, diantaranya adalah: (a)menghentikan pemanfaatan enerji dan penggunaan sumberdaya secaraberlebihan, (b) menggunakan metode produksi yang dapat merestorasistabilitas ekologi, (c) memaksimalkan penggunaan bahan organik sertadaur ulang nutrisi, (d) menjajagi kemungkinan terbaik pemanfaatanlanskap multi-guna, (e) menjamin pemanfaatan aliran enerji yang efisien,dan (f) mengupayakan agar sebanyak mungkin pangan diproduksi secaralokal, beradaptasi dengan lingkungan lokal dan sesuai dengan preferensilokal (Altieri et al. 1983). Strategi ini sejalan dengan sistem pertanamantumpangsari (termasuk tumpang gilir), terutama berkaitan dengan multifungsi dari sistem pertanaman tersebut, misalnya: (a) memberikanpenutup tanah sepanjang tahun, atau paling tidak dalam periode waktuyang lebih panjang dibandingkan dengan sistem monokultur, sehinggadapat mengurangi tingkat erosi tanah, (b) memberikan perlindungantanaman profilastis melalui diversifikasi spesies dan varietas, (c)meningkatkan luaran per unit area, khususnya dengan tingkatpenggunaan masukan eksternal rendah karena kombinasi spesies dapatmemanfaatkan hara dan air dalam tanah secara lebih baik, (d)mendistribusikan pangan rumah tangga tani, dan produk pasar,sepanjang tahun secara lebih merata, serta memperkecil tingkat risikokarena kegagalan satu jenis tanaman akan dikompensasi oleh
2
 
3
keberhasilan panen tanaman lainnya, dan (e) memperbaiki iklim mikro,keseimbangan air dan pendaurulangan hara internal (Vandermeer 1998).Sistem pertanaman berganda atau tumpangsari adalah definisi umumdari semua pola pertanaman yang melibatkan penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada suatu hamparan lahan. Prinsip esensial yangterkandung di dalamnya adalah penanaman beberapa jenis tanamansecara sekaligus pada sehamparan lahan (
intercropping
) dan penanamanbeberapa jenis tanaman secara bertahap pada sehamparan lahan(
sequential cropping
) (Steiner 1984).Penggunaan sistem pertanaman tumpangsari di negaraberkembang maupun negara maju selalu dimotivasi oleh ekspektasipeningkatan pendapatan. Jika produktivitas ditentukan oleh lingkunganekologis dan faktor-faktor teknis, maka pendapatan dipengaruhi olehserangkaian faktor-faktor biaya masukan dan pasar. Observasi yangdilakukan oleh Perrin (1977) menunjukkan bahwa secara umum sistempertanaman berganda (
multiple cropping
) atau tumpangsari memilikitingkat produktivitas lebih tinggi yang tercermin dari lebih tingginyapendapatan kotor per hektar. Profitabilitas sistem pertanaman berganda,termasuk tumpangsari, sangat dipengaruhi oleh pemilihan jenis tanamanserta harga relatif (Horwith 1985). Sementara itu, beberapa penelitianlainnya juga mengindikasikan kemungkinan dicapainya tingkat efisiensiproduksi serta pendapatan yang lebih tinggi pada tingkat penggunaaninput yang lebih rendah melalui pemanfaatan sistem pertanamanberganda (Brookfield & Padoch 1994; Kirschenman 1989; Newman1986). Penelitian tumpangsari jagung dan gandum dengan kayu walnuthitam di daerah American Midwest menunjukkan bahwa berdasarkanbesaran
net present value
dan
internal rate of return
, sistem
agroforestry 
pada umumnya merupakan pilihan investasi yang lebih menarikdibandingkan dengan pertanian/usahatani tradisional (Benjamin et al.2000). Bagi petani skala kecil, terutama di negara berkembang, atributpenting sistem pertanaman berganda yang paling menarik adalahkemampuannya untuk mengurangi risiko. Perlu pula diperhatikan temuandari beberapa penelitian yang mengindikasikan bahwa sistempertanaman berganda ternyata tidak selalu menguntungkan, tetapimemberikan probabilitas yang lebih tinggi terhadap stabilitaspendapatan bersih petani (Francis & Sanders 1978; Wiley 1985). Lynamet al. (1986) juga menyatakan bahwa sistem
intercropping
tidak selalukonsisten memberikan tingkat profitabilitas lebih tinggi dibandingkandengan sistem monokultur. Profitabilitas dipengaruhi oleh harga relatif,biaya serta tingkat komplementaritas dan kompetisi antar tanaman.Dengan demikian, faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadapprofitabilitas cenderung bersifat spesifik lokasi, waktu dan stratapendapatan. Pada sistem
intercropping
, keunggulan dari sisi pendapatanbersih ternyata lebih bersifat sekunder jika dibandingkan dengankarakteristik pengurangan risiko.Peningkatan produksi sayuran tidak dapat dipungkiri akanmemberikan manfaat bagi produsen maupun konsumen. Namundemikian, pendekatan pengembangan yang semata-mata memberikanpenekanan pada aspek komersialisasi dapat menimbulkan dampaknegatif terhadap kelestarian lingkungan dan keberlanjutan usahatani
3

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
lucy_simarmata liked this
Ien Thanth liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->