Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
6Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Perancangan Perbaikan Supply Chain Management (SCM) Bawang Merah

Perancangan Perbaikan Supply Chain Management (SCM) Bawang Merah

Ratings: (0)|Views: 2,048|Likes:
Published by wietadiyoga

More info:

Published by: wietadiyoga on Dec 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

04/16/2013

pdf

text

original

 
 
 
 
1
 
 
LAPORAN ROPPPPI C.4
  
PERANCANGAN PERBAIKAN
SUPPLY CHAIN MANAGEMENT 
(SCM)BAWANG MERAH
 Witono Adiyoga, Thomas Agoes Soetiarso, Mieke Ameriana dan Wiwin Setiawati
 Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Perahu 517, Lembang, Bandung 40391 
  Pengelolaan rantai pasokan telah menjadi topik yang sangat populer dibahas dalam penelitian bisnismoderen. Rantai pasokan merupakan suatu sistem yang konstituennya termasuk pemasok material,fasilitas produksi, pelayanan distribusi serta pelanggan yang dihubungkan oleh aliran ke depan,informasi umpan balik dan modal finansial (Stevens, 1989). Rantai pasokan dapat dianalogikansebagai bentuk organisasi industrial dimana pembeli maupun penjual yang dipisahkan oleh waktu danruang dapat secara progresif menambah serta mengakumulasikan nilai, sejalan dengan berpindahnyasuatu produk dari satu mata rantai ke mata rantai lainnya ((Hughes, 1994, Fearne, 1996, Handfield &Nichols, 1999). Rantai pasokan pada dasarnya mengakomodasi (a) pergerakan produk dari produsenke konsumen, (b) perpindahan pembayaran, kredit dan modal kerja dari konsumen ke produsen, (c)diseminasi teknologi antar produsen, pengepak dan pengolah, (d) perpindahan hak kepemilikan dariprodusen ke pengolah dan akhirnya ke pemasar, serta (f) aliran umpan balik menyangkut informasipermintaan konsumen dan preferensi dari pengecer ke produsen (Cooper et al., 1997). Rantai pasokan produk pertanian juga merupakan sistem ekonomi yang mendistribusikan manfaatmaupun risiko antar partisipan. Dengan demikian, rantai pasokan mendorong pemberlakuanmekanisme internal serta mengembangkan insentif sepanjang rantai untuk memastikan jadwalproduksi dan komitmen penghantaran tepat waktu (Iyer & Bergen, 1997, Lambert & Cooper, 2000).Untuk bertahan dalam kondisi persaingan yang ketat, suatu unit usaha agribisnis harus berupayamemiliki rantai pasokan yang efisien, agar dapat mengurangi faktor ketidak-pastian serta memperbaikipelayanan terhadap pelanggan. Individu pemasok, produsen dan pemasar yang berasosiasi melalui suatu rantai pasokan akanmengkoordinasikan nilainya masing-masing untuk menciptakan kegiatan bersama, sehingga nilai yangterakumulasi menjadi lebih besar dibandingkan jika setiap mata rantai tersebut beroperasi secaraindependen. Rantai pasokan dapat menciptakan sinergi karena: (a) rantai tersebut memperluas pasar tradisional melewati batas-batas orijinalnya, sehingga meningkatkan volume penjualan setiappartisipan yang bergabung, (b) rantai tersebut mengurangi biaya penghantaran produk sampai lebihrendah/kecil dibandingkan dengan rantai pasokan pesaing, sehingga dapat meningkatkan marjinbersih untuk modal kerja yang dikeluarkan partisipan, dan (c) rantai pasokan mentargetkan segmenpasar tertentu dengan produk yang spesifik, serta melakukan diferensiasi pelayanan, kualitas produkatau reputasi merek untuk segmen-segmen pasar tersebut, sehingga dapat memperbaiki persepsikonsumen terhadap produk dan memungkinkan partisipan memasang harga lebih tinggi (Mahoney,1992, Giupero & Brand, 1996, Gattorna, 1998). 
 
 
 
 
2
 
 
Kontribusi rantai pasokan dalam proses pembangunan pertanian tercermin dari potensinya yang dapat(a) memberikan panduan/acuan alokasi sumberdaya untuk memaksimalkan nilai produksi dan kepuasankonsumen, serta (b) mendorong pertumbuhan melalui promosi inovasi teknologi dan peningkatanpenawaran/permintaan. Potensi ini tidak terlepas dari tingkat harga yang tercipta sebagai titik temurespon partisipan pasar terhadap permintaan dan penawaran. Pada dasarnya, harga produk merupakanrangkuman dari sejumlah informasi yang menyangkut ketersediaan sumberdaya, kemungkinan produksidan preferensi konsumen (Buccola, 1989). Khusus untuk sayuran yang memiliki sifat mudah rusak,pengetahuan dan pemahaman tentang situasi, sifat dan perilaku rantai pasokan sangat diperlukan olehseluruh partisipan. Dalam rantai pasokan bawang merah, khususnya di sentra produksi Brebes,penetapan harga dilakukan secara tawar menawar dengan mempertimbangkan harga pada tingkatpenjual. Unsur monopoli atau monopsoni tidak teridentifikasi dalam struktur pasar komoditas bawangmerah (Institut Pertanian Bogor & Badan Urusan Logistik, 1996).  Namun demikian, penelitian deskriptif yang dilakukan oleh Koster dan Basuki (1991) menunjukkan adanya kecenderungan (a) kesulitan petaniuntuk menjual produknya secara langsung ke pasar pengumpul, (b) pedagang besar yang ada di pasar grosir tidak memberikan keleluasaan kepada pedagang besar lainnya untuk melaksanakan aktivitaspemasaran di pasar yang sama, dan (c) bias terhadap petani atau pedagang besar. Secara implisit,penelitian ini mengindikasikan adanya kebutuhan untuk memperbaiki rantai pasokan yang ada. Beamon (1999) mengusulkan tiga alternatif untuk mengukur keragaan suatu rantai pasokan, yaitupengukuran (a) sumberdaya – biaya, (b) keluaran/output – keuntungan dan kepuasan pelanggan,serta (c) fleksibilitas – keleluasaan dalam pengaturan volume dan penghantaran. Setelahmempertimbangkan kompleksitas dalam pemodelan suatu rantai pasokan, Li et al. (2001)menyarankan digunakannya pendekatan pemodelan rantai pasokan terkoordinasi yang jugamemperhitungkan skenario, saling ketergantungan, proses dan informasi. Spekman et al. (1998)menggaris-bawahi tantangan-tantangan dalam menerapkan konsep pengelolaan rantai pasokan.Bergantung pada tingkat kompleksitas dan komitmennya, dikategorikan empat jenis rantai pasokan,yaitu (a) negosiasi pasar terbuka, (b) koperasi, (c) koordinasi, dan (d) kolaborasi. Koperasi merupakantitik awal dari upaya pengelolaan rantai pasokan pada saat partisipan terlibat dalam kontrak yangbersifat jangka panjang. Tingkat intensifikasi berikutnya adalah koordinasi, dimana aliran pekerjaanyang telah dispesifikasi serta informasi mulai saling dipertukarkan. Mitra dagang dapat melakukankoperasi/kerjasama dan koordinasi untuk aktivitas-aktivitas tertentu, namun belum berperilaku sebagaimitra kolaboratif. Kolaborasi memerlukan tingkat saling percaya, komitmen dan berbagi informasi yangtinggi antar mitra pemasok. Lebih jauh lagi, partisipan rantai pasokan harus berbagi visi yang samamengenai masa depan bersama. Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa hasil kajian Cunningham(2001) menyimpulkan bahwa penelitian mengenai rantai pasokan dalam dekade terakhir masihdidominasi oleh penelitian di sektor manufaktur, sedangkan penelitian serupa di sektor pertanian relatif masih sangat terbatas. Sementara itu, studi yang dilaksanakan belum lama ini di sektor petanian diAustralia berhasil mengidentifikasi beberapa prinsip kunci keberhasilan suatu rantai pasokan, yaitu: (a)fokus kepada pelanggan dan konsumen, (b) rantai menciptakan dan share nilai dengan semua partisipan,(c) memastikan bahwa produk yang ditransaksikan sesuai dengan spesifikasi yang dikehendakipelanggan, (d) logistik dan istribusi yang efektif, (e) strategi informasi dan komunikasi harus melibatkansemua partisipan, serta (f) hubungan kemitraan efektif yang dapat menjadi titik ungkit dan kepemilikanbersama (AFFA et al., 2002). Searah dengan konteks permasalahan yang dihadapi, penelitian inibertujuan untuk merancang perbaikan pengelolaan rantai pasokan bawang merah di dua lokasipengembangan, yaitu di Brebes, Jawa Tengah dan Buleleng, Bali.    
 
 
 
 
3
 
 
METODE PENELITIAN
 Kegiatan SCM dilaksanakan di Nganjuk (Jawa Timur) dan Buleleng (Bali) antara bulan Mei sampaiSeptember 2005. Penelitian ini memanfaatkan metode survai yang mengandalkan wawancarainformal dengan informan kunci, observasi langsung pada mata rantai yang kritikal di sepanjang alur produksi-transformasi-distribusi serta data/informasi sekunder yang mungkin tersedia. Berdasarkanpertimbangan bahwa kegiatan ini sebagian besar dirancang sebagai penelitian deskriptif, respondenyang terlibat dipilih secara purposif. Pertanyaan pemandu  disusun sebagai acuan materi wawancaradengan produsen, pedagang pengumpul, pedagang grosir, pedagang pengecer serta partisipan lainsepanjang rantai pasokan bawang merah. Berbagai pertanyaan yang disusun dalam pertanyaan pemandu diantaranya:
 
Siapa sajakah pelaku/pemain di dalam rantai pasokan?
 
Bagaimanakah peran mereka (pelaku/pemain) masing-masing?
 
Bagaimanakah tingkat teknologi yang berlaku/ada sekarang dan penghela organisasionalseperti apakah yang dibutuhkan?
 
Bagaimanakah tingkat pelayanan dari sistem pasokan yang ada sekarang?
 
Bagaimanakah struktur biaya dan nilai tambah dari rantai pasokan yang sedang diamati? Melalui penggunaan analisis SWOT, dua hal yang disintesis adalah: (a) identifikasi kekuatan dankelemahan dari rantai pasokan, dan (b) identifikasi kesempatan dan ancaman dari lingkungan rantaipasokan. Parameter yang diamati dalam penelitian ini terdiri dari: deskripsi aktivitas di setiap mata rantai,deskripsi perdagangan/transaksi dan aliran produk, formasi harga, risiko harga, volume perdagangan,risiko pasar, kualitas, penyimpanan dan risiko penyimpanan, keuntungan/marjin, penanganan, sortasidan pengemasan, transportasi, likuiditas, kompetisi di setiap mata rantai, integrasi pasar spasial,keterampilan dan pengetahuan pasar, inovasi dan informasi.  
HASIL DAN PEMBAHASAN
 
 
Deskripsi Rantai Pasokan Bawang Merah
 Rantai pasokan bawang merah merupakan saluran yang memungkinkan:
 
Produk bawang merah bergerak dari produsen ke konsumen
 
Pembayaran, kredit dan modal kerja usahatani bawang merah bergerak dari konsumen keprodusen sayuran
 
Teknologi produksi, pra dan pasca panen bawang merah didiseminasikan diantarapartisipan rantai pasokan, misalnya produsen, pengepak dan pengolah
 
Hak kepemilikan berpindah dari produsen bawang merah ke pengepak atau pengolah,kemudian ke pemasar 
 
Informasi mengenai permintaan konsumen serta preferensinya mengalir dari pedagangpengecer ke produsen bawang merah Uraian di atas menunjukkan bahwa rantai pasokan bawang merah merupakan suatu sistem ekonomiyang mendistribusikan manfaat dan juga risiko diantara berbagai partisipan yang terlibat di dalamnya.Dengan demikian, rantai pasokan bawang merah secara tidak langsung telah mengembangkan

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
driremes liked this
zullex08 liked this
driremes liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->