Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Percepatan Aplikasi Teknologi Hasil Penelitian Hortikultura

Percepatan Aplikasi Teknologi Hasil Penelitian Hortikultura

Ratings: (0)|Views: 25 |Likes:
Published by wietadiyoga

More info:

Published by: wietadiyoga on Dec 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2010

pdf

text

original

 
LAPORANKEGIATAN ANALISIS KEBIJAKSANAAN 2001
  
PERCEPATAN APLIKASI TEKNOLOGI HASIL PENELITIANHORTIKULTURA
 
 
Witono Adiyoga
 
 
LATAR BELAKANG
 Dalam berbagai kesempatan diskusi atau pertemuan menyangkut evaluasi kinerja lembagapenelitian, jumlah teknologi unggulan yang dihasilkan seringkali dijadikan parameter utama ukurankeberhasilan. Pengalaman menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan yang diukur dengan parameter utama tersebut cenderung
one-sided 
, karena penilaiannya lebih banyak dilihat dari sudut pandangpeneliti. Terminologi teknologi unggulan menjadi kehilangan arti pada saat aspek guna laksananyadisertakan sebagai salah satu kriteria penentu keunggulan. Dengan kata lain, sejauhmana teknologiunggulan tersebut pada kenyataannya dapat diaplikasikan di tingkat pengguna, dan selanjutnya diadopsi,seringkali masih dipertanyakan. Sementara itu, di dalam program penelitian yang secara reguler terusdiperbaiki,  terminologi
demand-driven
, bahkan
demand-driving
selalu menjadi kata kunci persyaratankomponen-komponen teknologi yang direncanakan akan diprioritaskan.Secara fungsional, lembaga penelitian sebagai suatu sistem memiliki beberapa tugas kunci, yaitu:(a) menyusun prioritas dan formulasi agenda penelitian, (b) memo-bilisasi dan menggunakan sumberdayafinansial yang dibutuhkan secara efektif, (c) mengembangkan dan memelihara infrastruktur fisik yangdibutuhkan, (d) mengembangkan dan membina personil peneliti yang dimiliki, (e) memanfaatkan seluruhkapabilitas keilmuan di tingkat nasional dan internasional, (f) menjamin kelancaran arus informasi antarapeneliti, penyuluh, petani, pengambil kebijakan dan publik, dan (g) memonitor dan mengevaluasi programpenelitian (Stoop, 1988).  Agar fungsi-fungsi di atas dapat berjalan dan terwujud dalam bentuk kontribusinyata lembaga penelitian terhadap pembangunan pertanian, diperlukan saling keterkaitan yang kuatantara lembaga penghasil teknologi, petani dan lembaga transfer teknologi (Bourgeois, 1990). Secaralebih spesifik, keterkaitan yang kuat diantara segitiga teknologi (
technology triangle – research, extensionand farmer/user 
) memungkinkan terjadinya: (a) penelitian menangani prioritas kebutuhan dan masalahyang dihadapi pengguna, (b) petani dan penyuluh memperoleh kemudahan untuk mengikutiperkembangan teknologi, (c) hasil penelitian dapat diaplikasikan untuk memecahkan masalah petani danmemperluas oportunitas usahatani, (d) teknologi yang tersedia dapat diadaptasikan sesuai dengan kondisiagroekologis dan sosioekonomis lokal, (e) teknologi tepat-guna dipromosikan dan didistribusikan secaraluas kepada petani, pengguna memiliki kemudahan untuk memperoleh informasi, input dan pelayananyang diperlukan untuk mendukung aplikasi teknologi, dan (f) peneliti dapat mengkapitalisasi pengetahuanpengguna dan memperoleh umpan balik menyangkut relevansi serta keragaan teknologi (Merrill-Sands,et.al., 1989).Teknologi pertanian telah dan akan terus memainkan peran penting sebagai akselerator pembangunan nasional dalam suatu perekonomian yang memiliki dukungan signifikan dari sektor pertanian (Johnson and Kellogg, 1984). Kepentingan tersebut terutama berkaitan dengan upayaperbaikan kesejahteraan petani kecil yang mewakili kelompok terbesar dalam sektor pertanian.Sehubungan dengan itu, teknologi pertanian harus mempertimbangkan kerangka referensi yang lebih luasdan mencakup pemahaman bahwa proses menuju adopsi teknologi merupakan bagian dari proses-prosesperubahan sosial ekonomi yang jauh lebih kompleks dari sekedar modifikasi pola teknologi (Pineiro,
 
 
 
 
 
1
1990). Hal ini mengimplikasikan bahwa teknologi pertanian
per se
, secara berdiri sendiri, tidak akan cukupuntuk menimbulkan perubahan-perubahan signifikan menyangkut kondisi sosial ekonomi petani kecil.Walaupun demikian, teknologi pertanian dapat diposisikan sebagai komponen sentral dalam perencanaanstrategis yang dirancang untuk memperbaiki kesejahteraan petani kecil. Catatan khusus mengenai hal iniadalah terpenuhinya persyaratan bahwa teknologi yang dikembangkan harus sejalan dengan permintaanpetani dan dapat diaplikasikan sesuai dengan lingkungan produksi (teknis/non-teknis) usahatani(Mukhopadhyay, 1988).Jawaban pertanyaan menyangkut bagaimana mempercepat aplikasi teknologi hasil penelitianpada dasarnya berhubungan erat dengan efektivitas keterkaitan antara berbagai pihak di dalam segitigateknologi. Secara ideal, hal ini mengindikasikan perlunya penelusuran melalui pendekatan sistemteknologis, yang mencakup sub-sistem kelembagaan penghasil teknologi, kelembagaan transfer teknologidan kelembagaan pengguna teknologi. Namun demikian, sesuai dengan kapasitas yang dimiliki,pembahasan awal akan lebih ditekankan pada penelaahan dari sisi penelitian..
KETERKAITAN ANTARA PENGHASIL TEKNOLOGI DAN TEKNOLOGI TRANSFER
  Konsep keterkaitan mengimplikasikan terselenggaranya komunikasi dan hubungan kerja antara duaatau lebih organisasi yang memiliki tujuan bersama, dalam rangka membina kontak dan perbaikanproduktivitas secara reguler. Keterkaitan adalah terminologi yang digunakan untuk menjelaskan dua sistemyang saling dihubungkan oleh pesan-pesan (aliran informasi dan umpan balik) sehingga membentuk suatusistem yang lebih besar Eponou, 1993; Eponou, 1996). Hubungan komunikasi yang efektif antara penelitidan penyuluh berperan penting dalam upaya modifikasi rekomendasi teknologi serta inisiasi penelitian lebihlanjut, sehingga teknologi baru atau perbaikan teknologi yang dirancang bersama memiliki daya adaptasitinggi terhadap kondisi ekologis setempat/lokal.Tipe keterkaitan penelitian-penyuluhan dapat ditentukan berdasarkan kerangka teoritis yangmenggunakan dua kriteria umum, yaitu (a) status relatif kedudukan organisasi penelitian dan penyuluhan,dan (b) metode transfer berkaitan dengan penentuan masalah penelitian, tema/topik penelitian dandiseminasi hasil penelitian – pendekatan
top-down
atau
bottom-up
(Agbamu, 2000).  Mengacu pada kriteriatersebut, keterkaitan penelitian-penyuluhan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
 
Tipe A
: Organisasi penelitian dan penyuluhan berjalan dengan status yang sejajar/sama sertamenggunakan pendekatan
bottom-up
dalam pengambilan keputusan menyangkut kegiatan keterkaitan.
 
Tipe B
: Kedua organisasi memiliki status operatif yang sejajar/sama, tetapi menggunakan pendekatan
top-down
berkaitan dengan manajemen keterkaitan.
 
Tipe C 
: Organisasi penelitian dan penyuluhan berjalan dengan status yang tidak sejajar/sama, dansistem keterkaitan diantara keduanya berjalan berdasarkan pendekatan manajemen
bottom-up.
 
 
Tipe D
: Kedua organisasi memiliki status operatif yang tidak sejajar/sama dan sistem keterkaitandiantara keduanya berjalan berdasarkan pendekatan manajemen
top-down.
 
 
Tipe E 
: Tidak terdapat sistem keterkaitan yang terorganisasi antara organisasi penelitian danpenyuluhan.Organisasi penelitian dan penyuluhan di Indonesia berada di bawah koordinasi DepartemenPertanian dengan status operatif yang berbeda.  Berbeda dengan penyuluhan, organisasi penelitian tidakberoperasi secara independen di tingkat propinsi, tetapi memiliki cakupan nasional. Sementara itu, gariskoordinasi dan supervisi untuk kegiatan penyuluhan secara hirarkis lebih melekat di tingkat pemerintahdaerah (propinsi, kabupaten, kecamatan).Penelitian/percobaan
on-farm
dilaksanakan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yangberoperasi di tingkat propinsi dan dimonitor secara berkala oleh Pusat Penelitian Sosial Ekonomi. Staf BPTPyang menangani penelitian-penelitian adaptif bekerja sama dengan
subject matter specialist 
 mengembangkan paket-paket teknologi dan selanjutnya diteruskan ke institusi penyuluhan. Dalam konteksini, BPTP berfungsi sebagai
linkage interface
antara organisasi penelitian dan penyuluhan di Indonesia.
 
 
 
 
 
2
                                         Pada dasarnya, penyuluh,
subject matter specialist 
dan peneliti merupakan sumber informasimenyangkut topik/masalah/kebutuhan penelitian. Namun demikian, keputusan akhir berkaitan denganpemilihan masalah dan tema penelitian lebih banyak ditentukan oleh peneliti di balai nasional. Institusipenyuluhan menerima paket-paket inovasi dari lembaga penelitian melalui
subject matter specialist 
yangditempatkan di BPTP. Walaupun interaksi antara peneliti, penyuluh dan petani di tingkat propinsi cenderungsemakin membaik, hal ini belum mengarah pada pengambilan keputusan akhir menyangkut keterkaitan yangsepenuhnya dikendalikan di tingkat propinsi atau kabupaten. Manajemen keterkaitan penelitian-penyuluhansangat bergantung pada balai-balai di bawah supervisi Badan Litbang Pertanian (
AARD-supervised 
Penyuluh (Diseminasi
 
Teknologi)
 
 
Peneliti(GenerasiTeknologi)
Subject-matter specialist 
(Layanan Penghubung)Aktivitas Keterkaitan 
 
Identifikasi kebutuhan penelitian
 
Penelitian di lahan petani
 
Evaluasi gabungan/bersama
 
Pertemuan komite
 
Kegiatan partisipatif petaniTingkat Operasional Administratif  
 
Nasional dan regional
 
Propinsi
 
Lokal atau
grassroot 
 Metode Keterkaitan 
 
Formal
 
InformalMasalah 
 
Isu-isu organisasional
 
Metode keterkaitan
 
Finansial
 
Uji-uji adaptif Sistem Klien Keluarga usahatani(pengguna akhir inovasi)sasaran
Sistem Pengetahuan Pertanian FormalGambar 
1    Konsep Skematik Fungsionalisasi Keterkaitan Antara Penelitian dan Penyuluhan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->