Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
8Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sistem Pemasaran Sayuran_Kondisi Faktual Dan Upaya Reformasi Secara Konseptual

Sistem Pemasaran Sayuran_Kondisi Faktual Dan Upaya Reformasi Secara Konseptual

Ratings: (0)|Views: 452 |Likes:
Published by wietadiyoga

More info:

Published by: wietadiyoga on Dec 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/01/2013

pdf

text

original

 
 
1
SISTEM PEMASARAN SAYURAN
(Kondisi faktual dan upaya reformasi secara konseptual)
1
  
Witono Adiyoga
 
Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Perahu 517, Lembang, Bandung-40391
  Pemasaran merupakan aspek kritikal dalam pengusahaan sayuran. Berdasarkan karakteristikbiologis spesifik komoditas sayuran,  aspek pemasaran untuk komoditas ini bahkan seringkalimenjadi lebih kritikal dibandingkan dengan pemasaran untuk komoditas lain. Pemasaranmelibatkan berbagai aktivitas menyangkut transformasi produk yang dijual petani menjadibahan makanan yang dibeli konsumen. Proses transformasi ini biasanya ditunjukkan secaranyata dari adanya perubahan penampakan fisik atau bentuk. Sebagai contoh, tomat hasilpanen menjadi tomat yang telah dicuci dan di “
grading
”, atau kentang segar menjadi kentanggoreng dan keripik kentang. Fungsi pemasaran lain yang juga berperan penting adalahtransportasi. Produk sayuran harus diangkut dari sentra produksi ke pasar/pedagang eceranagar dapat dibeli oleh konsumen. Dalam hal ini, faktor waktu juga sangat penting, karena untuksebagian jenis sayuran, komoditas ini harus dipasarkan segera setelah panen. Pemasaransayuran pada dasarnya melibatkan transfer kepemilikan dari produsen ke konsumen. Uraian dibawah ini menggambarkan kondisi umum pemasaran sayuran yang terjadi di Indonesia sertareformasi yang diperlukan secara konseptual. 
 
Karakteristik komoditas Karakteristik biologis sayuran memerlukan penanganan khusus dalam sistem pemasaran.Sayuran cenderung bersifat memerlukan ruang (
bulky 
). Dalam kaitan ini, berat dan volumesangat berpengaruh terhadap nilai moneter yang dihasilkan. Beberapa jenis sayuran, sepertikentang dan bawang merah, kualitasnya masih dapat dipertahankan dalam waktu yang relatif agak lama, namun jenis sayuran daun, seperti kubis, sawi dan bawang daun, cenderung cepatrusak jika tidak segera dikonsumsi atau disimpan dalam lemari pendingin. 
Tabel 1 Perisabilitas relatif beberapa jenis sayuran berdasarkan persepsi dan pengamatanpetani/pedagang
 
JenisPerisabilitasRelatif JenisPerisabilitasRelatif JenisPerisabilitasRelatif 
Kubis
***
Sawi
****
Broccoli
**
Tomat
**
Lettuce
****
Wortel
***
Kentang
*
Cabai merah
**
Bawang merah
*
Kubis bunga
**
Cabai rawit
**
Lobak
***
Buncis
**
Bawang daun
****
Kacang merah
**
Petsai
****
Kailan
***
 Note: * = rendah; **** = tinggi
 Produk dengan keragaman kualitas tinggi yang dihasilkan oleh usahatani sayuran merupakankonsekuensi alami dari sistem produksi biologis. Keragaman ini tercermin dari variasi atribut
 
1
Makalah disampaikan dalam Kegiatan Diseminasi Teknologi Pemupukan, Balai Penelitian Tanaman Sayuran –PT. Johny Jaya Makmur, Lembang, 2 - 4 September 2002.
 
 
2
produk, misalnya ukuran, rasa, aroma, warna, bentuk, tektur, untuk jenis sayuran yang sama.Dalam kondisi seperti ini, kelas dan standar (
grades and standard 
) diperlukan sebagai bahasapasar yang dapat menyederhanakan proses pemasaran  dan membentuk etika dasar dalamkegiatan jual beli/transaksi. Pengkelasan dan standarisasi (
grading and standardization
) adalahdua terminologi yang secara konsepsual sangat berkaitan erat dan umumnya berhubungandengan dimensi kualitas suatu komoditas. Terminologi standarisasi berkaitan dengan suatualat ukur yang telah disepakati dan berfungsi sebagai batasan (
boundary 
) untuk pengkelasan.Kaitannya dengan kualitas produk, standar kualitas adalah properti yang diterima secara umumuntuk membedakan nilai suatu komoditas dihadapan pembeli/konsumer. Standar kualitas inidapat bersifat fisiologis -- misalnya nilai nutrisi suatu komoditas, tetapi kebanyakan bersifatsensori -- misalnya rasa, warna, atau aroma suatu komoditas. Sementara itu, pengkelasanmerupakan kegiatan sortasi untuk memilih/memilah produk berdasarkan keseragaman dalamsuatu kategori tertentu.  Ketepatan dan akurasi proses pengkelasan sangat bergantung padaketerkaitan antara standar kualitas, preferensi pembeli dan penjual, kisaran kualitas yangdisortasi, serta relevansi sortasi terhadap pilihan konsumen. Perlakuan pertama setelah sayuran dipanen adalah sortasi yang biasanya dilakukanberdasarkan ukuran, bentuk, tingkat kematangan atau atribut lain yang berpengaruh terhadapnilai komersial produk. Fungsi fasilitasi lain dalam sistem pemasaran sayuran adalahpengkelasan yang merupakan pengembangan kegiatan sortasi memilah produk ke dalambeberapa kategori/kelas berdasarkan standar kualitas. Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagianbesar petani di  Langensari and Margamulya melakukan sortasi produk. Pada dasarnya, petanimemilah hasil panen antara produk yang dapat dipasarkan dan tidak dapat dipasarkanberdasarkan kriteria busuk, cacat dan kotoran (kecuali pada sistem tebasan). Sementara itu,hanya sebagian kecil petani di Langensari melakukan pengkelasan, namun sebagian besar petani di Margamulya melaksanakan kegiatan ini, terutama untuk kentang. Observasi lapangselanjutnya menunjukkan bahwa petani melakukan pengkelasan kentang berdasarkan ukurandan keseragaman bentuk umbi. Faktor kualitas lain, misalnya tekstur, warna dan aroma tidakdigunakan sebagai dasar pengkelasan karena sukar diukur dan cenderung mengandungsubyektivitas yang tinggi. 
Tabel 2 Sortasi dan pengkelasan yang dilakukan petani di Langensari (Lembang) dan Margamulya(Pangalengan)
 
No Aktivitas Langensari(%, n=26)Margamulya(%, n=27)SortasiTidak pernahKadang-kadangSelalu 30.811.557.7 11.225.962.9PengkelasanTidak pernahKadang-kadangSelalu 92.3-7.7 33.318.548.2
  Pengkelasan pada kentang (di Margamulya) berhubungan langsung dengan harga masing-masing kelas, yaitu: AL (Rp. 2, 000 – Rp. 2, 300), AB (Rp. 1, 800 – Rp. 2, 000), ABC (Rp.1, 600 - Rp. 1, 800), DN (Rp. 1, 200 – Rp. 1, 400), TO (Rp. 800 – Rp. 1, 000), and ARES (Rp.500 – Rp. 700). Aktivitas pengkelasan ini tidak biasa dilakukan untuk jenis sayuran lainnya.Berbagai penelitian lain mengindikasikan bahwa hanya jika petani menjual produk berbasis
 
 
3
kelas, manfaat sistem pengkelasan sebagai metode komunikasi antara produsen dankonsumen dapat terealisasi. Semakin luas penjualan berbasis kelas dilakukan, semakin kecilkemungkinan terjadinya transaksi yang curang atau tidak adil. Namun demikian, perlu puladiperhatikan adanya kemungkinan bahwa tidak semua petani diuntungkan oleh penjualanproduk berbasis kelas. Petani yang memproduksi sayuran berkualitas tinggi, secara tidaklangsung akan diuntungkan atas tanggungan petani yang memproduksi sayuran berkualitaslebih rendah. Untuk memproduksi sayuran berkualitas tinggi, biasanya dibutuhkan penangananyang bersifat lebih hati-hati dan seringkali memerlukan biaya lebih tinggi. Dalam beberapa hal,biaya ekstra yang harus dikeluarkan mungkin lebih tinggi dibandingkan dengan tambahanpenerimaannya. Pada kondisi seperti ini, petani tidak akan tertarik terhadap metode penjualanproduk berbasis kelas (seperti terjadi pada jenis sayuran lain). Ditinjau dari sisi konsumen, sistem pengkelasan tidak saja dapat mengurangi ketidak-pastianmenyangkut kualitas produk, tetapi juga memberikan alternatif pilihan sesuai dengan tujuankegunaan produk. Pada kenyataannya, konsumen tidak selalu menentukan pilihan untukmembeli produk yang memiliki kualitas terbaik. Sebagai contoh, konsumen akan membelikentang dengan kualitas berbeda jika hendak menyiapkan menu sayur (kualitas relatif lebihrendah) atau “
french fries
” (kualitas relatif lebih tinggi). Walaupun berbeda, kedua kualitastersebut dapat memenuhi kebutuhan konsumen karena ditujukan untuk kegunaan yangberbeda. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pengkelasan diarahkan untuk memberikanjaminan bahwa bukan hanya produk dengan kualitas terbaik yang dapat dipasarkan, tetapi jugamempertemukan kebutuhan konsumen dengan berbagai kualitas produk yang tersedia. Melangkah ke tahapan selanjutnya, berdasarkan Keppres No. 12 Tahun 1991, standarisasikualitas di Indonesia adalah Standar Nasional Indonesia (SNI) yang  mulai diberlakukan sejak1 April 1994. Sampai saat ini terdapat sekitar 28 SNI komoditas hortikultura, sedangkan khususuntuk sayuran yang telah memiliki SNI adalah bawang putih, bawang merah, kubis, tomatsegar, petsai segar, wortel segar dan kentang segar. Untuk jenis sayuran lain, khususnyakentang dan kubis, bahkan SNI yang dimiliki adalah SNI wajib. Tabel di bawah ini adalah salahsatu contoh SNI untuk kubis. 
Tabel 3  Standar kualitas kubis segar 
 
Syarat MutuKarakteristikMutu I Mutu IIKeseragaman   varietas seragam seragamKeseragaman  ukuran seragam seragamKepadatan padat kurang padatWarna daun luar putih kehijauan dan  segar putih kehijauan dan  segar Kubis cacat , % (bobot/bobot) maks 0 0Kadar kotoran, %   (bobot/bobot) maks0 0Panjang batang, cm, maks 1 1
Sumber    : Direktorat Bina Usaha Tani dan Pengolahan Hasil (1999).
 Namun demikian, operasionalisasi standardisasi sayuran ini tampaknya masih belum berjalanbaik dan menjadi salah satu titik lemah sistem pemasaran sayuran di Indonesia. Beberapahasil penelitian memberikan konfirmasi bahwa penanganan produk yang berlaku saat ini hanyabersifat pengkelasan (untuk jenis sayuran tertentu) yang sifatnya tidak baku/standar.Konsekuensi dari kondisi ini adalah adanya keragaman yang tinggi dari standar kualitassayuran, misalnya untuk bawang merah, mentimun atau kentang.

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Shanty Hermawaty liked this
driremes liked this
Rasad Saban liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->