Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
5Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
pendidikan ekonomi kreatif

pendidikan ekonomi kreatif

Ratings: (0)|Views: 1,131|Likes:
Published by pdpersiskotabog8116

More info:

Published by: pdpersiskotabog8116 on Dec 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

09/03/2013

pdf

text

original

 
Pendidikan Ekonomi Kreatif, Solusi bagiPengangguran Akademik 
Senin, 22 November 2010 - Dibaca 124 kaliSetiap orang pasti mempunyai impian untuk mengenyam pendidikan hingga ke jenjangyang setinggi-tingginya. Mulai dari SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Bahkanorang yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja selalu berharap agar salah seorang darikeluarganya dapat mengenyam bangku pendidikan sampai ke jenjang doctor bilamemungkinkan. Tak asing lagi jika kita melihat banyak orang tua di desa-desa yangnekat menjual sawah mereka demi biaya sekolah sang anak. Apa gerangan yangmembuat orang begitu obsesi untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya? Jawabandari pertanyaan itu adalah demi sebuah pekerjaan yang layak dan meningkatkan taraf hidup.Dari zaman dahulu paradigma masyarakat kita selalu berpikir bahwa denganmengantongi ijazah pendidikan tinggi seseorang pasti akan mendapatkan pekerjaan yanglayak. Bekerja di tempat yang enak, ruangan ber-AC, dan dengan honor yang tinggitentunya. Namun pada kenyataannya, impian tidaklah selalu sama dengan kenyataan.Sakarang ini ijazah tak lagi menjamin pekerjaan seseorang. Jangankan ijazah SMA, bahkan orang yang berijazah perguruan tinggi pun tak selalu beruntung mendapatkan pekerjaan. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa angka pengangguran di Indonesia bagaikan bom waktu yang siap meledak pada saatnya. Berdasarkan data Badan Statistik  Nasional (BSN), jumlah pengangguran di Indonesia hingga februari 2010 mencapaiangka 8.59 juta jiwa atau sekitar 7.41 persen dari total penduduk Indonesia. Ironisnya,angka pengangguran itu tak hanya didominasi oleh orang-orang yang tak berpendidkansaja. Bahkan orang-orang yang lulus perguruan tinggi pun tak luput dari predikat“pengangguran”. Inilah yang kemudian disebut sebagai pengangguran akademik. Ditulisdalam kompas.com (28/10/10), bahwa angka pengangguran akademik lebih dari dua jutaorang. Padahal, tanpa merekapun angka pengangguran di Indonesia kian melambung.Jika sudah begini, mau jadi apa negara kita ini.Jika mereka yang berpendidikan tinggi saja tak mampu mendapatkan pekerjaan, apakabar dengan mereka yang hanya lulusan SMA atau di bawahnya. Hal yang perludikhawatirkan adalah pandangan masyarakat terhadap dunia pendidikan di negeri kita ini.Tak menutup kemungkinan masyarakat awam akan memandang pendidikan sebelah mata jika kondisi ini terus dibiarkan begitu saja. Mereka tak mau lagi mengindahkan imbauan pemerintah tentang wajib belajar sembilan tahun. Para orang tua akan lebih memilihanaknya untuk membantu perekonomian keluarga ketimbang untuk sekolah yangdianggap hanya membuang-buang biaya, toh ujung-ujungnya jadi pengangguran juga.Apa yang salah dengan dunia pendidikan kita. Sepertinya ini tak hanya menjadi pekerjaan rumah bagi para guru di sekolah atau di perguruan tinggi, namun juga menjadi
 
 pekerjaan rumah bagi pemerintah. Ada hal yang harus dibenahi dengan dunia pendidikankita, entah itu sistim, kurikulum, maupun yang lainnya. Rupanya kondisi ini tak hanyamenjadi kerisauan segelintir orang saja. Pemerintah pun mulai merasa gerah denganangka pengangguran di negeri kita ini. Ini dibuktikan dengan digagasnya pendidikanekonomi kreatif beberapa tahun silam.Ekonomi kreatif pertama kali diperkenalkan oleh John Howkins, penulis buku "CreativeEconomy, How People Make Money from Ideas" . Menurutnya ekonomi baru telahmuncul seputar industri kreatif yang dikendalikan oleh hukum kekayaan intelektualseperti paten, hak cipta, merek, royalti, dan desain. Menurut sumber lain ekonomi kreatif merupakan upaya penciptaan nilai tambah melalui pengembangan intelektual dan talenta baik pribadi maupun kelompok. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ekonomi kreatif adalah upaya pemenuhan kebutuhan hidup dengan mengoptimalkan potensi kreativitassehingga meningkatkan nilai komersiil suatu produk. Oleh karena itu, kreativitas yangtinggi dan ide serta gagasan yang fresh dan orisinil. Ekonomi Kreatif merupakan eraekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan pada ide dan stock of knowledge dari SDM sebagai faktor produksi utama dalamkegiatan ekonominya. Alvin Toffler (1980) dalam teorinya melakukan pembagiangelombang peradaban ekonomi kedalam tiga gelombang.Gelombang pertama adalahgelombang ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi industri, dan yang ketigaadalah gelombang ekonomi informasi. Kemudian diprediksikan gelombang keempatinilah merupakan gelombang ekonomi kreatif yang berorientasi pada ide dan gagasankreatif. Dengan ekonomi kreatif, rakyat jadi mandiri; meminimalkan ketergantungan,mengikis mental buruh, menciptakan lapangan kerja baru, mengurangi pengangguran,menyemarakkan dunia pariwisata, menggaet devisa. Pada akhirnya, rakyat jadi makmur.Munculnya ekonomi kreatif di Indonesia berawal pada tahun 2006. Pada saat itu, dalamsebuah kesemapatan presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono mengarahkan untuk mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia. Kemudian pemerintah melaluiKementerian perdagangan dan perindustrian bekerja sama dengan KADIN membentuk Indonesia Design Power untuk mengembangkan ekonomi kreatif.Gagasan ekonomi kreatif harus dipandang dan ditempatkan sebagai gagasan yang ungguluntuk masyarakat yang memiliki keunggulan. Karenanya pencanangan ekonomi kreatif  juga harus mendapat dukungan khususnya dari masyarakat. Pengembangan ekonomikreatif berasumsi bahwa masyarakat di mana ekonomi kreatif dikembangkan adalahmasyarakat yang memiliki atau bersedia untuk tumbuh secara kreatif berdasarkan kriteria pengembangan industri atau ekonomi kreatif.Persoalannya, kendala yang harus dihadapi adalah bagaimana menghadapi rakyat awamyang tidak proaktif, yang terbiasa menunggu perintah dan petunjuk berperilakukontraproduktif. Di sinilah dunia pendidikan memegang peran penting. Melalui pendidikan ekonomi kreatif, siswa dan mahasiswa disiapkan secara fisik dan mental untumenjadi manusia yang berjiwa enterpreunership. Sehingga ketika mereka lulus danmeninggalkan bangku pendidikan, mereka tak lagi kebingungan untuk mencari kerjakarena mereka telah memiliki skill. Bahkan mereka berpeluang untuk membuka
 
lowongan kerja bagi orang lain.Di sekolah, ekonomi kreatif ini dapat diajarkan kepada siswa melalui berbagai macamkegiatan baik yang berhubungan dengan materi pembelajaran maupun tidak. Misalnya, pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam, para siswa tak hanya diajarkan materi saja.Tapi mereka juga harus bereksperimen. Beberapa materi yang dapat diimplementasikanlangsung dalam kehidupan sehari-hari seperti sel elektrolisis (penyepuhan), pembangkitlistrik tenaga air, angin, dan lainnya, larutan elektrolit (dapat menghasilkan arus listrik),wawasan sadar lingkungan (memanfaatkan barang bekas untuk digunakan kembalimaupun dijadikan sebagai hiasan), dan masih banyak lagi materi yang sangat aplikatif dan kontekstual bagi para siswa. Pada mata pelajaran kerajinan dan kesenian misalnya,siswa dapat diajarkan bagiaman cara membuat bermacam-macam kerajinan dan keseniantangan, cara memasak, membuat keu, dan yang lainnya. Pada mata pelajaran ekonomi,siswa dapat diajarkan bagaimana cara mendirikan dan mengelola koperasi dengan baik.Dan masih banyak hal-hal lain yang dapat diajarkan secara praktis kepada para siswa. Itusemua merupakan modal yang sanga besar bagi para siswa maupun mahasiswa untuk masa depan mereka. Mental mereka sedikit demi sedikit akan mulai terbangun untuk menjadi enterpreuner sejati.Ditingkat perguruan tinggi tentunya akan lebih mudah mengajarkan ekonomi kreatif inikarena mereka bukan lagi siswa sekolah yang harus disuapi. Mahasiswa akan lebih aktif dan kreatif, tergantung bagaimana sistim dan para pendidik mengarahkan mereka.Perlu diingat bahwa dalam pendidikan ekonomi kreatif ini, modal mental saja tak cukup.Yang paling penting adalah sikap inovatif, karena bagaimanapun juga, permintaan pasar selalu berkembang dan konsumen akan mudah tergiur dengan produk-produk baru yangditawarkan.Ekonomi kreatif tak hanya berkutat dalam satu bidang saja, namun ekonomi kreatif  punyai 14 subsektor industri, yaitu periklanan (advertising), arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, desain, fashion, video/ film/ animasi/ fotografi, game, musik, seni pertunjukan (showbiz), penerbitan/percetakan, software, televisi/ radio (broadcasting),dan riset & pengembangan (R&D).Dari sekian banyak sektor ekonomi kreatif itu, di Indonesia sendiri ekonomi kreatif yang berkembang pesat adalah dalam bidang kerajinan yang berbasis warisan budaya. Inidapat dilihat dari produk-produk yang dihasilkan oleh para putra bangsa di berbagaidaerah, terutama daerah pariwisata. Tahap selanjutnya adalah bagaimana pemerintahmengelola kreativitas anak bangsa ini menjadi produk unggulan.Dengan demikian, pendidikan ekonomi kreatif yang diberikan di sekolah maupun perguruan tinggi diharapkan mampu mengikis mental buruh ketika para siswa danmahasiswa meninggalkan bangku kuliah. Mereka tak lagi harus berdesak-desakan di bursa kerja untuk melamar pekerjaan dengan peluang yang sangat kecil. Karena bagaiamanapun juga keterampilan sangat dibutuhkan, tak hanya ijazah. Selain itu, sangatdiharapkan mereka dapat membuka lapangan pekerjaan di berbagai sektor sehingga dapat

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->