Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
19Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
PEMIMPIN FEODAL

PEMIMPIN FEODAL

Ratings:

4.55

(11)
|Views: 15,505|Likes:
Published by Rohadi Wicaksono
Banyak pakar mensinyalir bahwa saat ini bangsa kita mengalami krisis kepemimpinan. Banyak pemimpin yang lebih mementingkan diri dan golongannya ketimbang memikirkan kepentingan rakyatnya. Artikel ini membahas pemimpin bergaya feodal yang sangat merusak martabat bangsa dan merugikan rakyat banyak.
Banyak pakar mensinyalir bahwa saat ini bangsa kita mengalami krisis kepemimpinan. Banyak pemimpin yang lebih mementingkan diri dan golongannya ketimbang memikirkan kepentingan rakyatnya. Artikel ini membahas pemimpin bergaya feodal yang sangat merusak martabat bangsa dan merugikan rakyat banyak.

More info:

categoriesTypes, Research
Published by: Rohadi Wicaksono on Aug 04, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

03/30/2012

pdf

text

original

 
PEMIMPIN FEODAL : MUSUH BANGSA
Kepemimpinan birokrasi yang bersifat feodal masih terjadi di beberapa instansi pemerintah sehingga perlu ada sosialisasi cara kepemimpinan yang transformasional ataucara memimpin yang tidak menekankan pada kekuasaan."Sudah saatnya orientasi kepemimpinan birokrasi yang bersifat feodalistik diubahke arah kepemimpinan transformasional," kata Kepala Lembaga Administrasi Negara(LAN) Sunarno ketika menutup Diklat Kepemimpinan Tingkat I Angkatan XII yangdiselenggarakan LAN, di Jakarta, Kamis.Walapun saat ini kepemimpinan yang bersifat transformasional sudah mulaiterjadi masih ada kelompok tidak menerapkannya. "Hampir di setiap instansi masih adayang menggunakan pendekatan lama (gaya kepemimpinan feodal), `mindset` (cara pikir)lama," katanya.Ia mengatakan kepemimpinan birokrasi feodal yang menekankan pada kekuasaan, pendekatan "top down" (dari atas) dan didasarkan pada hubungan formalitas sudah tidak relevan lagi karena saat ini tantangan yang dihadapi tidak hanya bersifat internal namunsudah bersifat global. ( Antara,2 Agustus 2007 ).Sebenarnya, semenjak sebelum gerakan reformasi pada tahun 1988, kesadarandan desakan untuk mengganti pola kepemimpinan bergaya feodal ini tlah mengemuka. Namun, hingga saat ini pun, para pemimpin kita, terutama pemimpin yang duduk di birokrasi pemerintahan, termasuk juga di birokrasi pendidikan, masih mempertahankangaya ini. Tulisan ini bermaksud menyoroti berbagai hal seputar gaya kepemimpinan ini.
Pengertian Pemimpin
Sebagian orang mendefinisikan bahwa pemimpin adalah pribadi yang memilikikekuasaan. Definisi seperti ini akan melahirkan model kepemimpinan yang menekankan penggunaan otoritas kekuasaan dalam memimpin. Pemimpin dengan paradigma modelini cenderung menggunakan kekuasaan untuk memaksa anak buahnya menyelesaikantugas pekerjaan mereka, tanpa membutuhkan partisipasi aktif dan inisiatif mereka. Bagi pemimpin jenis ini, satu-satunya tugas anak buah adalah melaksanakan perintahnya.Anak buah tidak perlu mengetahui mengapa mereka harus mengerjakan ini atau itu dan
 
 juga tidak perlu tahu mengapa mereka tidak boleh melakukan ini atau itu. Dalam kondisidemikian, anak buah selalu di posisikan sebagai subordinat. Dalam perkembangannya,kepemimpinan model ini ternyata memiliki banyak kelemahan.Beberapa ahli mengemukakan pandangan lain. Definisi yang mereka kemukakanadalah pemimpin merupakan pribadi yang mampu mempengaruhi orang lain untuk  bergerak dan bekerja sama mencapai tujuan kelompok atau organisasi. Namun, padadefinisi ini juga masih dimungkinkan munculnya gaya kepemimpinan otoriter sepertidefinisi di atas.Cara pemimpin mempengaruhi bawahannya bisa dilakukan dengan dua cara.Pertama, melalui
 pressure.
Dengan kekuasaan yang dimilikinya, ia menekan semua bawahannya untuk tunduk mengikuti perintahnya. Kedua, melalui gaya yang persuasif dan dialogis. Selanjutnya, untuk menyebut gaya kepemimpinan yang menggunakan pressure disebut gaya pemimpin otoriter-feodalistik, karena, sebagaimana akan dijelaskandalam bab berikutnya, gaya ini memang bersumber dari budaya feodalisme. Sedangkanuntuk gaya kepemimpinan yang lebih mengedepankan cara-cara persuasi dan dialogisdinamakan kepemimpinan yang melayani atau kepemimpinan transformasional. Disebutkepemimpinan transformasional karena pemimpinan dari kalangan paham ini senantiasamendorong setiap orang untuk mengalami transformasi atau perubahan ke arah yanglebih baik.Masing-masing gaya kepemimpinan memiliki pengaruh pada suasana kerjadilingkungan kerja masing-masing. Secara teoritis dan faktual, situasi kerja yang terciptaoleh gaya kepemimpinan yang digunakan, akan sangat berpengaruh terhadap kinerjasemua personil di lingkungan kerja, tak terkecuali pada diri pemimpin yang bersangkutan. Yang akhirnya, semua itu akan berdampak pada kinerja organisasi secarakeseluruhan.
Pemimpin Feodal
Pemimpin bergaya feodal ini cenderung menjadi otoriter. Merekamendefinisikan pemimpin sebagai pribadi yang memiliki kekuasaan. Pola kepemimpinanseperti ini sangat membudaya di Indonesia. Menurut ahli sosiologi Dr. Kastorius Sinaga, pola hubungan kekuasaan di Indonesia tidak didasarkan pada pola hukum yang jelas.
 
"Bagi orang Indonesia, kekuasaan merupakan
 privilege
atau anugerah yang datang dariTuhan ketimbang amanat dari rakyat," kata staf pengajar di Universitas Indonesia ini,"Kekuasaan yang bagaikan raja ini berkenaan dengan budaya bangsa kita sejak dahulukala yang memang bersandarkan pada kekuasaan ketimbang pelayanan, terutama dalam budaya Jawa."Pemimpin otoriter-feodalistik ini beranggapan bahwa sumber kekuasaanya berasal dari kekuasaan yang lebih tinggi, bukan dari masyarakat yang harus dilayani.Sumber tersebut bisa berasal dari tuhan, dewa, atasan, atau lembaga yang lebih tinggidaripada lembaga yang dipimpinnya. Pengabdian pemimpin ini bukanlah kepadamasyarakat atau bawahan yang dipimpinnya, tetapi kepada struktur atau orang-orangyang dia anggap memiliki kekuasaan yang lebih besar. Semakin besar kekuasaan yangdimiliki, semakin tinggi pula kedudukannya dalam suatu strata atau struktur. Di sini jelas, bahwa pemimpin jenis ini memandang orang atas dasar besarnya kekuasaan yangdimiliki. Orang dikelompokkan ke dalam strata-strata, sebuah pandangan khas dari paham feodalisme.Pandangan feodalisme ini melahirkan pribadi-pribadi pemimpin dengankarakteristik,
‘menjilat ke atas, menginjak ke bawah’ atau “politik belah bambu” 
.Karena pemimpin ini merasa bahwa sumber kekuasaannya diperoleh dari atasannya,maka dia merasa berkewajiban mengabdikan diri dan hidupnya kepada atasan yangmemberinya kekuasaan. Segala aktivitas pekerjaannya terutama ditujukan untu‘mengambil hati’ atasannya. Dia akan selalu membina hubungan baik dengan atasan, dankalau perlu juga dengan keluarga atasan. Harapannya, semakin baik hubungan ini terbina,akan semakin lama pula dia menggenggam kekuasaan yang ‘disedekahkan’ olehatasannya itu.Pemimpin otoriter-feodalistik ini selalu memikirkan berbagai cara untuk tetapmemegang kekuasaan selama mungkin. Setiap ide, inisiatif dan kreativitas karyawanyang berbeda dengan pikiriannya pasti akan dianggap sebagai pembangkang yang inginmendongkel kekuasaannya. Karyawan semacam ini akan di-
 pressing 
, dipinggirkan atau bila perlu dimusnahkan.Di masa orde baru, perilaku pemimpin otoriter-feodalistik ini mengalami perkembangan yang sangat membahayakan. Di dalam melanggengkan kekuasaan yang

Activity (19)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Kentus Kenthir liked this
Ahdini Rahmania liked this
ddprayoedha liked this
Zaky Al Hamzah liked this
Hana Siahaan liked this
23723815 liked this
rahilandika liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->