BAB IIISIA. Pancasila sebagai Etika Politik
Dengan dipilihnya Pancasila sebagai dasar hidup bernegara dan berbangsaatau sebagai dasar hidup berpolitik, maka politik tidaklah netral, tetapi harusdilandasi nilai-nilai etis. Itulah salah satu tugas filsafat politik: mencerahi makna berpolitik dan mengekplisitkan nilai-nilai etis dalam politik yang didasarkan atasPencasila.Ada anggapan negatif dan sikap skeptik serta sinis terhadap politik. Adakecenderungan untuk menghindar dari politik. Namun perlu dicattat beberapa hal:
pertama,
mau tidak mau kita tidak dapat lepas dari politik. Segala kegiatan kitamengandaikan kerangka Negara dan masyarakat.
Kedua
, berbagai kesulitan yangdihadapi dunia modern, seperti peningkatan kesejahteraan, lingkungan hidup,kesenjangan sosial-ekonomi, pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan danteknologi tidak dapat dipecahkan dengan meninggalkan politik, tetapi mengadakantransformasi politik sedemikian rupa, sehingga memungkin kita membentuk danmengorganisir kehidupan secara efektif.
Ketiga
, sikap sinis dan skeptik terhadap politik, bukan hal yang tak terhindari. Dengan membangun kredibilitas dankelayakan suatu model alternatif dan imaginatif institusi politik, ketidakpercayaanakan pilitik bisa diatasi.David Held mengartikan politik sebagai berikut: “Politik adalah mengenaikekuasaan, yaitu mengenai kapasitas pelaku sosial dan institusi sosial untuk mempertahankan atau mentransformir lingkungannya, sosial dan fisik. Politik menyangkut sumber-sumber yang mendasari kapasitas ini dan mengenai kekuatan-kekuatan yang membentuk dan mempengaruhi operasi dari kekuatan itu. Olehkarena itu, politik adalah suatu fenomena yang diketemukan di dalam dan di antarainstitusi dan masyarakat, melintasi kehidupan publik dan privat. Politik terungkap didalam semua aktivitas kerjasama, negosiasi dan perjuangan dalam penggunaan dan2