akan selalu dijumpai suatu kegiatan yang aktivitasnya melakukan pengadaan (procurement).Pengadaan atau pembelanjaan barang kebutuhan suatu organisasi perlu dilakukan untukmendukung pekerjaan sehari-hari yang bersifat rutin (operasional, pemeliharaan, ataupemenuhan kebutuhan kerja setiap hari), maupun pekerjaan yang bersifat sementara (temporary)yang bersifat investasi, penambahan kapasitas terpasang, atau proyek, yang dilakukan untukmencapai suatu tujuan tertentu yang telah ditargetkan (Depkeu, 2007).Selama ini sudah akrab ditelinga kita berbagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan dalam kaitandengan pengadaan barang. Ada istilah mark up, manipulasi, pengadaan yang tak ditenderkan,ketidaksesuaian barang yang dibeli dengan harga, dan sebagainya, yang sarat dengan berbagaipenyelewengan. Kenyataan ini banyak terjadi pada instansi-instansi pemerintah.Sebenarnya hal ini bukanlah sesuatu yang tidak diketahui oleh pemerintah. Untuk itu dalamrangka mengurangi kecenderungan tersebut dan agar pengadaan barang/jasa pemerintahdilaksanakan dengan efektif dan efisien dengan prinsip persaingan sehat, transparan, terbukadan perlakuan adil pada semua pihak sekaligus untuk menghapus praktek kartel pelelangan yangkerap mewarnai tender di sejumlah instansi pemerintah, pemerintah telah mengeluarkankebijakan baru pengadaan barang / jasa pemerintah melalui Keppres No. 80/2003 tentangPedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah sebagai pengganti Keppressebelumnya yaitu Keppres No. 18/2000 (Perpres No. 32 Tahun 2005, 2007). Melalui penerapanKeppres yang baru tersebut diharapkan proses pengadaan barang / jasa oleh instansipemerintah bisa memberikan hasil yang lebih menguntungkan bagi negara dan bisa menghindarikerugian negara akibat pelaksanaan yang tidak benar.Secara umum proses pengadaan barang / jasa selama ini masih belum dapat menghasilkanharga yang kompetitif dan cenderung berharga lebih tinggi dibandingkan pembelian langsungoleh swasta. Hal ini menjadi indikator bahwa proses pengadaan cenderung menciptakan biayaekonomi tinggi dan menciptakan biaya-biaya yang menambah harga penawaran. Harga yangtidak kompetitif pada akhirnya akan merugikan negara dan masyarakat pada umumnya karenaberkurangnya manfaat dari belanja negara. Inefisiensi menjadi semakin bertambah besar ketikaproses pelelangan juga tidak jujur. Perilaku ini menciptakan nilai proyek yang menggelembungdan kemudian diikuti dengan pelaksanaan pengadaan yang tidak jujur dan ada unsur Kolusi,Korusi dan Nepotisme (KKN).Sebagai sebuah institusi pemerintah yang bergerak di bidang pelayanan kesehatan, RSUP Dr.Soeradji Tirtonegoro Klaten juga tidak terlepas dari kegiatan pengadaan barang/ jasa untukmemenuhi kebutuhan operasional dalam pelayanan kesehatan pada setiap tahun. Berbagaikegiatan pengadaan diselenggarakan di rumah sakit ini, mulai dari kebutuhan barang yanglangsung terkait dengan pelayanan kesehatan, juga kebutuhan-kebutuhan lain yang sifatnyasebagai penunjang maupun pelengkap dari kebutuhan pokok pada pelayanan kesehatantersebut.Terkait dengan pelaksanaan pembelanjaan di rumah sakit, sebagai bentuk pertanggungjawabanatas pengelolaan uang negara, setiap kurun waktu tertentu (tribulan, semester dan tahunan)disusun laporan realisasi pelaksanaan anggaran. Namun laporan yang dimaksud baru sebataspada besaran penyerapan dana dan pencapaian prestasi pekerjaan, kalaupun ada monitoringdari instansi yang lebih atas waktunya sudah lewat dan biasanya tidak bisa berbuat lebih jauh.Kondisi ini menyebabkan pada saat dilakukan pemeriksaan / pengawasan oleh Aparat PengawasFungsional (APF) baik Inspektorat Jenderal Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Itjen-Depkes. RI), Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) maupun Badan PemeriksaKeuangan (BPK) didapatkan prosedur pengadaan barang dan jasa yang tidak sesuai denganketentuan Keppres Nomor 80 Tahun 2003, baik yang bersifat adminsitratif maupun teknis.Bersifat administratif misalnya tidak dilakukannya pengumuman di media masa dan kesalahandalam pencantuman persyaratan pendaftaran, sedangkan yang bersifat teknis seperti kesalahanpenghitungan volume dan kemahalan harga serta ketidaksesuaian antara barang yang dikirimdengan spesifikasi barang yang ditetapkan.Sebagai Rumah sakit terbesar di Kabupaten Klaten, RSUP Soeradji Tirtonegoro mempunyai jumlah karyawan yang cukup besar, dengan pasien yang sangat padat. Ini tentu sajamemerlukan sarana dan prasarana pendukung yang besar pula. Dengan demikian Rumah SakitUmum Pusat Soeradji Tirtonegoro ini merupakan salah satu instansi pemerrintah yang saratdengan pengadaan barang. Hal ini disebabkan karena rumah sakit ini memberikan jasa