Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Problem Pendidikan Moral Dalam Dunia Pendidikan Kita

Problem Pendidikan Moral Dalam Dunia Pendidikan Kita

Ratings: (0)|Views: 382 |Likes:
Published by rumrosyid

More info:

Published by: rumrosyid on Dec 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/12/2012

pdf

text

original

 
Problem Pendidikan Moral dalam Dunia Pendidikan Kita
Oleh Rum Rosyid
Menengok pada sejarah bangsa kita yang pernah jaya, tentu akal sehat kita menolak jikadikatakan bahwa masa depan bangsa ini tidak jelas. Oleh karena itu perlu ada perubahan paradigma yang mendasar mengenai pendidikan. Perubahan dari apa, bagaimana danuntuk apa pendidikan itu ada dijalankan untuk mewujudkan peradaban negeri ini. BangsaIndonesia butuh narasi baru, yang walaupun harus berbeda dengan kultur lama, tapi tidak  perlu membuat kita melupakan sejarah bangsa sendiri, bahwa bangsa kita pernah mampu bersaing dengan adil di era globalisasi perdagangan masa lampau. Karena semakinlampau anda melihat sejarah, semakin jauh anda melihat masa depan, begitulah kataWinston Churchill, PM Inggris saat perang dunia II. Who control the past, now controlsthe future (Ronald Reagan, Presiden AS ke-40).Kebangkitan nasional di tahun 1908 diawali dengan progresivitas di bidang pendidikan,Ki Hajar Dewantara, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan Dr. D.D. Setyabudi dalam TigaSerangkai mengalirkan nasionalisme dan Indonesia yang bersatu melalui ranah pendidikan dan kebebasan. Pendidikan menjadi amunisi perubahan gerak perjuanganterhadap kaum penjajah, dari fisik menjadi paradigma.Conny Semiawan, guru besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta. Menurutnya, pendidikan di negeri ini masih sangat terpengaruh dan mengikuti arus global sehingga penyelenggaraannya mengalami kekurangan dalam hal orientasi sasaran dan kesadaranterhadap potensi yang dimiliki. Conny menginginkan agar masyarakat Indonesia berfikir ulang tentang orientasi kehidupan, setidaknya mempunyai target hidup yang jelas. Untuk mencapai pemahaman dan paradigma berfikir seperti ini, perlu dilakukan reorientasi pendidikan. Upaya yang serius dan komprehensif dalam membenahi sistem pendidikannasional. Fenomena ini menjadi bukti otentik urgensi peran serta dan keberhargaan guruyang tak mungkin terhapus dari catatan sejarah bangsa Indonesia. Namun demikiandalam perjalanannya, guru dihadapkan pada dua problematika mendasar, yaitu kulturaldan struktural. Esensi tujuan pendidikan menurut Ignas Kleden yaitu hominisasi (prosesmenjadi homo sapiens) dan proses humanisasi yaitu proses perwujudan nilai-nilai dankemampuan human.
Problem Kultural : marjinalisasi pendidikan moral
Aksiologi (Axiology) Secara historis, istilah yang lebih umum dipakai adalah etika(ethics) atau moral (morals). Tetapi dewasa ini, istilah axios (nilai) dan logos (teori) lebihakrab dipakai dalam dialog filosofis. Jadi, aksiologi bisa disebut sebagai the theory of value atau teori nilai. Bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk (good and bad), benar dan salah (right and wrong), serta tentang cara dan tujuan (meansand ends). Aksiologi mencoba merumuskan suatu teori yang konsisten untuk perilakuetis. Ia bertanya seperti apa itu baik (what is good?). Tatkala yang baik teridentifikasi,maka memungkinkan seseorang untuk berbicara tentang moralitas, yakni memakai kata-kata atau konsep-konsep semacam “seharusnyaatau “sepatutnya” (ought / should).Demikianlah aksiologi terdiri dari analisis tentang kepercayaan, keputusan, dan konsep-konsep moral dalam rangka menciptakan atau menemukan suatu teori nilai.
 
Terdapat dua kategori dasar aksiologis; (1) objectivism dan (2) subjectivism. Keduanya beranjak dari pertanyaan yang sama: apakah nilai itu bersifat bergantung atau tidak  bergantung pada manusia (dependent upon or independent of mankind). Dari sini munculempat pendekatan etika, dua yang pertama beraliran obyektivis, sedangkan dua berikutnya beraliran subyektivis. Pertama, teori nilai intuitif (the initiative theory of value). Teori ini berpandangan bahwa sukar jika tidak bisa dikatakan mustahil untuk mendefinisikan suatu perangkat nilai yang bersifat ultim atau absolut.Bagaimanapun juga suatu perangkat nilai yang ultim atau absolut itu eksis dalam tatananyang bersifat obyektif. Nilai ditemukan melalui intuisi karena ada tata moral yang bersifat baku. Mereka menegaskan bahwa nilai eksis sebagai piranti obyek atau menyatudalam hubungan antarobyek, dan validitas dari nilai obyektif ini tidak bergantung padaeksistensi atau perilaku manusia. Sekali seseorang menemukan dan mengakui nilaitersebut melalui proses intuitif, ia berkewajiban untuk mengatur perilaku individual atausosialnya selaras dengan preskripsi-preskripsi moralnya. Kedua, teori nilai rasional (therational theory of value). Bagi mereka janganlah percaya pada nilai yang bersifat obyektif dan murni independen dari manusia, yang bersifat obyektif dan murni independen darimanusia. Nilai tersebut ditemukan sebagai hasil dari penalaran manusia dan pewahyuansupranatural. Fakta bahwa seseorang melakukan sesuatu yang benar ketika ia tahu dengannalarnya bahwa itu benar, sebagaimana fakta bahwa hanya orang jahat atau yang lalaiyang melakukan sesuatu berlawanan dengan kehendak atau wahyu Tuhan. Jadi dengannalar atau peran Tuhan, seseorang menemukan nilai ultim, obyektif, absolut yangseharusnya mengarahkan perilakunya. Ketiga, teori nilai alamiah (the naturalistik theoryof value). Nilai menurutnya diciptakan manusia bersama dengan kebutuhan-kebutuhandan hasrat-hasrat yang dialaminya. Nilai adalah produk biososial, artefak manusia, yangdiciptakan, dipakai, diuji oleh individu dan masyarakat untuk melayani tujuanmembimbing perilaku manusia.Pendekatan naturalis mencakup teori nilai instrumental dimana keputusan nilai tidak absolut atau ma’sum (infallible) tetapi bersifat relatif dan kontingen. Nilai secara umumhakikatnya bersifat subyektif, bergantung pada kondisi (kebutuhan/keinginan) manusia.Keempat, teori nilai emotif (the emotive theory of value). Jika tiga aliran sebelumnyamenentukan konsep nilai dengan status kognitifnya, maka teori ini memandang bahwa bahwa konsep moral dan etika bukanlah keputusan faktual tetapi hanya merupakanekspresi emosi-emosi atau tingkah laku (attitude). Nilai tidak lebih dari suatu opini yangtidak bisa diverifikasi, sekalipun diakui bahwa penilaian (valuing) menjadi bagian penting dari tindakan manusia. Bagi mereka, drama kemanusiaan adalah sebuahaxiological tragicomedy.Problem kultural terkait dengan persepsi masyarakat terhadap moralitas itu sendiri.Selama ini masyarakat mempersepsikan pendidikan moral sebagai kegiatan sakral, bersifat spiritual, namun marjinal. Moral menjadi pilihan paling akhir ketika skill dan pengetahuan sudah terlampaui. Pengajaran yang bermuatan moralitas (secara esensial)seperti agama, seni, budaya, ataupun sastra; menjadi pilihan akhir fokus dan tolak ukur keberhasilan kegiatan pendidikan. Guru yang fokus pada pengajaran ini dipandang
 
sebagai figur ’sok idealis’, menjadi kelompok marginal atau termarginalkan, sehingga penghargaannya pun berbeda dengan guru di bidang lain.Budaya (culture) merupakan ranah yang tak tersentuh oleh reformasi, bahkan semenjak negeri ini berada di atas tungku kekuasaan Orde Baru(Sawali Tuhusetya, 2009).Kebudayaan agaknya akan terus tertinggal jika tidak ada “kemauan politik” untuk menyentuhnya ke dalam ranah perubahan. Satu dekade reformasi seharusnya sudahmampu memberikan kemaslahatan publik dalam menggapai kehidupan yang lebih baik.Telinga kita sudah demikian jenuh mendengar bahasa politik dan ekonomi yang tak henti-hentinya mengedepankan “siapa yang menangdan “apa untungnya”. Sudahsaatnya kita memperluas makna perubahan dengan menyentuh akar-akar kebudayaandengan mengedepankan pertanyaan “apa yang benar”.Kebudayaan benar-benar menjadi sebuah khazanah Indonesia yang tertinggal. Ironisnya,kebudayaan kita justru diceraikan dari ranah pendidikan. Kebudayaan harus “menikah”dengan kepariwisataan yang jelas-jelas lebih diorientasikan pada politik pencitraan dandunia industri. Sebagaimana dikemukakan oleh Andreas Eppink, kebudayaanmengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan, serta keseluruhanstruktur sosial, religius, serta pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khassuatu masyarakat. Dalam pandangan J.J. Hoenigman, kebudayaan bisa berwujud gagasan,aktivitas (tindakan), dan artefak (karya).Ketiga wujud ranah kebudayaan inilah yang akan sangat menentukan peradaban sebuah bangsa. Namun, ketika kebudayaan dipahami sebagai bagian dari politik pencitraan danindustri, disadari atau tidak, hancurlah basis-basis kebudayaan yang akan menjadi penyangga peradaban bangsa. Meminjam istilah Slamet Sutrisno (1997) semakin tidak intensnya seseorang dalam memburu jatidiri yang lebih bermartabat. Perburuan gengsiyang berkembang dalam kelatahan membuat orang mengejar keberhasilan secara instan,entah melakukan korupsi atau usaha magis melalui cara mistis dalam memperolehkekayaan. Pada hakikatnya mereka gemar menempuh terobosan dan “jalan kelinci”dengan sukses gaya “Abu Nawas”. Kursi empuk kepejabatan, titel, dan kedudukankeilmuan pun tak jarang disergap melalui kelancungan dalam ilmu permalingan”.Agaknya, bangsa kita memang telah “ditakdirkan” untuk menjadi bangsa pelupa. Kita(nyaris) tak pernah belajar pada pengalaman-pengalaman masa silam. Yang sering kitaingat, bukan esensinya, melainkan asesorisnya. Kita lupa bahwa pada awal-awal pergerakan nasional, para pendiri negeri ini dengan amat sadar menyentuh persoalankebudayaan sebagai basis perubahan. Kebudayaanlah yang telah menyatukan berbagaikelompok etnis dan suku ke dalam sebuah wadah, sehingga mampu menorehkan tintasejarah melalui Gerakan Budi Utomo (1908) yang dikokohkan kembali melalui SumpahPemuda (1928). Berkat sentuhan kebudayaan, mimpi “Indonesia Baru” yang merdekadan berdaulat akhirnya menjadi sebuah kenyataan.Pemanusian, menurut pandangan aksiologis, selalu menjadi problema pokok manusia,dan kini persoalan itu harus dipedulikan sungguh-sungguh. Kepedulian terhadap pemanusian seketika membawa kita pada pengakuan terhadap dehumanisasi

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->