Upaya Kontekstualisasi dan Implementasi Pancasila
Oleh Rum Rosyid
Sejak pertama kali dilaunching oleh Destutt de Tracy di masa kekuasaan NapoleonBonaparte (akhir abad ke-18) istilah ini muncul, Ideologi. Bagi de Tracy waktu itu,ideologi adalah ilmu pengetahuan (baru) tentang ide-ide yang membersihkan prasangka- prasangka metafisika dan agama. Dengan ideologi-nya, ia berusaha menemulan”kebenaran” di luar otoritas yang selama ini selalu dimiliki dan dikuasai oleh agamawanatas nama institusi agama. Ideologi (inggris); berasal dari bahasa Yunani ide(idea/gagasan) dan logos (studi tentang, ilmu pengetahuan tentang). Secara harfiah,sebagaimana dalam metafisika klasik, ideologi merupakan ilmu pengetahuan tentang ide-ide, studi tentang asal-usul ide. Dalam pengertian modern, ideologi mempunyai artinegatif sebagai teoretisasi atau spekulasi dogmatik dan khayalan kosong yang tidak betulatau tidak realistis; atau bahkan palsu dan menyembunyikan realitas yang sesungguhnya.Dalam pengertian yang lebih netral, ideologi adalah setiap sistem gagasan yangmempelajari keyakinan-keyakinan dan hal-hal ideal filosofis, ekonomis, politis, sosial.
Pertarungan antar Ideologi
Keyakinan-keyakinan yang ideal dalam masyarakat dunia, sampai saat ini tidak membawa hasil yang memuaskan. Ideology, yang awalnya, diharapkan membawasecercah pembebasan dan jalan keselamatan, ternyata malah membawa kita menuju jurang persengketaan yang memakan begitu banyak korban. Revolusi Perancis, civil war di Amerika, Holocaust oleh Nazi Jerman, rezim Stalin di Rusia, rezim Pol Pot diKamboja, tragedi G 30/S/PKI di Indonesia, dan seterusnya adalah selintas hamparan bukti-bukti yang menggiring pemahaman masyarakat bahwa ideologi adalah kancah pembantaian antar manusia atas nama idealisme dan gagasan yang agung. Ideologisebagai bagian dari peradaban manusia memang menampilkan wajah ganda.Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla meminta para penegak hukum untuk saling bekerja sama dalam menyelesaikan masalah keamanan. Ia mengatakan, kerja sama ini penting misalnya dalam menghadapi terorisme. "Perang fisik dan perang ideologi," kataKalla pada pembukaan rapat koordinasi para penegak hukum di Mabes Polri, Selasa(22/11/05). Kalla mengatakan, perang fisik yang dimaksud adalah penanganan kasusterorisme oleh polisi di lapangan, misalnya mencari bom hingga menangkap para pelakunya. Sedangkan perang ideologi, dapat dilakukan dengan memberikan pemahamanyang benar mengenai agama, misalnya konteks jihad. "Ini dapat dilakukan oleh kiai,ustad, dan ulama,". Kalla menegaskan, para ulama telah menyatakan tindakan terorismedan 'jihad' yang dilakukan para pelaku teror bertentangan dengan ajaran agama. Jikalangkah pendekatan ideologi ini berhasil, ia berpendapat, beban polisi di lapangan akansemakin ringan. Untuk itu ia meminta para penegak hukum untuk tidak segan melibatkan pemuka agama dalam menegakkan hukum. Ia melanjutkan, langkah para penegak hukumharus seirama dalam menangani masalah keamanan. Jika saling menjegal dan salingmelindungi penjahat, penegakan hukum akan lumpuh.Sejarah kelam (dalam arti yang sesungguhnya) tersebut semoga saja kini telahmenyadarkan (sebagian besar) umat manusia untuk menggali kembali pentingnya nalar humanis yang “melampaui” atau “mentransendensi” pemahaman-pemahaman eksklusif