Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
10Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Jual Beli Dalam Islam

Jual Beli Dalam Islam

Ratings: (0)|Views: 395 |Likes:
Published by Iwan Hermawan

More info:

Published by: Iwan Hermawan on Dec 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/12/2013

pdf

text

original

 
JUAL BELI DALAM PANDANGAN ISLAM
Islam melihat konsep jual beli itu sebagai suatu alat untuk menjadikan manusia itu semakindewasa dalam berpola pikir dan melakukan berbagai aktivitas, termasuk aktivitas ekonomi.Pasar sebagai tempat aktivitas jual beli harus, dijadikan sebagai tempat pelatihan yang tepat bagi manusia sebagai khalifah di muka bumi. Maka sebenarnya jual beli dalam Islammerupakan wadah untuk memproduksi khalifah-khalifah yang tangguh di muka bumi.Dalam Al-Qur’an Surat Al Baqoroh ayat 275, Allah menegaskan bahwa: “...Allahmenghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...”. Hal yang menarik dari ayat tersebutadalah adanya pelarangan riba yang didahului oleh penghalalan jual beli. Jual beli (trade)adalah bentuk dasar dari kegiatan ekonomi manusia. Kita mengetahui bahwa pasar terciptaoleh adanya transaksi dari jual beli. Pasar dapat timbul manakala terdapat penjual yangmenawarkan barang maupun jasa untuk dijual kepada pembeli. Dari konsep sederhanatersebut lahirlah sebuah aktivitas ekonomi yang kemudian berkembang menjadi suatusistem perekonomian.Pertanyaannya kini adalah, seperti apakah konsep jual beli tersebut yang dibolehkan dansesuai dengan pandangan Islam? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kita perlumelihat batasan-batasan dalam melakukan aktivitas jual beli. Al-Omar dan Abdel-Haq(1996) menjelaskan perlu adanya kejelasan dari obyek yang akan dijualbelikan. Kejelasantersebut paling tidak harus memenuhi empat hal.
Pertama
, mereka menjelaskan tentang
lawfulness
. Artinya, barang tersebut dibolehkan oleh syariah Islam. Barang tersebut harus benar-benar halal dan jauh dari unsur-unsur yang diharamkan oleh Allah. Tidak bolehmenjual barang atau jasa yang haram dan merusak.
Kedua
, masalah
existence
. Obyek dari barang tersebut harus benar-benar nyata dan bukan tipuan. Barang tersebut memang benar- benar bermanfaat dengan wujud yang tetap.
Ketiga
,
delivery
. Artinya harus ada kepastian pengiriman dan distribusi yang tepat. Ketepatan waktu menjadi hal yang penting disini.
Keempat
, adalah
 precise determination
. Kualitas dan nilai yang dijual itu harus sesuai danmelekat dengan barang yang akan diperjualbelikan. Tidak diperbolehkan menjual barangyang tidak sesuai dengan apa yang diinformasikan pada saat promosi dan iklan.Dari keempat batasan obyek barang tersebut kemudian kita perlu melihat bagaimanakahkonsep kepemilikan suatu produk dalam Islam. Al-Omar dan Abdel-Haq (1996) jugamenjelaskan bahwa konsep kepemilikan barang itu adalah mutlak milik Allah (QS 24:33dan 57:7). Semua yang ada di darat, laut, udara, dan seluruh alam semesta adalahkepunyaan Allah. Manusia ditugaskan oleh Allah sebagai khalifah untuk mengelola seluruhharta milik Allah tersebut dan kepemilikan barang-barang yang menyangkut hajat hidupharus dikelola secara kolektif dengan penuh kejujuran dan keadilan.Islam melihat konsep jual beli itu sebagai suatu alat untuk menjadikan manusia itu semakindewasa dalam berpola pikir dan melakukan berbagai aktivitas, termasuk aktivitas ekonomi.Pasar sebagai tempat aktivitas jual beli harus, dijadikan sebagai tempat pelatihan yang tepat bagi manusia sebagai khalifah di muka bumi. Maka sebenarnya jual beli dalam Islammerupakan wadah untuk memproduksi khalifah-khalifah yang tangguh di muka bumi.Abdurrahman bin Auf adalah salah satu contoh sahabat nabi yang lahir sebagai seorangmukmin yang tangguh berkat hasil pendidikan di pasar. Beliau menjadi salah satu orangkaya yang amanah dan juga memiliki kepribadian ihsan.Lalu bagaimana menciptakan sistem jual beli yang dapat melahirkan khalifah-khalifah yangtangguh? Ada beberapa langkah yang bisa kita praktekkan sedini mungkin. Langkahtersebut antara lain dengan melatih kejujuran diri kita. Latihlah menjadi orang jujur darihal-hal yang kecil. Rasulullah selalu mempraktekkan kejujuran, termasuk ketika melakukanaktivitas jual beli. Beliau selalu menjelaskan kualitas yang sebenarnya dari barang yang
 
dijual dan tidak pernah memainkan takaran timbangan. Selain melatih kejujuran, kita jugaharus mampu memanfaatkan peluang bisnis yang ada. Tidak menjadi orang yang latahmelihat kesuksesan dari bisnis pihak lain. Kita harus mampu sabar dan tawakkal dengandisertai ikhtiar yang optimal dalam melihat peluang yang tepat dalam melakukan aktivitas bisnis. Langkah lainnya adalah dengan menciptakan distribusi yang tepat melalui zakat,infak, dan shadaqah. Aktivitas jual beli harus mampu melatih kita untuk menjadi orangyang pemurah dan senantiasa berbagi dengan sesama. Zakat, infak, dan shadaqah adalahmedia yang tepat untuk membangun hal tersebut.Konsep jual beli dalam Islam diharapkan menjadi cikal bakal dari sebuah sistem pasar yangtepat dan sesuai dengan alam bisnis. Sistem pasar yang tepat akan menciptakan sistem perekonomian yang tepat pula. Maka, jika kita ingin menciptakan suatu sistem perekonomian yang tepat, kita harus membangun suatu sistem jual beli yang sesuai dengankaidah syariah Islam yang dapat melahirkan khalifah-khalifah yang tangguh di muka bumiini. Hal tersebut dapat tercipta dengan adanya kerjasama antara seluruh elemen yang ada di pasar, yang disertai dengan kerja keras, kejujuran dan mampu melihat peluang yang tepatdalam membangun bisnis yang dapat berkembang dengan pesat.
JUAL BELI KREDIT
Allah telah berfirman dalam Al-Quran,
ابَ ر ّ ل مَ ر  حَ وَع َ ي ْ  َ لْ ه ُ   ل   حَأَ وَ
“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah 2:275).Firman tersebut menjadi dalil bagi kebolehan jual beli secara umum.Selain itu, para ulama telah membolehkan jual beli secara kredit, di antaranya adalah SyaikhulIslam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qoyyim, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad binSholih Al Utsaimin, Syaikh Al Jibrin dan lainnya. Namun kebolehan jual beli ini menurut paraulama yang memperbolehkannya harus memenuhi beberapa syarat tertentu. Mereka berhujjahdengan beberapa dalil berikut yang bisa diklasifikasikan menjadi beberapa bagian;1.Pertama, Dalil-dalil yang memperbolehkan jual beli dengan pembayaran tertunda.
Firman Allah Ta'ala
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktuyang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya” (QS. Al Baqarah: 282).Ibnu Abbas menjelaskan, "Ayat ini diturunkan berkaitan dengan jual beli As Salam saja."Imam Al Qurthubi menerangkan,
 
“Artinya, kebiasaan masyarakat Madinah melakukan jual beli salam adalah penyebabturunnya ayat ini, namun kemudian ayat ini berlaku untuk segala bentuk pinjam meminjam berdasarkan ijma' ulama” (Tafsir Al Qurthubi 3/243).
 Hadits Rasulullah
Dari Aisyah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah rnembeli makanan dari seorang Yahudidengan pembayaran tertunda. Beliau memberikan baju besi beliau kepada orang tersebutsebagai gadai.” (HR. Bukhari 2068, Muslim 1603).Hadits ini tegas bahwa Rasululah mendapatkan barang kontan namun pembayarannyatertunda.2.Kedua, Dalil-dalil yang menunjukkan dibolehkannya memberikan tambahan harga karena penundaan pembayaran atau karena penyicilan.
Firman Allah Ta'ala
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling mernakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jaian perniagaan yang berlaku dengan suka sarna sukadiantara kamu” (Q.S. An Nisa': 29).Keumuman ayat ini mencakup jual beli kontan dan kredit, maka selagi jual beli kreditdilakukan dengan suka sama suka maka masuk dalam apa yang diperbolehkan dalam ayat ini.
 Hadits Rasulullah
Dari Abdullah bin Abbas berkata, Rasulullah datang ke kota Madinah, dan saat itu penduduk Madinah melakukan jual beli buah-buahan dengan cara salam dalam jangka satu atau duatahun, maka beliau bersabda,
 
"Barangsiapa yang jual beli salam maka hendaklah dalamtakaran yang jelas, timbangan yang jelas sampai waktu yang jelas" (HR. Bukhari
 
2241,Muslim
 
1604).Pengambilan dalil dari hadits ini, bahwa Rasulullah membolehkan jual beli salam asalkantakaran dan timbangan serta waktu pembayarannya jelas, padahal biasanya dalam jual belisalam uang untuk membeli itu lebih sedikit daripada kalau beli langsung ada barangnya.Maka begitu pula dengan jual beli kredit yang merupakan kebalikannya yaitu barang dahuludan uang belakangan meskipun lebih banyak dari harga kontan..

Activity (10)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Diba Maulani liked this
Santi Lestari liked this
Albert Lee liked this
Nurul Zuhaella liked this
kayhms18912 liked this
Iwan Hermawan liked this
Iwan Hermawan liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->