Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
19Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Epistemologi Pancasila Keseimbangan Idealisme Dan Pragmatisme

Epistemologi Pancasila Keseimbangan Idealisme Dan Pragmatisme

Ratings:

1.0

(1)
|Views: 6,491|Likes:
Published by rumrosyid

More info:

Published by: rumrosyid on Dec 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2013

pdf

text

original

 
Epistemologi Pancasila: Keseimbangan Idealisme dan PragmatismeOleh Rum Rosyid
Epistemologi (Epistemology) Disebut the theory of knowledge atau teori pengetahuan. Ia berusaha mengidentifikasi dasar dan hakikat kebenaran dan pengetahuan, dan mungkininilah bagian paling penting dari filsafat untuk para pendidik. Pertanyaan khasepistemologi adalah bagaimana kamu mengetahui (how do you know?). Pertanyaan initidak hanya menanyakan tentang apa (what) yang kita tahu (the products) tetapi jugatentang bagaimana (how) kita sampai mengetahuinya (the process). Para epistemologadalah para pencari yang sangat ulet. Mereka ingin mengetahui apa yang diketahui (whatis known), kapan itu diketahui (when is it known), siapa yang tahu atau dapatmengetahuinya (who knows or can know), dan yang terpenting, bagaimana kita tahu(how we know). Mereka adalah para pengawas dari keluasan ranah kognitif manusia.Pertanyaan-pertanyaan tersebut didahului dengan pertanyaan dapatkah kita mengetahui(can we know?).Di sini terdapat tiga posisi epistemologis: Pertama, dogmatism. Aliran ini menjawab: ya,tentu saja kita dapat dan benar-benar mengetahui (we can and do know) – selanjutnya bahkan kita yakin (we are certain). Untuk mengetahui sesuatu kita harus lebih dahulumemiliki beberapa pengetahuan yang memenuhi dua kriteria: certain (pasti) danuninferred (tidak tergantung pada klaim pengetahuan sebelumnya). Contoh untuk itu: a =a dan keseluruhan > bagian. Kedua, skepticism. Aliran ini menjawab: tidak, kita tidak  benar-benar tahu dan tidak juga dapat mengetahui. Mereka setuju dengan dogmatisme bahwa untuk berpengetahuan seseorang terlebih dahulu harus mempunyai beberapa premis-premis yang pasti dan bukannya inferensi. Tapi mereka menolak klaim eksistensi premis-premis yang self-evident (terbukti dengan sendirinya). Respon aliran ini seolahmenenggelamkan manusia kedalam lautan ketidakpastian dan opini. Ketiga, fallibilism.Aliran ini menjawab bahwa kita dapat mengetahui sesuatu, tetapi kita tidak akan pernahmempunyai pengetahuan pasti sebagaimana pandangan kaum dogmatis. Mereka inihanya mengatakan mungkin (possible), bukan pasti (certain).Orientasi sosial yang harus dipahami oleh anak didik dan umumnya dunia pendidikankita, disamping pemahaman dan pemaknaan terhadap fenomena-fenomena sosial yangtengah menjadi gejala di masyarakat sehingga ia menjadi feomena yang integral dengan proses pendidikan; adalah juga idealisme tentang: (1) figur pimpinan panutan / teladanyang diharapkan masyarakat. Misalnya digambarkan figur yang demokrat, memilikikomitmen kemasyarakatan yang tinggi, religius; sehingga arah pendidikan dapat kitadorong ke pembinaan sikap mental anak didik yang demikian; (2) perubahan sosial yangmenjamin arah kemakmuran terbesar pada lapis terbawah masyarakat, sehingga akanmemunculkan berbagai rumusan strategi dan ‘angan-angan’ alternatif tentang perubahansosial itu berasal dari proses pendidikan; (3) pemaknaan terhadap perlunya keseimbanganiman, ilmu, dan amal dalam konteks sosial yang relevan; sehingga dunia pendidikanmemiliki kepedulian untuk mengimplentasikannya.Kebutuhan tentang orientasi sosial di atas dapat dibentuk melalui rekonstruksi berbagai perangkat pendidikan, antara lain dengan: pertama, pembenahan orientasi pendidikanmelalui sosialisasi secara benar fungsi-fungsi institusi pendidikan dengan menekankan
 
 pada nilai-nilai/idealisme sosial, bukannya pada sisi pragmatisme semata-mata. Kedua, penyesuaian dan peninjauan kurikulum pendidikan yang relevan dengan tuntutanmasyarakat, serta menjadikan masyarakat sebagai objek terdekat dari dunia pendidikanitu sendiri melalui pengayaan studi kasus (case study) tentang dinamika masyarakataktual dan untuk kebutuhan futuristik (masa depan). Ketiga, penyempurnaan metoda pengajaran dengan lebih menjadikan anak didik sebagai subjek, penghapusan sub-ordinasi guru-murid secara psikologis dan intelektual untuk menjamin peran-peran anak didik secara kritis dan optimal. Keempat, penyediaan buku-buku referensi dan alat atau bahan belajar yang sesuai dengan dinamika masyarakat, dengan harga yang relatiterjangkau.Selain itu, perlu juga diintensifkan daur belajar secara lengkap yang melibatkan dualingkar proses pembinaan yang lain di luar sekolah, yakni peran keluarga sebagai lingkar  pertama, dan organisasi-organisasi sosial yang terdapat di masyarakat sebagai lingkar  pembinaan ketiga, sesudah sekolah. Dengan dioptimalkannya peran-peran lembagamasyarakat yang terdiri dari berbagai jenis kelompok berdasarkan minat dan bakat,kesamaan fungsi, ideologi, dan sebagainya ini, bisa dipastikan wawasan sosial anak didik akan semakin terasah. Sebab, lembaga-lembaga sosial ini memang ‘biangnya’ pembentukan sikap mental social, politis dan ideologis. Dengan demikian dimensi sosial pendidikan akan semakin lengkap.Soedjatmoko dalam beberapa tulisannya juga sempat menyebutkan sumbangan utamakaum cendekiawan setidaknya dapat dirumuskan dalam tiga hal, yaitu mengubah persepsi bangsa dalam menghadapi berbagai persoalan, mengubah kemampuan bangsamenanggapi masalah baru, dan mengubah aturan main dalam pergulatan politik."Idealisme kaum cendekiawan ini dalam pemikiran Soedjatmoko harus disertai pragmatisme dalam bertindak. Artinya, untuk melawan kemandegan cendekiawandituntut bukan hanya keberanian, tetapi juga keluwesan yang cerdik dan pemahamanyang mendalam akan masyarakatnya.Sejarah budaya dan ilmu pengetahuan mengakui bahwa bidang filsafat dianggap sebagaiinduk atau ratu ilmu pengetahuan, dan merupakan bidang pemikiran tertua dalam peradaban (Avey 1961: 3 – 4). Filsafat mencari dan menjangkau kebenaran fundamentaldan hakiki untuk dijadikan filsafat hidup sebagai kebenaran terbaik. Nilai filsafat yang bersumber dari Timur Tengah terpadu dengan nilai ajaran agama, karena nilai intrinsik agama yang metafisis-supranatural sinergis dengan nilai filsafat yang cenderungfundamental, komprehensif (kesemestaan), metafisis, universal dan hakiki. Demikian pula nilai agama (Ketuhanan, keagamaan) berwatak fundamental-universal, suprarasionaldan supranatural. Identitas filosofis theisme religious Timur Tengah dapat diakui sebagaisumur madu peradaban dibandingkan filsafat Barat sebagai sumur susu peradaban.Karenanya, manusia sehat, sebaiknya minum susu dengan madu; demikian pula bangsayang jaya seyogyanya menegakkan nilai theisme religious sinergis dengan filsafat danipteks.Garis lingkaran dalam skema melukiskan jangkauan nilai Ketuhanan-keagamaan(theisme religious) meliputi (mempengaruhi) seluruh benua dan seluruh manusia agama
 
Yahudi, Kristen dan Islam. Diakui, bahwa bangsa-bangsa, umat manusia berbudaya dan beradab, berkat nilai-nilai moral filsafat theisme religious; secara intrinsik tersurat dalamfilsafat Islam (Al Ahwani 1995) integritas manusia alam semesta dan Ketuhanan sebagaiterpancar dari nilai ajaran agama-agama besar yang supranatural di dunia. FilsafatPancasila adalah bagian dari sistem filsafat Timur; karenanya ajarannya memancarkanidentitas dan martabat theisme-religious sebagai nilai keunggulannya. Artinya,keunggulan sistem filsafat Pancasila terpancar dari asas theisme religious yang menjaditumpuan keyakinan (kerokhanian) dan moral kepribadian manusia. Tegasnya,keunggulan (kepribadian) manusia, bukanlah penguasaan keunggulan ipteks; melainkankeunggulan moralitas manusia!
Pancasila sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidikan Nasional
Sampai dengan menjelang hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2009 diskusi tentangPancasila sedang mati suri, mungkin bersamaan dengan meninggalnya tokoh ekonomPancasila Prof. Mubyarto. Reaksi ketidakpuasan terhadap hasil pemikiran beliau cukup beragam yang menonjol adalah kritik Dr. Arief Budiman dan Kwik Kian Gie. Diantarakritik-kritik terhadap pemikiran Prof. Mubyarto, yang kami anggap sangat sentral untuk didiskusikan adalah kritik Arief Budiman yang melihat sisi kelemahan pemikiranMubyarto, dari sisi epistemologi. Karena epistemologi merupakan sisi rasionalitas darisebuah ideologi. Pada tahap lebih lanjut akan mengalir berbagai macam ilmu sosial yangmemiliki ruh Pancasila.Pasal 2 UU-RI No. 2 Tahun 1989 menetapkan bahwa Pendidikan Nasional berdasarkanPancasila dan UUD 45. Sedangkan Ketetapan MPR RI No. 11/MPR/1987 tetangPedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) menegaskan bahwa Pancasila ituadalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia dan dasar negar Republik Indonesia. P4 atau Ekaprasetya Pancakarsasebagai petunjuk operasional pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,termasuk dalam bidang pendidikan . Perlu ditegaskan bahw Pengamalan Pancasila ituharuslah dalam arti keseluruhan dan keutuhan kelima sila dalam Pancasila itu, sebagaiyang dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945 , yakni Ketuhanan Yang Maha Esa,Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpinoleh hikmat dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam Buku I Bahan Penataran P4 dikemukakan bahwaKetetapan MPR RI No. 11/MPR/1989 tersebut diatas memberi petunjuk-petunjuk nyatadan jelas wujud pengamalan kelima sila dari Pancasila.Sistem filsafat Pancasila diakui sebagai bagian dari ajaran sistem filsafat Timur, yangsecara kodrati memiliki integritas dan identitas sebagai sistem filsafat theisme-religious;dan monotheisme-religious. Karenanya, identitas martabatnya yang demikian secaraintrinsik dan fungsional memancarkan integritas ajaran yang mengakui potensi martabatkepribadian manusia, sebagai terpancar dalam integritas jasmani-rokhani. Integritas danmartabat manusia yang luhur memancarkan potensi unggul dan mulia, sebagai makhluk mulia ciptaan Allah Yang Maha Kuasa. Kemuliaan martabat manusia ialah kesadarankewajiban asasi untuk menunaikan amanat Ketuhanan dalam peradaban.

Activity (19)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
M Jamis Han liked this
Denik Irma liked this
Meitta Effendi liked this
Zain Alatas liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->