Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
11Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Epistemologi Pragmatisme Dalam Pendidikan Kita

Epistemologi Pragmatisme Dalam Pendidikan Kita

Ratings: (0)|Views: 2,932|Likes:
Published by rumrosyid

More info:

Published by: rumrosyid on Dec 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

07/03/2013

pdf

text

original

 
Epistemologi Pragmatisme dalam Pendidikan Kita
Oleh Rum Rosyid
Epistemologi derivasinya dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu pengetahuan.Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme, pengetahuan; dan logos,theory. Epistemologi adalah cabang filsafat yang menengarai masalah-masalahfilosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan. Epistemologi bertalian dengan definisidan konsep-konsep ilmu, ragam ilmu yang bersifat nisbi dan niscaya, dan relasi eksak antara ‘alim (subjek) dan ma’lum (objek). Atau dengan kata lain, epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimanamemperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah modelfilsafat. Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan, bahkan menentukan “kebenaran” macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak. Bila Kumpulan pengetahuan yang benar/episteme/diklasifikasi, disusunsitematis dengan metode yang benar dapat menjadi epistemologi.Aspek epistemologi adalah kebenaran fakta / kenyataan dari sudut pandang mengapa dan bagaimana fakta itu benar yang dapat diverifikasi atau dibuktikan kembali kebenarannya.Pragmatisme memandang pengetahuan adalah relatif dan terus berkembang.Pengetahuan yang benar diperoleh melalui pengalaman. Karakteristik pengalamanmerupakan suatu peristiwa aktif-pasif, dan pengukuran nilai suatu pengalaman terletak  pada persepsi hubungan-hubungan atau kontinuitas yang menyebabkan pengalamantersebut meningkat. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang ternyata berguna bagi kehidupan. Pengetahuan adalah alat atau instrumen untuk berbuat.Ukuran tingkah laku perseorangan dan sosial ditentukan secara eksperimental dalam pengalaman-pengalaman hidup. Dengan demikian tidak ada nilai absolut. Menurut aliranini hakikat dari realitas adalah segala sesuatu yang dialami oleh manusia. Ia berpendapat bahwa inti dari realitas adalah pengalaman yang dialami manusia. Ini yang kemudianmenjadi penyebab bahwa pragmatisme lebih memperhatikan hal yang bersifat keaktualansehingga berimplikasi pada penentuan nilai dan kebenaran. Dengan demikian nilai dankebenaran dapat ditentukan dengan melihat realitas yang terjadi di lapangan dan tidak lagi melihat faktor – faktor lain semisal dosa atau tidak. Hal ini senada dengan apa yangdikataka James, “Dunia nyata adalah dunia pengalaman manusia.” Kenyataan yangsebenarnya adalah kenyataan fisik. Segala sesuatu dalam alam dan kehidupan adalah berubah. Hakekat segala sesuatu adalah perubahan itu sendiri. Hidup adalah suatu proses pembaharuan diri yang terus berlangsung dalam interaksinya dengan lingkungan.Apa fokus pendidikan kita sekarang. Secara umum, alam menjadi titik sentral pendidikan; alam menjadi tujuan. Manusia menjadi "budak" dari alam; ilmu, teknologidan hal-hal yang bersifat pragmatis mengambil tempat paling penting. Pendidikan yang berpusat pada manusia semakin tersingkir. Ini tidak lepas dari sosok yang paling berpengaruh dalam dunia pendidikan, John Dewey. Ia tokoh pendidikan Amerika Serikat pada awal dan pertengahan abad ke-20 dan menggulirkan konsep pragmatisme. Deweymengatakan bahwa pendidikan adalah penyesuaian pribadi yang bertumbuh terhadaplingkungannya (education is " adjusment of the growing personality to its environment).Ia membuat lingkungan menjadi pusat pendidikan. Bagi Dewey, manusia itu harus
 
disesuaikan terhadap lingkungannya tanpa menyebut defenisi "lingkungan"(environment) secara jelas."Pendidikan adalah hidup, pertumbuhan sepanjang hidup, proses rekonstruksi yang berlangsung terus dari pengalaman yang terakumulasi dan sebuah proses sosial. Tujuan pendidikan adalah memperoleh pengalaman untuk berguna memecahkan masalah-masalah baru dalam kehidupan perorangan dan bermasyarakat. Tujuan pendidikan tidak ditentukan dari luar kegiatan pendidikan, tetapi terdapat dalam setiap proses pendidikan.Oleh karena itu tidak ada tujuan umum pendidikan atau tujuan akhir pendidikan.Pandangan klasik melihat pendidikan sebagai alat reproduksi kelas sosial-ekonomimasyarakat (London, 2002; Fernandes, 1988; Labaree, 1986). Seseorang memasuki jenissekolah sesuai derajat sosial-ekonomi orangtua untuk memegang posisi tertentu dalamstruktur kelas masyarakat tempat asalnya. Pendidikan sebagai alat reproduksi kelasmembuka peluang mobilitas sosial vertikal. Namun, sistem demikian tidak mendobrak struktur sosial yang menjadi akar penyebab timbulnya kelas-kelas masyarakat.Pemikiran postmodern merombak pandangan itu. Melalui kajian radikal tentang aspek-aspek hubungan kekuasaan dalam pendidikan, para pedagog dan filsuf pendidikankontemporer, seperti Caughlan (2005), Schutz (2004), Giroux (2000, 1981, 1980), danMangunwijaya (1999), menegaskan pentingnya pedagogi kritis dan transformatif.Pendidikan ditantang melahirkan insan-insan unggul yang mampu membaharui struktur sosial masyarakat agar lebih adil, terbuka, dan partisipatif. Dalam konteks ini,kemunculan pemimpin baru tidak memerlukan wacana karena pada dasarnya insan-insanhasil pendidikan kritis-transformatif memiliki kualitas kepemimpinan. Pemimpin menjadisosok utama kumpulan insan unggul yang sama-sama bervisi menciptakan struktur sosial baru.Pragmatisme yang merupakan salah satu aliran yang berpangkal pada empirisme,meskipun terdapat pengaruh idealisme jerman (hegel). John Dewey salah seorang tokohPragmatisme yang dianggap pemikir paling berpengaruh pada zamannya. Selain JohnDewey, tokoh Pragmatisme lainnya adalah Charles Pierce dan William James. IstilahPragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti perbuatan (action) atautindakan (practice). Isme di sini sama artinya dengan isme-isme lainnya, yaitu berartialiran atau ajaran atau paham. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yangmenekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Pragmatisme memandang bahwakriteria kebenaran ajaran adalah “faedah” atau “manfaat”. Suatu teori atau hipotesisdianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatuteori itu benar kalau berfungsi (if it works).Dengan demikian Pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenaiteori kebenaran (theory of truth). Pragmatisme tak dapat dilepaskan dari keberadaan dan perkembangan ide-ide sebelumnya di Eropa, sebagaimana tak bisa diingkari pula adanya pengaruh dan imbas baliknya terhadap ide-ide yang dikembangkan lebih lanjut di Eropa.William James mengatakan bahwa Pragmatisme yang diajarkannya, merupakan “nama baru bagi sejumlah cara berpikir lama”. Dan dia sendiri pun menganggap pemikirannya
 
sebagai kelanjutan dari Empirisme Inggris, seperti yang dirintis oleh Francis Bacon(1561-1626), yang kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes (1558-1679) dan JohnLocke (1632-1704). Pragmatisme, di samping itu, telah mempengaruhi filsafat Eropadalam berbagai bentuknya, baik filsafat Eksistensialisme maupun Neorealisme dan Neopositivisme.Pragmatisme, telah menjadi semacam ruh yang menghidupi tubuh ide-ide dalam ideologiKapitalisme, yang telah disebarkan Barat ke seluruh dunia melalui penjajahan dengangaya lama maupun baru. Dalam konteks inilah, Pragmatisme dapat dipandang berbahayakarena telah mengajarkan dua sisi kekeliruan sekaligus kepada dunia yakni standar kebenaran pemikiran dan standar perbuatan manusia. Atas dasar itu, mereka yang bertanggung jawab terhadap kemanusiaan tak dapat mengelak dari sebuah tugas muliayang menantang, yakni menjinakkan bahaya Pragmatisme dengan mengkaji danmengkritisinya, sebagai landasan strategis untuk melakukan dekonstruksi (penghancuran bangunan ide) Pragmatisme, sekaligus untuk mengkonstruk ideologi dan peradabansebagai alternatif dari Kapitalisme yang telah mengalami pembusukan dan hanyamenghasilkan penderitaan pedih bagi umat manusia.
Tinjauan Historis Pragmatisme
Setelah melalui Abad Pertengahan (abad V-XV M) yang gelap dengan ajaran gereja yangdominan, Barat mulai menggeliat dan bangkit dengan Renaissance, yakni suatu gerakanatau usaha yang berkisar antara tahun 1400-1600 M untuk menghidupkan kembalikebudayaan klasik Yunani dan Romawi. Berbeda dengan tradisi Abad Pertengahan yanghanya mencurahkan perhatian pada masalah metafisik yang abstrak, seperti masalahTuhan, manusia, kosmos, dan etika, Renaissance telah membuka jalan ke arah aliranEmpirisme. William Ockham (1285-1249) dengan filsafat Gulielmusnya yangmendasarkan pada pengenalan inderawi, telah mulai menggeser dominasi filsafatThomisme, ajaran Thomas Aquinas yang menonjol di Abad Pertengahan, yangmendasarkan diri pada filsafat Aristoteles. Ide Ockham ini dianggap sebagai benih awal bagi lahirnya Renaissance.Semangat Renaissance ini, sesungguhnya terletak pada upaya pembebasan akal darikekangan dan belenggu gereja dan menjadikan fakta empirik sebagai sumber  pengetahuan, tidak terletak pada filsafat Yunani itu sendiri. Dalam hal ini Barat hanyamengambil karakter utama pada filsafat dan seni Yunani, yakni keterlepasannya dariagama, atau dengan kata lain, adanya kebebasan kepada akal untuk berkreasi. Ini terbuktiantara lain dari ide beberapa tokoh Renaissance, seperti Nicolaus Copernicus (1473-1543) dengan pandangan heliosentriknya, yang didukung oleh Johanes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1643). Juga Francis Bacon (1561-1626) dengan teknik  berpikir induktifnya, yang berbeda dengan teknik deduktif Aristoteles (dengan logikasilogismenya) yang diajarkan pada Abad Pertengahan.Jadi, Barat tidak mengambil filsafat Yunani apa adanya, sebab justru filsafat Yunaniitulah yang menjadi dasar filsafat Kristen pada Abad Pertengahan, baik periode Patristik (400-1000 M) dengan filsafat Emanasi Neoplatonisme yang dikembangkan olehAugustinus (354-430), maupun periode Scholastik (1000 - 1400 M) dengan filsafat

Activity (11)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Iea Suryo liked this
Alif Kurniawan liked this
Widhi Ari Kadex liked this
Ridwan Ilahude liked this
Nurizan NK liked this
Yeye' Fajriyanie liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->