You are on page 1of 1

Artikel Dunia Kerja: Apa Itu Etos Kerja?

GloriaNet:

Mestinya kita tak perlu malu untuk bertanya mengenai hal-hal yang belum kita
ketahui. Menurut Max Weber, pakar manajemen, ETOS KERJA diartikan: perilaku
kerja yang etis yang menjadi kebiasaan kerja yang berporoskan etika.

Dengan kata lain yang lebih sederhana, etos kerja yaitu semua kebiasaan baik
yang berlandaskan etika yang harus dilakukan di tempat kerja, seperti: disiplin,
jujur, tanggung jawab, tekun, sabar, berwawasan, kreatif, bersemangat, mampu
bekerja sama, sadar lingkungan, loyal, berdedikasi, bersikap santun, dsb.

Seorang pekerja atau pemimpin betapa hebat kepandaian/kecakapannya, tetapi


tidak jujur atau tidak bertanggung jawab, tidak disiplin atau tidak loyal, misalnya
apalagi tak mampu bekerja sama, pasti merugikan perusahaan. Dan hal ini tidak
dikehendaki terjadi.

Tanpa etos kerja tinggi seperti disebutkan di atas perusahaan tak mungkin
meningkatkan produktivitas sebagaimana yang diharapkan. Kinerja (performance)
sangat ditentukan oleh etos kerja.

Menumbuhkan etos kerja kepada bawahan memang gampang-gampang sulit.


Karena etos kerja tak dapat dipaksakan. Harus tumbuh dari dua pihak: atasan dan
bawahan.

Gaji tinggi tidak menjamin terciptanya etos kerja yang baik. Mengapa? Seorang
pimpinan perlu berhati-hati melaksanakan rekrutmen. Perlu selektif, apakah
kemampuan calon sesuai dengan jenis pekerjaan yang dibutuhkan. Memiliki
motivasi tinggi, daya tahan kerja, mau mengembangkan diri, mampu bekerja
sama, dan sebagainya. Apakah dia sesuai dengan bidang/tugas yang akan
diembannya. Karena kalau tak cocok, justru tak akan bersemangat dan hal ini
berbahaya, karena tak mencintai pekerjaannya sehingga tak memiliki sense of
belonging.

Job description harus jelas, jangan sampai tugasnya tumpang tindih dan terjadi
overload. Harus ada pendelegasian tugas sehingga ia bisa kreatif dinamis. Atasan
perlu memberi perhatian, sentuhan-sentuhan dan juga memanusiakan
(nguwongake, bahasa Jawa) atau menghargai bawahan, sehingga ia akan bekerja
produktif. Perlu ada dialog yang kontinyu sehingga ada kerja sama dan tanggung
jawab. Bersikap adil dan bijaksana sehingga tercipta loyalitas dan dedikasi.
Bersikap tegas sehingga bawahan akan disiplin.

Akhirnya, atasan perlu menjadi teladan sehingga mampu menciptakan filosofi atau
budaya perusahaan yang baik.

Memimpin manusia memang tidak mudah. Apalagi memotivasi bawahan untuk


menciptakan etos kerja yang baik. Tetapi, kita perlu berusaha dan mencobanya.
Anda berani mencoba? Silakan dan semoga berhasil! (Magdalena/Bahana)

You might also like