Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
52Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kebijakan Pendidikan Era Reformasi

Kebijakan Pendidikan Era Reformasi

Ratings: (0)|Views: 9,836|Likes:
Published by rumrosyid

More info:

Published by: rumrosyid on Dec 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2013

pdf

text

original

 
Kebijakan Pendidikan era Reformasi
Oleh Rum Rosyid
Tumbangnya Soeharto lewat Reformasi 1998, tidak lakunya BJ. Habibie, dan turunnyaGus Dur hingga tergantinnya Mega oleh SBY lewat Pemulu 2004; tidak mengakibatkansesuatu yang lebih maju bagi pendidikan. Bahkan yang lebih parah, negara seakan inginlepas tangan dengan melakukan pengurangan subsidi pendidikan berdasarkan anjuranIMF(Bagus, 2009). Sejarah pendidikan bangsa Indonesia semenjak masa kolonialismehingga masa reformasi sedang tidak berubah. Inilah kapitalisasi pendidikan; pendidikanadalah alat akumulasi modal dan sumber pencarian laba tertinggi. Hingga akhir-akhir ini Neo Liberalisme begitu gencar, seakan mengajak seluruh penghuni bumi untu bersepakat dengan “the End of History”; bahwa sejarah peradaban manusia telah selesaidengan kapitalisme liberal.“Reformasi 1998” memanglah pas disebut sebagai reformasi. Diakui atau tidak, momenini merupakan awal perubahan bentuk kapitalisme di Indonesia. Ditandatanganinya letter of intents antara pemerintah Indonesia dan IMF menjadi legitimasi formal bagikapitalisme untuk mengembangkan neoliberalisme yang berpijak pada tiga programutama, yakni deregulasi ekonomi, liberalisasi, dan privatisasi. Di bidang pendidikan, padatahun 1999, dengan dana dari Bank Dunia, ditandatangani kesepakatan melakukan pilot project “Otonomi Kampus” pada empat perguruan tinggi negeri utama di Indonesia, yaituUniversitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut TeknologiBandung (ITB), dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Beramai-ramai akademisi yangkabarnya “reformis” dari empat perguruan tinggi ini mendukung program baru ini. Inilahantitesa dari sistem pendidikan Orde Baru yang mengekang perguruan tinggi melaluikorporatisme birokrasi dan kurikulum. Korporatisasi yang berkedok “otonomi perguruantinggidipandang sebagai suatu kemajuan, lebih baik, dan tentunya lebih menjamin prospek yang bagus bagi mereka, misalnya dalam hal fasilitas dan tunjangan sebagaitenaga pengajar. Padahal, inilah era neoliberalisme.Di tengah tantangan globalisasi informasi dan perdagangan bebas yang sudah di depanmata, masihkan paradigma pendidikan malah gagal menjawab tantangan bagi bangsakita. Apakah perubahan paradigma dari bangsa yang terus mengekor bangsa lain menjadi bangsa yang mandiri sudah benar-benar dilakukan, dengan kenyataan bahwa bangsa kita pun sulit mematuhi aturan sederhana semacam peraturan lalu lintas. Belum lagi masalahklasik semacam korupsi dan kolusi, rusuhnya politik kita, ruwetnya birokrasi, sulitnya berbisnis dan mewujudkan kemandirian ekonomi di Indonesia, dan banyaknya intelektualyang mengkhianati kebenaran ilmiah. Bukti bahwa pada ulang tahun ke-40, IPB didemoratusan petani karena dianggap penyebab kegagalan swasembada pangan Indonesia.ITB pada tanggal 30 April 2007 pun didemo masyarakat perumahan Griya CempakaArum Gedebage karena dianggap membenarkan pembangunan PLTSa Gedebage ditengah pemukiman masyarakat. Belum lagi kasus narkoba, seks bebas di kalangan pelajar yang makin memprihatinkan. Kontroversi Ujian Nasional, ribut soal UU BHP, korupsi dilembaga pendidikan, kesejahteraan guru yang memprihatinkan, dan berbagai problemlainnya menjadikan masa depan bangsa kita menjadi jelas, yaitu masa depan yang suramdan tidak jelas.
 
Dalam era reformasi ada kesan pengembangan kebijakan pendidikan tampak demokratis.Misalnya, antara lain tampak dengan dikembangkannya Kurikulum 2004 (KurikukulumBerbasis Kompetensi), MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), Komite Sekolah. Hal inimerupakan upaya penerapan secara konkrit otonomi pendidikan. Tetapi dalam pelaksanaannya masih jauh dari harapan. Kebijakan pelaksanaan UAN (Ujian Akhir  Nasional) sebagai dasar untuk menentukan kelulusan dinilai tidak sinkron denganotonomi daerah. Karena berakibat dapat mengurangi otonomi kewenangan akademiguru dan daerah (Cholisin : 2004b) . Coba bandingkan dengan negara tetangga Vietnamyang menganut sistem politik otoriter, tetapi dalam hal penentuan kelulusan siswadiserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Sekolah menyelenggarakan ujian berdasarkanstandar nasional. Disamping itu dilihat dari segi cakupan kompetensi yang diuji dalamUAN dinilai tidak valid , karena hanya mengungkap aspek kognitif. Hal ini dinilai telahmereduksi tuntutan kompetensi dalam KBK yang mengharuskan ketiga aspek kompetensiyakni kognitif, afektif dan psikomotorik untuk dievaluasi.Pendidikan Indonesia tengah mengalami proses involusi dan bergerak tanpa arah yang jelas. Dari hari ke hari manusia yang terlibat dalam pendidikan bukannya tumbuh kiancerdas, tetapi mutunya semakin menurun meski input fasilitas fisiknya terus bertambah.Ketidakjelasan arah pendidikan itu menyebabkan pendidikan di Indonesia tidakompetitif lagi dibandingkan dengan pencapaian negara-negara lain, bahkan di wilayahAsia Tenggara sekalipun.Di berbagai daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota masih enggan untumelaksanakan ketentuan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBD. Oleh karena itudewasa ini biaya pendidikan dirasakan oleh masyarakat semakin relatif mahal. Meskipun pengeluaran penduduk untuk pendidikan di Indonesia (tahun 2001 – 2002) masih rendahyakni 1,3 % dari total PDB sebesar 662,9 miliar dollar AS. Pada sisi lain banyak fasilitas pendidikan yang jauh dari layak. Sementara itu rakyat tidak banyak bisa berbuat banyak untuk mempengaruhi perumusan kebijakan pendidikan. Muchtar Bukhori salah seorang pakar pendidikan Indonesia menilai” Kebijakan pendidikan kita tak pernah jelas.Pendidikan kita hanya melanjutkan pendidikan yang elite dengan kurikulum yang elitisyang hanya bisa ditangkap oleh 30 % anak didik”, sedangkan 70% lainnya tidak bisamengikuti. (Kompas, 4 September 2004).Padahal kondisi daerah di Indonesia dilihat dari sisi SDM-nya sangat kompleks. Makatidak mengherankan apabila banyak terjadi kejanggalan, misalnya daerah yang SDA-nyatinggi tetapi SDM-nya rendah. Papua, Kalimantan Tengah dapat dicontohkan dalamkasus ini. Kondisi ini semakin mempersulit mewujudkan pendidikan yang egalitarian danSDM yang semakin merata di berbagai daerah. Kesenjangan di atas, apabila tidak segeradilakukan pembuatan kebijakan pendidikan yang jelas orientasinya dapat memicudisintegrasi. Orientasi kebijakan pendidikan yang diperkirakan dapat memperkuatintegrasi nasional adalah meningkatkan mutu SDM dan pemerataannya di daerah.Keadaan pendidikan di Indonesia telah banyak dilakukan pembaruan. "Tujuan pembaruan itu akhirnya ialah untuk menjaga agar produk pendidikan kita tetap relevandengan kebutuhan dunia kerja atau persyaratan bagi pendidikan lanjut pada jenjang
 
 pendidikan berikutnya [Suyanto dan Hisyam, 2000:18]. Tetapi pada kenyataannyasampai kini, "pendidikan nasional terperangkap di dalam sistem kehidupan yang operatif sehingga telah terkungkung di dalam paradigma-paradigma yang tunduk kepadakekuasaan otoriter dan memperbodoh rakyat banyak [Tilaar, 1998:26]. Kenapa demikian,karena sistem pendidikan pada era Orde Baru yang otoriter telah melahirkan sistem pendidikan yang tidak mampu melakukan pemberdayaan masyarakat secara efektif,meskipun secara kuantitatif rezim ini memang telah mampu menunjukkan prestasinyayang cukup baik di bidang pendidikan. Kemajuan-kemajuan pendidikan secara kuantitatif nampak kita rasakan selama Orde Baru Berkuasa [Suyanto, 1999:3], mungkin sampaisaat reformasi sekarang ini.Pada sistem pendidikan Orde Baru, ada tiga ciri utama yang dapat dicermati di dalam pendidikan nasional kita sampai sekarang ini. "Pertama, adalah sistem yang kaku dansentralistik; yaitu suatu sistem yang terperangkap di dalam kekuasaan otoritas pasti akankaku sifatnya. Karena ciri-ciri sentralisme, birokrasi yang ketat, telah mewarnai penyelenggaraan sistem pendidikan nasional. Kedua, sistem pendidikan nasional didalam pelaksanaanya telah diracuni oleh unsur-unsur korupsi, kolusi, nepotisme dankonceisme (cronyism). ketiga, sistem pendidikan yang tidak berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, tujuan pendidikan untuk mencerdaskankehidupan rakyat telah sirna dan diganti dengan praktek-praktek memberatkan rakyatuntuk memperoleh pendidikan yang berkualitas [Tilaar,1998:26-28]. Di samping itu,sistem pendidikan kita sekarang ini belum mengantisipasi masa depan [Ahmad Tafsir,1999:7] dan perubahan masyarakat.
Ideologi Pendidikan : dalam lingkaran Neoliberalisme
“Reformasi 98” diakui atau tidak adalah awal perubahan wajah dari kapitalisme diIndonesia. Agar bangsa Indonesia dapat kembali melaksanakan pembangunan menurutHaryono Suyono, maka krisis multi dimensi yang terjadi perlu segera diatasi danreformasi dijaga agar tidak salah arah. Untuk itu, maka perlu ditetapkan dasar-dasar kebijakan yang dapat diterima semua fihak. Untuk menetapkan dasar-dasar kebijakanyang dapat diterima semua fihak tadi, perlu dilakukan rekonsiliasi untuk mencapaikonsensus nasional. Dasar-dasar kebijakan yang ingin dicapai melalui Konsensus Nasional tersebut, pertama, reformasi yang dilakukan hendaknya dilihat sebagai proses pembaharuan yang sambung-menyambung mulai dari Orde Lama ke Orde Baruselanjutnya ke Reformasi. Orde lama yang membentang dari 17 Agustus 1945 hingga1967, dan Orde Baru yang berlangsung dari tahun 1967 hingga 1998 serta Reformasiyang dimulai 22 Mei 1998, masing-masing memiliki misinya sendiri yang perlu bagikemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara serta untuk menegakkan persatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.Kita harus menengok kebelakang(Haryono Suyono, 2003) dengan hati yang besar, danmelihat kedepan dengan penuh percaya diri untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa kita, yaitu terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur. Kedua, dengandicapainya Konsensus Nasional, maka stabilitas nasional akan lebih mudah untuk diwujudkan, sehingga kita dapat melaksanakan reformasi dengan tertib dan teratur.Ketiga, reformasi hanya akan dapat berjalan lancar dan membawa hasil yang positif,

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->