Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
20Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kebijakan Pendidikan Pemerintahan BJ Habibie

Kebijakan Pendidikan Pemerintahan BJ Habibie

Ratings: (0)|Views: 6,701|Likes:
Published by rumrosyid

More info:

Published by: rumrosyid on Dec 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/07/2013

pdf

text

original

 
Kebijakan Pendidikan Pemerintahan BJ HabibieOleh Rum Rosyid, Univ Tanjungpura Pontianak 
Sebenarnya agak sulit memisahkan era Habibe dan era Soeharto, karena darikacamata krisis dan kebijakan, era ini adalah kelanjutan dari era Soeharto.Itulah sebabnya lebih tepat bila dikatakan bahwa era ini adalah era ekonomi pasca 21 Mei. Di era ini, situasi yang menyenangkan memang masih tidak bersama kita.Tengok saja situasi ekonomi saat ini: BPS memperkirakan bahwa jumlah orangmiskin di Indonesia akan pada tahun 1998 akan hampir mencapai 80 juta. Suatu jumlah yang fantastis yang bahkan lebih buruk dari 20 tahun yang lalu ketika pada tahun 1976 jumlah orang miskin tercatat sekitar 54 juta. Situasi duniausaha pun tak jauh berbeda. Upaya untuk melihat perkembangan ekonomi di era Habibiemungkin bisa dilihat dari beberapa indikator berikut.
1.Nilai tukar dan pasar modal
Situasi ekonomi seperti yang disebut diatas tidak mengalami perbaikan dalam eraHabibie, bahkan mengalami penuruan. Ini bisa dilihat dengan semakin jatuhnya nilaitukar yang - walau tanggal 19 Agustus sempat mencapai Rp11.700 - tetap terpuruk.Kapitalisasi pasar modal juga tidak mengalami perbaikan, bahkan beberapa waktuterakhir mengalami penurunan. Tentu saja agak terlalu berlebihan bila kita menganggap bahwa kurs yang terpuruk ini semata-mata disebabkan karena naiknya Habibie sebagaiPresiden. Ada faktor lain yang juga berperan, seperti kekuatiran terhadap masalah politik dan keamanan.Kerusuhan yang terjadi tanggal 13-15 Mei Department of Economics, Research School of Pacific and Asian Studies, Australian National University juga memberikan kontribusiterpuruknya nilai tukar dan kapitalisasi pasar. Tetapi perlu dilihat bahwa kebijakan yangdibuat selama era Habibie memang tidak berhasil mengembalikan kepercayaan pasar.Satu fenomena yang menarik selama krisis ini adalah fenomena vote by dollar, dimanaketidak puasan atau ketidakpercayaan terhadap kebijakan ekonomi atau situasi ekonomidimanifestasikan dalam bentuk berpindahnya modal atau ditukarnya rupiah ke mata uangasing seperti US $. Karena itu dari konsep vote by dollar terlihat bahwa Habibie tidak  berhasil mengembalikan kepercayaan itu. Berita akan masuknya dana CGI memangsedikit memperkuat rupiah tetapi di masih berada di tingkat Rp 11.000. Bila nilaitukar masih bertahan pada angka ini maka lebih dari 70% perusahaan secara teknismengalami bangkrut.
2. Uang beredar, defisit anggaran dan inflasi
Dalam periode Januari-Juli minggu ke 3 1998, uang primer tumbuh sebesar 26,6%.Pertumbuhan yang paling tinggi terjadi dalam bulan Mei, yaitu periode peralihan, dimana MO atau uang primer tumbuh sebesar 11%. Bandingkan dengan periode JanJulitahun 1997 dimana uang primer tumbuh sebesar 12,7%. Uang beredar dalam arti luas(M2) setelah Habibie memerintah tumbuh relative tinggi, yaitu tercatat sebesar 8% pada bulan Mei, dan 15% pada bulan Juni. Sumber utama pertumbuhan pada bulan Juni adalahtagihan untuk sektor swasta yang tumbuh sebesar 19,9%. Dari sisi ini kita melihat bahwaadanya peningkatan jumlah uang beredar yang tentunya akan memberikan kontribusikepada inflasi yang tinggi.
 
Dari sisi anggaran pemerintah Habibie melakukan revisi anggaran, dan untuk 1998/99anggaran mengalami defisit sebesar 8,5% dari PDB. Defisit yang besar ini tentu saja jugaakan memberikan kontribusi kepada inflasi. Perhitungan dampak ekspansi moneter darianggaran menunjukkan bahwa dengan defisit 8,5% dari PDB, maka terjadi ekspansimoneter sebesar 56,9 trilyun rupiah. Tambahan uang beredar sebesar 56,9 trilyun dari sisifiskal ini tentu akan mendorong inflasi ketingkat yang lebih tinggi lagi. Tingkat inflasisendiri sudah mencapai 59%. Tingkat inflasi untuk makanan, pada bulan sejak bulanJuni dan Juli meningkat cukup tajam yaitu sebesar 7 dan 12%. Dari sisi ini terlihat adanya pemburukan selama pemerintahan Habibie.Tentu saja inflasi ini dipengaruhi oleh paling tidak 3 hal, yaitu imported inflation, yangterjadi karena semakin memburuknya nilai tukar, masalah meningkatnya uang beredar dan juga masalah distribusi atau problema sisi penawarannya. Dari sisi ini kita bisamelihat bagaimana inflasi akan mengancam kita dari dalam bulan-bulan kedepan. Itulahsebabnya penajaman prioritas dari subsidi harus dilakukan, sehingga kebiiakan yangmuncul juga harus memiliki argumentasi pertimbangan ekonomis rasional dan bukansekedar efisien untuk dukungan politik saja.Pada sisi dunia usaha, kita melihat bahwa dengan nilai tukar Rp 8000, 63% dari perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta memiliki rasio utang dollar terhadap totalasset 50% atau lebih. Dan pada kurs Rp l0.000,- rasio ini akan meningkat lagi menjadihampir 70%. Tingkat pengangguran juga meningkat sangat drastis hingga 20 juta. Angka pertumbuhan ekonomi sendiri tahun ini diperkirakan mencapai -15%, bahkan perhitungansatu lembaga dari Amerika Serikat memperkira- kan pertumbuhan ekonomi yangmencapai minus 30%. Tingkat upah riil mengalami penurunan di hampir semua propinsidi Indonesia. Penurunan upah riil yang paling tajam terjadi di pulau Jawa, dimana tingkatupah riil turun lebih dari 10% dalam 6 bulan krisis.Tingkat inflasi sudah mencapai 59%. Khusus untuk bahan makanan inflasi telahmencapai 82,7%. Dari sisi pangan FAO memperkirakan 7,5 juta orang di 15 propinsiakan mengalami kurang pangan. Produksi padi per kapita riil mengalami penurunan 10% pada tahun 1998 dibandingkan tahun 1997. Dengan gambaran yang tidak bersahabatini kita mencoba melihat perkembangan ekonomi di era Habibie.Umar Juoro mencontohkan, pada era Presiden Habibie, ekonomi Indonesia dihadapkan pada masalah perubahan eksternal seperti meningkatnya harga minyak dunia, lemahdalam pengelolaan aset-aset produktif, dan dalam penyelesaian konflik bisnis.. Rupiah pada waktu itu mencapai Rp 16.000 per US$. Tetapi kemudian dalam waktu singkat bisaditurunkan hingga di bawah Rp 10.000. Kuncinya pada waktu itu, kata Umar, adalah pilihan kebijakan yang berani, kebijakan yang tidak konvensional dengan menaikkandefisit anggaran dan memberikan porsi anggaran yang besar untuk jaring pengamansosial.Karena Iptek sering diasosiasikan dengan figur Habibie maka saat pemerintahan bergantiada sementara pihak yang mengkhawatirkan kelanjutan program-progam Iptek. Boleh jadi, meminjam analisa Bito (1994), disebabkan kebijakan Iptek belum merupakan
 
konsensus nasional, tapi lebih merupakan hasil kedekatan Habibie dengan Soeharto. Dimata orang yang pernah menjadi penasehat Habibie ini, struktur masyarakat Indonesiadibangun atas dasar koneksi (hito no tsunagari) sehingga kedekatan pada kekuasaanmenentukan akseptabilitas ide seseorang. Terlebih lagi karena Soeharto berkepentingandengan politik harmoni. Ini terlihat dengan diterapkannya kebijakan industri ganda (dualtrack policy), yaitu konsep para ekonom dan konsep Habibie (Thee & Marie, 1998).Keduanya mencerminkan perebutan pengaruh di hadapan Soeharto. Tak heran saat itusering terjadi tarik-ulur anggaran antara Bappenas dan Depkeu di satu sisi dengan BPISdi sisi lain.Selain kebijakan ekonomi yang ditetapkan IMF, Habibie mencoba memperkenalkankonsep ekonominya, yang menurut Habibie berbeda dalam 3 hal dengan era Soeharto:1. Nilai tukar yang stabil, menurut Habibie yang dibutuhkan adalah nilai tukar yang stabiltanpa perduli berapa pun tingkatnya. Menarik sekali karena jika ini dijalankan, pada nilaitukar Rp 10.000 saja, maka 70% perusahaan yang terdaftar di BEJ secara teknis akan bangkrut. Impor beras dalam tahun 1998/99 (April-Maret) diperkirakan sebesar 3,5 jutaton dengan asumsi bahwa pada bulan Agustus panen berjalan norrnal. Dengan kurs yangtinggi maka pembelian bahan makanan pun menjadi sangat mahal. Karena- itu kurs yangstabil tanpa memperhatikan level nya, jelas membawa ekonomi Indonesia kepadakebangkrutan.2. Ekonomi kerakyatan, dinyatakan bahwa konsep ekonomi sekarang mengacu kepadakonsep ekonomi rakyat. Tidak ada penjelasan yang rinci tentang konsep ini. Sebenarnyadari sisi konsep ekonomi umum, pelaku ekonomi itu dibedakan 2, produsen dankonsumen. Jika orientasi kita kepada rakyat, dengan pengertian mereka yang berpendapatan rendah, maka persolaan dalam ekonomi rakyat dapat dilihat dari 2 sisi:Dari sisi produsen, dari sisi ini yang paling penting adalah aksesibilitas untuk melakukan usaha seperti ketersediaan kredit dan bukan tingkat bunga kredit itu sendiri, beberapa studi yang dilakukan telah membuktikan ini.Dari sisi konsumen, persoalan yang dihadapi adalah harga yang mahal. Karena itu upayayang harus dilakukan adalah memerangi inflasi dan bukan memberikan subsidi untuk  berbagai macam hal yang skala prioritasnya kurang tinggi. Agaknya subsidi untuk makanan dan obat-obatan adalah suatu hal yang harus dan tidak bisa dihindari, tetapisubsidi yang lain mungkin bisa diperdebatkan. Mengingat bahwa rakyat adalah jugakonsumen, maka concern kepada ekonomi rakyat seharusnya ditujukan kepada upayamemerangi inflasi.3. Independensi Bank Indonesia. Habibie menyatakan bahwa Bank Indonesia akandibuat independen. Tentu saja hal ini dibutuhkan dalam periode krisis seperti ini. Tetapi bila kita melihat kebijakan yang ada saat ini, maka independensi BI masih dipertanyakan,melihat bagaimana bank yang sakit masih di pertahankan dan juga pemberian subsidi bunga kredit. 

Activity (20)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Balkis Pratiwicp liked this
Sarifah Mansyur liked this
Maria Florencia liked this
Rendra Raymon liked this
Doris Fitria liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->