Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
56Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kebijakan Pendidikan Pemerintahan Megawati Soekarnoputri

Kebijakan Pendidikan Pemerintahan Megawati Soekarnoputri

Ratings: (0)|Views: 3,514 |Likes:
Published by rumrosyid

More info:

Published by: rumrosyid on Dec 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/20/2014

pdf

text

original

 
Kebijakan Pendidikan Pemerintahan Megawati Soekarnoputri
Oleh Rum Rosyid
Setelah sekitar enam bulan Megawati Soekarnoputeri menjadi presiden, masyarakatmenilai kinerjanya mulai merosot. Ketidakpuasan dirasakan seluruh lapisan masyarakatdari berbagai partai politik, termasuk masyarakat pendukung Megawati dari PDIPerjuangan. Jajak pendapat Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomidan Sosial (LP3ES) yang dipublikasikan di Jakarta kemarin mengungkapkan hal itu.Jumlah sampel yang diambil dalam jajak ini sebanyak 1.216 responden. Mereka tersebar di 10 kota, terdiri dari di Jawa (DKI Jakarta, Bandung, Surabaya) dan luar Jawa (Medan,Palembang, Denpasar, Banjarmasin, Makassar, Mataram dan Jayapura). Responden berumur minimal 17 tahun dengan pendidikan minimal SLTA. Margin of errodiperkirakan 3 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Wawancara dilakukan selamatiga hari, yakni 25-27 september 2001.Hasilnya, kecuali di bidang pendidikan, responden dalam jajak pendapat tersebut merasatidak puas dengan banyak kebijakan yang diambil pemerintahan Megawati. Di bidang pendidikan, mayoritsa responden (53 persen) memang puas. Namun, terhadap sejumlahkebijakan ekonomi, lebih dari separuh masyarakat (52 persen) berpendapat bahwakebijakan yang ditempuh pemerintahan Megawati cenderung tidak memihak pada rakyat.Adapun responden dari PDI Perjuangan, jumlah suara yang menganggap Mega berpalingdari kepentingan rakyat juga cukup besar, yakni 40 persen. Menurut LP3ES, angka itumenunjukkan bahwa banyak pendukung Megawati mulai kritis. Padahal, semasamenjabat Wakil Presiden, Megawati sempat dianggap sebagai tokoh yang palingmemperhatikan rakyat. Pada polling serupa tahun lalu, LP3ES mencatat bahwa 73 persenresponden menilai menilai Megawati sebagai tokoh paling memihak rakyat.Pada bidang kesehatan, tampak tingkat kepuasan masyarakat yang lebih tinggidibandingkan bidang-bidang lainnya. Ini ditunjukkan oleh 45% anggota masyarakat yangmengaku puas pada kinerja pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan bagisemua kelompok masyarakat. Sementara itu, dalam hal penyediaan sarana kesehatan bagisemua kelompok masyarakat, 44% menyatakan rasa puasnya.Rendahnya tingkat kepuasan masyarakat secara umum terhadap bidang sosial ekonomi pada gilirannya membuat sebagian besar dari mereka (62%) berpendapat bahwakebijakan-kebijakan pemerintahan Megawati tidak memihak rakyat. Hanya sebagiankecil (26%) saja yang masih menganggap kebijakan pemerintah memihak kepentinganmasyarakat. Oleh sebab itu bukan suatu kebetulan apabila 66% anggota masyarakatmenilai bahwa pemerintahan Megawati terbukti tidak mampu mengatasi permasalahanyang ada. Hanya 25% saja anggota masyarakat yang mengatakan pemerintahanMegawati terbukti mampu mengatasinya.Di luar bidang ekonomi, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahanMegawati rata-rata berada di bawah 50%. Yang paling rendah dalam kacamatamasyarakat adalah soal penanganan konflik di Papua di mana hanya 23% saja anggotamasyarakat yang menyatakan rasa puasnya. Demikian pula halnya dengan penangananteror bom di mana 26% masyarakat juga menyatakan hal yang sama.
 
  Namun demikian, khusus untuk dalam soal penanganan konflik Aceh, pemerintahanMegawati dipandang cukup berhasil dalam menangani daerah tersebut (39%).Masyarakat juga merasa puas terhadap pemberian rasa aman bagi mereka (37%). Dikedua bidang tersebut lebih banyak anggota masyarakat yang memberikan apresiasiterhadap apa yang telah dicapai pemerintah selama ini. Di samping itu, dalam hal jaminan adanya kebebasan, tingkat kepuasan masyarakatrelatif tinggi. Kendati dalam masa pemerintahan Megawati terdapat beberapa kasus yangmemberikan indiksai kurangnya jaminan kebebasan, namun untuk kebebasan pers,sebagian besar masyarakat (60%) menanggapinya dengan rasa puas. Juga untukebebasan berekspresi meski ada beberapa kasus penangkapan mahasiswa karenadianggap melecehkan presiden dan wakil presiden selama unjuk rasa beberapa waktuyang lalu lebih dari separuh (64%) masyarakat yang menyatakan rasa puasnya.Yang paling rendah adalah tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahanMegawati di bidang penegakan hukum. Ketidakpuasan masyarakat pada bidang tersebutlebih dari bidang-bidang manapun -- berada pada titik yang terrendah. Hanya 19% sajaanggota masyarakat perkotaan pemilik telepon yang merasa puas terhadap upaya pemerintah dalam menangani soal tersebut. Lebih dari itu, hanya 7% saja anggotamasyarakat yang merasa puas atas upaya pemerintahan Megawati melakukan pengadilan pada para pejabat negara yang diduga terlibat korupsi. Pemerintah juga dinilai tidak optimal dalam upaya pemberantasan memberantas kasus-kasus KKN. Hanya 8% sajamasyarakat yang merasa puas pada kinerja pemerintah untuk menangani persoalantersebut. Namun, dibandingkan dengan tingkat kepuasan masyarakat pada dua indikator sebelumnya, lebih banyak masyarakat merasa puas (19%) terhadap upaya pemerintahdalam mengadili para pejabat militer yang melakukan pelanggaran HAM.
Ideologi Pendidikan dalam lingkaran neoliberalisme
Pembangunan yang diperjuangkan DPP-PDI Perjuangan adalah: pola pembangunan yangdiarahkan pada pertumbuhan yang berkeseimbangan, yang berdaya tahan, dan yangmampu melakukan kesinambungan secara sistemik. Oleh karenanya, titik berat padakerja membangun manusia Indonesia, menjadi titik tolak dari segala perencanaan dankebijakan yang menyangkut pada masalah pembangunan Nasional(Megawati, 1998).Kalau dalam desakan gelombang globalisasi, perekonomian kita harus menerapkan sistimekonomi pasar yang terbuka, maka sebagai bangsa yang percaya diri, seharusnya kitatidak perlu merasa cemas dan takut. Bila keterbukaan dan kehidupan demokrasi benar- benar telah kita menangkan, dan oleh karenanya Rakyat dapat menjalankan fungsikontrolnya, maka segala bentuk ketakutan terhadap praktek-praktek neo-kolonialismelewat pintu pasar terbuka sebagaimana kekhawatiran banyak orang, rasanya tidak perlukita jadikan permasalahan yang hanya akan membuat kita menjadi bangsa yang kerdildan tak mampu menghadapi kenyataan.Karena bagi PDI Perjuangan, penerapan sistim ekonomi pasar haruslah berjalan di atasasas saling menunjang dan saling menguntungkan, dimana seluruh gerak perekonomianyang terjadi harus di arahkan pada tujuan meningkatan kesejahteraan bagi kehidupan
 
umat di seluruh dunia.Kita pasti mampu memenangkan hak-hak ekonomi Rakyat kita, dengan tanpa harusmelakukan distorsi terhadap prinsip ekonomi pasar itu sendiri. Dengan mendorongtumbuhnya usaha kecil dan menengah yang terampil dan berdaya saing tinggi, kita akanmampu menepis berbagai kemungkinan berawalnya bentuk baru penjajahan melalui pintuekonomi.Kita tidak perlu memelihara sikap permusuhan dan sikap curiga yang berlebihan terhadap para investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia. Yang justru harus kitakembangkan dan pelihara adalah sikap dan etos hidup yang terus mau belajar danmemperbaiki diri serta memerangi berbagai kebodohan yang dicekokkan kepada rakyat bangsa ini -- oleh para penguasa yang hanya mementingkan dirinya sendiri.Saya yakin, kalau kita sadar dan bersatu, kita pasti akan menjadi bangsa yang kuat; danuntuk bersatu menjadi kuat; hendaknya kenali dan pelajari kembali; apa,..siapa,..dan mauapa kita sebagai bangsa? Dalam rangka memulihkan perekonomian Indonesia yang berwibawa, pemecahan masalah utang luar negeri dan masalah perbankan Indonesia,harus pula dilaksanakan secara efektif dan berwibawa. Untuk itu, lembaga-lembagakhusus yang menangani masalah tersebut, seperti : Bank Indonesia, BPPN dan INDRA,harus dibuat menjadi benar-benar independen dan profesional. Independensi dankewibawaan lembaga ini, menurut hemat kami merupakan syarat mutlak dalam upayamempercepat penyelesaian krisis Indonesia. Untuk hal itu, DPP-PDI Perjuangan bersikapdan bertindak secara pro-aktif memperjuangkan --agar anggota-anggota dari tim komisi penyelesaian hutang luar negeri swasta dan restrukturisasi perbankan, tidak terdiri dari para birokrat dan pihak-pihak yang terkait dalam masalah tersebut. Dalam hal ini,transparansi-keterbukaan dan keterusterangan, harus menjadi bagian penting dari budayakerja dari team komisi tersebut.Dalam hal membangun Manusia Indonesia yang berkualitas, berwawasan kebangsaan, berperi-kemanusiaan, berkeadilan dan berKetuhanan; dengan sendirinya menempatkan peran kebudayaan menjadi suatu wilayah strategis yang harus mendapat perhatiankhusus. Dengan demikian, pembangunan mental dan karakter bangsa merupakan halyang penting untuk diperhatikan. Terutama pada saat nilai-nilai moral dan spiritual bangsa yang dapat eningkatkan kualitas manusia Indonesia sebagai mahluk yang berakal, berkarakter dan berbudi luhur, dijadikan dasar pijakan pembangunan dimaksud.Rangkaian inilah yang seharusnya kita jadikan sebagai strategi Nasional dalam mencaridan mendudukkan jati diri bangsa. Hanya dengan akal yang sehat dan budi yang luhur, bangsa Indonesia akan mampu memanfaatkan perkembangan ilmu dan teknologi untuk tujuan kemanusiaan dalam peradaban abad XXI mendatang. Dengan bekal akal sehat dan jiwa yang bebas -- tapi berbudi, barulah hikmah peradaban ilmu dan teknologi akan dapatdimanfaatkan sepenuhnya untuk tujuan membangun manusia yang modern namun berahlak; dan yang maju tapi penuh toleransi.Dalam kasus perkembangan teknologi informasi, alur komunikasi yang mengutamakankepentingan bersama untuk tujuan menciptakan keseimbangan hidup, dengan sendirinyaakan berjalan tanpa manusia harus menjadi korban teknologi informasi itu sendiri.Secara teoritik, neoliberalisme merupakan teori ekonomi yang benar-benar membebaskan pasar bertindak, ketimbang regulasi, sehingga cenderung disebut menihilkan peran

Activity (56)

You've already reviewed this. Edit your review.
Rendrawati Sadji liked this
1 thousand reads
1 hundred reads
Mohammad Paino liked this
Maield Syawal liked this
Ucok Doang liked this
Ninis Luph Dikta liked this
Harry Newtron liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->