Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
15Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Analisa Gender Dan Ketidakadilan

Analisa Gender Dan Ketidakadilan

Ratings: (0)|Views: 3,842|Likes:
Published by mhuna

More info:

Published by: mhuna on Dec 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/04/2013

pdf

text

original

 
Analisa Gender dan Ketidakadilan*
Oleh, Eva Shofia**(Disarikan dari buku Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Dr. MansourFakir)
Konsep penting yang harus dipahami dalam rangka membahas masalah kaumperempuan adalah membedakan antara konsep seks (jenis kelamin-penulis), dankonsep gender. Pemahaman dan pembedaan antara konsep seks dan gendersangatlah diperlukan dalam melakukan analisis untuk memahami persoalan-persoalan ketidakadilan sosial yang menimpa kaum perempuan. Hal ini disebabkankarena ada kaitan yang erat antara perbedaan gender (
gender differences
) danketidakadilan gender (
gender inequalities
) dengan struktur ketidakadilan masyarakatsecara lebih luas. Dengan demikian pemahaman dan pembedaan yang jelas antarakonsep seks dan gender sangat diperlukan dalam membahas ketidakadilan sosial.Maka sesungguhnya terjadi keterkaitan antara persoalan gender dengan persoalanketidakadilan sosial lainnya.
Apakah Gender itu?
Sejak beberapa tahun terakhir, kata gender telah memasuki perbendaharaan disetiap diskusi dan tulisan sekitar perubahan sosial dan pembangunan di dunia ketiga.Dari pengamatan, masih terjadi ketidakjelasan, kesalahpahaman tentang apa yangdimaksud dengan konsep gender dan kaitannya dengan emansipasi kaumperempuan. Setidak-tidaknya ada beberapa penyebab terjadinya ketidakjelasantersebut. Kata gender dalam bahasa Indonesia dipinjam dari bahasa Inggris. Kalaudilihat dalam kamus tidak jelas dibedakan antara sex dan gender. Sementara itu,belum ada uraian yang mampu menjelaskan secara singkat dan jelas mengenaikonsep gender dan mengapa konsep ini penting guna memahami sistemketidakadilan sosial. Dengan kata lain timbulnya ketidakjelasan itu disebabkan olehkurangnya penjelasan tentang kaitan antara konsep gender dengan masalahketidakadilan lainnya.Untuk memahami konsep gender harus dibedakan kata gender dengan kata seks(jenis kelamin). Pengertian jenis kelamin merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jeniskelamin tertentu. Misalnya, bahwa manusia jenis laki-laki adalah manusia yangmemiliki atau bersifat seperti: laki-laki adalah manusia yang mempunyai penis,memiliki jakala (kala menjing) dan memproduksi sperma. Sedangkan perempuanmempunyai alat reproduksi seperti rahim dan saluran untuk melahirkan,memproduksi telur, meiliki vagina, dan mempunyai alat menyusui. Alat-alat tersebutsecara biologis melekat pada mansusia jenis perempuan dan laki-laki selamanya.Artinya secara biologis alat-alat tersebut tidak bisa dipertukarkan antara alat biologisyang melekat pada manusia laki-laki dan perempuan. Secara permanen tidakberubah dan merupakan ketentuan biologis atau sering dikatakan sebagai ketentuan
 
 Tuhan atau kodrat.Sedangkan konsep lainnya adalah konsep gender, yakni suatu sifat yang melekatpada kaum laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural.Misalnya, bahwa perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional, ataukeibuan. Sementara laki-laki dianggap: kuat, rasional, jantan, perkasa. Ciri dan sifatitu sendiri merupakan sifat-sifat yang dapat dipertukarkan. Artinya ada laki-laki yangemosional, lemah lembut, keibuan, sementara juga ada perempuan yang kuat,rasional, perkasa. Perubahan ciri dan sifat-sifat itu dapat tejadi dari waktu ke waktudan dari tempat ke tempat yang lain. Misalnya saja zaman dahulu di suatu sukutertentu perempuan lebih kuat dari laki-laki, tetapi pada zaman yang lain dan ditempat yang berbeda laki-laki yang lebih kuat. Juga perubahan bisa terjadi dari suatukelas ke kelas masyarakat yang berbeda. Di suku tertentu, perempuan kelas bawahdi pedesaan lebih kuat dibandingkan kaum laki-laki. Semua hal yang dapatdipertukarkan antara perempuan dan laki-laki, yang bisa berubah dari waktu kewaktu serta berbeda dari tempat ke tempat lainnya, maupun berbeda dari suatukelas kepada kelas lainnya, itulah yang dikenal sebagai konsep gender.Sejarah perbedaan gender (
gender differences
) antara manusia jenis laki-laki danperempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang. Oleh karena ituterbentuknya perbedaan-perbedaan gender dikarenakan oleh banyak hal, diantaranya dibentuk dan disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksi secara sosialataupun kultural. Melalui proses panjang, sosialisasi gender tersebut akhirnyadianggap menjadi ketentuan Tuhan-seolah-olah bersifat biologis yang tidak bisadiubah lagi, sehingga perbedaan-perbedaan gender dianggap sebagai kodrat laki-lakidan perempuan.Sebaliknya melalui dialektika, konstruksi sosial yang tersosialisasikan secaraevolusional dan perlahan-lahan mempengaruhi biologis masing-masing jenis kelamin.Misalnya, karena konstruksi sosial gender, kaum laki-laki harus bersifat kuat danagresif maka kaum laki-laki kemudian terlatih dan tersosialisasi serta termotivasiuntuk menjadi atau menuju ke sifat gender yang ditentukan oleh suatu masyarakat,yakni secara fisik lebih kuat dan lebih besar. Sebaliknya, karena kaum perempuanharus lemah lembut, maka sejak bayi proses sosialisasi tersebut tidak sajaberpengaruh kepada perkembangan emosi dan visi serta ideologi kaum perempuan,tetapi juga mempengaruhi perkembangan fisik dan biologis selanjutnya. Karenaproses sosialisasi dan rekonstruksi berlangsung secara mapan dan lama, akhirnyamenjadi sulit dibedakan apakah sifat-sifat gender itu, dikonstruksi oleh masyarakatatau kodrat biologis yang ditetapkan oleh Tuhan. Namun, dengan menggunakanpedoman bahwa sifat bisanya melakat pada jensi kelamin tertentu dan sepanjangsifat-sifat tersebut bisa dipertukarkan, maka sifat tersebut adalah hasil konstruksimasyarakat, dan sama sekali bukanlah kodrat.Dalam menjernihkan perbedaan antara seks dan gender ini, yang menjadi masalahadalah, terjadi kerancuan dan pemutarbalikan makna tentang apa yang disebut seksdan gender. Dewasa ini terjadi peneguhan pemahaman yang tidak pada tempatnyadi masyarakat, dimana apa yang sesungguhnya gender, karena pada dasarnyakonstruksi sosial-justru dianggap sebagai kodrat yang berarti ketentuan biologis atauketentuan Tuhan. Justru sebagian besar yang dewasa ini sering dianggap sebagai”kodrat wanita” adalah konstruksi sosial dan kultural atau gender. Misalnya sajasering diungkapkan bahwa mnedidik anak, mengelola dan merawat kebersihan dankeindahan rumah tangga atau urusan domestik sering dianggap sebagai ”kodratwanita”. Padahal kenyataannya, bahwa kaum perempuan memiliki peran genderdalam mendidik anak, merawat dan mengelola kebersihan dan keindahan rumahtangga adalah konstruksi kultural dalam masyarakat tertentu. Oleh karena itu, boleh jadi urusan mendidik dan merawat kebersihan rumah tangga bisa dilakukan olehkaum laki-laki. Oleh karena jenis pekerjaan itu bisa dipertukarkan dan tidak bersifat
2
4
 
universal, apa yang sering disebut sebagai ”kodrat wanita” atau ”takdir Tuhan ataswanita” dalam kasus mendidik anak dan mengurus rumah tangga, adalah gender.
Perbedaan Gender Melahirkan Ketidakadilan
Perbedaan gender sebenarnya tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkanketidakadilan gender (
gender inequalities
). Namun, yang menjadi persoalan, ternyataperbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, baik bagi kaum laki-lakidan terutama terhadap kaum perempuan. Ketidakadilan gender merupakan sistemdan struktur di mana laki-laki dan perempuan menjadi korban dari sistem tersebut.Untuk memahami bagaimana perbedaan gender menyebabkan ketidakadilan gender,dapat dilihat melalui pelbagai manifestasi ketidakadilan yang ada. Ketidakadilangender termanifestasikan dalam pelbagai bentuk ketidakadilan, yakni: marginalisasiatau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan tidak penting dalamkeputusan politik, pembentukan stereotipe atau melalui pelabelan negatif, kekerasan(violence), beban kerja lebih panjang dan lebih banyak (burden), serta sosialisasiideologi nilai peran gender. Manifestasi ketidakadilan gender tidak bisa dipisah-pisahkan, karena saling berkaitan dan berhubungan, saling mempengaruhi dialektis .tidak ada satupun manifestasi ketidakadilan gender yang lebih penting, lebihesensial dari yang lain. Misalnya marginalisasi ekonomi kaum perempuan , yangakhirnya tersosialisasikan dalam keyakinan, ideologi dan visi kaum perempuansendiri. Dengan demikian, kita tidak bisa menyatakan bahwa marginalisasi kaumperempuan adalah menentukan dan terpenting dari yang lain dan oleh karen ituperlu mendapatkan perhatian lebih. Atau sebaliknya, bahwa kekerasan fisik(
violence
) adalah masalah yang paling mendasar yang harus dipecahkan terlebihdahulu.
Gender dan Marginalisasi Perempuan
Proses marginalisasi, yang mengakibatkan kemiskinan, sesungguhnya banyak sekaliterjadi dalam masyarakat dan negara yang menimpa kaum laki-laki dan perempuan,yang disebabkan oleh pelbagai kejadian, misalnya penggusuran, bencana alam atauproses eksploitasi. Namun ada salah satu bentuk pemiskinan atas satu jenis kelamintertentu, dalam hal ini perempuan disebabkan oleh gender. Ada beberapa perbedaan jenis dan bentuk, tempat dan waktu serta proses marginalisasi kaum perempuankarena perbedaan gender tersebut. Dari segi sumberdaya bisa berasal dari kebijakanpemerintah, keyakinan, tafsiran agama, tradisi dan kebiasaan atau bahkan asumsiilmu pengetahuan.Banyak studi telah dilakukan dalam rangka membahas program pembangunanpemerintah yang menjadi penyebab kemiskinan kaum perempuan. Misalnya,program swa sembada pangan atau revolusi hijau secara ekonomis telahmenyingkirkan kaum perempuan dari pekerjaannya sehingga memiskinkan mereka.Di Jawa misalnya, program revolusi hijau dengan memperkenalkan jenis padi unggulyang tumbuh lebih rendah, dan pendekatan panen dengan sistem tebangmenggunakan sabit, tidak memungkinkan lagi panenan dengan ani-ani, padahal alattersebut melekat dan digunakan oleh kaum perempuan. Akibatnya banyak kaumperempuan miskin di desa termarginalisasi, yakni semakin miskin dan tersingkirkarena tidak mendapatkan pekerjaan di sawah pada musim panen. Berarti programrevolusi hijau dirancang tanpa mempertimbangkan aspek gender.Marginalisasi kaum perempuan tidak saja terjadi di tempat pekerjaan, juga terjadidalam rumah tangga, masyarakat atau kultur dan bahkan negara. Marginalisasiterhadap perempuan sudah terjadi sejak di rumah tangga dalam bentuk diskriminasiatas anggota keluarga laki-laki dan perempuan. Marginalisasi juga diperkuat oleh
3
4

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->