Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
LAPORAN AMERIKA SERIKAT TENTANG PELAKSANAAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA TAHUN 1997

LAPORAN AMERIKA SERIKAT TENTANG PELAKSANAAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA TAHUN 1997

Ratings: (0)|Views: 427|Likes:
Published by Arif Budiman

More info:

Published by: Arif Budiman on Dec 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

09/21/2012

pdf

text

original

 
1
LAPORAN AMERIKA SERIKAT TENTANG PELAKSANAAN HAK ASASI MANUSIA DIINDONESIA TAHUN 1997Departemen Luar Negeri Amerika SerikatDikeluarkan oleh Biro Demokrasi, Hak Asasi, dan Perburuhan, 30 Januari 1998
INDONESIA
Meskipun pada permukaannya patuh pada bentuk-bentuk demokrasi, sistem politik Indonesia tetapsangat otoriter. Pemerintah didominasi oleh suatu elit terdiri dari Presiden Soeharto (sekarang dalammasa jabatan lima tahun keenam), kerabat dekatnya, dan militer. Pemerintah mewajibkan kepatuhanterhadap ideologi negara Pancasila yang menekankan pada musyawarah dan mufakat, tapi Pancasila juga dipakai untuk membatasi pembangkang, memaksakan kesatuan sosial dan politik, serta merintangiperkembangan unsur oposisi. Badan peradilan dengan efektif didudukkan di bawah cabang eksekutif dan golongan militer, dan korup.Misi utama ABRI yang beranggotakan 450.000 orang, termasuk 175.000 polisi, adalah menjagakeamanan dan kestabilan dalam negeri. Meskipun jumlah perwira ABRI maupun purnawirawan yangmenduduki posisi-posisi kunci di pemerintahan sudah berkurang, golongan militer mempertahankankekuatan non-militernya di bawah konsep dwifungsi ABRI yang memberinya peranan politik dan sosialdalam “membangun bangsa”. Militer dan polisi terus melakukan berbagai pelanggaran hak asasi.Krisis moneter yang menyerang kawasan itu di pertengahan tahun memperlambat pertumbuhanekonomi yang sangat kuat dan cepat di tahun-tahun sebelumnya. Manfaat dari pembangunan ekonomitersebar luas dan tingkat hidup meningkat cukup tinggi, tetapi sejumlah besar penduduk masih tetapmiskin. Korupsi yang parah tetap menjadi masalah. Berbagai kerusuhan sporadis menuntutpemerintah agar bertindak lebih efektif dalam menangani ketidakseimbangan ekonomi dan sosial. Dikawasan pedesaan, ketidakpuasan sering terpusat pada keluhan para pemilik tanah sempit -- terutamamereka yang tergusur dari tanah mereka oleh kepentingan ekonomi dan militer yang kuat. Dibeberapa daerah, eksploitasi sumber alam menyebabkan kemerosotan lingkungan dengan akibat sosialyang merugikan.Pemerintah terus melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Tekanan yang meningkat bagi perubahanoleh para aktivis dan lawan politik mendapat reaksi keras dari pemerintah sebelum pemilihan umumbulan Mei. Pemerintah menunjukkan bahwa mereka tidak akan mentolerir tantangan terhadap unsurdasar sistem politik dengan menahan dan mengadili beberapa pengritiknya. Pemerintah menjaga ketatkekangan mereka pada proses politik, dan pada pemilihan anggota DPR bulan Mei, sebagaimana dilima pemilu sebelumnya sejak 1971, mengingkari hak warganegara untuk mengubah pemerintah secarademokratis. Struktur sistem politik tetap menjamin kemenangan bagi partai yang berkuasa, GOLKAR,yang berhasil memperoleh kemenangan terbesar selama ini. Pemerintah tidak mengizinkan pemimpin
 
2PDI yang tergusur, Megawati Sukarnoputri, dan pendukungnya untuk ikut dalam pemilihan umumatau berkoalisi dengan PPP yang beraliran Islam. Pemilihan dan kampanye dicemari oleh tuduhankecurangan nyata serta bentrok sporadis tapi cukup besar di antara partai-partai termasuk GOLKARyang disponsori pemerintah. Petugas keamanan terus melakukan pembunuhan sewenang-wenang,termasuk terhadap penduduk sipil tak bersenjata, penghilangan orang, penyiksaan dan perlakuan buruk terhadap tahanan, dan penangkapan serta penahanan secara sewenang-wenang. Dalam praktek,perlindungan hukum terhadap penyiksaan tidak memadai. Kondisi penjara tetap buruk. Badanperadilan disusupi oleh korupsi dan tetap tunduk pada cabang eksekutif yang menggunakan pengadilanuntuk menghukum pengritik dan lawan politik pemerintah. Kebanyakan pengadilan menolak untuk mendengarkan tuntutan hukum di seluruh Indonesia yang diajukan oleh Megawati Sukarnoputri danpara pendukungnya yang memprotes penggusuran Mega, meskipun beberapa di antara pengadilantingkat pertama menerima kasus tersebut dan memenangkannya. Pasukan keamanan secara teraturmelanggar hak pribadi warga negara.Pemerintah terus menerapkan pembatasan serius terhadap kebebasan berbicara dan kebebasan pers,meskipun pada akhir tahun pengritik pemerintah lebih berani berbicara. Pemerintah menjalankankontrol tidak langsung atas pers dan menggunakan intimidasi untuk menindas komentar pedas danmendesakkan pelaksanaan sensor sendiri. Kritik lunak terhadap pemerintah ditolerir, tapi kritik terhadap presiden, pejabat tinggi, dan kepentingan lokal yang kuat berisiko teror dan penahanan.Meskipun demikian, media cetak menyajikan liputan luas tentang isu-isu politik dan laporan tentangpelanggaran hak asasi manusia. Empat belas aktivis muda yang tergabung dalam Partai RakyatDemokratik (PRD) dijatuhi hukuman melakukan tindak subversi karena tulisan, pidato dan kegiatanorganisasi mereka. Pemimpin serikat buruh independen Muchtar Pakpahan diancam tuduhan subversiterutama atas pandangan politiknya tapi juga termasuk kegiatan perburuhannya. Mantan anggota DPRSri Bintang Pamungkas diajukan ke pengadilan bulan Desember di bawah Undang-undangAntisubversi atas pandangan politiknya dan tindakan partainya Partai Uni Demokrasi Indonesia yangtidak diakui pemerintah. Anggota DPR Aberson Marle Sihaloho divonis sembilan bulan penjara atastuduhan menghina presiden dan militer dalam pidatonya di “mimbar bebas” pada bulan Juli 1996 dibekas markas PDI. Seorang pembantu penulis sebuah buku yang dilarang pemerintah diajukan kepengadilan atas perannya dalam penerbitan buku itu.Pemerintah terus melakukan pembatasan terhadap kebebasan berserikat dan berkumpul. Pemerintahmenghalangi atau membubarkan pertemuan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau serikatburuh, serta demonstrasi damai, kadang-kadang dengan kekerasan. Pemerintah mengadili seorangpendeta Katolik dan saudara laki-lakinya karena melindungi para aktivis politik yang pada 1996 diburuoleh polisi. Tapi ada juga sejumlah pertemuan, seminar dan sarasehan mengenai masalah-masalah pekayang diplubikasikan secara luas dan tidak dicekal, serta demonstrasi terbuka yang tidak dibubarkan.Pasukan keamanan pada umumnya tidak menggunakan kekerasan untuk menghentikan pawai di jalan- jalan yang sebenarnya dilarang selama masa kampanye pemilihan umum serta tidak menggunakansenjata dalam menanggapi kerusuhan besar. Kadang-kadang petugas keamanan dikecam karena tidak bertindak cepat untuk melindungi warga negara dan harta benda dari perusakan besar-besaran yangterjadi. Kerusuhan muncul karena gabungan antara faktor ekonomi, golongan, ras, agama dan politik.Ini dimulai pada 1996 dan berlanjut ke 1997, mereda setelah pemilu di bulan Mei dan meletus kembali
 
3di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan pada bulan September. Meskipun penggunaan senjata berkurang,petugas keamanan sering bereaksi secara kasar terhadap demonstrasi damai atau sengketa denganwarga negara.Pemerintah secara resmi memberi kebebasan beragama kepada lima agama yang diakui; agama yangtidak diakui menghadapi pembatasan. Pemerintah tidak sepenuhnya melakukan penyelidikan ataumenyelesaikan banyak kasus perusakan rumah ibadah dan gereja selama kerusuhan, sekalipunpemerintah secara terbuka mengimbau toleransi beragama kepada masyarakat. Pemerintah terusmembatasi kebebasan berpindah tempat. Diskriminasi terhadap wanita, penyandang cacat, dangolongan minoritas, serta kekerasan terhadap wanita tetap menjadi masalah endemis.Pemerintah tetap menentang alternatif bagi gerakan buruh yang disponsori pemerintah danpembentukan sebuah gerakan serikat buruh bebas, tetapi mengizinkan pendekatan sangat terbukamengenai undang-undang perburuhan baru. Para anggota organisasi buruh yang tidak diakui terusmenyebutkan gangguan terhadap mereka, dan pihak berwenang membubarkan pada hari pertamakongres organisasi itu yang direncanakan berlangsung selama tiga pada bulan September. Pemerintahmendesak para majikan untuk membayarkan secara tepat waktu upah minimum dan tunjangan wajibyang baru, serta menerapkan suatu sistem audit baru bagi keselamatan dan kesehatan pekerja. Tapipelaksanaan standar perburuhan tetap lemah. Pemerintah dan Organisasi Buruh Internasional (ILO)menandatangani sebuah nota saling pengertian tentang pekerja anak-anak untuk memajukanperlindungan atas pekerja anak-anak dan untuk secara bertahap mengupayakan penghapusan pekerjaanak-anak. Namun jutaan anak-anak tetap bekerja, sering dalam kondisi yang menyedihkan, dandengan demikian tidak dapat bersekolah. Beberapa anak yang terpaksa bekerja dalam kondisi kerjayang buruk dilaporkan mengalami penyiksaan. Ada juga perkembangan yang berpotensi positif. Misalnya, Komite Independen Pemantau PemilihanUmum (KIPP) melakukan kegiatan terbatas namun bermakna selama kampanye dan pemilihan anggotaDPR. Meskipun pemerintah menolak mengakui KIPP dan membatasi kegiatannya, organisasi itu tetapmengumpulkan informasi mengenai pelanggaran pemilihan dan menyampaikannya kepada masyarakat.Komnas HAM, meskipun kekurangan sumber daya dan terkadang mendapat tekanan dari pemerintah,melakukan penyelidikan dan menerbitkan penemuannya yang independen, tapi tidak mempunyaikekuasaan untuk melaksanakannya. Pemerintah mengabaikan atau lambat menanggapi penemuankomisi ini. Meningkatnya pemantauan atas hak asasi manusia di Timor Timur merupakanperkembangan yang positif, dan pemerintah melakukan beberapa tindakan sebagai tanggapan ataskritik terhadap pelaksanaan hak asasi manusianya; misalnya, sebuah penataran mengenai hak asasi danhukum internasional diadakan untuk para militer oleh Palang Merah Internasional (ICRC).Di Timor Timur, menyusul demonstrasi besar-besaran pada Desember 1996 sebagai dukunganterhadap penerima Hadiah Nobel Uskup Belo, di mana beberapa petugas keamanan menderita luka-luka dan seorang petugas polisi berpakaian preman tewas, gelombang kampanye kekerasan danpenangkapan pada awal 1997 oleh pihak keamanan mengakibatkan situasi tegang. Selama masapemilu di bulan Mei dan sesudahnya, berbagai kekacauan ringan di Timor Timur meningkat lewatserangan-serangan gerilya yang menyebabkan jumlah terbesar orang yang tewas di pihak keamanan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->