Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Islam Ragu-ragu versi Rektor UIN Yogya

Islam Ragu-ragu versi Rektor UIN Yogya

Ratings: (0)|Views: 52 |Likes:
Published by beMuslim

More info:

Published by: beMuslim on Aug 06, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

 
Rektor IAIN mengajak mahasiswa ‘mencurigai’ agamanya sendiri.Metode ini bisa melahirkan sarjana yang tadinya belajar ushuluddinmenjadi “
ucul 
”-“din” (agamanya lepas).
Oleh:
Adian Husaini
Di kalangan akademisi muslim Indonesia, nama Prof. Dr. M. AminAbdullah tidak asing lagi. Selain menjabat sebagai rektor UniversitasIslam Negeri Yogyakarta (dulunya IAIN Yogya), dia juga pernah menjabat posisi penting di PPMuhammadiyah, sebagai Ketua Majlis Tarjih dan Pemikiran Islam. Tetapi, dalam Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang, tahun 2005, namanya terpental dari jajaran pimpinan pusatMuhammadiyah.Dia berlatarbelakang pendidikan bidang filsafat Islam. Lulus PhD dari Department of Philosophy,Faculty of Art and Sciences, Middle East Technical University (METU), Ankara, Turki, tahun 1990.Sebagai akademisi dan penulis, tulisan Amin Abdullah tersebar di berbagai buku, jurnal, dan mediamassa.Bidang yang sering ditulisnya terutama masalah filsafat dan epistemologi Islam. Tapi, karena sangatgencar mempromosikan penggunaan hermeneutika dalam penafsiran Al-Qur'an, dia kadang kala juga dijuluki “Bapak Hermeneutika Indonesia”.Komitmennya dan kegigihannya dalam mempromosikan hermeneutika sebagai metode “tafsir baru” pengganti metode tafsir al-Quran yang klasik, tampak dalam berbagai tulisannya tentanghermeneutika.Di UIN Yogyakarta, penggunaan metodologi hermeneutika dalam tafsir Al-Qur'anmemang sangatdigalakkan, sampai-sampai seorang mahasiswa yang bermaksud mengritik metode ini mengaku“akan membentur tembok”.Disamping mempromosikan hermeneutika, Amin Abdullah tentu saja harus melakukan kritik terhadap metode tafsir Al-Qur'an. Ia menulis dalam sebuah pengantar untuk buku tentanghermeneutika, bahwa “tafsir-tafsir klasik Al-Quran tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelasdalam kehidupan umat Islam.”Penulis buku itu pun dengan semena-mena mengecam tafsir-tafsir klasik, tanpa data dan analisisyang memadai, dimana letak kekurangan dan ketidakberesan tafsir-tafsir klasik.Ditulis dalam buku ini: “Apalagi sebagian besar tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islamselama ini, sadar atau tidak, telah turut melanggengkan status quo, dan kemerosotan umat Islamsecara moral, politik, dan budaya.” (Lihat, Ilham B. Saenong,
 Hermeneutika Pembebasan
, 2002,hal. xxv-xxvi, 10).Kecurigaan terhadap mufassir dan para ulama Islam juga tak luput dari goresan tangan Abdullah. Didalam tulisannya yang lain, Amin Abdullah mengajak pembaca untuk mencurigai ilmu-ilmukeagamaan, tanpa membedakan antara ilmu keagamaan dalam Islam, dengan ilmu keagamaan yangmuncul dalam tradisi peradaban Barat yang berlatar belakang sejarah Yahudi dan Kristen. Ia tulis,misalnya:
 
“Dari studi empiris-historis terhadap fenomena keagamaan diperoleh masukan bahwa agamasesungguhnya juga sarat dengan berbagai “kepentingan” yang menempel dalam ajaran dan batangtubuh ilmu-ilmu keagamaan itu sendiri.” (Pengantar buku
Metodologi Studi Agama
, 2000, hal. 2)Bagi mahasiswa baru dalam bidang studi Islam, pernyataan-pernyataan profesor dan rektor sebuahkampus berlabel Islam semacam itu, bisa jadi melenakan. Sebab, kata-kata yang ditebar cukuphalus. Para ulama dan ilmuwan keagamaan, apa pun agamanya, adalah manusia biasa. Karena itu,mereka pasti punya kepentingan dengan ilmu-ilmu nyang disusunnya.Sepintas, kata-kata Amin Abdullah itu logis. Padahal, jika didalami, ada kekeliruan mendasar dalamcara berpikir, karena metodologi
“gebyah uyah
” (serampangan) dalam menyamakan antara tradisikeilmuan Islam dengan tradisi keilmuan Barat.Di dalam Islam, ada tradisi penyatuan antara ilmu dengan amal. Ada konsep
“fasiq
”, dimanaseorang yang –meskipun berilmu tinggi– tetapi berbuat jahat, dapat terkena ketegori
 fasiq
, dankarena itu, periwayatan dan beritanya perlu diklarifikasi. Jika dia
 fasiq,
maka sebagian ulamamelarangnya menjadi saksi di dalam pernikahan atau pengadilan.Di dalam ilmu hadis, ada ilmu
 Jarah wa Ta’dil 
, yang secara terbuka membeberkan sifat-sifat buruk  perawi hadits, seperti pembohong, dan sebagainya. Karena itu, di dalam tradisi keilmuan Islam,kita akan menjumpai ilmuwan-ilmuwan yang sangat tinggi ilmunya, sekaligus juga sangat shalihdalam beragama. Itu bisa kita jumpai pada Imam-imam mazhab, Imam Bukhari, Imam al-Ghazali,Ibnu Taymiyah, dan sebagainya. Mereka bukan hanya ilmuwan, tetapi juga
mujahid 
dan ahli ibadah.Tradisi seperti itu tidak terjadi dalam sistem keilmuan di Barat yang sekular. Di dalam tradisi ilmuyang berakar pada tradisi keilmuan Yunani, ada pemisahan antara orang pintar dan orang saleh.Banyak ilmuwan pintar dan dihormati oleh masyarakatnya, meskipun amalnya bejat. Seorangilmuwan di Barat, tetap dianggap sebagai ilmuwan yang dihormati, meskipun tidak jelas agamanyadan amalan-amalan agamanya.Paul Johnson, dalam bukunya “
 Intellectuals”
(1988), memaparkan kehidupan dan moralitassejumlah ilmuwan besar yang menjadi rujukan keilmuan di Barat dan duniainternasional saat ini, seperti Ruosseau, Henrik Ibsen, Leo Tolstoy, Ernest Hemingway, Karl Marx,Bertrand Russel, Jean-Paul Sartre, dan beberapa lainnya. Ruosseau, misalnya, dicatatnya sebagai“manusia gila yang menarik” (
an interesting madman
).Pada tahun 1728, saat berumur 15 tahun, dia bertukar agama menjadi Katolik, agar dapat menjadi peliharaan Madame Francoise-Louise de Warens. Ernest Hemingway, seorang ilmuwan jenius,tidak memiliki agama yang jelas. Kedua orang tuanya adalah pengikut Kristen yang taat. Istri pertamanya, Hadley, menyatakan, ia hanya melihat Hemingway sembahyang selama dua kali, yaitusaat perkawinan dan pembaptisan anaknya.Untuk menyenangkan istri keduanya, Pauline, dia berganti agama menjadi Katolik Roma. KataJohnson, dia bukan saja tidak percaya kepada Tuhan, tetapi menganggap
‘organized religion
sebagai ancaman terhadap kebahagiaan manusia. (
 He not only did not believe in God, but regarded organized religion as a menace to human happiness
).Sebagai ilmuwan, seyogyanya Rektor UIN Yogya itu memberikan klarifikasi dan penjelasan yang bertanggung jawab terhadap tulisannya, bahwa “Dari studi empiris-historis terhadap fenomenakeagamaan diperoleh masukan bahwa agama sesungguhnya juga sarat dengan berbagai“kepentingan” yang menempel dalam ajaran dan batang tubuh ilmu-ilmu keagamaan itu sendiri.”
 
Jika dia katakan, agama –termasuk Islam– adalah sarat dengan berbagai kepentingan yangmenempel pada ajaran dan batang tubuh ilmu-ilmu keagamaan, maka dia harus menjelaskan, apakepentingan Sayyidina Utsman menghimpun
Mushaf 
Al-Qur'an, apa kepentingan Imam Bukharimengumpulkan dan menyeleksi hadits-hadits Nabi, apa kepentingan Imam Syafii menulis KitabRisalah? Apakah kita harus mencurigai tindakan keilmuan sahabat-sahabat Rasululullah dan ulama-ulama Islam yang begitu besar jasanya terhadap pengembangan keilmuan Islam, sehingga kita harusmenyatakan, bahwa mereka semua pasti punya kepentingan.Apakah kita tidak bisa berprasangka baik terhadap mereka, dan mengakui keikhlasan dan jasamereka yang luas biasa dalam menyusun ilmu-ilmu agama (
ulumuddin
)?Metode studi Islam yang – 
maaf, sok– 
 bersikap kritis ini bisa pada akhirnya berdampak kepadakeragu-keraguan pada para pelajar dan mahasiswa.Mereka yang belajar Islam dengan cara-cara seperti ini, bukan tidak mungkin akan terjebak padakeraguan dan ketidakyakinan terhadap ajaran agamanya sendiri.Akhirnya, dari metode ini bisa lahir sarjana-sarjana yang justru rajin menghujat agamanya, ragudengan kebenaran agamanya, dan bahkan memusuhi agamanya. Orang yang belajar 
ushuluddin
(dasar-dasar agama), bukannya semakin yakin dengan agamanya, tetapi bisa jadi malah
ucul”
-“din”nya (agamanya lepas).Tidak sedikit para sarjana syariah lulusan perguruan tinggi Islam, yang akhirnya justru gigihmenentang dan aktif menulis artikel yang menghancurkan dan menghina syariat Islam.Kita sungguh tidak habis mengerti, misalnya, bagaimana dari sebuah kampus berlabel Islam, sepertiUIN Yogya, bisa muncul tesis master yang justru menghujat Al-Qur'an, dan menyatakan, bahwa“Mushaf itu tidak sakral dan absolut, melainkan profan dan fleksibel. Yang sakral dan absoluthanyalah pesan Tuhan yang terdapat di dalamnya, yang masih dalam proses pencarian.Karena itu, kini kita diperkenankan bermain-main dengan
Mushaf 
tersebut, tanpa ada bebansedikitpun, beban sakralitas yang melingkupi perasaan dan pikiran kita.” (Lihat buku: “
Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan”
(2004), hal. 123)Penulis tesis itu dan juga para dosen serta rektor kampus itu seolah-olah tenang-tenang saja denganfenomena semacam itu, dan tidak takut dengan akibat yang ditimbulkan jika ada orang yangterpengaruh dengan ide sesat itu.Apakah mereka tidak takut dengan dosa jika ada yang kemudian meragukan kebenaran Al-Qur'an,karena membaca tesis yang sudah dibukukan itu? Jika orang sudah meragukan kebenaran Al-Qur'an, lalu bagaimana dia bisa beriman dan meyakini rukun iman yang disebutkan dalam Al-Qur'an, seperti Malaikat, Hari Kiamat, dan sebagainya?Penanaman keragu-raguan terhadap Islam bagi mahasiswa Muslim tampaknya kini banyak dilakukan oleh para dosen-dosennya sendiri. Dan itu bukan hal yang aneh, jika kita menyimak tulisan lain dari Amin Abdullah, Sang Rektor. Dalam pengantarnya untuk sebuah buku berjudul
“Hermeneutika Al-Quran
” (2005), Amin secara gamblang menulis, bahwa:“Dengan sangat intensif hermeneutika mencoba membongkar kenyataan bahwa siapa pun orangnya,kelompok apapun namanya, kalau masih pada level manusia, pastilah “terbatas”, “parsial-kontekstual pemahamannya”, serta “bisa saja keliru”.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->