Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
6Activity
×
P. 1
Soekarno Dan Konfontasi Indonesia-Malaysia

Soekarno Dan Konfontasi Indonesia-Malaysia

Ratings: (0)|Views: 2,322|Likes:
Published by Peter Kasenda
Soekarno dan Konfontasi Indonesia-Malaysia



Kalau Malaysia mau konfrontasi ekonomi
Kita hadapi dengan konfrontasi ekonomi
Kalau Malaysia mau konfrontasi politik
Kita hadapi dengan konfrontasi politik
Kalau Malaysia mau konfrontasi militer
Kita hadapi dengan konfrontasi militer!
(Soekarno, 1963)


Pada tanggal 17 Agustus 1963 dalam pidato tahunannya memperingati hari Proklamasi Kemerdekaan Soekarno menggambarkan dunia ini sebagai terbagi antara kekuatan-kekuatan baru yang sedang bangkit (New Emerging Forces, NEFOS ) dan kekuatan-kekuatan yang lama yang telah mapan ( Old Established Forces, OLDEFOS) Yang pertama dilukiskan sebagai terdiri atas “bangsa-bangsa Asia, Afrika dan Amerika Latin, negara-negara sosialis, dan kelompok kelompok progresif di negara-negara kapitalis”

Dalam mengedepankan suatu pandangan revisionis mengenai masyarakat internasional Soekarno melukiskan Indonsia sebagai anggota kelompok kekuatan progresif dinamis yang militan yang ditugasi oleh sejarah untuk melawan dan mengacaukan kekuatan penindasan dan eksploitasi yang reaksioner. Lebih jauh dari itu, akhirnya dia menuntut peranan penting dalam konstalasi internasional dan berusaha menyokong tuntutan ini melalui kunjungan kenegaraan dan berbagai peristiwa internasional lainnya. ( Michael Leifer, 1989 : 86 – 87 )

Tahun-tahun 1960-an merupakan tahun-tahun yang penuh dengan harapan tetapi sekaligus juga tantangan, terutama bagi negara-negara yang sedang berkembang. Penuh dengan harapan karena dua negara adidaya Amerika Serikat dan Uni Soviet tetap dapat mempertahankan sistem dwi mandala dalam situasi Perang Dingin, sehingga dapat mencegah timbulnya perang dunia yang baru.

Makin banyaknya bangsa-bangsa yang mencapai kemerdekaan sejak berakhirnya Perang Dingin Kedua tidak mengubah sistem yang ada menjadi tri mandala (tripolar system), karena negara-negara yang baru merdeka itu sedang disibukkan dengan masalah konsolidasi di dalam negeri, sehingga tidak mampu membentuk kekuatan ketiga yang aktual di dunia. Beberapa pemimpin di negara-negara yang sedang berkembang memang pernah berilusi demikian. Tetapi dalam situasi Perang Dingin, kekuatan ideologi dan politik saja belum didukung oleh kekuatan-kekuatan ekonomi, militer dan teknologi di belakangnya.

Dalam perebutan pengaruh antara dua negara adidaya itu baik kubu kapitalis maupun kubu komunis berada dalam posisi yang sulit. Tantangan kemerdekaan bangsa-bangsa yang terjajah yang umumnya tertuju kepada negara-negara Barat, menempatkan negara-negara tersebut dalam posisi politis defensif. Di pihak lain, perjuangan menuntut kemerdekaan itu merupakan daya (leverage) Uni Soviet dalam persaingannya dengan Amerika Serikat. Namun situasi ini juga tidak bertahan lama.

Sejak awal tahun 1960-an Barat juga menilai Indonesia di bawah pemerintahan Soekarno masih dikuasai oleh golongan komunis di dalam negeri, yang dibantu oleh potensi-potensi komunis di luar negeri. Kubu Barat mempunyai persepsi ancaman baru, yakni ancaman dari komunis di Vietnam Selatan dan sekaligus juga ancaman komunis dari Indonesia Dengan demikian Thailand, negara-negara Indochina yang belum jatuh di tangan komunis. Malaysia, Singapura, Kalimantan Inggris dan Filipina berada dalam posisi yang gawat.

Setelah kekalahan Perancis di Dien Bien Phu dan antipasi kekalahan Amerika Serikat di seluruh Indochina, Barat tidak merasa ada alasan lagi untuk langsung bertempur di negara asing. Memang pakta-pakta pertahanan kemudian dibentuk seperti ANZUS, SEATO, tetapi tujuannya yang utama ialah mempertahankan suatu wilayah secara bersama-sama dengan negara-negara yang sedang berkembang dan termasuk dalam blok Barat. Di samping itu perlu diingat, bahwa pembentukan pakta-pakta itu tidak hanya ditujukan terhadap potensi komunis di utara saja, tetapi juga di selatan, yakni terhadap Indonesia.

Potensi-potensi Barat yang ada di wilayah Asia-Pasifik mulai mengubah sistem keterlibatannya, dari keterlibatan secara
Soekarno dan Konfontasi Indonesia-Malaysia



Kalau Malaysia mau konfrontasi ekonomi
Kita hadapi dengan konfrontasi ekonomi
Kalau Malaysia mau konfrontasi politik
Kita hadapi dengan konfrontasi politik
Kalau Malaysia mau konfrontasi militer
Kita hadapi dengan konfrontasi militer!
(Soekarno, 1963)


Pada tanggal 17 Agustus 1963 dalam pidato tahunannya memperingati hari Proklamasi Kemerdekaan Soekarno menggambarkan dunia ini sebagai terbagi antara kekuatan-kekuatan baru yang sedang bangkit (New Emerging Forces, NEFOS ) dan kekuatan-kekuatan yang lama yang telah mapan ( Old Established Forces, OLDEFOS) Yang pertama dilukiskan sebagai terdiri atas “bangsa-bangsa Asia, Afrika dan Amerika Latin, negara-negara sosialis, dan kelompok kelompok progresif di negara-negara kapitalis”

Dalam mengedepankan suatu pandangan revisionis mengenai masyarakat internasional Soekarno melukiskan Indonsia sebagai anggota kelompok kekuatan progresif dinamis yang militan yang ditugasi oleh sejarah untuk melawan dan mengacaukan kekuatan penindasan dan eksploitasi yang reaksioner. Lebih jauh dari itu, akhirnya dia menuntut peranan penting dalam konstalasi internasional dan berusaha menyokong tuntutan ini melalui kunjungan kenegaraan dan berbagai peristiwa internasional lainnya. ( Michael Leifer, 1989 : 86 – 87 )

Tahun-tahun 1960-an merupakan tahun-tahun yang penuh dengan harapan tetapi sekaligus juga tantangan, terutama bagi negara-negara yang sedang berkembang. Penuh dengan harapan karena dua negara adidaya Amerika Serikat dan Uni Soviet tetap dapat mempertahankan sistem dwi mandala dalam situasi Perang Dingin, sehingga dapat mencegah timbulnya perang dunia yang baru.

Makin banyaknya bangsa-bangsa yang mencapai kemerdekaan sejak berakhirnya Perang Dingin Kedua tidak mengubah sistem yang ada menjadi tri mandala (tripolar system), karena negara-negara yang baru merdeka itu sedang disibukkan dengan masalah konsolidasi di dalam negeri, sehingga tidak mampu membentuk kekuatan ketiga yang aktual di dunia. Beberapa pemimpin di negara-negara yang sedang berkembang memang pernah berilusi demikian. Tetapi dalam situasi Perang Dingin, kekuatan ideologi dan politik saja belum didukung oleh kekuatan-kekuatan ekonomi, militer dan teknologi di belakangnya.

Dalam perebutan pengaruh antara dua negara adidaya itu baik kubu kapitalis maupun kubu komunis berada dalam posisi yang sulit. Tantangan kemerdekaan bangsa-bangsa yang terjajah yang umumnya tertuju kepada negara-negara Barat, menempatkan negara-negara tersebut dalam posisi politis defensif. Di pihak lain, perjuangan menuntut kemerdekaan itu merupakan daya (leverage) Uni Soviet dalam persaingannya dengan Amerika Serikat. Namun situasi ini juga tidak bertahan lama.

Sejak awal tahun 1960-an Barat juga menilai Indonesia di bawah pemerintahan Soekarno masih dikuasai oleh golongan komunis di dalam negeri, yang dibantu oleh potensi-potensi komunis di luar negeri. Kubu Barat mempunyai persepsi ancaman baru, yakni ancaman dari komunis di Vietnam Selatan dan sekaligus juga ancaman komunis dari Indonesia Dengan demikian Thailand, negara-negara Indochina yang belum jatuh di tangan komunis. Malaysia, Singapura, Kalimantan Inggris dan Filipina berada dalam posisi yang gawat.

Setelah kekalahan Perancis di Dien Bien Phu dan antipasi kekalahan Amerika Serikat di seluruh Indochina, Barat tidak merasa ada alasan lagi untuk langsung bertempur di negara asing. Memang pakta-pakta pertahanan kemudian dibentuk seperti ANZUS, SEATO, tetapi tujuannya yang utama ialah mempertahankan suatu wilayah secara bersama-sama dengan negara-negara yang sedang berkembang dan termasuk dalam blok Barat. Di samping itu perlu diingat, bahwa pembentukan pakta-pakta itu tidak hanya ditujukan terhadap potensi komunis di utara saja, tetapi juga di selatan, yakni terhadap Indonesia.

Potensi-potensi Barat yang ada di wilayah Asia-Pasifik mulai mengubah sistem keterlibatannya, dari keterlibatan secara

More info:

Published by: Peter Kasenda on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See More
See less

03/02/2014

 
^ixir Jltiehl
Tfijlref hle Jfecfexltg Gehfeitgl!Almlwtgl
 
 Jlmly Almlwtgl aly jfecrfexltg ijfefag Jgxl blhl~g hie`le jfecrfexltg ijfefag Jlmly Almlwtgl aly jfecrfexltg ~fmgxgj  Jgxl blhl~g hie`le jfecrfexltg ~fmgxgj  Jlmly Almlwtgl aly jfecrfexltg agmgxir  Jgxl blhl~g hie`le jfecrfexltg agmgxir,
"Tfijlref- <734'^lhl xle``lm <0 L`ytxyt <734 hlmla ~ghlxf xlbyeleewl aia~irge`lxg blrg ^rfjmlaltgJiairhijlle Tfijlref aie``laolrjle hyegl geg tiol`lg xirol`g lexlrl jijylxle!jijylxle olry wle` tihle` ole`jgx "
 Eip Iair`ge` 
 
 Cfrdit- EICFT 
' hle jijylxle!jijylxle wle` mlal wle` ximlb al~le "
Fmh Itxlomgtbih Cfrdit
-
FMHICFT 
' Wle` ~irxlal hgmyjgtjle tiol`lg xirhgrg lxlt ”ole`tl!ole`tl Ltgl- Lcrgjl hle Lairgjl Mlxge-ei`lrl!ei`lrl tftglmgt- hle jimfa~fj jimfa~fj ~rf`ritgc hg ei`lrl!ei`lrl jl~gxlmgt‑Hlmla aie`ihi~lejle tylxy ~lehle`le risgtgfegt aie`ielg altwlrljlx gexireltgfelmTfijlref aimyjgtjle Gehfetgl tiol`lg le``fxl jimfa~fj jijylxle ~rf`ritgc hgelagtwle` agmgxle wle` hgxy`ltg fmib tiklrlb yexyj aimlple hle aie`ldlyjle jijylxle ~iegehltle hle ijt~mfgxltg wle` riljtgfeir% Miogb klyb hlrg gxy- ljbgrewl hgl aieyexyx ~irlele ~iexge` hlmla jfetxlmltg gexireltgfelm hle oirytlbl aiewfjfe` xyexyxle gegaimlmyg jyekye`le jiei`lrlle hle oirol`lg ~irgtxgpl gexireltgfelm mlgeewl% " AgdblimMigcir- <727 ; 23 — 20 'Xlbye!xlbye <73>!le airy~ljle xlbye!xlbye wle` ~ieyb hie`le blrl~le xixl~gtijlmg`yt ky`l xlexle`le- xiryxlal ol`g ei`lrl!ei`lrl wle` tihle` oirjiaole`% ^ieybhie`le blrl~le jlriel hyl ei`lrl lhghlwl Lairgjl Tirgjlx hle Yeg Tfsgix xixl~ hl~lxaia~irxlblejle tgtxia hpg alehlml hlmla tgxyltg ^irle` Hge`ge- tibge``l hl~lxaiedi`lb xgaoymewl ~irle` hyegl wle` olry%Aljge olewljewl ole`tl!ole`tl wle` aiedl~lg jiairhijlle tiklj oirljbgrewl ^irle`Hge`ge Jihyl xghlj aie`yolb tgtxia wle` lhl aieklhg xrg alehlml "xrg~fmlr twtxia'-jlriel ei`lrl!ei`lrl wle` olry airhijl gxy tihle` hgtgoyjjle hie`le altlmlbjfetfmghltg hg hlmla ei`irg- tibge``l xghlj ala~y aiaoiexyj jijylxle jixg`l wle`ljxylm hg hyegl% Oioirl~l ~iaga~ge hg ei`lrl!ei`lrl wle` tihle` oirjiaole` aiale` ~irelb oirgmytg hiagjgle% Xixl~g hlmla tgxyltg ^irle` Hge`ge- jijylxle ghifmf`g hle ~fmgxgj tlkl oimya hghyjye` fmib jijylxle!jijylxle ijfefag- agmgxir hle xijefmf`g hg oimljle`ewl%Hlmla ~irioyxle ~ie`lryb lexlrl hyl ei`lrl lhghlwl gxy olgj jyoy jl~gxlmgt aly~yejyoy jfayegt oirlhl hlmla ~ftgtg wle` tymgx% Xlexle`le jiairhijlle ole`tl!ole`tlwle` xirklklb wle` yayaewl xirxyky ji~lhl ei`lrl!ei`lrl Olrlx- aieia~lxjle ei`lrl!ei`lrl xirtioyx hlmla ~ftgtg ~fmgxgt hicietgc% Hg ~gblj mlge- ~irkyle`le aieyexyx
Pio; ppp%~ixirjltiehl%pfrh~ritt%dfaIalgm; ar%jltiehlN`algm%dfa
<
 
^ixir Jltiehljiairhijlle gxy airy~ljle hlwl "misirl`i' Yeg Tfsgix hlmla ~irtlge`leewl hie`leLairgjl Tirgjlx% Elaye tgxyltg geg ky`l xghlj oirxlble mlal%Tiklj lplm xlbye <73>!le Olrlx ky`l aiegmlg Gehfeitgl hg olplb ~iairgexlble Tfijlrefaltgb hgjyltlg fmib `fmfe`le jfayegt hg hlmla ei`irg- wle` hgolexy fmib ~fxietg! ~fxietg jfayegt hg mylr ei`irg% Jyoy Olrlx aia~yewlg ~irti~tg ledlale olry- wljegledlale hlrg jfayegt hg Sgixela Timlxle hle tijlmg`yt ky`l ledlale jfayegt hlrgGehfeitgl Hie`le hiagjgle Xblgmleh- ei`lrl!ei`lrl Gehfdbgel wle` oimya klxyb hgxle`le jfayegt% Almlwtgl- Tge`l~yrl- Jlmgalexle Ge``rgt hle Cgmg~gel oirlhl hlmla ~ftgtg wle` `lplx%Tiximlb jijlmlble ^irledgt hg Hgie Ogie ^by hle lexg~ltg jijlmlble Lairgjl Tirgjlx hgtimyryb Gehfdbgel- Olrlx xghlj airltl lhl lmltle ml`g yexyj mle`tye` oirxia~yr hg ei`lrl ltge`% Aiale` ~ljxl!~ljxl ~irxlblele jiayhgle hgoiexyj ti~irxgLE[YT- TILXF- xixl~g xykyleewl wle` yxlal glmlb aia~irxlblejle tylxypgmlwlb tidlrl oirtlal!tlal hie`le ei`lrl!ei`lrl wle` tihle` oirjiaole`hle xiraltyj hlmla omfj Olrlx% Hg tla~ge` gxy ~irmy hgge`lx- olbpl ~iaoiexyjle ~ljxl!~ljxl gxy xghlj blewl hgxykyjle xirblhl~ ~fxietg jfayegt hgyxlrl tlkl- xixl~g ky`l hg timlxle- wljeg xirblhl~ Gehfeitgl%^fxietg!~fxietg Olrlx wle` lhl hg pgmlwlb Ltgl!^ltgcgj aymlg aie`yolb tgtxiajixirmgolxleewl- hlrg jixirmgolxle tidlrl cgtgj hle mle`tye` aieklhg jixirmgolxle tidlrlxghlj mle`tye`- tlaogm aiehfrfe` ei`lrl!ei`lrl Ltgl Xie``lrl yexyj miogb xla~gm jihi~le hlmla aiele`leg ~iraltlmlble oirtlal% Blewl l~logml tipljxy!pljxyhg~irmyjle dla~yr xle`le tirxl olexyle cgtgj hle agmgxir- airijl ljle aiaoirgjle olexyle gxy oirhltlrjle jfagxaie wle` hgoylx tioimyaewl%L~logml jyoy Yeg Tfsgix blewl aie`lmlag blaolxle!blaolxle gexirelm wle` oiry~lxyexyxle tiaiexlrl le``fxl altwlrljlx jfayegt gexireltgfelm xiexle` ~irmyewljimypitle gexir~ritxltg hle ga~miaiexltg Alrgtai!Miegegtai titylg hie`le ~irjiaole`le jfehgtg tixia~lx- tirxl ~irmyewl jitihirlklxle txlxyt hle ~ftgtgtxryjxyrlm ~lrxlg!~lrxlg jfayegt hg hyegl- jyoy Lairgjl Tirgjlx aie`lmlagblaolxle!blaolxle wle` oirtgclx `lehl- gexirelm hle ijtxirelm% Gexirelm- tiol`lgwle` ximlb hgkimltjle hg hi~le oiry~l xyexyxle jiairhijlle hlirlb oijlt klklble-tihle` ijtxirelm oiry~l ledlale ~irjiaole`le jfayegtai hg hyegl% LairgjlTirgjlx xghlj oi`gxy xirmgolx mle`tye` aie`ielg xyexyxle jiairhijlle xirtioyx-aie`ge`lx jitihgleewl yexyj ti`irl aiaoirgjle jiairhijlle ji~lhl hlirlb klklbleewl- ti~irxg Cgmg~gel% Elaye Ge``rgt- ^irledgt- Oim`gl hle ^frxy`lm wle`aia~yewlg hlirlb jfmfeg oi`gxy mylt tidlrl mle`tye` aie`blhl~g ~iraltlmlblehijfmfegtltg geg%Xixl~ aia~irxlblejle hlirlb klklble- tidlrl ~fmgxgt lhlmlb xghlj tielclt ^gl`la ^OOhle hie`le ~rftit hijfmfegtltg% Hg tla~ge` gxy aia~irxlblejle hlirlb klklble oixl~l~ye jlwl hlirlb gxy- tidlrl ijfefagt tyhlb xghlj titylg ml`g hie`le lt~grltgrljwlx hlirlb klklble% Xirmiogb ml`g ogml hgmgblx hlrg ji~iexge`le ~irxlblele jilalele-
Pio; ppp%~ixirjltiehl%pfrh~ritt%dfaIalgm; ar%jltiehlN`algm%dfa
?
 
^ixir Jltiehlaia~irxlblejle hlirlb klklble wle` mylt hle klyb hlrg ei`lrl gehyj- hlmla tgtxia ~irle` afhire lhlmlb tle`lx alblm%Blm geg tiayl aiehitlj Ge``rgt- ^irledgt- Oim`gl- ^frxy`lm hle mlge!mlge ei`lrl Olrlxyexyj aiairhijljle lxly hie`le tle`lx xir~ljtl aiaieybg xyexyxle jiairhijlle oijlt klklbleewl% Tiximlb Ltgl- Lcrgjl aiewytym hlmla y~lwl aieyexyx jiairhijlle%Blm geg ela~lj kimlt hlmla ~irtgxgpl!~irgtxgpl wle` xirklhg hg Lcrgjl lexlrl xlbye!xlbye<73>!<739- ~irtgxgpl!~irgtxgpl alel xirewlxl ky`l oir~ie`lryb hlmla aiehfrfe`tiale`lx risfmytgfeir hg Gehfeitgl ~lhl altl jfecrfexltg%Oijlt hlirlb klklble Ge``rgt ~lhl yayaewl aiedl~lg jiairhijlle tidlrl hlalg hletiol`gle oitlr ei`lrl!ei`lrl gxy altgb ge`ge xixl~ aieklmge byoye`le olgj hie`leGe``rgt hle aieklhg le``fxl Altwlrljlx ^irtialjayrle Ge``rgt "OrgxgtbDfaafepilmxb fc Elxgfet'% Agtlmewl- Almlwl "<790'- Tge`l~yrl "<797' Y`lehl"<73?'- Jiewl "<734'- Xle{legl airy~ljle `loye`le hlrg Xle`lwjla [le{golr hleAlmlpg "<738'- [laogl "<738'- @laogl "<739'- Ofxtplel "<733'- Mitfxbf " <733'Gexir~ritxltg hlrg ~rftit jiairhijlle hle ri~ftgtg wle` hglaogm fmib ei`lrl!ei`lrl oijlt klklble Ge``rgt tiximlb airhijl hlmla byoye`le olryewl hie`le Ge``rgt aiale` oiroihl% Elaye jitiaylewl gxy tioielrewl aie`lehye` lrxg ~fmgxgj xirtiehgrg- wle`tirge` jyrle` hg~lblag fmib ei`lrl!ei`lrl wle` xgaoym aimlmyg risfmytg ti~irxgGehfeitgl% ^iroihlle ~irti~tg ~fmgxgj geg ~yml wle` aiehfrfe` xgaoymewl jfecmgj lexlrlGehfeitgl!Almlwtgl%Hie`le mlxlr oimljle` tgxyltg ~fmgxgj gexirelgfelm wle` hiagjgle- xgaoym `l`ltle ~iaoiexyjle Cihirltg Almlwtgl% Hlrg alel ltlm `l`ltle xirtioyx xgaoym oioirl~l ~iehl~lx% Lhl wle` aiewlxljle ti~irxg blmewl Gehfeitgl- olbpl `l`ltle gxy xgaoym hlrgGe``rgt% Geg xghlj tlal tijlmg jimgry ogml hgximgxg tiklrlb Almlwl- olbpl hlbymy hlmlaxlbye <220 aiale` lhl tifrle` ole`tlple Ge``rgt- Mfrh Orlttiw- wle` aiewlrlejleji~lhl Bfyti fc Mfrht yexyj aiaoiexyj ~irtlxyle hlirlb!hlirlb jfmfeg Ge``rgt hg LtglXie``lrl% Xixl~g `l`ltle geg xghlj hgxirgal%Xie`jy Lohym _ldbale wle` aiaga~ge Cihirltg Almlwtgl tiklj xlbye <790- ~irxlalaimfexlrjle `l`ltle ~iaoiexyjle Cihirltg Almlwtgl oimya hg~iraltlmlbjle% Xixl~gtiximlb Xie`jy Lohym _lbale oirjfetymxltg hie`le ^irhlel Aiexirg Adagmgmle hgMfehfe hlmla oymle Fjxfoir <73< hle oymle Kymg <73? aie`ielg ~imljtlelle riedlelcihirltg- xgaoym hy`lle wle` aljge jylx hg ~gblj Gehfeitgl- olbpl `l`ltle ~iaoiexyjle Cihirltg tioielrewl lhlmlb `l`ltle Ge``rgt% "Bghlwlx Ayjage - <77< ; 2> — 29 '
^iaoiexyjle Cihirltg Almlwtgl
Jixgjl Xie`jy Lohym _ldbale- ^irhlel Aiexirg Almlwl ~lhl oymle Aig <73<aie`yayajle ~gjgrleewl xiexle` tylxy oiexyj cihirltg wle` aimg~yxg Almlwl-Tge`l~yrl hle hlirlb!hlirlb Jlmgalexle Yxlrl oijlt hlirlb Ge``rgt- Gehfeitgl xghlj 
Pio; ppp%~ixirjltiehl%pfrh~ritt%dfaIalgm; ar%jltiehlN`algm%dfa
4

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Marjuki Harita liked this
Nazirah Mustafa liked this
dedy_widiarto liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->