Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
10Activity
P. 1
Soekarno, Sejarah Dan Kontroversi

Soekarno, Sejarah Dan Kontroversi

Ratings: (0)|Views: 729 |Likes:
Published by Peter Kasenda
Soekarno, Sejarah dan Kontroversi



Tidak setiap orangpun dalam peradaban
modern ini yang menimbulkan demikian
banyak perasaan pro dan kontra seperti
Soekarno. Aku dikutuk seperti bandit
dan dipuja sebagai dewa .

(Soekarno,,1965)


Sebagaimana diketahui istilah “sejarah” mengacu pada dua hal, yakni pertama, sejarah sebagai res gestae, yaitu sebagai peristiwa yang benar-benar telah terjadi dan kedua, sejarah sebagai rerum regustarum ,yakni kisah daripada peristiwa yang disebutkan tadi. Peristiwa masa lampau sudah tidak bisa mempunyai arti kalau tidak ditulis dan dihadirkan lagi untuk masa kini. Tidak bisa disangkal peristiwa masa lampau yang sudah berlalu tidak seluruhnya dapat diketahui. Hanya ada sisa dari masa lampau. Kendati pun demikian, kenyataan itu tidak membuat orang surut untuk menulis peristiwa masa lampau. Tetapi untuk apa peristiwa masa lampau ditulis ?

Dalam buku Soekarno,, An Autobiography as told as Cindy Adams (1965) yang terbit ketika Soekarno berada di puncak kekuasaan, Soekarno menyatakan maksud dan pengerjaan autobiografi agar orang bisa memperoleh pengertian yang lebih baik tentang Soekarno dan untuk memperoleh simpati. Karena buku tersebut ketika Soekarno berkuasa, para pengeritiknya menyatakan bahwa buku yang menceritakan Soekarno berasal dari keturunan kelas berkuasa dan Soekarno pantas berkuasa. Sebagaimana yang dilakukan raja-raja Jawa yang berkuasa tempo dulu, ketika pujangga istana menulis babad (sejarah) untuk kepentingan rajanya.

Ketika Soekarno berada diakhir kekuasaan, sebuah koran mahasiswa Bandung Mahasiswa Indonesia ,mengadakan de-Soekarnoisasi dengan menggugat hak sejarah Soekarno agar dapat memimpin Indonesia.

Dengan menonjolkan dirinya seolah-olah keturunan yang sah raja-raja di Jawa
dan Bali, Soekarno memperoleh dukungan dan kesetiaan sebagian rakyat
Indonesia yang masih beralam pikiran feudal. Oleh karena itu tak mengherankan
pula bahwa Soekarno mempertahankan dan bahkan memperkembangkan iklim
feudal di manapun ia berada, baik dalam kehidupan istananya maupun dalam
pemerintahannya, serta setia pada setiap kemunculan di depan rakyat banyak. Ini
sengaja dimaksudkan untuk membina kultus individu dan memperkuat kedudukan
Soekarno.


Menurut Mahasiswa Indonesia, ada sederetan mitos mengelilingi Soekarno; tentang asal usulnya, peranannya sebagai Bapak Bangsa, dan lain-lain. Bertolak dari anggapan bahwa kenyataan diri dari Soekarno pada umumnya terselubungi oleh sederetan fiksi Mahasiswa Indonesia memandang perlu supaya seluruh hal utu dianalisa dan ditinjau secara lebih jauh. Bila perlu maka mitos-mitos yang telah diciptakan oleh Soekarno dan orang-orang di sekitarnya harus dibalikan dan digunakan untuk memukul balik dan merongrong pengaruh yang masih dimiliki atas jiwa bangsa Indonesia.

Sambil mengungkapkan mitos-mitos yang mengelilingi Soekarno, Mahasiswa Indonesia juga memaparkan sebuah potret diri Presiden yang “sebenarnya“. Untuk melakukan de-Soekarnoisasi tidaklah cukup dengan melakukan demistifikasi dari legenda-legenda yang ada di sekitar Soekarno; diperlukan juga usaha untuk menelanjangi diri yang sebenarnya dari tokoh yang diserang itu. Melalui potret Soekarno yang diungkapkan lewat sejumlah artikel, terlihat cukup banyak wajah Soekarno sebagai seorang yang lemah, lamban, tiran, tidak punya karakter, pembohong, egois dan bersifat buruk. Dimata mahasiswa group Bandung itu sifat yang paling buruk Soekarno ialah nafsu korupsinya. Adapun nafsu seksual yang berlebihan, penggunaan kekuasaan secara sewenang-wenang, penyelewengan terhadap agama, merupakan hal-hal yang paling sering diserang pada diri Soekarno karena semua itu bertentangan dengan ahlak yang ingin dipertahankan oleh Mahasiswa Indonesia .
Soekarno, Sejarah dan Kontroversi



Tidak setiap orangpun dalam peradaban
modern ini yang menimbulkan demikian
banyak perasaan pro dan kontra seperti
Soekarno. Aku dikutuk seperti bandit
dan dipuja sebagai dewa .

(Soekarno,,1965)


Sebagaimana diketahui istilah “sejarah” mengacu pada dua hal, yakni pertama, sejarah sebagai res gestae, yaitu sebagai peristiwa yang benar-benar telah terjadi dan kedua, sejarah sebagai rerum regustarum ,yakni kisah daripada peristiwa yang disebutkan tadi. Peristiwa masa lampau sudah tidak bisa mempunyai arti kalau tidak ditulis dan dihadirkan lagi untuk masa kini. Tidak bisa disangkal peristiwa masa lampau yang sudah berlalu tidak seluruhnya dapat diketahui. Hanya ada sisa dari masa lampau. Kendati pun demikian, kenyataan itu tidak membuat orang surut untuk menulis peristiwa masa lampau. Tetapi untuk apa peristiwa masa lampau ditulis ?

Dalam buku Soekarno,, An Autobiography as told as Cindy Adams (1965) yang terbit ketika Soekarno berada di puncak kekuasaan, Soekarno menyatakan maksud dan pengerjaan autobiografi agar orang bisa memperoleh pengertian yang lebih baik tentang Soekarno dan untuk memperoleh simpati. Karena buku tersebut ketika Soekarno berkuasa, para pengeritiknya menyatakan bahwa buku yang menceritakan Soekarno berasal dari keturunan kelas berkuasa dan Soekarno pantas berkuasa. Sebagaimana yang dilakukan raja-raja Jawa yang berkuasa tempo dulu, ketika pujangga istana menulis babad (sejarah) untuk kepentingan rajanya.

Ketika Soekarno berada diakhir kekuasaan, sebuah koran mahasiswa Bandung Mahasiswa Indonesia ,mengadakan de-Soekarnoisasi dengan menggugat hak sejarah Soekarno agar dapat memimpin Indonesia.

Dengan menonjolkan dirinya seolah-olah keturunan yang sah raja-raja di Jawa
dan Bali, Soekarno memperoleh dukungan dan kesetiaan sebagian rakyat
Indonesia yang masih beralam pikiran feudal. Oleh karena itu tak mengherankan
pula bahwa Soekarno mempertahankan dan bahkan memperkembangkan iklim
feudal di manapun ia berada, baik dalam kehidupan istananya maupun dalam
pemerintahannya, serta setia pada setiap kemunculan di depan rakyat banyak. Ini
sengaja dimaksudkan untuk membina kultus individu dan memperkuat kedudukan
Soekarno.


Menurut Mahasiswa Indonesia, ada sederetan mitos mengelilingi Soekarno; tentang asal usulnya, peranannya sebagai Bapak Bangsa, dan lain-lain. Bertolak dari anggapan bahwa kenyataan diri dari Soekarno pada umumnya terselubungi oleh sederetan fiksi Mahasiswa Indonesia memandang perlu supaya seluruh hal utu dianalisa dan ditinjau secara lebih jauh. Bila perlu maka mitos-mitos yang telah diciptakan oleh Soekarno dan orang-orang di sekitarnya harus dibalikan dan digunakan untuk memukul balik dan merongrong pengaruh yang masih dimiliki atas jiwa bangsa Indonesia.

Sambil mengungkapkan mitos-mitos yang mengelilingi Soekarno, Mahasiswa Indonesia juga memaparkan sebuah potret diri Presiden yang “sebenarnya“. Untuk melakukan de-Soekarnoisasi tidaklah cukup dengan melakukan demistifikasi dari legenda-legenda yang ada di sekitar Soekarno; diperlukan juga usaha untuk menelanjangi diri yang sebenarnya dari tokoh yang diserang itu. Melalui potret Soekarno yang diungkapkan lewat sejumlah artikel, terlihat cukup banyak wajah Soekarno sebagai seorang yang lemah, lamban, tiran, tidak punya karakter, pembohong, egois dan bersifat buruk. Dimata mahasiswa group Bandung itu sifat yang paling buruk Soekarno ialah nafsu korupsinya. Adapun nafsu seksual yang berlebihan, penggunaan kekuasaan secara sewenang-wenang, penyelewengan terhadap agama, merupakan hal-hal yang paling sering diserang pada diri Soekarno karena semua itu bertentangan dengan ahlak yang ingin dipertahankan oleh Mahasiswa Indonesia .

More info:

Published by: Peter Kasenda on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

06/26/2014

 
Rctc~ Hlqcedl
Qichl~ei* Qc`l~lf dle Hiet~i}c~qg
Tgdlh qctglr i~lekrse dljlo rc~ldlnleoidc~e geg wlek ocegonsjhle dcoghgle nlewlh rc~lqlle r~i dle hiet~l qcrc~tgQichl~ei% Lhs dghstsh qcrc~tg nledgtdle dgrs`l qcnlklg dc{l %
&Qichl~ei**<7=3'Qcnlklgolel dghctlfsg gqtgjlf ‚qc`l~lf‟ oceklas rldl dsl flj* wlheg rc~tlol* qc`l~lfqcnlklg
~cq kcqtlc*
wlgts qcnlklg rc~gqtg{l wlek ncel~/ncel~ tcjlf tc~`ldg dle hcdsl*qc`l~lf qcnlklg
~c~so ~cksqtl~so *
wlheg hgqlf dl~grldl rc~gqtg{l wlek dgqcnsthle tldg%
<
Rc~gqtg{l olql jlorls qsdlf tgdlh ngql ocorsewlg l~tg hljls tgdlh dgtsjgq dledgfldg~hle jlkg setsh olql hgeg% Tgdlh ngql dgqlekhlj rc~gqtg{l olql jlorls wlek qsdlf nc~jljs tgdlh qcjs~sfewl dlrlt dghctlfsg% Flewl ldl qgql dl~g olql jlorls% Hcedltg rsedcoghgle* hcewltlle gts tgdlh oconslt i~lek qs~st setsh ocesjgq rc~gqtg{l olqljlorls% Tctlrg setsh lrl rc~gqtg{l olql jlorls dgtsjgq 9Dljlo nshs Qichl~ei*
 * Le Lstingik~lrfw lq tijd lq Agedw Ldloq
&<7=3' wlek tc~ngthctghl Qichl~ei nc~ldl dg rsealh hchslqlle* Qichl~ei ocewltlhle olhqsd dle rcekc~`lle lstingik~lmg lkl~ i~lek ngql ocorc~ijcf rcekc~tgle wlek jcngf nlgh tcetlekQichl~ei dle setsh ocorc~ijcf qgorltg% Hl~cel nshs tc~qcnst hctghl Qichl~ei nc~hslql* rl~l rcekc~gtghewl ocewltlhle nlf{l nshs wlek oceac~gtlhle Qichl~ei nc~lqlj dl~g hcts~sele hcjlq nc~hslql dle Qichl~ei rletlq nc~hslql% Qcnlklgolel wlekdgjlhshle ~l`l/~l`l @l{l wlek nc~hslql tcori dsjs* hctghl rs`lekkl gqtlel ocesjgq nlnld &qc`l~lf' setsh hcrcetgekle ~l`lewl%Hctghl Qichl~ei nc~ldl dglhfg~ hchslqlle* qcnslf hi~le olflqgq{l Nledsek
Olflqgq{l Gediecqgl *
ocekldlhle dc/Qichl~eigqlqg dcekle ocekksklt flh qc`l~lfQichl~ei lkl~ dlrlt ocogorge Gediecqgl%
 
Dcekle oceie`ijhle dg~gewl qcijlf/ijlf hcts~sele wlek qlf ~l`l/~l`l dg @l{ldle Nljg* Qichl~ei ocorc~ijcf dshsekle dle hcqctglle qcnlkgle ~lhwltGediecqgl wlek olqgf nc~ljlo rghg~le mcsdlj% Ijcf hl~cel gts tlh ocekfc~lehlersjl nlf{l Qichl~ei ocorc~tlflehle dle nlfhle ocorc~hconlekhle ghjgomcsdlj dg olelrse gl nc~ldl* nlgh dljlo hcfgdsrle gqtlelewl olsrse dljlo rcoc~getlfleewl* qc~tl qctgl rldl qctglr hcoseasjle dg dcrle ~lhwlt nlewlh% Gegqcekl`l dgolhqsdhle setsh ocongel hsjtsq gedg}gds dle ocorc~hslt hcdsdshleQichl~ei%
>
<
Esk~ifi Eitiqsqleti %
Qc`l~lf Dcog Olql Hgeg%
@lhl~tl 0 SG R~cqq* <7;7*flj% >%
>
M~leaigq ^lgjjie%
 Rijgtgh dle Gdcijikg% Olflqgq{l Gediecqgl % Rconcetshle dle Hieqijgdlqg I~dc Nl~s %
@lhl~tl 0 JR1CQ* <767* flj% <1=%[cn0 {{{%rctc~hlqcedl%{i~dr~cqq%aioColgj0 o~%hlqcedlBkolgj%aio
<
 
Rctc~ HlqcedlOces~st
Olflqgq{l Gediecqgl*
ldl qcdc~ctle ogtiq ocekcjgjgekg Qichl~ei8 tcetlek lqljsqsjewl* rc~leleewl qcnlklg Nlrlh Nlekql* dle jlge/jlge% Nc~tijlh dl~g lekklrle nlf{lhcewltlle dg~g dl~g Qichl~ei rldl sosoewl tc~qcjsnsekg ijcf qcdc~ctle mghqg
Olflqgq{l Gediecqgl
ocoledlek rc~js qsrlwl qcjs~sf flj sts dgleljgql dle dgtge`lsqcal~l jcngf `lsf% Ngjl rc~js olhl ogtiq/ogtiq wlek tcjlf dgagrtlhle ijcf Qichl~ei dlei~lek/i~lek dg qchgtl~ewl fl~sq dgnljghle dle dgkselhle setsh ocoshsj nljgh dleoc~iek~iek rcekl~sf wlek olqgf dgogjghg ltlq `g{l nlekql Gediecqgl%Qlongj oceksekhlrhle ogtiq/ogtiq wlek ocekcjgjgekg Qichl~ei*
Olflqgq{l Gediecqgl
 `skl ocolrl~hle qcnslf rit~ct dg~g R~cqgdce wlek ‚qcncel~ewl‚% Setsh ocjlhshle dc/Qichl~eigqlqg tgdlhjlf ashsr dcekle ocjlhshle dcogqtgmghlqg dl~g jckcedl/jckcedl wlekldl dg qchgtl~ Qichl~ei8 dgrc~jshle `skl sqlfl setsh ocecjle`lekg dg~g wlek qcncel~ewldl~g tihif wlek dgqc~lek gts% Ocjljsg rit~ct Qichl~ei wlek dgsekhlrhle jc{lt qc`sojlfl~tghcj* tc~jgflt ashsr nlewlh {l`lf Qichl~ei qcnlklg qci~lek wlek jcolf* jlonle* tg~le*tgdlh rsewl hl~lhtc~* rconifiek* ckigq dle nc~qgmlt ns~sh% Dgoltl olflqgq{l k~isrNledsek gts qgmlt wlek rljgek ns~sh Qichl~ei gljlf elmqs hi~srqgewl% Ldlrse elmqsqchqslj wlek nc~jcngfle* rcekkselle hchslqlle qcal~l qc{celek/{celek* rcewcjc{cekle tc~fldlr lklol* oc~srlhle flj/flj wlek rljgek qc~gek dgqc~lek rldl dg~gQichl~ei hl~cel qcosl gts nc~tcetlekle dcekle lfjlh wlek gekge dgrc~tlflehle ijcf
Olflqgq{l Gediecqgl
%Qcncel~ewl dljlo lstingik~lmgewl Qichl~ei dcekle nc~leg oceklhsg hcqljlfle/hcqljlfleewl qcedg~g* tlerl tc~hcasljg hcqljlfle wlek qleklt r~geqgr
Lhs nshle olesqgl wlek tgdlh ocorsewlg hcqljlfle …%%Nl~lekhljg qcjljshcqljlfle gljlf* nlf{l lhs qcjljs ocekc`l~ qslts agtl/agtl dle nshle rc~qiljle/ rc~qiljle wlek dgekge% Lhs tctlr oceainl setsh ocedsdshle hcldlle ltlsoceagrtlhle jlkg hcldlle/hcldlle * qcfgekkl gl dlrlt dgrlhlg qcnlklg `ljle setsh ocealrlg lrl wlek qcdlek dghc`l~ %Flqgjewl* qchljgrse lhs nc~sqlfl nckgts hc~lq nlkg ~lhwlths* lhs oce`ldg hi~nle dl~g qc~lekle/qc~lekle wlek `lflt%
1
Qctcjlf Qichl~ei {lmlt* rcoc~getlfle Qicfl~ti ocekldlhle dc/Qichl~eigqlqg dcekleoconltlqg dgqhsqg tcetlek Qichl~ei% Qcnslf jl~lekle ~cqog tlh ~cqog dgnc~jlhshletc~fldlr rsnjghlqg tsjgqle/tsjgqle Qichl~ei Elol r~cqgdce rc~tlol Gediecqgl `l~lekltls nlfhle tgdlh dgqcnst/qcnst qlol qchljg ijcf seqs~/seqs~ ~cpgo I~dc Nl~s% Ocqhgrsehcwlhgele nlf{l Rlealqgjl ldljlf mljqlmlf wlek dg~sosqhle ijcf Qichl~ei dcekleRlealqgjl florg~ qcoslewl dggekhl~g ijcf eckl~l I~dc Nl~s%Qcjlge gts* eckl~l I~dc Nl~s `skl ocongl~hle A%L% Dlhc* Gjos{le Rijgtgh dl~g M~cgcSeg}c~qgtllt Niee* ocorsnjghlqghle nshs hiet~i}c~qglj wlek nc~`sdsj
 Gediecqgl TfcQrg~gt im ^cd Nletcek 
wlek ocewgorsjhle nlf{l lhti~ stlol dgnljgh K/12/Q)<7=3ldljlf Qichl~ei* nshle RHG% Qctlfse hcosdgle Dlhc `skl ocorsnjghlqghle nshs
Tfc Dc}gisq Dljlek 0 Qichl~ei led Tfc Qi/Aljjcd Setsek Rstqaf 0 Cw
c{gtecqq ^cri~t nwNlonlek Q [gd`lel~hi wlek ocorc~hslt hcqgorsjle dljlo nshs rc~tlol tldg% Dl~g
1
Agedw Ldloq%
 Nsek Hl~ei Rcewlonsek Jgdlf ^lhwlt Gediecqgl%
@lhl~tl 0 KsesekLksek* <764* flj% 1%[cn0 {{{%rctc~hlqcedl%{i~dr~cqq%aioColgj0 o~%hlqcedlBkolgj%aio
>
 
Rctc~ Hlqcedl `sdsjewl ql`l tcjlf dlrlt dgdskl nlf{l dsl nshs geg r~i}ihltgm dle dcjckctgoltgm tc~fdlrQichl~ei% Rc~js dgkl~gqnl{lfg nlf{l rc~cdl~le nshs geg nl~s dgewltlhle tc~jl~lek tlfse<772* qctcjlf qcorlt nc~jlekqsek qcjlol <; tlfse%Qctcjlf Ocetc~g Rcec~lekle Ljg Oic~tiri oceksosohle ~cealel R~cqgdce Qicfl~tisetsh ocoskl~ hiorjchq olhlo Qichl~ei dg Njgtl~% Ocongal~lhle Qichl~ei tgdlh dgtlnshle jlkg* dle qgonij/qgonij Qichl~ei dgngl~hle oseasj dljlo ncnc~lrl ncetsh%Qsekksf oceaceklekhle nlf{l tgdlh hs~lek dl~g jgol rsjsf nshs tcetlek Qichl~eidgtc~ngthle dljlo `lekhl {lhts hs~lek dl~g qctlfse% Ocdgl olqql qgnsh dcekle jlri~ledle tsjgqle tcetlek Qichl~ei% Klonl~/klonl~ Qichl~ei dgactlh dljlo nc~nlklg ocdgso0 riqtc~* qtghc~* T/qfg~t* tirg* dle jlge/jlge* wlek dg`slj ncnlq dg qsdst qsdst `ljle* t~itil~ jlge/jlge%Agt~l Qichl~ei qcolhge oconlgh lhgnlt qghlr eckl~l I~dc Nl~s wlek qcolhge riqgtgm tc~fldlr Qichl~ei% Qghlr geg qleklt hiedsqgm nlkg jlfg~ewl {lalel tcetlek Qichl~eiwlek ocjgnlthle nlewlh hljlekle% Qcetgoce Qichl~eigqoc oc~chlt jlkg dg qcosl jlrgqleqiqglj* dle tc~`ldg chqhljlqg gdcljgqlqg tc~fldlr Qichl~ei dg hljlekle kcec~lqg osdl%Rc~hconlekle geg rldl kgjg~leewl ocogas hchfl{ltg~le qchljgksq hc{lqrldlle dghljlekle ~c`go I~dc Nl~s%
4
Hiet~i}c~qg dg qchgtl~ Qichl~ei
Rldl tlekklj <3 Qcrtconc~ <762* ^iqgfle Le{l~* qci~lek {l~tl{le qcegi~ dle rcekc~gtgh Qichl~ei dg c~l I~dc Jlol* ocosjlg hiet~i}c~qg tcetlek Qichl~ei dcekleocjleqg~ tsjgqleewl dg fl~gle
 Hiorlq%
Dcekle oconledgekhle klwl hcrcogorgeleQichl~ei dcekle Oif% Flttl* ^iqgfle Le{l~ ocekksklt hieqgqtceqg Qichl~ei qcnlklg rcogorge nlekql% Dcekle ocekstgr nshs @ife Gekjcqie wlek nc~`sdsj
 ^ild ti Cvgjc 0Tfc Gediecqgl Oi}cocet <7>; ‑ <714
& <7;7 '* ^iqgfle Le{l~ ocesjgq 0
Qcnslf rc~ncdlle jlge dljlo qghlr rijgtgh tc~fldlr rcoc~getlfle `l`lfle FgedglNcjledl % Flttl nc~qghlr tcksf * hieqgqtce dle hieqchsce % Qcnljghewl Qichl~ei*lfjg rgdlti wlek nc~kconi~/kconi~* jchlq nc~tchsh jstst* `ghl ocekfldlrghcldlle wlek qsjgt dle tgdlh ocewcelekhle nlkg dg~gewl %Dcoghgle dljlo hs~se {lhts qlts nsjle* hctghl Qichl~ei nc~ldl dljlo rce`l~lQshlogqhge dg Nledsek* gl ocesjgq corlt rsash qs~lt tc~tlekklj 12 Lksqtsq* ;*>< dle >6 Qcrtconc~ <711 hcrldl @lhql Lksek Fgedgl Ncjledl qsrlwl gldgncnlqhle dl~g tlflele rce`l~l% Qcnlklg kletgewl Qichl~ei nc~`le`g tgdlh lhlejlkg longj nlkgle dljlo qilj/qilj rijgtgh setsh olql fgdsr qcjle`stewl %
3
Qcjle`stewl dljlo tsjgqle hijioewl dg fl~gle wlek qlol* <4 Mcn~sl~g <76<* ^iqgfleLe{l~ ocecklqhle hconljg rcedg~gleewl wlek acedc~sek ocwlhgeg hcncel~le qs~lt/
4
Lksq Qsdgnwi%
Agt~l Nsek Hl~ei% Leljgqgq Nc~gtl Rc~q I~dc Nl~s%
Ngik~lrfRsnjgqfgek* <777* flj% <12 ‑ <1>%
3
F% ^iqgfle Le{l~*‟ Rc~ncdlle Leljgqgq Rijgtgh letl~l Qichl~ei dcekle Flttl*‟
 Hiorlq *
<3 Qcrtconc~ <762%[cn0 {{{%rctc~hlqcedl%{i~dr~cqq%aioColgj0 o~%hlqcedlBkolgj%aio
1

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->