Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
22Activity
P. 1
Dwifungsi ABRI

Dwifungsi ABRI

Ratings: (0)|Views: 1,584 |Likes:
Published by Peter Kasenda
Berbeda dengan pengalaman kabanyakan negara Dunia Ketiga yang militernya didirikan oleh penjajah dan kemudian diambil alih oleh pemerintah nasionalis sesudah negara itu merdeka, militer Indonesia dilahirkan oleh zaman revolusi untuk melawan penjajah. Demikian kata Harlod Crouch, sarjana Australia yang pernah mengajar di di Universitas Indonesia. Selanjutnya Nugroho Notosusanto, mantan Kepala Pusat Sejarah ABRI menjelaskan bahwa sebenarnya lebih 50 negara baru yang lahir sesudah akhir Perang Dunia II, hanya empat yang mencapai kemerdekaan dengan perjuangan bersenjata perang kemerdekaan atau revolusi. Latar belakang yang khas ini ternyata mempengaruhi persepsi, sikap dan tingkah laku politik militer Indonesia sesudah perang.

Kalau demikian, pertanyaan yang patut diajukan adalah, sejak kapan militer mulai berpolitik di Indonesia? Dan tindakan apa yang dilakukan di dalamnya sehingga menyebabkan militer Indonesia masuk dalam dunia politik ?

Masalah mulainya militer Indonesia berpolitik, ada yang mengatakan sejak awal kelahirannya 5 Oktober 1945 , peristiwa 3 Juli 1946 atau 17 Oktober 1952. Apapun alasan yang dikemukakan, pada kenyataannya militer Indonesia memperoleh legalitas fungsi sosial-politiknya sejak mauknya para kepala staf angkatan dan kepala kepolisian negara ke dalam Dewan Nasional, sebagai salah satu wujud Konsepsi Presiden 1957. Bahkan pada masa kabinet Djuanda ada yang merangkap sebagai menteri, seperti Kolonel Moh Nazir (Menteri Pelayaran), Kolonel Suprajogi (Menteri Urusan Stabilisasi Ekonomi ).

Sejak tahun 1957 posisi militer di pemerintahan meningkat sampai jabatan-jabatan non-militer, dimulai dengan ditempatkannya sejumlah anggota militer pada perusahan-perusahan Belanda yang telah dinasionalisasi, kemudian pada Badan Kerja Sama Sipil-Militer, yang nantinya merupakan basis Front Nasional Pembebasan Irian Barat. Pada bulan Juni 1960, ada 15 orang wakil Angkatan Darat, 7 wakil Angkatan Udara, dan 5 wakil Polisi, yang mewakili golongan fungsional dalam DPR Gotong Royong. Peranan militer dalam kehidupan bernegara dan berbangsa semakin meluas, setelah meletusnya Peristiwa G-30-S. Karenanya kaum militer mendapat hak istimewa DPR hasil pemilu 1971. Prosesnya bukan melalui pemilihan, melainkan diangkat berdasarkan konsensus nasional.

Peranan militer yang lebih menonjol oleh berbagai kalangan dianggap sebagai pelaksana dwifungsi ABRI. Dan tentunya mendapat sejumlah kritik. Sukmadji Indro Tjahyono, mahasiswa ITB, melalui pleiodinya ,” Indonesia Di Bawah Sepatu Lars,” secara gamblang menyatakan bahwa kebersengsekan atau kebobrokan yang terjadi di republik tercinta ini disebabkan oleh terlalu dominannya ABRI dalam pemerintahan Mohammad Rusli Karim mengemukakan bahwa salah satu sebab lumpuhnya partai politik ialah karena dominannya militer. Meski demikian ada pula yang melakukan pembelaan mengenai peran militer yang dominan. Buku Prajurit dan Pejuang, yang ditulis Nugroho Notosusanto, ASS Tambunan, Soebijono, dan Hidayat Mukmin, menjelaskan bahwa ABRI berperan sebagai dinamisator dan stabilisator. Terlepas dari pro dan kontra terhadap peranan militer yang menonjol itu, tetapi yang jelas dwifungsi ABRI konsitusional, sebab telah diatur dalam UU No 2 tahun 1982 tentang Ketentuan–ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara.

Berbeda dengan pengalaman kabanyakan negara Dunia Ketiga yang militernya didirikan oleh penjajah dan kemudian diambil alih oleh pemerintah nasionalis sesudah negara itu merdeka, militer Indonesia dilahirkan oleh zaman revolusi untuk melawan penjajah. Demikian kata Harlod Crouch, sarjana Australia yang pernah mengajar di di Universitas Indonesia. Selanjutnya Nugroho Notosusanto, mantan Kepala Pusat Sejarah ABRI menjelaskan bahwa sebenarnya lebih 50 negara baru yang lahir sesudah akhir Perang Dunia II, hanya empat yang mencapai kemerdekaan dengan perjuangan bersenjata perang kemerdekaan atau revolusi. Latar belakang yang khas ini ternyata mempengaruhi persepsi, sikap dan tingkah laku politik militer Indonesia sesudah perang.

Kalau demikian, pertanyaan yang patut diajukan adalah, sejak kapan militer mulai berpolitik di Indonesia? Dan tindakan apa yang dilakukan di dalamnya sehingga menyebabkan militer Indonesia masuk dalam dunia politik ?

Masalah mulainya militer Indonesia berpolitik, ada yang mengatakan sejak awal kelahirannya 5 Oktober 1945 , peristiwa 3 Juli 1946 atau 17 Oktober 1952. Apapun alasan yang dikemukakan, pada kenyataannya militer Indonesia memperoleh legalitas fungsi sosial-politiknya sejak mauknya para kepala staf angkatan dan kepala kepolisian negara ke dalam Dewan Nasional, sebagai salah satu wujud Konsepsi Presiden 1957. Bahkan pada masa kabinet Djuanda ada yang merangkap sebagai menteri, seperti Kolonel Moh Nazir (Menteri Pelayaran), Kolonel Suprajogi (Menteri Urusan Stabilisasi Ekonomi ).

Sejak tahun 1957 posisi militer di pemerintahan meningkat sampai jabatan-jabatan non-militer, dimulai dengan ditempatkannya sejumlah anggota militer pada perusahan-perusahan Belanda yang telah dinasionalisasi, kemudian pada Badan Kerja Sama Sipil-Militer, yang nantinya merupakan basis Front Nasional Pembebasan Irian Barat. Pada bulan Juni 1960, ada 15 orang wakil Angkatan Darat, 7 wakil Angkatan Udara, dan 5 wakil Polisi, yang mewakili golongan fungsional dalam DPR Gotong Royong. Peranan militer dalam kehidupan bernegara dan berbangsa semakin meluas, setelah meletusnya Peristiwa G-30-S. Karenanya kaum militer mendapat hak istimewa DPR hasil pemilu 1971. Prosesnya bukan melalui pemilihan, melainkan diangkat berdasarkan konsensus nasional.

Peranan militer yang lebih menonjol oleh berbagai kalangan dianggap sebagai pelaksana dwifungsi ABRI. Dan tentunya mendapat sejumlah kritik. Sukmadji Indro Tjahyono, mahasiswa ITB, melalui pleiodinya ,” Indonesia Di Bawah Sepatu Lars,” secara gamblang menyatakan bahwa kebersengsekan atau kebobrokan yang terjadi di republik tercinta ini disebabkan oleh terlalu dominannya ABRI dalam pemerintahan Mohammad Rusli Karim mengemukakan bahwa salah satu sebab lumpuhnya partai politik ialah karena dominannya militer. Meski demikian ada pula yang melakukan pembelaan mengenai peran militer yang dominan. Buku Prajurit dan Pejuang, yang ditulis Nugroho Notosusanto, ASS Tambunan, Soebijono, dan Hidayat Mukmin, menjelaskan bahwa ABRI berperan sebagai dinamisator dan stabilisator. Terlepas dari pro dan kontra terhadap peranan militer yang menonjol itu, tetapi yang jelas dwifungsi ABRI konsitusional, sebab telah diatur dalam UU No 2 tahun 1982 tentang Ketentuan–ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara.

More info:

Published by: Peter Kasenda on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/02/2014

 
^j}jt Fk|j`mk
Mricz`b|i KDTI mkekg ^jt|j~|i Jei}j Giei}jt
Djtdjmk mj`bk` ~j`bkekgk` fkdk`ykfk` `jbktk Mz`ik Fj}ibk yk`b giei}jt`yk mimitifk`aejh ~j`okokh mk` fjgzmik` mikgdie keih aejh ~jgjti`}kh `k|ia`kei| |j|zmkh `jbktk i}zgjtmjfk% giei}jt I`ma`j|ik miekhitfk` aejh kgk` tjsaez|i z`}zf gjekrk` ~j`okokh.Mjgifik` fk}k Hkteam Ltazlh% |ktok`k Kz|}tkeik yk`b ~jt`kh gj`bkokt mi mi Z`isjt|i}k|I`ma`j|ik.
;
 \jek`oz}`yk @zbtaha @a}a|z|k`}a% gk`}k` Fj~kek ^z|k} \joktkh KDTIgj`ojek|fk` dkhrk |jdj`kt`yk ejdih :> `jbktk dktz yk`b ekhit |j|zmkh kfhit ^jtk`bMz`ik II% hk`yk jg~k} yk`b gj`lk~ki fjgjtmjfkk` mj`bk` ~jtozk`bk` djt|j`ok}k ~jtk`bfjgjtmjfkk` k}kz tjsaez|i.
4
Ek}kt djekfk`b yk`b fhk| i`i }jt`yk}k gjg~j`bktzhi ~jt|j~|i% |ifk~ mk` }i`bfkh ekfz ~aei}if giei}jt I`ma`j|ik |j|zmkh ~jtk`b.Fkekz mjgifik`% ~jt}k`ykk` yk`b ~k}z} mikozfk` kmkekh% |jokf fk~k` giei}jt gzeki djt~aei}if mi I`ma`j|ik1 Mk` }i`mkfk` k~k yk`b miekfzfk` mi mkekg`yk |jhi`bbkgj`yjdkdfk` giei}jt I`ma`j|ik gk|zf mkekg mz`ik ~aei}if 1Gk|kekh gzeki`yk giei}jt I`ma`j|ik djt~aei}if% kmk yk`b gj`bk}kfk` |jokf krkefjekhitk``yk : Af}adjt ;9=:
<
%~jti|}irk < Ozei ;9=3
=
k}kz ;2 Af}adjt ;9:4.
:
K~k~z`kek|k` yk`b mifjgzfkfk`% ~kmk fj`yk}kk``yk giei}jt I`ma`j|ik gjg~jtaejh ejbkei}k|cz`b|i |a|ike'~aei}if`yk |jokf gkzf`yk ~ktk fj~kek |}kc k`bfk}k` mk` fj~kek fj~aei|ik``jbktk fj mkekg Mjrk` @k|ia`ke% |jdkbki |kekh |k}z rzozm Fa`|j~|i ^tj|imj` ;9:2.
3
Dkhfk` ~kmk gk|k fkdi`j} Mozk`mk kmk yk`b gjtk`bfk~ |jdkbki gj`}jti% |j~jt}iFaea`je Gah @kit (Gj`}jti ^jekyktk`)% Faea`je \z~tkoabi (Gj`}jti Ztz|k` \}kdiei|k|iJfa`agi ).
2
\jokf }khz` ;9:2 ~a|i|i giei}jt mi ~jgjti`}khk` gj`i`bfk} |kg~ki okdk}k`'okdk}k` `a`'giei}jt% migzeki mj`bk` mi}jg~k}fk``yk |jozgekh k`bba}k giei}jt ~kmk ~jtz|khk`' ~jtz|khk` Djek`mk yk`b }jekh mi`k|ia`kei|k|i% fjgzmik` ~kmk Dkmk` Fjtok \kgk \i~ie'Giei}jt% yk`b `k`}i`yk gjtz~kfk` dk|i| Cta`} @k|ia`ke ^jgdjdk|k` Itik` Dktk}. ^kmk dzek` Oz`i ;93>% kmk ;: atk`b rkfie K`bfk}k` Mktk}% 2 rkfie K`bfk}k` Zmktk% mk` :
;
 
Hkteam Ltazlh%‗ Fkzg Giei}jt Gk|kekh ^jtbk`}ik` Bj`jtk|i %‗
 ^ti|gk
% ]khz` SIII% @a4% Cjdtzkti ;98>% heg. ;: “ 4<.
4
 
 @zbtaha @a}a|z|k`}a%‗ K`bfk}k` Djt|j`ok}k mkekg ^jtlk}ztk` ^aei}if mi I`ma`j|ik %‗ 
 ^ti|gk
% ]khz` SIII% @a. 8% Kbz}z| ;928% heg.
<
 
Idim.
=
 
\imj| \zmktyk`}a (jm) .
]i`bfkh Ekfz ^aei}if ^k`beigk Dj|kt \ajmitgk` .
Okfkt}k ? ^]Fktyk Z`i~jt|% ;98<.
:
 
Kti| \k`}a|a%‗ ^jtk`k` ;2 Af}adjt ;9:4 ? Krke Mricz`b|i KDTI %‗
Gjmik I`ma`j|ik% 
;2 Af}adjt ;9:4 .
 
3
 
 @zbtaha @a}a|z|k`}a (jm) %
 ^jozk`b mk` ^tkozti} .
Okfkt}k ? \i`kt Hktk~k` % ;98=% heg.2: “ 28.
2
 
Mj~kt}jgj` ^j`jtk`bk` .
\z|z`k` Fkdi`j} Tj~zdeif I`ma`j|ik ;9=: “ ;92> .
Okfkt}k ?^tkm`ok ^ktkgi}k % ;92>.Rjd? rrr.~j}jtfk|j`mk.ratm~tj||.lagJgkie? gt.fk|j`mkNbgkie.lag;
 
^j}jt Fk|j`mkrkfie ^aei|i% yk`b gjrkfiei baea`bk` cz`b|ia`ke mkekg M^T Ba}a`b Taya`b.
8
^jtk`k`giei}jt mkekg fjhimz~k` djt`jbktk mk` djtdk`b|k |jgkfi` gjezk|% |j}jekh gjej}z|`yk^jti|}irk B'<>'\. Fktj`k`yk fkzg giei}jt gj`mk~k} hkf i|}igjrk M^T hk|ie ~jgiez;92;. ^ta|j|`yk dzfk` gjekezi ~jgieihk`% gjeki`fk` mik`bfk} djtmk|ktfk` fa`|j`|z|`k|ia`ke.
9
 ^jtk`k` giei}jt yk`b ejdih gj`a`oae aejh djtdkbki fkek`bk` mik`bbk~ |jdkbki ~jekf|k`kmricz`b|i KDTI. Mk` }j`}z`yk gj`mk~k} |jozgekh fti}if. \zfgkmoi I`mta ]okhya`a%gkhk|i|rk I]D% gjekezi ~ejiami`yk %‗ I`ma`j|ik Mi Dkrkh \j~k}z Ekt|%‗
|jlktkbkgdek`b gj`yk}kfk` dkhrk fjdjt|j`b|jfk` k}kz fjdadtafk` yk`b }jtokmi mi tj~zdeif }jtli`}k i`i mi|jdkdfk` aejh }jtekez magi`k``yk KDTI mkekg ~jgjti`}khk` GahkggkmTz|ei Fktig gj`bjgzfkfk` dkhrk |kekh |k}z |jdkd ezg~zh`yk ~kt}ki ~aei}if ikekhfktj`k magi`k``yk giei}jt.
 Gj|fi mjgifik` kmk ~zek yk`b gjekfzfk` ~jgdjekk`gj`bj`ki ~jtk` giei}jt yk`b magi`k`. Dzfz
 ^tkozti} mk` ^jozk`b 
% yk`b mi}zei| @zbtaha @a}a|z|k`}a% K\\ ]kgdz`k`% \ajdioa`a% mk` Himkyk} Gzfgi`% gj`ojek|fk` dkhrkKDTI djt~jtk` |jdkbki mi`kgi|k}at mk` |}kdiei|k}at.
]jtej~k| mkti ~ta mk` fa`}tk}jthkmk~ ~jtk`k` giei}jt yk`b gj`a`oae i}z% }j}k~i yk`b ojek| mricz`b|i KDTIfa`|i}z|ia`ke% |jdkd }jekh mik}zt mkekg ZZ @a 4 }khz` ;984 }j`}k`b Fj}j`}zk`“ fj}j`}zk` ^afaf ^jt}khk`k` Fjkgk`k` @jbktk. 
Rkekz |kk} i`i ~jtk` giei}jt yk`b magi`k` gzeki djtfztk`b midk`mi`bfk` ~kmk krkeAtmj Dktz%
}j}k~i djtdkbki fti}if }j}z| djtek`b|z`b% |jhi`bbk |jozgekh ~jokdk} giei}jt k`bfk} dilktk. Gj`hk`fkg ED Gajtmk`i mkekg |ktk|jhk` ykyk|k` ^jgdjek ]k`kh Kit (Yk~j}k) gj`bkfzi dkhrk djtdkbki dj`}zf |i`mitk`% }zmzhk` gkz~z` ljtlkk` yk`bmiktkhfk` ~kmk mricz`b|i KDTI% yk`b mibkgdktfk` |jdkbki ~j`bhkgdk} k}kz dkhfk` ~j`bifktk` }jthkmk~ mjgaftk|i% hkf kk|i gk`z|ik miii`okf'i`okf% tkfyk} fjek~ktk`%}jt}i`mk| mk` mricz`b|i KDTI mi}zmzh |jdkbki fjmaf fjdjtek`b|z`bk` giei}jti|gjI`ma`j|ik. Fktj`k`yk ED Gajtmk`i gj`k`mk|fk` ―}zmzhk` |jgklkg i}z ~jtez miokrkdmkekg ~j`zei|k` |joktkh
 Gj`ztz} ^k`beigk KDTI% Oj`mtke ]@I ]ty \z}ti|`a% jf|i|}j`|i mricz`b|i KDTI kmkekhfa`|i}z|ia`ke% mk` aejh fktj`k i}z |ifk~ tkbz'tkbz }jthkmk~ ~a|i|i mk` ~jt`k` KDTImkekg gj`yjej`bbktkfk` mri}z`bbke`yk mimkekg ~jtozk`bk` dk`b|k |jdj`kt`yk }imkf  ~jtez mk` ~jtez |jbjtk mieztz|fk` Gj`bz}i~ ~k|ke 48 kyk} 4 ZZ @a. 4>!;984% ]ty
8
 
Ykhyk K Gzhkigi` .
 ^jtfjgdk`bk` Giei}jt mkekg ^aei}if ;9=: “ ;933 .
Yabykfkt}k ?Bkmokh Gkmk Z`isjt|i}y ^tj||% ;984 % heg. ;>3 “ ;43.
9
 
 @zbtaha @a}a|z|k`}a%
]jtlk~ki`yk Fa`|j`|z| @k|ia`ke ;933 “ ;939 .
Okfkt}k ? ^@Dkeki ^z|}kfk % ;98:.
;>
 
\zfgkmoi I`mta ]okhya`a%.
 I`ma`j|ik Midkrkh \j~k}z Ekt| .
Dk`mz`b ? Fagi}j^jgdjekk` Gkhk|i|rk MG'I]D % ;929.
;;
 
Gzhkggkm Tz|ei Fktig .
 ^jtk`k` KDTI mkekg ^aei}if.
Okfkt}k? Ykyk|k` Imkyz %%;98;.
;4
 
 @zbtaha @a}a|z|k`}a%
 ^jozk`b ^tkozti} %
A~.Li}.% heg ;2: “ ;22 .
;<
 
Idim% heg. 44> “ 44<.
;=
 
 ^aei}jfk
% @a 3 ]khz` IS% ;988.
;:
 
 Fag~k|
% 49 Kbz|}z| ;99;.Rjd? rrr.~j}jtfk|j`mk.ratm~tj||.lagJgkie? gt.fk|j`mkNbgkie.lag4
 
^j}jt Fk|j`mk\z}i|`a gj`yk}kfk` ojek| |jfkei dkhrk cz`b|i |a|~ae KDTI oz|}tz i`bi` gj`ljbkh}igdze`yk mif}kf}ati|gj.
Fktj`k mricz`b|i KDTI djezg migj`bjt}i dj}ze aejh gk|yktkfk}. ^k`beigk KDTIgj`ojek|fk` kfk` ~jtez`yk gjgk|yktkfk}`yk mricz`b|i KDTI% }jtz}kgk cz`b|i |a|ike ~aei}if fj mkekg }zdzh KDTI% mj`bk` gkf|zm z`}zf gj`ljbkh gz`lze`yk fjtkbz'tkbzk`yk`b mk~k} gj`bztk`bi fjykfi`k`'fjykfi`k` |ifk~ ~tkozti} KDTI kfk` fjdj`ktk` mk`gk`ckk}`yk. Mi|jdkdfk` ~jtk`k` KDTI mkekg fjhimz~k` djtdk`b|k mk` djt`jbktkgjekezi mri'cz`b|i`yk }jekh mifzfzhfk` |jlktk fa`|i}z|ia`ke }jekh mifzfzhfk` |jlktkfa`|i}z|ia`ke% gkfk hke }jt|jdz} ~jtez mihkyk}i dj`kt'dj`kt%
^k`bmkg Mi~a`abata% Gkyoj` ]@I Hktiy~}a ^\% gj`ojek|fk` dkhrk mricz`b|i dzfk`ekh fjfklkzk` |jdkbkigk`k }jekh gzeki mifklkzfk` |kk} i`i. Mricz`b|i dzfk` ~zekz~kyk KDTI z`}zf gj`lkti mk` gj`jg~k}i okdk}k` mi ezkt |}tzf}zt |j}jekh fjfktykk`yk`b hk`yk }jtokmi diek gjgk`b migi`}k aejh ~j`bzk|k k}kz ~j`k`bbz`b okrkd mktii|`}k`|i yk`b djt|k`bfz}k` . Fjfktykk` mk` mricz`b|i fjmzk'mzk`yk gjgk`bgjtz~kfk` gk`icj|}k|i mkti ~j`bkdmik` \k~}k Gktbk% `kgz` mkekg kf}zkei|k|i yk`b djtdjmk. I`iekh yk`b hktz| }jtz|'gj`jtz| mihkyk}i mk` miekf|k`kfk`.
Gj`ztz} ^k`mkg Okyk% Gkyoj` ]@I F Hkt|j`a% fjfktykk` KDTI i}z hk`yk gjtz~kfk`|kekh |k}z k|~jf mkti mricz`b|i KDTI% yk`b k|~jf z}kgk`yk kmkekh oirk mk` |jgk`bk} ~j`bkdmik` KDTI |jdkbki fjfzk}k` |a|~ae% eki``yk gjgifze }k`bbz`b okrkd ~jtozk`bk` dk`b|k mkekg gj`zoz fjgjtmjfkk` mk` gjg~jtozk`bfk` dkbi |jeztzh tkfyk}I`ma`j|ik .
Fkekz mi~jthk}ifk` |jlktk |jf|kgk% ~jt`yk}kk` mi k}| gj`bk`mz`b gkf`k mricz`b|iKDTI djezg gjgk|yktkfk} dj`kt mk` gk|ih kmk`yk ~jgkhkgk` yk`b djtdjmk.]zei|k` i`i gj`ladk gjgk~ktfk` ~k`mk`bk` djdjtk~k jei}j giei}jt I`ma`j|ik mktik`bfk}k` ;9=: gjgk`b mricz`b|i KDTI% yk`b mirkfiei aejh Oj`m ]@I (^zt`) K.H. @k|z}ia`% Oj`m.]@I (^zt`) ].D \igk}z~k`b% Gkyoj` ]@I (^zt`) \kyimigk`\ztyahkmi~taoa% Oj`mtke ]@I (^zt`) \ajgi}ta mk` Gkyoj` ]@I (^zt`) Hk|`k` Hkdid.\kk} i`i% gjtjfk ejdih mifj`ke |jdkbki ~jgifit giei}jt I`ma`j|ik% dkif gjekezi }zei|k`yk`b migzk} mkekg gjmik gk||k gkz~z` dzfz.
K.H. @k|z}ia`
Ejrk} dzfz`yk%
 Fjfktykk` KDTI 
(;92;)% KH @k|z}ia` gj`bkfzi kmk`yk }zmzhk` yk`bgj`bk}kfk` gk|ih }jtmk~k} |jozgekh ~tkf}jf'~tkf}jf gj`yig~k`b mkti }zozk` fjfktykk`KDTI. Dkbi`yk% KDTI !]@I |jti`b mijf|j|fk` mk` mijojf |jdkbki mri~at|i% fktj`kmi|kekhbz`kfk` z`}zf fj~j`}i`bk` ~tikdmi!atk`b mk` baea`bk` k}kz feif`yk |j`miti.
;3
 
 ^jei}k%
2 Gji ;99;
;2
 
 Idim.
;8
 
 K`bfk}k` Djt|j`o}k%
4= K~tie ;99;
;9
 
A~.Li}.% 2 K~tie ;99;Rjd? rrr.~j}jtfk|j`mk.ratm~tj||.lagJgkie? gt.fk|j`mkNbgkie.lag<

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->