Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
3Activity
P. 1
Indonesia Raya

Indonesia Raya

Ratings: (0)|Views: 435 |Likes:
Published by Peter Kasenda
Lagu kebangsaan setiap negara tidak sekadar menjadi simbol kenegaraan akan tetapi dari waktu ke waktu mengusik emosi – merangsang semangat dan nafsu agresi, mengubar amarah, dan pada titik ekstrem yang lain mampu meneteskan air mata warganya dalam isak tangis. Dalam hal ini adegan cucuran air mata ketika para olahragawan menerima medali dalam iringan lantunan lagu kebangsaan atau pada awal pertandingan besar seperti bola sepak atau pertandingan internasional rugby adalah bergumpal-gumpalnya berbagai emosi dalam gabungan yang mengharukan. Air mata mengucur dari ujung tubuh tanpa peduli betapa pun tinggi, besar dan kekarnya sang atlet.

Sebegitu rupa lagu-lagu kebangsaan mengharu-biru emosi sehingga lagu kebangsaan Perancis, la Marseillaise, atau terjemahan Inggrisnya, sejak dikumandangkan pertama kali tahun 1795 tidak selalu mengalami nasib baik. Sejak diterima sebagai lagu kebangsaan, nasib lagu ini turun-naik dan timbul-tenggelam menurut rezim yang berkuasa dan hubungan emosionalnya terhadap lagu tersebut. Lagu ini dilarang oleh Napoleon dan beberapa rezim berikutnya sampai dikukuhkan kembali tahun 1879-84, hampir satu abad-sebagai lagu kebangsaan Perancis sampai hari ini.

Dengan sedikit mengakibatkan perbedaan, karena Jerman dan Perancis memuja tanah air sebagai “bapak”- “la patrie” dan “das Vaterland “ – dan orang Indonesia menganggapnya sebagai “ibu atau dewi“ dewi pertiwi“ atau “ibu pertiwi“ maka menyimak lagu ketiga bangsa itu dalam suatu perbandingan sangat merangsang pikiran. Di antara lagu-lagu kebangsaan sedunia, lagu Indonesia Raya paling dekat dari segi musikal dengan la Marseillais, Nyanyian Marseille, kalau tidak justru menimba inspirasi dari sana, dan bersama Deutchland-Lied, Madah Jerman, menyimpan semangat ideologis yang alot dan kental : persatuan, persaudaran, kebebasan, kemerdekaan, dan kewargaan. Ketika la Marseillaise memberikan perintah tempur dan perang dalam larik “aux arms citoyens, formez vous bataillons, marchomns“, “para warga panggullah senjata, bentukan pasukan, maju” suatu derap revolusi diumbar, dan penindasan ingin ditumbangkan. Lagu kebangsaan Jerman memuja tanah air dan lebih menjadi madah penuh keagungan tapi manis : “Deuchland, Deutchland uber alles, Uber alles in der Welt…Blub im Glanze dieses Gluckes, bluhe, deutsches Vaterland “ ,” Di dunia tak ada yang setara tanah Jerman …mekarlah dalam sinar kebahagian, kembanglah tanah tumpah darah Jerman.”

Nada imperatif la Marseilasse, dan mungkin juga secara tersembunyi nada imperial yang sangat kuat, terpantul dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya, dalam naa-nada musikal maupun lirik yang diungkapkan dalam larik-larik syairnya. Bila diperhatikan dengan teliti akan kelihatan suatu gerakan progresi menakjubkan yang dikemukakan penggubah lagu kebangsaan di atas yaitu dari “bangun, sadar dan maju“ dalam bangoenlah jiwanya…sadarlah hatinya…dan majoelah negrinya” dan semuanya hanya bermuara kepada satu tujuan, yaitu demi “Indonesia Raya” yaitu the Great Indonesia. Seberapa “raya” besarnya secara ekstensif ? Seberapa tinggi “kebangoenan badan”, seberapa dalam “kesadaran budi”, dan seberapa besar “kemadjoean Pandoenya“ disadari secara intensif? Ketika Wage Rudolf Supratman mengubah lagu itu besar kemungkinan ia sadar tentang dua versi atau tepatnya dua dimensi makna “Indonesia Raya“, yaitu yang intensif dan ekstensif, dan lagu Indonesia Raya memadukan dua-duanya. Namun, yang tersisa bagi generasi sekarang mungkin semata-mata makna intensif Indonesia Raya,, yaitu jiwa harus dibangunkan, hati harus disadarkan, demi kemajuan negeri dan pandunya adalah “Indonesia cilik“ abad 21 ini. Sedangkan Indonesia Raya dalam dimensi ekstensif, dalam arti secara geografis dan terutama geopolitik lebih luas dari Indonesia sekarang, sudah hilang tanpa bekas dari kenangan kolektif dan dengan demikian tidak lagi menjadi bagian dari diskursus politik sehari-hari. ( Daniel Dhakidae : 2008 , hlm. 59 – 60 )

Lagu kebangsaan setiap negara tidak sekadar menjadi simbol kenegaraan akan tetapi dari waktu ke waktu mengusik emosi – merangsang semangat dan nafsu agresi, mengubar amarah, dan pada titik ekstrem yang lain mampu meneteskan air mata warganya dalam isak tangis. Dalam hal ini adegan cucuran air mata ketika para olahragawan menerima medali dalam iringan lantunan lagu kebangsaan atau pada awal pertandingan besar seperti bola sepak atau pertandingan internasional rugby adalah bergumpal-gumpalnya berbagai emosi dalam gabungan yang mengharukan. Air mata mengucur dari ujung tubuh tanpa peduli betapa pun tinggi, besar dan kekarnya sang atlet.

Sebegitu rupa lagu-lagu kebangsaan mengharu-biru emosi sehingga lagu kebangsaan Perancis, la Marseillaise, atau terjemahan Inggrisnya, sejak dikumandangkan pertama kali tahun 1795 tidak selalu mengalami nasib baik. Sejak diterima sebagai lagu kebangsaan, nasib lagu ini turun-naik dan timbul-tenggelam menurut rezim yang berkuasa dan hubungan emosionalnya terhadap lagu tersebut. Lagu ini dilarang oleh Napoleon dan beberapa rezim berikutnya sampai dikukuhkan kembali tahun 1879-84, hampir satu abad-sebagai lagu kebangsaan Perancis sampai hari ini.

Dengan sedikit mengakibatkan perbedaan, karena Jerman dan Perancis memuja tanah air sebagai “bapak”- “la patrie” dan “das Vaterland “ – dan orang Indonesia menganggapnya sebagai “ibu atau dewi“ dewi pertiwi“ atau “ibu pertiwi“ maka menyimak lagu ketiga bangsa itu dalam suatu perbandingan sangat merangsang pikiran. Di antara lagu-lagu kebangsaan sedunia, lagu Indonesia Raya paling dekat dari segi musikal dengan la Marseillais, Nyanyian Marseille, kalau tidak justru menimba inspirasi dari sana, dan bersama Deutchland-Lied, Madah Jerman, menyimpan semangat ideologis yang alot dan kental : persatuan, persaudaran, kebebasan, kemerdekaan, dan kewargaan. Ketika la Marseillaise memberikan perintah tempur dan perang dalam larik “aux arms citoyens, formez vous bataillons, marchomns“, “para warga panggullah senjata, bentukan pasukan, maju” suatu derap revolusi diumbar, dan penindasan ingin ditumbangkan. Lagu kebangsaan Jerman memuja tanah air dan lebih menjadi madah penuh keagungan tapi manis : “Deuchland, Deutchland uber alles, Uber alles in der Welt…Blub im Glanze dieses Gluckes, bluhe, deutsches Vaterland “ ,” Di dunia tak ada yang setara tanah Jerman …mekarlah dalam sinar kebahagian, kembanglah tanah tumpah darah Jerman.”

Nada imperatif la Marseilasse, dan mungkin juga secara tersembunyi nada imperial yang sangat kuat, terpantul dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya, dalam naa-nada musikal maupun lirik yang diungkapkan dalam larik-larik syairnya. Bila diperhatikan dengan teliti akan kelihatan suatu gerakan progresi menakjubkan yang dikemukakan penggubah lagu kebangsaan di atas yaitu dari “bangun, sadar dan maju“ dalam bangoenlah jiwanya…sadarlah hatinya…dan majoelah negrinya” dan semuanya hanya bermuara kepada satu tujuan, yaitu demi “Indonesia Raya” yaitu the Great Indonesia. Seberapa “raya” besarnya secara ekstensif ? Seberapa tinggi “kebangoenan badan”, seberapa dalam “kesadaran budi”, dan seberapa besar “kemadjoean Pandoenya“ disadari secara intensif? Ketika Wage Rudolf Supratman mengubah lagu itu besar kemungkinan ia sadar tentang dua versi atau tepatnya dua dimensi makna “Indonesia Raya“, yaitu yang intensif dan ekstensif, dan lagu Indonesia Raya memadukan dua-duanya. Namun, yang tersisa bagi generasi sekarang mungkin semata-mata makna intensif Indonesia Raya,, yaitu jiwa harus dibangunkan, hati harus disadarkan, demi kemajuan negeri dan pandunya adalah “Indonesia cilik“ abad 21 ini. Sedangkan Indonesia Raya dalam dimensi ekstensif, dalam arti secara geografis dan terutama geopolitik lebih luas dari Indonesia sekarang, sudah hilang tanpa bekas dari kenangan kolektif dan dengan demikian tidak lagi menjadi bagian dari diskursus politik sehari-hari. ( Daniel Dhakidae : 2008 , hlm. 59 – 60 )

More info:

Published by: Peter Kasenda on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/02/2014

 
Xiwi} Blui`gl
F`gc`iufl ]lvl
 
‛Uylwy fwfblg+ uylwy bif`uvldl` }lbvlw mlo~l }lbvlw fwy lglklo ulwy ml`nul‑
/Ucibl}`c&Klny biml`null` uiwflx `inl}l wfglb uiblgl} ai`jlgf ufamck bi`inl}ll` lbl` wiwlxf gl}f~lbwy bi ~lbwy ai`nyufb iacuf ― ai}l`nul`n uial`nlw gl` `lduy ln}iuf+ ai`nyml} lal}lo+ gl` xlgl wfwfb ibuw}ia vl`n klf` alaxy ai`iwiubl` lf} alwl ~l}nl`vl glklafulb wl`nfu. Glkla olk f`f lginl` eyey}l` lf} alwl biwfbl xl}l cklo}lnl~l` ai`i}falaiglkf glkla f}f`nl` kl`wy`l` klny biml`null` lwly xlgl l~lk xi}wl`gf`nl` miul} uixi}wf mckl uixlb lwly xi}wl`gf`nl` f`wi}`lufc`lk }ynmv lglklo mi}nyaxlk!nyaxlk`vl mi}mlnlf iacuf glkla nlmy`nl` vl`n ai`nol}ybl`. Lf} alwl ai`nyey} gl}f yjy`n wymyowl`xl xigykf miwlxl xy` wf`nnf+ miul} gl` bibl}`vl ul`n lwkiw.Uiminfwy }yxl klny!klny biml`null` ai`nol}y!mf}y iacuf uiof`nnl klny biml`null`Xi}l`efu+
kl Al}uifkklfui+
lwly wi}jialol` F`nn}fu`vl+ uijlb gfbyal`gl`nbl` xi}wlalblkf wloy` <>69 wfglb uiklky ai`nlklaf `lufm mlfb. Uijlb gfwi}fal uimlnlf klnybiml`null`+ `lufm klny f`f wy}y`!`lfb gl` wfamyk!wi`nnikla ai`y}yw }izfa vl`n mi}bylul gl` oymy`nl` iacufc`lk`vl wi}olglx klny wi}uimyw. Klny f`f gfkl}l`n ckio @lxckic` gl` mimi}lxl }izfa mi}fbyw`vl ulaxlf gfbybyobl` biamlkf wloy` <?>6!?7+olaxf} ulwy lmlg!uimlnlf klny biml`null` Xi}l`efu ulaxlf ol}f f`f.Gi`nl` uigfbfw ai`nlbfmlwbl` xi}migll`+ bl}i`l Ji}al` gl` Xi}l`efu aiayjl wl`lo lf} uimlnlf ‛mlxlb‑!
kl xlw}fi
gl`
glu Tlwi}kl`g
 ― gl` c}l`n F`gc`iuflai`nl`nnlx`vl uimlnlf ‛fmy lwly gi~f‛ gi~f xi}wf~f‛ lwly ‛fmy xi}wf~f‛ alblai`vfalb klny biwfnl ml`nul fwy glkla uylwy xi}ml`gf`nl` ul`nlw ai}l`nul`n xfbf}l`.Gf l`wl}l klny!klny biml`null` uigy`fl+ klny
 F`gc`iufl ]lvl
 xlkf`n giblw gl}f uinfayufblk gi`nl`
kl Al}uifkklfu+ @vl`vfl` Al}uifkki+
blkly wfglb jyuw}y ai`faml f`uxf}lufgl}f ul`l+ gl` mi}ulal
 Giyweokl`g!Kfig 
+ Alglo Ji}al`+ ai`vfaxl` uial`nlwfgickcnfu vl`n lkcw gl` bi`wlk : xi}ulwyl`+ xi}ulygl}l`+ bimimlul`+ biai}gibll`+ gl`bi~l}nll`. Biwfbl
kl Al}uifkklfui
aiami}fbl` xi}f`wlo wiaxy} gl` xi}l`n glkla kl}fb 
ly l}au efwcvi`u+ dc}aiz tcyu mlwlfkkc`u+ al}eoca`u‛+
 xl}l ~l}nl xl`nnykkloui`jlwl+ mi`wybl` xluybl`+ aljy‑ uylwy gi}lx }itckyuf gfyaml}+ gl` xi`f`glul` f`nf`gfwyaml`nbl`. Klny biml`null` Ji}al` aiayjl wl`lo lf} gl` kimfo ai`jlgf alglo xi`yo bilny`nl` wlxf al`fu : ‛
 Giyeokl`g+ Giyweokl`g ymi} lkkiu+ Ymi} lkkiu f` gi} ^ikw․Mkym fa Nkl`zi gfiuiu Nkyebiu+ mkyoi+ giywueoiu Tlwi}kl`g 
‛ +‑ Gf gy`fl wlb lglvl`n uiwl}l wl`lo Ji}al` ․aibl}klo glkla uf`l} bimlolnfl`+ biaml`nklo wl`lo wyaxlogl}lo Ji}al`.‑ @lgl faxi}lwfd 
kl Al}uifkluui+
gl` ay`nbf` jynl uiel}l wi}uiamy`vf `lgl faxi}flk vl`nul`nlw bylw+ wi}xl`wyk glkla klny biml`null`
 F`gc`iufl ]lvl
+ glkla `ll!`lgl ayufblkalyxy` kf}fb vl`n gfy`nblxbl` glkla kl}fb!kl}fb uvlf}`vl. Mfkl gfxi}olwfbl` gi`nl` wikfwf
^im: ~~~.xiwi}blui`gl.~c}gx}iuu.ecaIalfk: a}.blui`glHnalfk.eca
<
 
Xiwi} Blui`gllbl` bikfolwl` uylwy ni}lbl` x}cn}iuf ai`lbjymbl` vl`n gfbiayblbl` xi`nnymlo klnybiml`null` gf lwlu vlfwy gl}f ‛ml`ny`+ ulgl} gl` aljy‛ glkla ml`nci`klo jf~l`vl․ulgl}klo olwf`vl․gl` aljciklo `in}f`vl‑ gl` uiayl`vl ol`vl mi}ayl}l bixlgl ulwywyjyl`+ vlfwy giaf ‛F`gc`iufl ]lvl‑ vlfwy woi N}ilw F`gc`iufl. Uimi}lxl ‛}lvl‑ miul}`vluiel}l ibuwi`ufd 3 Uimi}lxl wf`nnf ‛biml`nci`l` mlgl`‑+ uimi}lxl glkla ‛biulgl}l` mygf‑+ gl` uimi}lxl miul} ‛bialgjcil` Xl`gci`vl‛ gfulgl}f uiel}l f`wi`ufd3 Biwfbl^lni ]ygckd Uyx}lwal` ai`nymlo klny fwy miul} biay`nbf`l` fl ulgl} wi`wl`n gylti}uf lwly wixlw`vl gyl gfai`uf alb`l ‛F`gc`iufl ]lvl‛+ vlfwy vl`n f`wi`ufd gl`ibuwi`ufd+ gl` klny F`gc`iufl ]lvl aialgybl` gyl!gyl`vl. @lay`+ vl`n wi}uful mlnfni`i}luf uibl}l`n ay`nbf` uialwl!alwl alb`l f`wi`ufd F`gc`iufl ]lvl++ vlfwy jf~l ol}yugfml`ny`bl`+ olwf ol}yu gfulgl}bl`+ giaf bialjyl` `ini}f gl` xl`gy`vl lglklo‛F`gc`iufl efkfb‛ lmlg =< f`f. Uigl`nbl`
 F`gc`iufl ]lvl
glkla gfai`uf ibuwi`ufd+ glklal}wf uiel}l nicn}ldfu gl` wi}ywlal nicxckfwfb kimfo kylu gl}f F`gc`iufl uibl}l`n+ uygloofkl`n wl`xl miblu gl}f bi`l`nl` bckibwfd gl` gi`nl` giafbfl` wfglb klnf ai`jlgf mlnfl`gl}f gfuby}uyu xckfwfb uiol}f!ol}f. / Gl`fik Golbfgli : =88? + oka. 96 ― 48 &Ullw biklof}l` Ucibl}`c gl` Acolaalg Olwwl gf gli}lo Uy}lmlvl gl` Af`l`nblmly+F`gc`iufl mikya ay`eyk uimlnlf biulwyl` xckfwfb. Gy`fl f`wi}`lufc`lk ai`nlbyf}l`nblfl` bixyklyl` vl`n wi}mi`wl`n gl}f Uyalw}l ulaxlf Xlxyl uimlnlf Of`gflMikl`gl. Uiwflx ml`nul lglklo olufk efxwll` glvl bolvlk. Fl aiaxi}ckio bibylwl``vlgl}f biulgl}l` xl}l ~l}nl`vl. Giafbfl` klal uimikya `inl}l F`gc`iufl vl`n ai}giblai`jlgf ulwy bi`vlwll` uiwiklo Xi}l`n Gy`fl bi!FF+ fgi wi`wl`n uylwy biulwyl` uialelafwy ol}yu wi}wl`la glkla olwf xl}l ~l}nl`vl. / Xiwi} El}iv : <6?4 + oka. ? &
@lal F`gc`iufl
Uimikya `lal F`gc`iufl gfefxwl+ wfglb lgl `lal x}fmyaf vl`n ai`nley xlglbiuiky}yol` bixyklyl` bfwl+ aiubfxy` biml`vlbl` xykly aluf`n!aluf`n aiaxy`vlf`lal ui`gf}f+ uixi}wf xykly Uyalw}l vl`n jynl gfbi`lk gi`nl` `lal L`glklu lwly XyklyXi}el+ xykly Jl~l+ xykly Blkfal`wl`+ xykly Uykl~iuf+ xykly Mlkf+ gl` uimlnlf`vl. XyklyF}fl` uimlnlf biuiky}yol` jynl mikya lgl `lal`vl. Glkla uijl}lo by`c+ wi}ywlal glklaalul bijlvll` bi}ljll` Aljlxlofw+ lgl gfny`lbl` `lal ‛@yul`wl}l+‑ lbl` wiwlxf `lal @yul`wl}l ai`nley xlgl uiblkfl` xykly gf bixyklyl` bfwl gf kyl} xykly Jl~l+ jlgf wfglb wi}aluyb xykly Jl~l ui`gf}f. / Ol}vl ^ Mleowfl} : =88= + oka. <9 &Xl}l xikl`ec`n gl` xijlmlw vl`n mybl` c}l`n Mikl`gl ai`vimyw bixyklyl` bfwl fwy+l`wl}l klf`+‑Woi Iluwi}` Uilu /Klywl` Wfay}&‑+‑ Woi Iluwi}` Fukl`gu /Bixyklyl`Wfay}& :+ ‛F`gfl` L}eofxiklnc /Bixyklyl` Of`gfl&‑. Mikl`gl wi}blgl`n ai`nny`lbl`fuwfklo!fuwfklo uixi}wf ‛Of`gfl‛+‑Of`gfl Wfay}‑+ gli}lo jljlol` Of`gfl‑+ ‛lwly miklbl`nl` ‛F`uykf`gi /xykly!xykly Of`gfl&+‑ klky uiklnf oymy`nl` xckfwfb Mikl`glgi`nl` bixyklyl` fwy mi}biaml`n+‑ Of`gfl /Wfay}& Mikl`gl‑+ gl` Mikl`glaial`gl`n`vl uimlnlf mlnfl` ‛w}cxfueo @igi}kl`g /bl~lul` w}cxfu Mikl`gl&Blwl ‛F`gc`iuflxi}wlal blkf gfnlnlu xlgl <?98 glkla mi`wyb ‛F`gc!`iufl`ckio xikl`ec`n gl` xi`nlalw ucuflk lulk F`nn}fu+ Nic}ni Ulayik ^f`guc} Il}k. Il}k biwfbl fwy
^im: ~~~.xiwi}blui`gl.~c}gx}iuu.ecaIalfk: a}.blui`glHnalfk.eca
=
 
Xiwi} Blui`gluigl`n ai`el}f fuwfklo iw`cn}ldfu y`wyb aijlml}bl` ‛elml`n }lu Xckf`iufl vl`n ai`noy`fBixyklyl` Of`gfl‑ lwly ‛ }lu!}lu mi}bykfw ecbiklw gf bixyklyl` Of`gfl‑. @lay`+ uiwikloai`efxwlbl` fuwfklo ml}y fwy+ I}lk kl`nuy`n aiamyl`n`vl ― bl}i`l wi}klky ‛yaya‑ ― gl`ai`nnl`wfbl``vl gi`nl` fuwfklo vl`n gfl l`nnlx kimfo boyuyu ‛ Aiklvy`iuflu.‑Uic}l`n bckinl Il}k+ Jlaiu Kcnl`+ wl`xl ai`nf`globl` bixywyul` Il}k+ aiaywyubl` mlo~l ‛F`gc`iufl`‑ uimi`l}`vl lglklo blwl vl`n kimfo wixlw gl` mi`l} y`wyb gfny`lbl`uimlnlf fuwfklo nicn}ldfu+ mybl` iw`cn}ldfu. Gi`nl` aiamiglbl` l`wl}l xi`nny`ll` blwlfwy uiel}l nicn}ldfu gl` iw`ckcnfu+ Kcnl` ai`jlgf c}l`n xi}wlal vl`n ai`nny`lbl``lal‛ F`gc`iufly`wyb ai`jlml}bl`+ ~lkly uiel}l kc`nnl}+ bl~lul` nicn}ldfubixyklyl` F`gc`iufl. Kcnl` kl`wlu wi}yu ai`nny`lbl` blwl ‛F`gc`iufl:‑ F`gc`iufl`‛+gl` ‛F`gc`iufl`u‛ glkla l}wf nicn}ldfu uiel}l }iklwfd mimlu+ wlxf wfglb ibukyufd /:F`gfl`L}eofxiklnc‛ ol}yu wiwlx gfxlblf‛&+ glkla wykful`!wykful` mi}fbyw`vl. Kcnl` mlobl`aiamlnf ‛F`gc`iufl‛ ai`jlgf iaxlw bl~lul` nicn}ldfu wi}xfulo+ aiami`wl`n gl}fUyalw}l ulaxlf Dc}acul /Wlf~l`&.Xi`nny`ll` ‛F`gc`iufl‛ ckio Kcnl` wfglb uini}l gffbywf c}l`n klf`. Ml}y xlgl <?>> I.W.Ol``v+ lokf l`w}cxckcnf lulk X}l`efu+ ai`nny`lbl` blwl ‛ F`gc`iufl‛ y`wyb ai`jlml}bl`bikcaxcb!bikcaxcb }lu x}luijl}lo gl` ‛x}l!Aiklvy‛ wi}wi`wy gf bixyklyl` F`gc`iufl.Xlgl <??8+ lokf l`w}cxckcnf M}fwl`fl L.O. Bil`i ai`nfbywf xi`nny`ll` Ol``v. Xlglwloy` vl`n ulal+ fuwfklo ‛F`gc`iufl‛ gi`nl` xi`ni}wfl` nicn}ldfu vl`n kimfo xlu+ai`nfbywf Kcnl`+ gfny`lbl` ckio lokf kf`nyufwfb M}fwl`fl+ @.M Gi``v+ gl` gyl wloy`uiuyglo`vl Uf} ^fkkfla Ig~l}g Al~ikk+ lgaf`uw}lwc} bckc`flk gl` lokf mlolul Aiklvygl}f M}fwl`fl+ ai`nfbywf x}lbwfb Gi``vu.Lgckd Mluwfl`+ lokf iw`cn}ldf wi}bi`lk gl}f Ji}al`+ vl`n wiklo ai`niwloyf xi`nny`ll`fuwfklo ‛F`gc`iufl‛ y`wyb xi}wlal blkf ckio Kcnl`+ ai`nny`lbl` fuwfklo wi}uimyw glklakfal jfkfg
 F`gc`iufi` c}gi} gfi F`uik` giu Aiklvyfueoi` L}eofxik 
bl}vl`vl+ vl`n wi}mfw xlgl <??7!67. Ai`nf`nlw eybyx wi}bi`lk`vl Mluwfl` gy`fl ei`gfbfl+ xi`nny`ll` fuwfklo‛F`gc`iufl‛ jlgf kimfo gfl`nnlx.Ay`nbf` bl}i`l wi}gc}c`n ckio xi`ny`ll` fuwfklo ‛F`gc`iufl‑ ckio Mluwfl`+ lokf iw`ckcnf m}fkfl` gl` al`wl` xijlmlw Of`gfl Mikl`gl N.L ^fkbi`+ vl`n xlgl Uixwiami} <??9ai`jlgf x}cdiuuc} gf Y`fti}ufwlu Kifgi`+ xlgl wloy` fwy jynl ai`nny`lbl` fuwfklo‛F`gc`iufl‑ ^fkbi`+ uic}l`n ei`gfbfl~l` yky`n+ ul`nlw ai`nol}nlf gl` lb}lm gi`nl`bl}vl Mluwfl` ― ^fkbi` ai`vimyw Mluwfl` ‛xl`ni}l` xl}l lokf iw`ckcnf‛ ― gl` jynl wloyai`ni`lf yxlvl Kcnl` uimikya`vl ^fkbi` ai`nny`lbl` fuwfklo ‛F`gc`iufl‑ glkla xi`ni}wfl` nicn}ldf /bixyklyl` ‛F`gc`iufl‛& gl` /kimfo jl}l`n& glkla xi`ni}wfl` myglvlvl`n kimfo kylu /c}l`n!c}l`n vl`n aiafkfbf biulall` mlolul gl` myglvl+ vl`n wi}uiml} gl}f Alglnlubl} gf ml}lw ulaxlf Wlf~l` gf ywl}l &. @lay`+ ^fkbi` kimfo uybl‛Bixyklyl` Of`gfl‛+ gl` ol`vl uiuiblkf ai`ny`lbl` blwl ‛F`gc`iufl‑. Aiubfxy`giafbfl` xlgl ~lbwy fwy ^fkbi` gfwiklgl`f bckinl!bckinl Mikl`gl`vl+ wi}aluyb lokfkf`nyfuwfb O. Bi}`+ gl` uiuyglo`vl ckio N.B. @fial``+ E.A. Xkivwi+ gl` klf`!klf`.Eo}fuwfl` U`cyeb Oy}n}c`vi+ lokf Fuklackcnf wi}biaybl+ ai`nny`lbl` fuwfklo‛F`gc`iufl+‑ ~lkly wfglb ui}f`n ― gfl kimfo ai`vyblf fuwfklo yaya
 F`kl`gi} 
/x}fmyaf&.
^im: ~~~.xiwi}blui`gl.~c}gx}iuu.ecaIalfk: a}.blui`glHnalfk.eca
5

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->