Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
8Activity
P. 1
Peristiwa 15 Januari 1974

Peristiwa 15 Januari 1974

Ratings: (0)|Views: 2,247|Likes:
Published by Peter Kasenda
Meningkatnya kekejaman dan kedestruktifan manusia telah menarik perhatian kaum ilmuwan untuk memajukan pertanyaan teoritis mengenai sifat dan penyebab agresi. Perhatian semacam itu tidaklah mengejutkan, yang mengejutkan adalah bahwa perhatian ini sebegitu terlambatnya, yakni semenjak Freud, yang merevisi teori terdahulunya yang berpusat di seputar dorongan seksual, merumuskan teori baru pada tahun 1920-an yang menyatakan bahwa hasrat untuk merusak sama kuatnya dengan hasrat untuk mencintai. Kendati begitu, khalayak ramai umum masih saja berpikir mengenai Freudianisme sebatas pembatasan libido sebagai hasrat utama manusia dengan hanya mencocokkan dirinya dengan insting pelestarian diri.

Situasi ini mulai berubah pada pertengahan 1930-an. Barangkali salah satu penyebabnya adalah tingkat kekejaman dan ketakutan akan perang yang yang telah melampui batas batas di seluruh dunia. Namun faktor pemicunya adalah diterbitkannya beberapa buku yang membahas agresi manusia terutama yang ditulis Konrad Lorenz (1966). Meski ditolak oleh banyak psikolog dan neurolog, buku yang berjudul On Agrgresiion ternyata laku keras dan memberi kesan yang mendalam di hati sebagian besar kalangan terdidik, yang banyak di antaranya menerima pendapat Lorenz sebagai jawaban atas permasalahannya yang mengemuka.

Tulisan sebelum (African Genesis, 1961) dan sesudah Konrad Lorenz (The Territorial Imperative, 1967; The Naked Ape, 1967; On Love and Hate,1972) pada dasarnya mengandung tesis yang sama perilaku agresif manusia yang diwujudkan dalam peperangan, kejahatan, perkelahian dan segala jenis perilaku destruktif dan sadistis ditimbulkan oleh insting bawaan yang telah terprogram secara filogenetik. Insting ini berupaya mencari penyaluran dan selalu menunggu kesempatan yang tepat untuk melampiaskannya.

Boleh jadi neoinstingtifisme Lorenz sedemikian berhasil bukan lantaran argumen-argumennya yang begitu kuat, melainkan karena masyarakat lebih mudah memahami argumen-argumen tersebut. Apalagi yang dapat diterima oleh pikiran masyarakat yang sedang ketakutan dan merasa tidak berdaya untuk mengubah kecenderungan destruktif, kalau bukan teori yang mengatakan bahwa kekejaman bersumber dari fitrah hewani manusia, dari desakan tak terkendali untuk melakukan agresi, dan bahwa hal yang terbaik yang dapat dilakukan, sebagaimana ditekankan oleh Lorenz, adalah memahami hukum evolusi yang telah memperkuat dorongan tersebut? Teori agresi bawaan ini dengan mudah menjadi ideologi yang membantu meredam ketakutan akan apa yang mungkin terjadi dan merasionalkan makna ketidakberdayaan.

Alasan-alasan lain yang menjadikan lebih disukainya jawaban sederhana mengenai teori instingtifistik ini ketimbang penelitian serius tentang sebab-musabab kedestruktifan. Penelitian seperti ini menuntut untuk berani mempertanyakan ideologi yang diyakini oleh masyarakat. Dalam hal ini yang dimaksud adalah keberanian menganalisis irrasionalitas dalam sistim sosial kita, dan dengan demikian, melanggar tabu yang tersembunyi di balik kata-kata bermoral, misalnya “pertahanan”, “Kehormatan”, dan “ Patriotisme”: Selain dari analisis yang mendalam mengenai sistim kemasyarakatan kita, tidak ada yang apa mengungkapkan penyebab meningkatnya kedestruktifan, atau yang dapat memberikan saran serta cara-cara untuk menguranginya, Teori instingtifistik berupaya membebaskan kita dari tugas berat membuat analisis semacam itu. Hal ini mengisyaratkan bahwa, sekalipun kita semua akan binasa, setidaknya kita dapat menerimanya dengan berbekal keyakinan bahwa “fitrah” kitalah yang memaksa kita menerima nasib ini, dan bahwa kita paham mengapa segala sesuatunya menjadi seperti ini ( Eric Fromm, 2000 : xv - xvii )
Meningkatnya kekejaman dan kedestruktifan manusia telah menarik perhatian kaum ilmuwan untuk memajukan pertanyaan teoritis mengenai sifat dan penyebab agresi. Perhatian semacam itu tidaklah mengejutkan, yang mengejutkan adalah bahwa perhatian ini sebegitu terlambatnya, yakni semenjak Freud, yang merevisi teori terdahulunya yang berpusat di seputar dorongan seksual, merumuskan teori baru pada tahun 1920-an yang menyatakan bahwa hasrat untuk merusak sama kuatnya dengan hasrat untuk mencintai. Kendati begitu, khalayak ramai umum masih saja berpikir mengenai Freudianisme sebatas pembatasan libido sebagai hasrat utama manusia dengan hanya mencocokkan dirinya dengan insting pelestarian diri.

Situasi ini mulai berubah pada pertengahan 1930-an. Barangkali salah satu penyebabnya adalah tingkat kekejaman dan ketakutan akan perang yang yang telah melampui batas batas di seluruh dunia. Namun faktor pemicunya adalah diterbitkannya beberapa buku yang membahas agresi manusia terutama yang ditulis Konrad Lorenz (1966). Meski ditolak oleh banyak psikolog dan neurolog, buku yang berjudul On Agrgresiion ternyata laku keras dan memberi kesan yang mendalam di hati sebagian besar kalangan terdidik, yang banyak di antaranya menerima pendapat Lorenz sebagai jawaban atas permasalahannya yang mengemuka.

Tulisan sebelum (African Genesis, 1961) dan sesudah Konrad Lorenz (The Territorial Imperative, 1967; The Naked Ape, 1967; On Love and Hate,1972) pada dasarnya mengandung tesis yang sama perilaku agresif manusia yang diwujudkan dalam peperangan, kejahatan, perkelahian dan segala jenis perilaku destruktif dan sadistis ditimbulkan oleh insting bawaan yang telah terprogram secara filogenetik. Insting ini berupaya mencari penyaluran dan selalu menunggu kesempatan yang tepat untuk melampiaskannya.

Boleh jadi neoinstingtifisme Lorenz sedemikian berhasil bukan lantaran argumen-argumennya yang begitu kuat, melainkan karena masyarakat lebih mudah memahami argumen-argumen tersebut. Apalagi yang dapat diterima oleh pikiran masyarakat yang sedang ketakutan dan merasa tidak berdaya untuk mengubah kecenderungan destruktif, kalau bukan teori yang mengatakan bahwa kekejaman bersumber dari fitrah hewani manusia, dari desakan tak terkendali untuk melakukan agresi, dan bahwa hal yang terbaik yang dapat dilakukan, sebagaimana ditekankan oleh Lorenz, adalah memahami hukum evolusi yang telah memperkuat dorongan tersebut? Teori agresi bawaan ini dengan mudah menjadi ideologi yang membantu meredam ketakutan akan apa yang mungkin terjadi dan merasionalkan makna ketidakberdayaan.

Alasan-alasan lain yang menjadikan lebih disukainya jawaban sederhana mengenai teori instingtifistik ini ketimbang penelitian serius tentang sebab-musabab kedestruktifan. Penelitian seperti ini menuntut untuk berani mempertanyakan ideologi yang diyakini oleh masyarakat. Dalam hal ini yang dimaksud adalah keberanian menganalisis irrasionalitas dalam sistim sosial kita, dan dengan demikian, melanggar tabu yang tersembunyi di balik kata-kata bermoral, misalnya “pertahanan”, “Kehormatan”, dan “ Patriotisme”: Selain dari analisis yang mendalam mengenai sistim kemasyarakatan kita, tidak ada yang apa mengungkapkan penyebab meningkatnya kedestruktifan, atau yang dapat memberikan saran serta cara-cara untuk menguranginya, Teori instingtifistik berupaya membebaskan kita dari tugas berat membuat analisis semacam itu. Hal ini mengisyaratkan bahwa, sekalipun kita semua akan binasa, setidaknya kita dapat menerimanya dengan berbekal keyakinan bahwa “fitrah” kitalah yang memaksa kita menerima nasib ini, dan bahwa kita paham mengapa segala sesuatunya menjadi seperti ini ( Eric Fromm, 2000 : xv - xvii )

More info:

Published by: Peter Kasenda on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/02/2014

 
Zgtgr A`sgnd`
Zgrestex` 07 K`nw`re 0584
Ir`nh cw`r k`nh`n mgnh`o`w a`mzws.
&
_igm`ntre Brikinghiri%
T`nhh`c 07 K`nw`re 0584# setw`se ag`m`n`n de K`a`rt` bgn`r-bgn`r a`o`w Bwnue sgn`z`nitim`tes bgrdgnt`m de bgbgr`z` bgc`f`n ait`. Zwcwf`n rebw m`nwse` c`re twnhh`nhc`nhh`nh mgno`re tgmz`t bgrcendwnh u`nh der`s` `m`n. _gmgnt`r` r`tws`n m`nwse`c`ennu` mgnhhwn`a`n agsgmz`t`n wntwa mgr`ef agwntwnh`n zreb`de dgnh`n mgnk`r`ftiai-tiai u`nh zir`a zir`nd` icgf sgrbw`n m`ss`. D`c`m diawmgn sgk`r`f tgro`t`tsgbgc`s kex` m`nwse` mgc`u`nh. 08 ir`nh cwa` bgr`t# r`tws`n ir`nh c`ennu` cwa` renh`n#887 ir`nh det`f`n# 6:8 mibec d`n 068 mitir deb`a`r# sgrt` 0<: aecihr`m gm`s r`eb.B`nhwn`n d`n hgdwnh derws`a b`fa`n deb`a`r. Hgdwnh Tiuit` @s`tr` Mitir# Zgrt`men`#Oio` Oic`# d`n r`tws`n zgrtiai`n de Zriuga _gngn `d`c`f bgbgr`z` ointif d`re 044hgdwnh `t`w b`nhwn`n u`nh f`nhws d`n zir`a zir`nd`.T`nhh`c tgrsgbwt detwces d`c`m sgk`r`f Endingse` sgb`h`e cgmb`r`n agc`bw u`nh m`sefdesgcemwte mestgre. D`re s`tw sese# `d` z`nd`nh`n b`fx` zgrsetex` etw `d`c`f b`he`n d`re zgrt`rwnh`n entgrn de tenha`t `t`s `nt`r` agcimzia Z`nhaiza`mteb Kgndr`c _igmetridgnh`n @sestgn Zreb`de Zrgsedgn &@szre% deb`x`f M`kugn @ce Migrtizi d`n _igdkiniFigrm`rdf`ne. Agdw` agcimzia –h`k`fu`nh sgd`nh bgrt`rwnh tgrsgbwt mgmeceae–zgc`ndwa-zgc`ndwa” de a`c`nh`n sezec# afwswsnu` m`f`sesx`. _igmetri sgnderemgc`awa`n –zgnhh`c`nh`n m`ss`” dgnh`n mgnd`t`nhe bgbgr`z` a`mzws de K`x` d`nmgmbgrea`n ogr`m`f zicetea agz`d` Zgrs`tw`n Zgc`k`r Endingse` &ZZE% de bgbgr`z`ngh`r`. A`mzws WE ted`a ded`t`nhe a`rgn`# sgzgrte dewnha`za`n icgf dr. F`rem`n _ergh`r#agtw` DM-WE tgrsgbwt de`nhh`z `ntganu` @ce Migrtizi. @ce Migrtizi kwh` mgc`awa`n zgnhh`c`nh`n b`ea mgc`cwe agcimzia entgcgatw`c a`mzws u`nh tgrh`bwnh d`c`magcimzia Izsws `t`wzwn nin-a`mzws u`nh bgrzws`t de T`n`f @b`nh EEE &Hgdwnh Ogntgr lir _tr`tgheo `nd Entgrn`tein`c _twdegs ‟ O_E_%. _gd`nha`n Drs. Mgd F`rem`n _ergh`r u`nh n`ea mgnk`de agtw` Dgx`n M`f`sesx` Wne|grset`s Endingse` &DM-WE%# `nt`r` c`en`t`s b`ntw`n agcimzia Izswsnu` @ce Migrtizi# mgr`s` derenu` endgzgndgn d`n ted`a  bgrzef`a agz`d` se`z` zwn. F`rem`n _ergh`r d`n B`d`n Agrk`s`m` Dgx`n M`f`sesx`sg-K`a`rt`# mgc`awa`n `ase sgndere wntwa mgnhgretea setw`se sise`c# gainime d`n zicetea s``t etw# d`n mgnd`z`ta`n mimgntwm u`nh b`ea s``t awnkwnh`n Zgrd`n` Mgntgre Kgz`nhA`awge T`n`a` ag K`a`rt` z`d` zgrtgnh`f`n K`nw`re etw.D`re sese c`en# zgrestex` 07 K`nw`re mgrwz`a`n zicetea tenha`t tenhhe de d`c`m zgmgrent`f`n u`nh c`ain ogretgr`nu` dem`ena`n bwa`n f`nu` icgf s`tw d`c`nh mgc`ena`n b`nu`a d`c`nh. _gb`he`n m`f`sesx`# afwswsnu` F`rem`n _ergh`r os# de`nhh`z bgrt`nhhwnhk`x`b d`c`m mgm`t`nha`n setw`se# mwc`e d`re zgmb`o``n –Zgtese 24Iatibgr&058?% de T`m`n M`a`m Z`fc`x`n A`ceb`t`. M`c`mAgzref`ten`n”mgnu`mbwt t`fwn b`rw 0584# bgrb`h`e r`z`t agbwc`t`n tga`d de a`mzws-a`mzws. Bicgf dea`t`a`n sgb`h`e zwno`anu` `d`c`f m`c`m ter`a`t`n t`nhh`c ?0
Xgb; xxx.zgtgra`sgnd`.xirdzrgss.oimGm`ec; mr.a`sgnd`Jhm`ec.oim
0
 
Zgtgr A`sgnd`Dgsgnbgr 058? u`nh bgrtgmz`t de f`c`m`n LA WE. F`der de s`n` cgbef d`re 0.7::m`f`sesx` d`re 08 zgrhwrw`n tenhhe de K`a`rt`# Bihir# B`ndwnh# Z`d`nh. Z`r` zgmbeo`r`u`nh t`mzec wmwmnu` mgnhgmwa`a`n agzref`ten`n n`sein`c d`n mgnec`e b`fx` str`tghe zgmb`nhwn`n tgc`f s`c`f `r`t sgrt` zgn`n`m`n mid`c `senh de`nhh`z ted`mgnhwntwnha`n agzgntenh`n n`sein`c. Agsgmw`nu` bgrzwno`a z`d` `zgc agbwc`t`n tga`dt`nhh`c 07 K`nw`re 0584 de a`mzws Wne|grset`s Tres`ate Hrihic# K`a`rt`. @zgc tgrsgbwtdem`aswda`n wntwa mgngnt`nh mid`c Kgz`nh# u`nh mimgntwmnu` dea`eta`n dgnh`nagd`t`nh`n Zgrd`n` Mgntgre Kgz`nh# A`awge T`n`a`.Z`d` f`re etwc`f# sgaet`r zwawc 00.:: z`d` s``t z`r` m`f`sesx` d`re bgrb`h`e wne|grset`sde K`a`rt` tgnh`f mgc`awa`n `zgc de f`c`m`n Wne|grset`s Tres`ate# Hrihic# sgagcimzia m`f`sesx` c`en ‟ u`nh dedwh` mgnd`z`ta`n k`nke-k`nke ensgntel m`tgre`c d`n k`b`t`n d`reagcimzia @ce Migrtizi ‟ bgrs`m` sgkwmc`f m`ss` `d`c`f mwc`e mgc`awa`n sgkwmc`f zgnhgrws`a`n de b`he`n ait` c`en% sgzgrte Z`s`r _gngn# F`rmine d`n Kc. Kw`nd`%. @rtenu`#sgbgcwm z`r` m`f`sesx` zwc`nh d`re Wne|grset`s Tres`ate# Hrihic# `ase zgrws`a`n tgrk`de#tgrwt`m` de d`gr`f F`rmine d`n Kc Dkw`nd`. @ase zgrws`a`n etwc`f u`nh agmwde`nmgnk`de zgnuwcwt agrwswf`n m`ss`c d`n deagn`c sgb`h`e zgrestex` M`c`zgt`a`Cem`bgc`s K`nw`re – & M`c`re %Cgbef d`re etw# z`r` m`f`sesx` mgnh`aw mgngmwa`n zwc` sgkwmc`f endea`se b`fx`agb`a`r`n-agb`a`r`n d`n zgnhgrws`a`n de bgrb`h`e tgmz`t de K`a`rt` etw dec`awa`n icgfsgagcimzia ianwm tgnt`r` bgrs`m` z`r` h`ce. F`rem`n _ergh`r d`n z`r` s`ase de d`c`m zgrsed`nh`nnu` mgmef`a bgrt`nhhwnhk`x`b `t`s sgh`c` agrwswf`n etw# a`rgn` mgrga`mgm`nh ted`a mgc`awa`nnu`# N`mwn dgmeae`n agcimzia F`rem`n _ergh`r u`nh de`nhh`z icgf Z`nhaiza`mtebKgndr`c TNE _igmetri d`n X`z`nhaiza`mteb C`as`m`n` _igdimi sgb`h`e zgnuwcwtsetw`se# d`n `afernu` mgnk`de a`mbenh fet`m d`re sgh`c` agrwswf`n etw. X`c`wzwndgmeae`n# erinesnu`# zgmgrent`f ted`a m`w mgnhgaszis endea`se `d`nu` agcimzia c`en#tgrm`swa agcimzia mecetgr# de d`c`m zgrsetex` tgrsgbwt. Ene d`z`t dem`acwme# a`rgn`@BRE u`nh mgr`s` mgmeceae zgr`n sgb`h`e st`beces`tir d`n den`mes`tir zgmb`nhwn`n#tgntwnu` ted`a enhen tgroirgnh x`k`fnu` `aeb`t tend`a`n ianwm-ianwm zgrxer` tenhhenu`u`nh bgrgbwt agaw`s``n.Mgsae sgdeaetnu` `d` cem` zgrxer` mecetgr u`nh det`f`n# zgnh`dec`n mgm`nh bgrwz`u`mgmbwatea`n b`fx` agcimzia sezec bgrt`nhhwnh k`x`b zgnwf `t`s zgrestex` tgrsgbwt.Ianwm-ianwm bga`s `nhhit` dw` z`rt`e tgrc`r`nh# Z`rt`e _ise`ces Endingse` &Z_E% d`nM`suwme# detwdwf sgb`h`e d`c`nh d`re zgrestex` M`c`re# sgd`nha`n F`rem`n _ergh`r  bgsgrt` agcimzianu` detwdwf sgb`h`e zgc`as`n` hgr`a`n. & @ntinu [ @beden gt `c # 0558 ;0<2 ‟ 0<<%
Agaw`t`n Mir`c
@x`c m`s` agzrgsedgn`n agdw` _igf`rti dex`rn`e icgf zgreidg zgrhwc`t`n zicetea d`c`mnghgre u`nh sgnhet sgrt` c`m`# bgrbgd` d`re u`nh zgrn`f e` `c`me sgc`m` m`s` st`tws pwi
Xgb; xxx.zgtgra`sgnd`.xirdzrgss.oimGm`ec; mr.a`sgnd`Jhm`ec.oim
2
 
Zgtgr A`sgnd` z`so` Hgr`a`n Teh`zwcwf _gztgmbgr bgrs`m` _iga`rni# m`wzwn m`s` u`nh cgbef renh`nu`nh mgmbw`tnu` bgrf`sec mgnhirh`neser strwatwr zicetea Endingse` sgo`r` mgnd`s`r.Oere af`s t`f`z ene# mgrwz`a`n t`f`z u`nh z`cenh mgngntwa`n# t`f`z u`nh swcet d`n bgrb`f`u` sgc`m` agaw`s``nnu` u`nh z`nk`nh ‟ `d`c`f tgrainsiced`senu` sgrt` z`cenhsgnhetnu` zgngr`z`n cihea` Irdg B`rw sgc`en bgrf`secnu` zgnuenhaer`n `t`s mgrga` u`nh bgrwz`u` mgn`nh`ne zicetea Endingse` dgnh`n o`r` bgrbgd`. N`mwn# _igf`rti ted`a mgnu`d`re b`fx` zgrtgmzwr`n tgrbgs`rnu` `d`c`f mgnhf`d`ze mgrga` u`nh zgrn`f eawtmgndwawnhnu` d`c`m zgrk`c`n`nnu` mgr`ef agaw`s``n. D`n mgm`nh# agtea` areses secef bgrh`nte mgndgr`# _igf`rti mgnwnkwaa`n r`s` fgr`n bgro`mzwr agm`r`f`n u`nh sgm`aenmgmwno`a d`n sea`z u`nh mgnga`n# mgnh`z` r`au`t sgrt` z`r` zgndwawnhnu` dwcw tgc`fmgmecef wntwa bgrb`cea mgnh`o`m# mgngnt`nh# b`fa`n mgnhfe`n`te# |ese Endingse`nu`.Zisese sgntr`c _igf`rti# kwh` tgrogrmen d`c`m zgcgmb`h``n d`n zgcgst`re`n h`u`nu`d`c`m bgraimwnea`se dgnh`n r`au`t. Aene# sgte`z zgrtgmw`n-zgrtgmw`n a`bengt `t`wlirwm-lirwm c`ennu`# `t`w sgswd`f zgmb`f`s`n dgnh`n mgntgre-mgntgre `t`w z`r` tiaifc`ennu` u`nh bgrawmzwc# renoe`n d`n m`tgre u`nh deb`f`s deb`hea`n icgf ir`nh u`nhde`k`a _igf`rti bgrbeo`r` ‟ `t`w kwrw beo`r` u`nh detwnkwa ‟ agz`d` a`c`nh`n mgde` u`nh bgragrwmwm`n mgnwnhhw. _igf`rti sgndere# mgsae sgrenh mwnowc de dgz`n wmwm#mgnk`de sgm`aen gnhh`n bgrf`d`z`n dgnh`n zgrs sgo`r` c`nhswnh. Zgn`mzec`n _igf`rtiu`nh sgm`aen bgrsel`t zreb`de etw bgragmb`nh sgk`c`n dgnh`n twmbwfnu`agted`asgn`nh`n zwbcea tgrf`d`z agbek`a`n sgrt` `r`f zgmgrent`f`nnu` afswsnu`tgnt`nh `rws en|gst`se `senh# tgrwt`m` d`re Kgz`nh# d`c`m m`nwl`atwr# mgrwhea`n zriszga  zgrgainime`n z`r` zgnhws`f` d`n zgagrk` sgtgmz`t. & Ribgrt Gdx`rd Gcsin# 2::7 ; ?65 %M`f`sesx` mgr`s` derenu` `d`c`f hicinh`n m`su`r`a`t u`nh mgmeceae
nibcgssg ibcehg
d`n mgnd`z`ta`n agsgmz`t`n u`nh z`cenh b`ea wntwa dwdwa de zgrhwrw`n tenhhe.afwswsnu` zgrhwrw`n tenhhe nghgre. Mgrga` sgaic`f d`re w`nh r`au`t# a`rgn` etw mgrga`f`rws mgmzgrkw`nha`n `m`n`t zgndgret``n r`au`t. D`s`r d`re zgrkw`nh`n mgrga` `d`c`fese u`nh tgra`ndwnh de d`c`m Wnd`nh-Wnd`nh D`s`r 0547 d`n Z`no`sec`.D`c`m mgc`nkwta`n zgr`n ziceteanu`# m`f`sesx` `ate|es irh`nes`se entr` wne|grset`smgmbgrea`n zgrf`te`n agz`d` agbek`as`n``n st`becet`s zicetea d`n zgmb`nhwn`n gainime bgsgrt` d`mz`anu` b`he agfedwz`n m`su`r`a`t-b`nhs`-ngh`r`. D`c`n `n`ces` zicetea gainime u`nh mwc`e mgnk`de midgc zgndga`t`n stwde agm`su`r`a`t`n m`s` etwm`f`sesx` mgmwc`e desawse tgnt`nh zgmb`nhwn`n gainime. C`cw mgrga` bgragsemzwc`ntgnt`nh agagcerw`n zgnhw`s` u`nh mgnhf`seca`n agbek`as`n``n gainime d`n zicetea sgb`h`e d`s`r zgragmb`nh`n gainime.Zgrt`m` a`cenu` cihea` deawrsws m`f`sesx` tgrsgbwt dedwawnh icgf l`at` tgnt`nhagm`kw`n gainime u`nh tgrk`de d`c`m ZGCET@ E# zgrses sgc`m` cem` t`fwn sgbgcwmZgrsetex` Cem`bgc`s K`nw`re 0584. Icgf a`rgn` zgmb`nhwn`n u`nh mgnhf`seca`nagted`a`dec`n etw mgrwz`a`n zridwa `afer d`re agbek`as`n``n zgmb`nhwn`n u`nhder`no`nh d`n dec`as`n`a`n icgf zgmgrent`f `t`s b`ntw`n zgrws`f``n bgs`r m`a`m`f`sesx` bgragsemzwc`n b`fx` zgmgrent`f mgrwz`a`n zgn`nhhwnhk`x`b wt`m` d`nen|gstir tgrm`swa u`nh `senh mgrwz`a`n zgn`nhhwnh k`x`b sgawndgr. Bgrtic`a d`re zgnh`c`m`n etw# m`f`sesx` bwa`n s`k` mgnhgretea zgnhw`s` u`nh mgnhgnd`cea`n
Xgb; xxx.zgtgra`sgnd`.xirdzrgss.oimGm`ec; mr.a`sgnd`Jhm`ec.oim
?

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Zura Haffiza liked this
Fher NanNda liked this
Bimbo Bimbi liked this
Bimbo Bimbi liked this
Bimbo Bimbi liked this
Win Ariga liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->