Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
52Activity
P. 1
Peristiwa PRRI Permesta

Peristiwa PRRI Permesta

Ratings: (0)|Views: 5,966 |Likes:
Published by Peter Kasenda
Dari serangkaian pergolakan daerah yang meletus dalam dekade 1950, Persitiwa PRRI/Permesta adalah paling serius dan terbesar, baik dalam skala waktunya, maupun pihak-pihak yang terlibat di dalamnya dan barangkali juga kebrutalan dan korban yang ditimbulkan Persitiwa PRRI/Permesta, sebagaimana yang ditunjukkan dalam studi terbaru mengenai masa-masa Pancaroba ini, tidak hanya melibatkan pelbagai kekuatan pada tatanan nasional (Presiden Soekarno, partai-partai politik, militer dan daerah lain) tetapi juga internasional (CIA) dan tentu saja kelompok masyarakat lokal itu sendiri, khususnya kelompok militernya dan kaum politisi beserta rakyatnya ( Mestika Zed, 1999 : 101)

Peristiwa PRRI/Permesta di Indonesia yang mula-mula menjadi berita menyolok pada bulan Desember 1956 dan memuncak dalam pemberontakan PRRI/Permesta dari tahun 1958-1961, adalah salah satu dari berbagai pertentangan yang saling berhubungan yang lahir dari kekecewaan terhadap demokrasi parlementer, dan yang mempercepat berakhirnya. Kekecewaan itu didasarkan atas suatu rasa ketidaksenangan yang luas terhadap struktur negara yang ada, yang secara luas dikritik sebagai birokratis, tidak efisien, dan korup. Harapan dan semangat yang dibangkitkan dalam revolusi 1945-1949 ternyata sukar dipertahankan begitu kemerdekaan diperoleh. Tak satu pun dari tujuh kabinet – yang berusia singkat – dari periode 1949-1957 yang kelihatan mampu menyelenggarakan kegiatan pemerintah, baik dalam menumbuhkan semangat maupun administrasi.

Kedua-duanya menjemukan atau tak berdaya guna. Tiadanya kesepakatan tentang nilai-nilai fundamental mempertajam pertentangan-pertentangan mengenai filsafat dan struktur negara. Pertentangan-pertentangan ini berlangsung antarkelompok dan antarperorangan yang mempunyai berbagai pandangan tentang cara mengenai watak dasar negara itu sendiri : struktur lembaga-lembaga pemerintahan pusat dan daerah serta hubungan antar keduanya “pernyataan yang tegas tentang kontrol nasional atas ekonomi: peranan partai-partai politik dan tentara dan kedudukan Islam serta komunisme dalam negara.

Disebabkan perbedaan sifat-sifat ekonomi, kultur, dan sosial di Jawa dan pulau-pulau luar Jawa, semua persoalan ini mempunyai dimensi kedaerahan dan nada tambahan kesukuan. Suatu penilaian atas perbedaan-perbedaan ini penting sekali untuk suatu pemahaman mengenai pertentangan-pertentangan kepentingan, yang melatarbelakang ketegangan yang meningkat antara daerah-daerah terpencil dan pemerintah pusat. Dengan begitu perbedaan yang besar antara pola-pola sosio-ekonomis di Jawa dan di pulau luar Jawa akan digambar secara singkat.

Jawa, tempat kerajaan-kerajaan purbakala berkebudayaan agraria persawahan merupakan sasaran yang lebih besar bagi pengaruh kebudayaan India dan penetrasi kolonialisme Belanda dibanding dengan pulau-pulau lain. Islam sudah bercampur menjadi satu ke dalam jaringan kepercayaan yang ada di Jawa Timur dan Jawa Tengah, pusat daerah dari kesukuan Jawa, namun tetap merupakan suatu kekuatan yang mampu memecah-mecah masyarakat pedesaan Jawa Barat, yang secara etnis adalah Sunda dan kuat keislamannya merupakan salah satu dari bagian-bagian pulau itu pertama sekali jatuh kebawah kekuasaan Belanda. Disebabkan sifat-sifat sosio-ekonomi yang membedakannya dari bagian lain pulau itu Jawa Barat sering dinyatakan sebagai “Tanah Seberang”. Tetapi letak geografinya yang di Jawa, dan posisinya sebagai daerah perbatasan ibukota, membuat Jawa Barat dalam istilah politik sering disamakan dengan pusat daripada dengan daerah.
Dari serangkaian pergolakan daerah yang meletus dalam dekade 1950, Persitiwa PRRI/Permesta adalah paling serius dan terbesar, baik dalam skala waktunya, maupun pihak-pihak yang terlibat di dalamnya dan barangkali juga kebrutalan dan korban yang ditimbulkan Persitiwa PRRI/Permesta, sebagaimana yang ditunjukkan dalam studi terbaru mengenai masa-masa Pancaroba ini, tidak hanya melibatkan pelbagai kekuatan pada tatanan nasional (Presiden Soekarno, partai-partai politik, militer dan daerah lain) tetapi juga internasional (CIA) dan tentu saja kelompok masyarakat lokal itu sendiri, khususnya kelompok militernya dan kaum politisi beserta rakyatnya ( Mestika Zed, 1999 : 101)

Peristiwa PRRI/Permesta di Indonesia yang mula-mula menjadi berita menyolok pada bulan Desember 1956 dan memuncak dalam pemberontakan PRRI/Permesta dari tahun 1958-1961, adalah salah satu dari berbagai pertentangan yang saling berhubungan yang lahir dari kekecewaan terhadap demokrasi parlementer, dan yang mempercepat berakhirnya. Kekecewaan itu didasarkan atas suatu rasa ketidaksenangan yang luas terhadap struktur negara yang ada, yang secara luas dikritik sebagai birokratis, tidak efisien, dan korup. Harapan dan semangat yang dibangkitkan dalam revolusi 1945-1949 ternyata sukar dipertahankan begitu kemerdekaan diperoleh. Tak satu pun dari tujuh kabinet – yang berusia singkat – dari periode 1949-1957 yang kelihatan mampu menyelenggarakan kegiatan pemerintah, baik dalam menumbuhkan semangat maupun administrasi.

Kedua-duanya menjemukan atau tak berdaya guna. Tiadanya kesepakatan tentang nilai-nilai fundamental mempertajam pertentangan-pertentangan mengenai filsafat dan struktur negara. Pertentangan-pertentangan ini berlangsung antarkelompok dan antarperorangan yang mempunyai berbagai pandangan tentang cara mengenai watak dasar negara itu sendiri : struktur lembaga-lembaga pemerintahan pusat dan daerah serta hubungan antar keduanya “pernyataan yang tegas tentang kontrol nasional atas ekonomi: peranan partai-partai politik dan tentara dan kedudukan Islam serta komunisme dalam negara.

Disebabkan perbedaan sifat-sifat ekonomi, kultur, dan sosial di Jawa dan pulau-pulau luar Jawa, semua persoalan ini mempunyai dimensi kedaerahan dan nada tambahan kesukuan. Suatu penilaian atas perbedaan-perbedaan ini penting sekali untuk suatu pemahaman mengenai pertentangan-pertentangan kepentingan, yang melatarbelakang ketegangan yang meningkat antara daerah-daerah terpencil dan pemerintah pusat. Dengan begitu perbedaan yang besar antara pola-pola sosio-ekonomis di Jawa dan di pulau luar Jawa akan digambar secara singkat.

Jawa, tempat kerajaan-kerajaan purbakala berkebudayaan agraria persawahan merupakan sasaran yang lebih besar bagi pengaruh kebudayaan India dan penetrasi kolonialisme Belanda dibanding dengan pulau-pulau lain. Islam sudah bercampur menjadi satu ke dalam jaringan kepercayaan yang ada di Jawa Timur dan Jawa Tengah, pusat daerah dari kesukuan Jawa, namun tetap merupakan suatu kekuatan yang mampu memecah-mecah masyarakat pedesaan Jawa Barat, yang secara etnis adalah Sunda dan kuat keislamannya merupakan salah satu dari bagian-bagian pulau itu pertama sekali jatuh kebawah kekuasaan Belanda. Disebabkan sifat-sifat sosio-ekonomi yang membedakannya dari bagian lain pulau itu Jawa Barat sering dinyatakan sebagai “Tanah Seberang”. Tetapi letak geografinya yang di Jawa, dan posisinya sebagai daerah perbatasan ibukota, membuat Jawa Barat dalam istilah politik sering disamakan dengan pusat daripada dengan daerah.

More info:

Published by: Peter Kasenda on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/02/2014

 
W`~a{raxj W^^A/W`~i`{rj
 
 N`~{jrp marj r`hpd% n`~wa{jd marj ~plrpd
$
W`wjrjd Qpljla mplo!
 Bj~a {`~jlhmjajl w`~hoejmjl bj`~jd qjlh i`e`rp{ bjeji b`mjb` :107% W`~{araxjW^^A/W`~i`{rj jbjejd wjealh {`~ap{ bjl r`~n`{j~% njam bjeji {mjej xjmrplqj% ijpwpl wadjm)wadjm qjlh r`~eanjr ba bjejilqj bjl nj~jlhmjea fphj m`n~prjejl bjl mo~njl qjlhbarainpemjl W`~{araxj W^^A/W`~i`{rj% {`njhjaijlj qjlh barplfpmmjl bjeji {rpbar`~nj~p i`lh`lja ij{j)ij{j Wjlkj~onj ala% rabjm djlqj i`eanjrmjl w`enjhja m`mpjrjl wjbj rjrjljl lj{aolje $W~`{ab`l [o`mj~lo% wj~rja)wj~rja woearam% iaear`~ bjl bj`~jd ejal!r`rjwa fphj alr`~lj{aolje $KAJ! bjl r`lrp {jfj m`eoiwom ij{qj~jmjr eomje arp {`lba~a%mdp{p{lqj m`eoiwom iaear`~lqj bjl mjpi woeara{a n`{`~rj ~jmqjrlqj $ I`{ramj V`b%:111 6 :7:!W`~a{raxj W^^A/W`~i`{rj ba Albol`{aj qjlh ipej)ipej i`lfjba n`~arj i`lqoeom wjbj npejl B`{`in`~ :103 bjl i`iplkjm bjeji w`in`~olrjmjl W^^A/W`~i`{rj bj~a rjdpl:104):13:% jbjejd {jejd {jrp bj~a n`~njhja w`~r`lrjlhjl qjlh {jealh n`~dpnplhjl qjlhejda~ bj~a m`m`k`xjjl r`~djbjw b`iom~j{a wj~e`i`lr`~% bjl qjlh i`iw`~k`wjr n`~jmda~lqj, M`m`k`xjjl arp babj{j~mjl jrj{ {pjrp ~j{j m`rabjm{`ljlhjl qjlh epj{r`~djbjw {r~pmrp~ l`hj~j qjlh jbj% qjlh {`kj~j epj{ bam~aram {`njhja na~om~jra{% rabjm `ca{a`l% bjl mo~pw, Dj~jwjl bjl {`ijlhjr qjlh banjlhmarmjl bjeji ~`soep{a :120):121r`~lqjrj {pmj~ baw`~rjdjlmjl n`harp m`i`~b`mjjl baw`~oe`d, Rjm {jrp wpl bj~a rpfpdmjnal`r qjlh n`~p{aj {alhmjr bj~a w`~aob` :121):108 qjlh m`eadjrjl ijiwpi`lq`e`lhhj~jmjl m`hajrjl w`i`~alrjd% njam bjeji i`lpinpdmjl {`ijlhjr ijpwpljbiala{r~j{a,M`bpj)bpjlqj i`lf`ipmjl jrjp rjm n`~bjqj hplj, Rajbjlqj m`{`wjmjrjl r`lrjlh laeja)laeja cplbji`lrje i`iw`~rjfji w`~r`lrjlhjl)w`~r`lrjlhjl i`lh`lja cae{jcjr bjl {r~pmrp~ l`hj~j, W`~r`lrjlhjl)w`~r`lrjlhjl ala n`~ejlh{plh jlrj~m`eoiwom bjl jlrj~w`~o~jlhjlqjlh i`iwplqja n`~njhja wjlbjlhjl r`lrjlh kj~j i`lh`lja xjrjm bj{j~ l`hj~j arp{`lba~a 6 {r~pmrp~ e`injhj)e`injhj w`i`~alrjdjl wp{jr bjl bj`~jd {`~rj dpnplhjl jlrj~ m`bpjlqj ―w`~lqjrjjl qjlh r`hj{ r`lrjlh molr~oe lj{aolje jrj{ `moloia6 w`~jljl wj~rja) wj~rja woearam bjl r`lrj~j bjl m`bpbpmjl A{eji {`~rj moipla{i` bjeji l`hj~j,Ba{`njnmjl w`~n`bjjl {acjr){acjr `moloia% mperp~% bjl {o{aje ba Fjxj bjl wpejp)wpejpepj~ Fjxj% {`ipj w`~{ojejl ala i`iwplqja bai`l{a m`bj`~jdjl bjl ljbj rjinjdjlm`{pmpjl, [pjrp w`laejajl jrj{ w`~n`bjjl)w`~n`bjjl ala w`lralh {`mjea plrpm {pjrp w`ijdjijl i`lh`lja w`~r`lrjlhjl)w`~r`lrjlhjl m`w`lralhjl% qjlh i`ejrj~n`ejmjlhm`r`hjlhjl qjlh i`lalhmjr jlrj~j bj`~jd)bj`~jd r`~w`lkae bjl w`i`~alrjd wp{jr, B`lhjl n`harp w`~n`bjjl qjlh n`{j~ jlrj~j woej)woej {o{ao)`moloia{ ba Fjxj bjl ba wpejp epj~ Fjxj jmjl bahjinj~ {`kj~j {alhmjr,:
 
Fjxj% r`iwjr m`~jfjjl)m`~jfjjl wp~njmjej n`~m`npbjqjjl jh~j~aj w`~{jxjdjl i`~pwjmjl{j{j~jl qjlh e`nad n`{j~ njha w`lhj~pd m`npbjqjjl Albaj bjl w`l`r~j{a moeolajea{i`N`ejlbj banjlbalh b`lhjl wpejp)wpejp ejal, A{eji {pbjd n`~kjiwp~ i`lfjba {jrp m`bjeji fj~alhjl m`w`~kjqjjl qjlh jbj ba Fjxj Raip~ bjl Fjxj R`lhjd% wp{jr bj`~jd bj~am`{pmpjl Fjxj% ljipl r`rjw i`~pwjmjl {pjrp m`mpjrjl qjlh ijiwp i`i`kjd)i`kjdij{qj~jmjr w`b`{jjl Fjxj Nj~jr% qjlh {`kj~j `rla{ jbjejd [plbj bjl mpjr m`a{ejijllqji`~pwjmjl {jejd {jrp bj~a njhajl)njhajl wpejp arp w`~rjij {`mjea fjrpd m`njxjdm`mpj{jjl N`ejlbj, Ba{`njnmjl {acjr){acjr {o{ao)`moloia qjlh i`in`bjmjllqj bj~a njhajl ejal wpejp arp Fjxj Nj~jr {`~alh balqjrjmjl {`njhja ―Rjljd [`n`~jlh’, R`rjwae`rjm h`oh~jcalqj qjlh ba Fjxj% bjl wo{a{alqj {`njhja bj`~jd w`~njrj{jl anpmorj%i`inpjr Fjxj Nj~jr bjeji a{raejd woearam {`~alh ba{jijmjl b`lhjl wp{jr bj~awjbjb`lhjl bj`~jd,Woej)woej ba wpejp)wpejp epj~ Fjxj e`nad n`~ijkji)ijkji% {`mjeawpl bpjm`k`lb`~plhjl womom na{j barjlbja ‛ m`~jfjjl)m`~jfjjl w`~bjhjlhjl ba w`{a{a~ bjlm`eoiwom)m`eoiwom {pmp ba w`bjejijl qjlh ejdjl w`~rjlajllqj n`~walbjd)walbjd,Wjbj pipilqj ~jmqjr qjlh e`nad k`lb`~plh wjbj w`~bjhjlhjl ba xaejqjd w`{a{a~  n`~{`baj i`l`~aij A{eji bjl w`injdj~p)w`injdj~p iob`~llqj wjbj jxje jnjbm`bpj wpepd, W`lbpbpm qjlh wjealh r`~w`lkae ba bj`~jd w`hplplhjl w`bjejijl wjbjpipilqj i`l`~p{mjl i`lhampra m`w`~kjqjjl)m`w`~kjqjjl l`l`m ioqjlh i`~`mj%{`mjeawpl {`njhajl {pbjd ba rj~am m` bjeji jhjij M~a{r`l {`ejij ij{j w`lfjfjdjl,W`~epj{jl m`mpjrjl moeolaje N`ejlbj wjbj w`~hjlrajl jnjb ala baampra w`lh`injlhjldj{ae npia `m{wo~ {`w`~ra mj~`r% mowa% mow~j% bjl dj{ae albp{r~a rjinjlh r`~prjij ialqjm bjl raijd% ba [pijr~j% Mjeaijlrjl% bjl [pejx`{a, [`marj~ rjdpl :1>0 njhajl r`~n`{j~ `m{wo~ Dalbaj N`ejlbj n`~j{je bj~a wpejp)wpejp epj~ Fjxj bjl m`~plrpdjl wj{j~jl{`n`~jlh ejpr plrpm hpej bj~a Fjxj bjeji b`w~`{a wjbj rjdpl :1;7)jl i`iw`~n`{j~ m`rabjm{`ainjlhjl ala, [`ejlfprlqj% b`lhjl w`~rpinpdjl w`lbpbpmlqj% Fjxj rabjm ejhai`iwplqja kpmpw n`~j{ plrpm banjhamjl m` wpejp)wpejp epj~ Fjxj% bjl dpnplhjl`moloia jlrj~ wp{jr bjl njhajl {`n`ejd epj~ Albol`{aj i`e`ijd, Fjxj% wp{jr w`lbpbpm bjl wp{jr w`i`~alrjdjl i`lfjba mol{pi`l womom nj~jlh)nj~jlh aiwo~,Dpnplhjl)dpnplhjl wp{jr bj`~jd ba Albol`{aj i`lfjba ip{mae oe`d m`lqjrjjl njdxj wp{jr arp n`~m`bpbpmjl ba% bjl {`~alh ba{jijmjl b`lhjl Wpejp Fjxj% wpejp qjlh r`~bjwjr w`lbpbpmlqj bj~a wpejp)wpejp ba Albol`{aj bjl r`iwjr ralhhje ralhhje {pmp njlh{j Fjxj%qjlh fpiejdlqj boialjl, Ma~j)ma~j bpj w`~rahj w`lbpbpm n`~r`iwjr ralhhje ba Fjxj% bjlma~j)ma~j {`wj~pd bj~a ~jmqjr Albol`{aj jbjejd bj~a {pmp Fjxj, R`rjwa bjeji dje alar`~wjpr dje)dje qjlh e`nad bj~a {`m`bj~ ij{jejd b`ioh~jca, R~jba{a)r~jba{a woearam {pmpFjxj {jlhjr baw`lhj~pda mol{`w{a Dalbp r`lrjlh l`hj~j bjl m`mpj{jjl% qjmla njdxjl`h`~a bar`lrpmjl oe`d wp{jrlqj, L`hj~j bawjlbjlh {`njhja {pjrp ~jlhmjajl mol{`lr~a{ 6m`mpj{jjl qjlh {jlhjr m`rjr ba wp{jr i`lfjba {`ijmal e`ijd ba bj`~jd)bj`~jd waihha~jlm`~jfjjl {`mprp {jiwja r`iwjr)r`iwjr qjlh n`~jbj ba epj~ fjlhmjpjl m`mpj{jjl w`i`~alrjd wp{jr, [pjrp mol{`w{a qjlh e`nad {`b`~djlj bjeji r~jba{a qjlh {jij i`injhabplaj ala jrj{ Fjxj bjl [`n`~jlh ‛ bj`~jd ba {`n`~jlh ejpr% {pjrp wjlbjlhjl qjlhr`~k`~ial bjeji w`lhhpljjl r`rjw bjl r`~ialoeoha Fjxj bjl wpejp)wpejp epj~ Fjxj,[`{plhhpdlqj jbj m`{jl% {pmj~ njha {`o~jlh o~jlh Fjxj plrpm i`ijdjia ~jmqjr bj~a>
 
[`n`~jlh {`njhja {`mprp qjlh {`b`~jfjr bjeji l`hj~j Albol`{aj, Bj~a wadjm ejal% i`~`mj wj~j xa~j{xj{rjjl qjlh hajr% w`bjhjlh bjl w`ejbjlh bj~a wpejp)wpejp epj~ Fjxj dabpwbjeji {pjrp bplaj qjlh laeja)laeja m`npbjqjjl bjl {o{ajelqj i`~`mj i`in`~a {`bamar{`mjea w`lh`~rajl jrjp {aiwjra r`~djbjw o~jlh Fjxj, I`~`mj djlqj i`lh`lje o~jlh Fjxj{`njhja njlh{jxjl n`~npba djep{% qjlh i`lhpj{ja na~om~j{a {awae% jrjp {`njeamlqj{`njhja w`rjla)w`rjla i`ej~jr qjlh bama~ai {`njhja mjpi r~jl{iah~jl plrpm i`inpmjrjljd nj~p jrjp plrpm n`m`~fj ba w`~m`npljl)w`~m`npljl,W`~m`injlhjl)w`~m`injlhjl {`ejij njhajl jmda~ w`i`~alrjd moeolaje bjl w`lbpbpmjlF`wjlh i`iw`~ralhha m`bpbpmjl Wpejp Fjxj {`njhja wp{jr woearam Albol`{aj 6 w`ip{jrjle`injhj)e`injhj w`lbabamjl ejlfprjl bjl ralhha w`~m`injlhjl w`~h`~jmjl lj{aolje% w`~rpinpdjl nj~p bj~a albp{r~a nj~jlh fjba% bjl woeara{j{a qjlh i`lbjeji {`ejij w`lbpbpmjl F`wjlh $:12>):120! bjl ~`soep{a lj{aolje $:120):121! B`lhjl n`harp%{`njhajl xj~a{jl moeolaje Albol`{aj jbjejd m`rabjm{`ainjlhjl {r~pmrp~je jlrj~j Fjxj%qjlh {`kj~j woeara{ boialjl r`rjwa qjlh {`kj~j `moloia e`ijd% bjl wpejp)wpejp epj~ Fjxj% {`kj~j woeara{ r`~njrj{ rjwa {`kj~j `moloia mpjr, M`rabjm{`ainjlhjl ala jbjejdcjmro~ qjlh hjxjr bjeji dpnplhjl‛dpnplhjl jlrj~j wp{jr bjl bj`~jd bjl i`iw`~{pearp{jdj)p{jdj i`lq`e`{jamjl m~a{a{ lj{aolje rjdpl :103 ‛ :108 $ Nj~nj~j [aeej~{ Dj~s`q%:142 6 1 ‛ :> !B`lhjl n`~jmda~lqj w`~fpjlhjl qjlh wjlfjlh bjl {pmj~ plrpm m`i`~b`mjjl% m`njlqjmjl~jmqjr w`~kjqj w`~njamjl m`jbaejl {o{aje bjl `moloia qjlh jmjl k`wjr bjrjlh, [`ejijrjdpl)rjdpl w`~ipejjl m`i`~b`mjjl w`~m`injlhjl m` j~jd ala r`ejd r`~fjba bjl qjlhr`~w`lralh ajejd nabjlh w`lbabamjl% {`i`lrj~j ij{qj~jmjr Albol`{aj {`rabjm)rabjmlqjr`ejd e`nad i`lh`lje w`~{jijjl b`~jfjr bj~awjbj ba vjijl moeolaje, Ljipl ralhmjrm`ijfpjl fjpd bj~awjbj qjlh badj~jwmjl% bjl m`m`k`xjjl {`~rj c~p{rj{a Ljipl% ralhmjrm`ijfpjl fjpd bj~a qjlh badj~jwmjl bjl m`m`k`xjjl {`~rj c~p{rj{a {`ijmali`lalhmjrmjl m`k`lb`~plhjl qjlh bjwjr bai`lh`~ra plrpm i`lqjejdmjl w`i`~alrjdjl wp{jr ba Fjmj~rj qjlh ejlhmjd)ejlhmjdlqj rabjm i`ijbja plrpm i`i`lpda dj~jwjl qjlhr`ejd rpinpd {`ejij ~`soep{a,;

Activity (52)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Franky Rengkung liked this
Yudie Angga liked this
bibit28 liked this
Alfian Annada liked this
Anggry Solihin liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->