Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
P. 1
Persatuan Indonesia

Persatuan Indonesia

Ratings: (0)|Views: 166 |Likes:
Published by Peter Kasenda
Kendati PKI telah di bubarkan oleh Jendral Soekarto lewat Surat Perintah Sebelas Maret 1966. Pidato kenegaraan 17 Agustus 1945 yang berjudul “Jangan sekali-sekali meninggalkan Sejarah”. Soekarno selaku presiden Republik Indonesia yang pertama tetap menyatakan bahwa ‘NASAKOM atau Nasatos atau Nasa apapun adalah unsure mutlak daripada pembangunan bangsa Indonesia. “Secara tegas Soekarno memperingatkan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tidak gontok-gontokan, tidak sembelih-sembelihan. Sebab hal itu justru akan memecahkan kesatuan dan persatuan bangsa, memecah inti hakiki dari revolusi. Selain itu Soekarno menegaskan bahwa ratusan ribu pembunuhan dan ratusan ribu penahanan, justru akan menjadi masalah politik yang panas, yang makin meningkatkan pertentangan diantara kita. Pernyataan Soekarno diatas, menunjukkan keinginannya untuk tetap mencoba mempersatukan kemajemukan masyarakat Indonesia, tetapi dengan terjadi peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang kemudian membawa korban ratusab ribu jiwa telah menyebabkab usahanya menjadi kandas. Komunisme yang dianggapnya sebagai factor objektif dari masyarakat Indonesia telah tersingkir.
Keinginan Soekarno tetap berpegang dengan konsep Nasakom sering ditafsirkan sebagai konsistensi dari alam pikiran Soekarno yang bermuara pada persatuan bangsa yang majemuk. Alam pikiran Soekarno yang senantiasa diarahkan kepada keperluan untuk mencari pandangan hidup bersama yang bisa dipakai pengikat masyarakat Indonesia yang majemuk kedalam satu bangsa yang betul-betul bersatu.
Meskipun Soekarno telah lama meninggalkan bangsa yang di cintainya, ia tetap hidup dalam struktur kesadaran bangsa Indonesia. Biografi Soekarno sampai kini masih tetap menjadi salah satu inspirasi. Kini Soekarno telah meninggalkan warisan intelektual dari sejarah pergerakan kebangsaan Indonesia yang berupa teks yang bisa dianggap klasik dan bernilai abadi.
Tulisan Soekarno, ‘Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme (1926/1927), Marhaen (1932) dan pidatinya-Lajirnya Pancasila (1945), yang bermuara pada persatuan bangsa Indonesia merupakan teks yang tidak akan terhapus dari catatan kolektif bangsa Indonesia. Ketika sejarah pergerakan kebangsaan ini telah memasuki ‘pintu gerbang kemerdekaan’, dengan berdirinya negara nasional, warisan intlektual itu tetap utuh sebagai monumen dan dokumen.
Sebagai monumen, teks-teks itu mengingatkan bangsa yang mewarisinya pada impian yang pernah diimpikan, harapan yang pernah dipupuk dan perjuangan yang diperjuangkan. Sedangkan sebagai dokumen warisan itu tampil sebagai teks-teks yang mengajak gerakan yang datang. Kemudian untuk sekaligus membandingkan impian lama dan realitas kini, pemikiran lama dengan kecenderungan masa kini, visi lama dan keharusan masa sekarang.

Sejarah Indonesia mencatat bahwa Soekarno sebagai pemikir modern Indonesia yang terpenting dan terbesar : kualitas keorsinilan alam pikiran Tan Malaka, Moh. Hatta dan Sutan Syahrir setara Soekarno, tetapi tidak dalam kekuasaan pengaruhnya. Mereka bukan saja tandingan Soekarno. Ia bukan saja mempunyai kemajuan besar dalam menuangkan buah pikiran yang jernih kedalam berbagai tulisan. Soekarno adalah pula seorang orator yang sangat sulit dicari tandingannya dan kharismatis yang mampu menyampaikan buah pikirannya dengan gaya yang amat menarik dan mudah dimengerti, kepada khalayak ramai yang mendengarkannya.
Sikap kritis yang tajam dan amat mengahrgai kebebasan berpikir tentu saja dimiliki oleh Soekarno sebagai cendikiawan. Oleh karena itu dogmatisme menjadi musuhnya. Kualitas kecendikiawannya diperkuat dengan, cara berpikir Soekarno yang dialektis dan/atau sinkrietis. Soekarno jelas tidak phobi terhadap alam pikiran dari manapun berasal, tetapi juga tidak mau menerima begitu saja tanpa melalui proses perdebatan. Soekarno memiliki keberanian luar biasa dalam mengembangkan alam pikirannya. Ia tampak tidak pernah takut mengemukakan dan memperdebatkan ide-idenya dengan siapa saja. Seandainya ia merasa kurang mempunyai pengetah
Kendati PKI telah di bubarkan oleh Jendral Soekarto lewat Surat Perintah Sebelas Maret 1966. Pidato kenegaraan 17 Agustus 1945 yang berjudul “Jangan sekali-sekali meninggalkan Sejarah”. Soekarno selaku presiden Republik Indonesia yang pertama tetap menyatakan bahwa ‘NASAKOM atau Nasatos atau Nasa apapun adalah unsure mutlak daripada pembangunan bangsa Indonesia. “Secara tegas Soekarno memperingatkan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tidak gontok-gontokan, tidak sembelih-sembelihan. Sebab hal itu justru akan memecahkan kesatuan dan persatuan bangsa, memecah inti hakiki dari revolusi. Selain itu Soekarno menegaskan bahwa ratusan ribu pembunuhan dan ratusan ribu penahanan, justru akan menjadi masalah politik yang panas, yang makin meningkatkan pertentangan diantara kita. Pernyataan Soekarno diatas, menunjukkan keinginannya untuk tetap mencoba mempersatukan kemajemukan masyarakat Indonesia, tetapi dengan terjadi peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang kemudian membawa korban ratusab ribu jiwa telah menyebabkab usahanya menjadi kandas. Komunisme yang dianggapnya sebagai factor objektif dari masyarakat Indonesia telah tersingkir.
Keinginan Soekarno tetap berpegang dengan konsep Nasakom sering ditafsirkan sebagai konsistensi dari alam pikiran Soekarno yang bermuara pada persatuan bangsa yang majemuk. Alam pikiran Soekarno yang senantiasa diarahkan kepada keperluan untuk mencari pandangan hidup bersama yang bisa dipakai pengikat masyarakat Indonesia yang majemuk kedalam satu bangsa yang betul-betul bersatu.
Meskipun Soekarno telah lama meninggalkan bangsa yang di cintainya, ia tetap hidup dalam struktur kesadaran bangsa Indonesia. Biografi Soekarno sampai kini masih tetap menjadi salah satu inspirasi. Kini Soekarno telah meninggalkan warisan intelektual dari sejarah pergerakan kebangsaan Indonesia yang berupa teks yang bisa dianggap klasik dan bernilai abadi.
Tulisan Soekarno, ‘Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme (1926/1927), Marhaen (1932) dan pidatinya-Lajirnya Pancasila (1945), yang bermuara pada persatuan bangsa Indonesia merupakan teks yang tidak akan terhapus dari catatan kolektif bangsa Indonesia. Ketika sejarah pergerakan kebangsaan ini telah memasuki ‘pintu gerbang kemerdekaan’, dengan berdirinya negara nasional, warisan intlektual itu tetap utuh sebagai monumen dan dokumen.
Sebagai monumen, teks-teks itu mengingatkan bangsa yang mewarisinya pada impian yang pernah diimpikan, harapan yang pernah dipupuk dan perjuangan yang diperjuangkan. Sedangkan sebagai dokumen warisan itu tampil sebagai teks-teks yang mengajak gerakan yang datang. Kemudian untuk sekaligus membandingkan impian lama dan realitas kini, pemikiran lama dengan kecenderungan masa kini, visi lama dan keharusan masa sekarang.

Sejarah Indonesia mencatat bahwa Soekarno sebagai pemikir modern Indonesia yang terpenting dan terbesar : kualitas keorsinilan alam pikiran Tan Malaka, Moh. Hatta dan Sutan Syahrir setara Soekarno, tetapi tidak dalam kekuasaan pengaruhnya. Mereka bukan saja tandingan Soekarno. Ia bukan saja mempunyai kemajuan besar dalam menuangkan buah pikiran yang jernih kedalam berbagai tulisan. Soekarno adalah pula seorang orator yang sangat sulit dicari tandingannya dan kharismatis yang mampu menyampaikan buah pikirannya dengan gaya yang amat menarik dan mudah dimengerti, kepada khalayak ramai yang mendengarkannya.
Sikap kritis yang tajam dan amat mengahrgai kebebasan berpikir tentu saja dimiliki oleh Soekarno sebagai cendikiawan. Oleh karena itu dogmatisme menjadi musuhnya. Kualitas kecendikiawannya diperkuat dengan, cara berpikir Soekarno yang dialektis dan/atau sinkrietis. Soekarno jelas tidak phobi terhadap alam pikiran dari manapun berasal, tetapi juga tidak mau menerima begitu saja tanpa melalui proses perdebatan. Soekarno memiliki keberanian luar biasa dalam mengembangkan alam pikirannya. Ia tampak tidak pernah takut mengemukakan dan memperdebatkan ide-idenya dengan siapa saja. Seandainya ia merasa kurang mempunyai pengetah

More info:

Published by: Peter Kasenda on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/27/2014

 
\ktsfz{fh Ghjehksgf
 Ikifhn  fb{ nfhjt{hn |ktsfz{fh( Eak`bftkhf fb{ ikhnfb{ df`~f `fhwf jkhnfh \KTSFZ[FH af` dgsf ikhcf|f BKIKTJKBFFH( @fhwf jkhnfh ghgaf` wfhn dgsfikidf~f bgzf bk|fjf cgzf)cgzf skbfagfh(
Sekbfthe! 4: Sk|zkidkt 67;;
Bkhjfzg \BG zkaf` jg d{dftbfh eak` Mkhjtfa Sekbftze ak~fz S{tfz \ktghzf` SkdkafsIftkz 67??( \gjfze bkhknftffh 6> Fn{sz{s 67:; wfhn dktm{j{a ‑Mfhnfh skbfag)skbfagikhghnnfabfh Skmftf`’( Sekbfthe skafb{ |tksgjkh Tk|{dagb Ghjehksgf wfhn |ktzfif zkzf|ikhwfzfbfh df`~f ‐HFSFBEI fzf{ Hfsfzes fzf{ Hfsf f|f|{h fjfaf` {hs{tk i{zafb jftg|fjf |kidfhn{hfh dfhnsf Ghjehksgf( ‑Skcftf zknfs Sekbfthe iki|ktghnfzbfhbk|fjf ska{t{` tfbwfz Ghjehksgf {hz{b zgjfb nehzeb)nehzebfh! zgjfb skidkag`)skidkag`fh( Skdfd `fa gz{ m{szt{ fbfh ikikcf`bfh bksfz{fh jfh |ktsfz{fh dfhnsf!ikikcf` ghzg `fbgbg jftg tkvea{sg( Skafgh gz{ Sekbfthe ikhknfsbfh df`~f tfz{sfh tgd{ |kid{h{`fh jfh tfz{sfh tgd{ |khf`fhfh! m{szt{ fbfh ikhmfjg ifsfaf` |eagzgb wfhn |fhfs! wfhn ifbgh ikhghnbfzbfh |ktzkhzfhnfh jgfhzftf bgzf(\kthwfzffh Sekbfthejgfzfs! ikh{hm{bbfh bkghnghfhhwf {hz{b zkzf| ikhcedf iki|ktsfz{bfh bkifmki{bfhifswftfbfz Ghjehksgf! zkzf|g jkhnfh zktmfjg |ktgszg~f Nktfbfh 3< Sk|zkidkt 67?; wfhnbki{jgfh ikidf~f betdfh tfz{sfd tgd{ mg~f zkaf` ikhwkdfdbfd {sf`fhwf ikhmfjgbfhjfs( Bei{hgsik wfhn jgfhnnf|hwf skdfnfg ofczet edmkbzgo jftg ifswftfbfz Ghjehksgfzkaf` zktsghnbgt(Bkghnghfh Sekbfthe zkzf| dkt|knfhn jkhnfh behsk| Hfsfbei sktghn jgzfosgtbfhskdfnfg behsgszkhsg jftg fafi |gbgtfh Sekbfthe wfhn dkti{ftf |fjf |ktsfz{fh dfhnsfwfhn ifmki{b( Fafi |gbgtfh Sekbfthe wfhn skhfhzgfsf jgftf`bfh bk|fjf bk|kta{fh{hz{b ikhcftg |fhjfhnfh `gj{| dktsfif wfhn dgsf jg|fbfg |khngbfz ifswftfbfzGhjehksgf wfhn ifmki{b bkjfafi sfz{ dfhnsf wfhn dkz{a)dkz{a dktsfz{(Iksbg|{h Sekbfthe zkaf` afif ikhghnnfabfh dfhnsf wfhn jg cghzfghwf! gf zkzf|`gj{| jfafi szt{bz{t bksfjftfh dfhnsf Ghjehksgf( Dgentfog Sekbfthe sfi|fg bghg ifsg`zkzf| ikhmfjg sfaf` sfz{ ghs|gtfsg( Bghg Sekbfthe zkaf` ikhghnnfabfh ~ftgsfh ghzkakbz{fajftg skmftf` |ktnktfbfh bkdfhnsffh Ghjehksgf wfhn dkt{|f zkbs wfhn dgsf jgfhnnf|bafsgb jfh dkthgafg fdfjg(Z{agsfh Sekbfthe! ‐Hfsgehfagsik! Gsafigsik jfh Iftpgsik 674?%674>'!Ift`fkh 6734' jfh |gjfzghwf)Afmgthwf \fhcfsgaf 67:;'! wfhn dkti{ftf |fjf |ktsfz{fh dfhnsf Ghjehksgf ikt{|fbfh zkbs wfhn zgjfb fbfh zkt`f|{s jftg cfzfzfh beakbzgo dfhnsfGhjehksgf( Bkzgbf skmftf` |ktnktfbfh bkdfhnsffh ghg zkaf` ikifs{bg ‐|ghz{ nktdfhnbkiktjkbffh‗! jkhnfh dktjgtghwf hknftf hfsgehfa! ~ftgsfh ghzakbz{fa gz{ zkzf| {z{`skdfnfg ieh{ikh jfh jeb{ikh(Skdfnfg ieh{ikh! zkbs)zkbs gz{ ikhnghnfzbfh dfhnsf wfhn ik~ftgsghwf |fjfgi|gfh wfhn |kthf` jggi|gbfh! `ftf|fh wfhn |kthf` jg|{|{b jfh |ktm{fhnfh wfhnjg|ktm{fhnbfh( Skjfhnbfh skdfnfg jeb{ikh ~ftgsfh gz{ zfi|ga skdfnfg zkbs)zkbs wfhnikhnfmfb nktfbfh wfhn jfzfhn( Bki{jgfh {hz{b skbfagn{s ikidfhjghnbfh gi|gfh afif6
^kd= ~~~(|kzktbfskhjf(~etj|tkss(ceiKifga= it(bfskhjfLnifga(cei! |kzktbfskhjfLtecbkzifga(cei
 
jfh tkfagzfs bghg! |kigbgtfh afif jkhnfh bkckhjkt{hnfh ifsf bghg! vgsg afif jfhbk`ft{sfh ifsf skbftfhn(Skmftf` Ghjehksgf ikhcfzfz df`~f Sekbfthe skdfnfg |kigbgt iejkth Ghjehksgfwfhn zkt|khzghn jfh zktdksft = b{fagzfs bketsghgafh fafi |gbgtfh Zfh Ifafbf! Ie`( @fzzfjfh S{zfh Swf`tgt skzftf Sekbfthe! zkzf|g zgjfb jfafi bkb{fsffh |khnft{`hwf( Iktkbf d{bfh sfmf zfhjghnfh Sekbfthe( Gf d{bfh sfmf iki|{hwfg bkifm{fh dksft jfafiikh{fhnbfh d{f` |gbgtfh wfhn mkthg` bkjfafi dktdfnfg z{agsfh( Sekbfthe fjfaf` |{afsketfhn etfzet wfhn sfhnfz s{agz jgcftg zfhjghnfhhwf jfh b`ftgsifzgs wfhn ifi|{ikhwfi|fgbfh d{f` |gbgtfhhwf jkhnfh nfwf wfhn fifz ikhftgb jfh i{jf` jgikhnktzg!bk|fjf b`fafwfb tfifg wfhn ikhjkhnftbfhhwf(Sgbf| btgzgs wfhn zfmfi jfh fifz ikhnf`tnfg bkdkdfsfh dkt|gbgt zkhz{ sfmfjgigagbg eak` Sekbfthe skdfnfg ckhjgbgf~fh( Eak` bftkhf gz{ jenifzgsik ikhmfjgi{s{`hwf( B{fagzfs bkckhjgbgf~fhhwf jg|ktb{fz jkhnfh! cftf dkt|gbgt Sekbfthe wfhnjgfakbzgs jfh%fzf{ sghbtgkzgs( Sekbfthe mkafs zgjfb |`edg zkt`fjf| fafi |gbgtfh jftgifhf|{h dktfsfa! zkzf|g m{nf zgjfb if{ ikhktgif dkngz{ sfmf zfh|f ikafa{g |tesks |ktjkdfzfh( Sekbfthe ikigagbg bkdktfhgfh a{ft dgfsf jfafi ikhnkidfhnbfh fafi |gbgtfhhwf( Gf zfi|fb zgjfb |kthf` zfb{z ikhnki{bfbfh jfh iki|ktjkdfzbfh gjk)gjkhwf jkhnfh sgf|f sfmf( Skfhjfghwf gf iktfsf b{tfhn iki|{hwfg |khnkzf`{fh jfafisfz{ dgjfhn! Sekbfthe zgjfb ifa{ dktzfhwf jfh dkt{sf`f skbktfs i{hnbgh {hz{ikhjfafighwf(Fjf zgnf ifcfi fagtfh |kigbgtfh wfhn ikidktg bksfh wfhn jfafi bf|fjfhwf!jfh eak` bftkhf gz{ skjgbgz dfhwfb iki|khnft{`g cetfb |kigbgtfh)|kigbtfh dft{ wfhnjgaf`gtbfhhwf( Fagtfh |ktzfif |kigbgtfh wfhn dktfsfa jftg bkd{jfwffh Mf~f( Fagtfhbkj{f dktfsfa jftg |kigbgtfh)|kigbgtfh wfhn jgbkidfhnbfh eak` zebe`)zebe` |kigbgt Sesgfags Dftfz! sk|ktzg Bfta Iftp! @(H( Dtfgasoetj! \gzkt Mkaaks Zhekaszgf jfh BftaBf{sabw( Skjfhnbfh fagtfh bkzgnf dktfsfa jftg |kigbgtfh)|kigbgtfh iejkthgsik Gsafiwfhn dktfsfa jftg Iksgt! Z{tbg jfh Ghjgf( Zgjfb fjfhwf |khjgjgbfh oetifa ghg ikid{fzSekbfthe ikhnfafig bks{agzfh ikif`fig fmftfh Gsafi jftg s{idkt fsaghwf! wfgz{ d{b{) d{b{ df`fsf Ftfd( Wfhn ikhmfjg dfcffh {zfifhwf fjfaf` d{b{)d{b{ wfhn jgz{ags jfafi df`fsf Dftfz(Ikhmkafhn fb`gt fdfj bk)67 `fi|gt ska{t{` dkh{f Fsgf jg df~f` bkb{fsffhbeaehgfa( Fbfh zkzf|g s{fz{ ifswftfbfz dft{ zkaf` ikifs{bg bksfjftfh tfbwfz)tfbwfzwfhn zktmfmf` gz{ ) d{bfh `fhwf bkghnghfh {hz{b iki|kteak` bkiktjkbffh! zkzf|g m{nfbk|ktcfwffh df`~f skcftf ietfa ghg fjfaf` dkhft jfh i{hnbgh jgcf|fg skcftf ogsgb(Bk|ktcfwffh ghg m{nf zktjf|fz jg bfafhnfh tfbwfz Ghjehksgf(\ktgszg~f)|ktgszg~f |khzghn wfhn ikidfhz{ Ghjehksgf ikhnnfafhn bkb{fzfh)bkb{fzfh tkvea{sgehkt jfafi jkbfjk)jkbfjk |ktzfif fdfj bk)4<( bkdfhnbgzfh bkidfagjfh iejkthgsfsg Mk|fhn sktzf hfgbhwf szfz{s hknktg gz{ ikhmfjg hknftf wfhn {zfifjgj{hgf jg zf`{h 60?0 ikt{|fbfh cehze` wfhn |faghn mkafs jftg |ktbkidfhnfh ghg(Dkafhjf ikhnfb{g szfz{s Mk|fhn wfhn dft{ ghg jkhnfh ikidktg etfhn)etfhn Mk|fhnbkj{j{bfh wfhn sfif sk|ktzg etfhn)etfhn Kte|f jg @ghjgf Dkafhjf( Cehze` afghhwf!Tkvea{sg Cghf wfhn zktmfjg |fjf zf`{h 6766fjfaf` |khzghn bftkhf jfi|fbhwf wfhnsknktf zkt`fjf| etfhn)etfhn cghf wfhn zghnnfa jg @ghjgf Dkafhjf jfh |khnft{`hwf wfhnakdg` dktsgofz afhns{hn zkt`fjf| etfhn)etfhn Ghjehksgf( Tkvea{sg \`gag|ghf wfhn zktmfjgjftg zf`{h 607? sfif|fg jkhnfh 67<6 m{nf ikt{|fbfh |ktgszg~f |khzghn(4
^kd= ~~~(|kzktbfskhjf(~etj|tkss(ceiKifga= it(bfskhjfLnifga(cei! |kzktbfskhjfLtecbkzifga(cei
 
Jftg ski{f bkfjffh skzki|fz jfh Ghzkthfsgehfa ghgaf` zgid{a jfh i{hc{a dktdfnfg |kigi|gh etnfhgsfsg fhzg)beaehgfa( Bkdfhnbgzfh bkidfag! |kidft{ffh jfhtkoetifsg jfh tkvea{sgehkt wfhn fb`gthwf ikhwkdfdbfh zktmfjghwf tkvea{sg Ghjehksgf(Iktkbf zgjfb dktsfz{! iftf` sktghn iktkbf dktzkhzfhnfh jkhnfh skhngz( Fbfh zkzf|gskcftf beakbzgo iktkbf ikhnnktfbbfh Ghjehksgf ifm{ bkjk|fh jfafi fhzg wfhn |khzghnjfh iki{hnbghbfh jgafhcftbfhhwf |ktaf~fhfh jkhnfh j{b{hnfh a{fs zkt`fjf| i{s{` dktsfif! wfgz{ Dkafhjf(Jftg Bftzghg sfi|fg Sekbfthe jfh Ie`( @fzzf ikt{|fbfh |tesks |ktnktfbfhhfsgehfagsik wfhn dktgjkeaeng ikaf~fh beaehgfagsik Dkafhjf! nktfbfh hfsgehfagsikikt{|fbfh nktfbfh fhzgzksgs zkt`fjf| beaehgfagsik)beaehgfagsik dktcgtgbfh jgsbtgighfsgfhzftf bf{i b{agz |{zg` jkhnfh bf{i b{agz dkt~fthf! kbeheig j{fagszgs jfh |ki{bgifhwfhn zkt|gsf`(Ofbzet)ofbzet zktskd{z jgafidfhnbfh skcftf ikhweaeb jfafi bk`gj{|fh sk`ftg)`ftg! ikidf~f jfi|fb |fjf bf{i |tgd{ig! wfgz{ iktfsfbfh sktdf tkhjf`( Neaehnfhwfhn zktjf`{a{ iktfsfbfh `fa zktskd{z fjfaf` bf{i zkt|kafmft( Iktkbfaf` wfhnikhwfjftg szgnifhwf skdfnfg |tgd{ig wfhn skjfhn ikhnfafig btgsgs gjkhzgzfs( Iksbg|{hzkaf` zkt|kafmft hfi{h iktkbf dka{i jgfb{g sfif jkhnfh bf{i Kte|f( Afng |{afokejfagsik ifsg` sfhnfz b{fz jgbfafhnfh fidzkhft jfh |tgwfwg! sk`ghnnf bkj{j{bfhiktkbf ifsg` sfhnfz jgzkhz{bfh eak` gbfzfh okejfahwf( Jfafi |fjf gz{ iejkthgsfsg zkaf` dfhwfb ikhn`f|{s gjkhzgzfs ztfjgsgehfa sktzf bei{hfa sk`ghnnf iktkbf |kta{ ikhcftggjkhzgzfs dft{ wfhn sks{fg jkhnfh iejkthgsfsg nfwf `gj{| iktkbf(Iedkagsfsg! {tdfhgsfsg! jfh jkztfjgsgehfagsfsg iki{hnbghbfh fjf |kakidfnffhseagjftgzfs dft{! dkt{|f |ktb{i|{afh sk|ktzg \BG! Sftkbfz Gsafi! D{jg [zeie! \fs{hjfh!\ktsfz{fh Ighf`fsf! Sftkbfz Fideh! Mehn S{ifztf jfh Mehn Dfzfb( Bkc{fag dktdkhz{b oet{i dft{! etnfhgsfsg ggz{ dkto{hnsg skdfnfg gjkhzgzfs beakbzgo( Jgsghg bgzf ikhn`fjf|g dkhz{b kbs|tksg kzhe)hfsgehfagsik jfh skbfagn{s hfsgehfagsik(Bkhjfzg |ktb{i|{afh wfhn jgskd{z jgfzfs! dktz{m{fh ikhgfjfbfh bkb{fsffhbeaehgfagsik Dkafhjf( Dkzf|g jf|fz jgbfzfbfh zgjfb fjf |ktsfz{fh! fzf{ df`bfh bkskjgffhsfaghn dfhz{ jgfhzftf skbgfh dfhwfbhwf fagtfh gz{! ifaf`fh dfhwfb wfhn zktagdfz jfafi |kti{s{`fh wfhn sgofzhwf |tgdfjg( Jg jfafi b{d{ bkb{fzfh)bkb{fzfh wfhn |ezkhsgfa dfngbkiktjkbffh! zktjf|fz |kt|kcf`fh wfhn akdg` dksft jftg |fjf jgnftgs jk|fh |ktm{fhnfh! mgbf jgdfhjghnbfh jkhhnfh bf{i beaehgfags(\ktdkjffh f|f|{h wfhn zktjf|fz fhzftf n{t{)n{t{ Sekbfthe = Zmebtefigheze jfhZmg|ze Ifhn{hb{s{ie! iktkbf sfif)sfif ikhn`khjfbg fjfhwf fjfhwf s{fz{ otehz |ktsfz{fh! {hz{b ikhwkaksfgbfh |ktckbcebfh)|ktckbcebfh jgfhzftf sksfif iktkbf(Jfafi `fa ghg iktkbf ikhjf|fz j{b{hnfh b{fz jftg if`fsgs~f)if`fsgs~f Ghjehksgf jghknktg Dkafhjf! wfhn jkhnfh |kh{` |tg`fzgh ikhgb{zg |ktbkidfhnfh wfhn zgjfikhwkhfhnbfh wfhn skjfhn jgfafig |ktnktfbfh jgzfhf` fgt! skzkaf` zktmfjg |kt|kcf`fhfhzftf Sftkbfz Gsafi jfh \ftzfg Bei{hgs Ghjehksgf jfafi 6746( Ifbf jkhnfh skhjgtghwfSekbfthe! skzkaf` ikhwkaksfgbfh sz{jghwf! iki{afg {sf`f iki|ktsfz{bfh |ktnktfbfh(Sekbfthe s{jf` ikhnkhfa ski{f fagtfh |eagzgb jfafi |ktnktfbfh Ghjehksgf! jfhgf ikigagbg b{fagogbfsg)b{fagogbfsg wfhn gjkfa dfng z{nfs iki|ktsfz{bfh |ktsfz{fh! zfh|f`ft{s sknktf dkt`fjf|fh jkhnfh |ktaf~fhfh wfhn skhngz jftg |g`fb ifhf|{h( Skdfdifsghn)ifsghn jftg skbgfh dfhwfb |ftzfg jfh |kt`gi|{hfh gz{! `fi|gt zfh|f bkc{fag!jf|fz jgzka{s{tg s{idkthwf bk|fjf sfaf` sfz{ jftg bkzgnf fagtfh |eagzgb wfhn ikhjfsftghwf – Hfsgehfagsik! Gsafigsik! fzf{ Iftpgsik( Sekbfthe s{jf` zgjfb fsghn afng jkhnfh3
^kd= ~~~(|kzktbfskhjf(~etj|tkss(ceiKifga= it(bfskhjfLnifga(cei! |kzktbfskhjfLtecbkzifga(cei

Activity (3)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Yudha Pradana liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->