Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
5Activity
P. 1
Soekarno, Mahasiswa Dan Nasionalisme

Soekarno, Mahasiswa Dan Nasionalisme

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 263 |Likes:
Published by Peter Kasenda
Ketika Soekarno dilahirkan, masyarakat Jawa sedang mengalami perubahan ekonomi sosial dan politik sebagai dampak modernisasi. Selama seperempat abad sebelumnya, bersama negeri-negeri lain di Asia dan Afrika, Indonesia mulai merasakan dampak kuat tenaga ekspansif industri Eropa. Daerah jajahan Hindia Belanda justru secara mantap diciptakan selama periode ini. Mitos tentang nasionalisme nosionalisme adalah, kepulauan itu dijajah selama 350 tahun dibawah kekeuasaan Belanda sejak tahun 1602, ketika VOC mulai beroperasi, sampai Perang Dunia kedua. Dalam kenyataannya hanya menjelang akhir abad ke-19 kekuasaan Belanda berlaku atas kepulauan itu. Kegiatan-kegiatan Belanda selama 200 tahun sebelumnya hanyalah meletakkan dasar-dasar bagi kekuasaannya.
Ekspansi besar-besaran ekonomi ekspor Hindia sebagai akibat penanaman modal Belanda secara langsung ini telah disertai perluasan penguasaan territorial yang cepat. Sesudah 1870 sengaja dilakukan tindakan untuk membulatkan kekuasaan Belanda atas seluruh kepulauan Indonesia. Ekspansi territorial yang terjadi dengan tiba-tiba merupakan bagian dari gelombang persaingan imprealisme Eropa Barat yang pada akhir abad ke-19 membagi-bagi sebagian besar daerah-daerah yang terbelakang ini, sehingga terpecah-pecah menjadi jajahan Inggris, Perancis, Jerman, Belanda dan Belgia. Meskipun Belandasudah ada di Indonesia sejak tiga abad, baru sesudah 1870 mereka bergerak mendirikan apa yang kemudian bisa di katakana sebagai kekuatan imperium baru.
Perkembangan ini mendapat reaksi dari golongan elite pribumi. Ada yang berhasil menyesuaikan dirinya dalam kekuasaan kolonial Belanda dengan menjadi ambtenar tanpa hasrat untuk mengubahnya. Ada yang berkeinginan memperoleh jaminan otonomi bagi bangsanya di masa depan, yang harus dicapai melaui kerjasama dengan penguasa dan melalui konsesi-konsesi yang diperoleh berangsur-angsur dari pemerintah Hindia Belanda. Ada juga yang melihat pada evolusi persekutuan Indonesia dengan Belanda. Tetapi bagi yang lain lagi, kehinaan dibawah telapak kaki penjajah merupakan kenyataan yang menyolok. Satu-satunya jalan yang dapat ditempuh, menurut mereka, adalah perjuangan tanpa kompromi, bahkan mungkin dengan kekerasan untuk memperoleh kemerdekaan yang sempurna. Soekarno berada di dalam kategori terakhir ini, semenjak masa muda di dalam hasilnya membara rasa jijik terhadap diskriminasi yang dilakukan kekuasaan kolonial.
Nasionalisme Indonesia pada hakekatnya adalah suatu gejala baru yang berada dari gerakan-gerakan perlawanan sebelumnya terhadap kekuasaan Belanda. Perang Jawa 1825 – 1830 misalnya, merupakan suatu gerakn setempat yang mencerminkan ketidakpuasan lokal dan sangat berbeda sifatnya dari arus perlawanan yang baru muncul pada awal abad ke – 20 Nasionalisme baru itu adalah hasil imprealisme baru. Ia harus dipandang sebagai bagian dari suatu gerakan lebih besar yang melibatkan banyak bagian tanah jajahan baru yang diciptakan Eropa di Asia dan Afrika pada penghujung abad ke-19. Dan gerakan itu hanya menentang kekuasaan colonial, tetapi juga memikirkan dan mengembangkan pandangan baru, yang sadar akan kepribadian nasional. Tentu kedua aspek itu berjalan sejajar, rasa kebangsaan ditempa kedalam pengalaman bersama melawan penindasan colonial, namun, gagasan-gagasan tentang kebangsaan kemudian penciptaan suatu negara modern.
Soekarno memang turut memberikan bentuk pada rasa kesadaran-diri yang baru, namun bukan Soekarno yang menciptakannya. Dasar-dasar pokok kesadaran baru itu terletak dalam proses perubahan sosial yang digerakkan oleh ekspansi politik dan kekuasaan colonial Belanda pad atahun-tahun kemudian. Pada abad ke-1, wakil-wakil VOC memang mengumpulkan hasil bumi, tetapi pengaruhnya hanya terbatas pada tatanan-tatanan politik dan sosial yang mereka temukan di sana, dan mereka bahkan menaruh sekedar rasa hormat terhadap kekuasaan pribumi yang ada. Namun, pada akhir abad ke – 19 pemerintah dan modal Belanda telah merombak Indonesia dilancarkannya kegiatan-kegiatan ek
Ketika Soekarno dilahirkan, masyarakat Jawa sedang mengalami perubahan ekonomi sosial dan politik sebagai dampak modernisasi. Selama seperempat abad sebelumnya, bersama negeri-negeri lain di Asia dan Afrika, Indonesia mulai merasakan dampak kuat tenaga ekspansif industri Eropa. Daerah jajahan Hindia Belanda justru secara mantap diciptakan selama periode ini. Mitos tentang nasionalisme nosionalisme adalah, kepulauan itu dijajah selama 350 tahun dibawah kekeuasaan Belanda sejak tahun 1602, ketika VOC mulai beroperasi, sampai Perang Dunia kedua. Dalam kenyataannya hanya menjelang akhir abad ke-19 kekuasaan Belanda berlaku atas kepulauan itu. Kegiatan-kegiatan Belanda selama 200 tahun sebelumnya hanyalah meletakkan dasar-dasar bagi kekuasaannya.
Ekspansi besar-besaran ekonomi ekspor Hindia sebagai akibat penanaman modal Belanda secara langsung ini telah disertai perluasan penguasaan territorial yang cepat. Sesudah 1870 sengaja dilakukan tindakan untuk membulatkan kekuasaan Belanda atas seluruh kepulauan Indonesia. Ekspansi territorial yang terjadi dengan tiba-tiba merupakan bagian dari gelombang persaingan imprealisme Eropa Barat yang pada akhir abad ke-19 membagi-bagi sebagian besar daerah-daerah yang terbelakang ini, sehingga terpecah-pecah menjadi jajahan Inggris, Perancis, Jerman, Belanda dan Belgia. Meskipun Belandasudah ada di Indonesia sejak tiga abad, baru sesudah 1870 mereka bergerak mendirikan apa yang kemudian bisa di katakana sebagai kekuatan imperium baru.
Perkembangan ini mendapat reaksi dari golongan elite pribumi. Ada yang berhasil menyesuaikan dirinya dalam kekuasaan kolonial Belanda dengan menjadi ambtenar tanpa hasrat untuk mengubahnya. Ada yang berkeinginan memperoleh jaminan otonomi bagi bangsanya di masa depan, yang harus dicapai melaui kerjasama dengan penguasa dan melalui konsesi-konsesi yang diperoleh berangsur-angsur dari pemerintah Hindia Belanda. Ada juga yang melihat pada evolusi persekutuan Indonesia dengan Belanda. Tetapi bagi yang lain lagi, kehinaan dibawah telapak kaki penjajah merupakan kenyataan yang menyolok. Satu-satunya jalan yang dapat ditempuh, menurut mereka, adalah perjuangan tanpa kompromi, bahkan mungkin dengan kekerasan untuk memperoleh kemerdekaan yang sempurna. Soekarno berada di dalam kategori terakhir ini, semenjak masa muda di dalam hasilnya membara rasa jijik terhadap diskriminasi yang dilakukan kekuasaan kolonial.
Nasionalisme Indonesia pada hakekatnya adalah suatu gejala baru yang berada dari gerakan-gerakan perlawanan sebelumnya terhadap kekuasaan Belanda. Perang Jawa 1825 – 1830 misalnya, merupakan suatu gerakn setempat yang mencerminkan ketidakpuasan lokal dan sangat berbeda sifatnya dari arus perlawanan yang baru muncul pada awal abad ke – 20 Nasionalisme baru itu adalah hasil imprealisme baru. Ia harus dipandang sebagai bagian dari suatu gerakan lebih besar yang melibatkan banyak bagian tanah jajahan baru yang diciptakan Eropa di Asia dan Afrika pada penghujung abad ke-19. Dan gerakan itu hanya menentang kekuasaan colonial, tetapi juga memikirkan dan mengembangkan pandangan baru, yang sadar akan kepribadian nasional. Tentu kedua aspek itu berjalan sejajar, rasa kebangsaan ditempa kedalam pengalaman bersama melawan penindasan colonial, namun, gagasan-gagasan tentang kebangsaan kemudian penciptaan suatu negara modern.
Soekarno memang turut memberikan bentuk pada rasa kesadaran-diri yang baru, namun bukan Soekarno yang menciptakannya. Dasar-dasar pokok kesadaran baru itu terletak dalam proses perubahan sosial yang digerakkan oleh ekspansi politik dan kekuasaan colonial Belanda pad atahun-tahun kemudian. Pada abad ke-1, wakil-wakil VOC memang mengumpulkan hasil bumi, tetapi pengaruhnya hanya terbatas pada tatanan-tatanan politik dan sosial yang mereka temukan di sana, dan mereka bahkan menaruh sekedar rasa hormat terhadap kekuasaan pribumi yang ada. Namun, pada akhir abad ke – 19 pemerintah dan modal Belanda telah merombak Indonesia dilancarkannya kegiatan-kegiatan ek

More info:

Published by: Peter Kasenda on Dec 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

05/15/2014

 
_abegvda) Lgjgshs}g `gd Dgshadgihslb
 Kgdmgd pgdxg g~g xgdm Dbmgvg fbvhegd ~g`glr)Pbpg~h Pgdxg g~g xgdm eglr fbvhegd ~g`g Dbmgvg$
Kjad C$ Ebddb`x
Ebpheg _abegvda `higjhvegd) lgsxgvgegp Kg}g sb`gdm lbdmgiglh ~bvrfgjgdbeadalh sashgi `gd ~aihphe sbfgmgh `gl~ge la`bvdhsgsh$ _biglg sb~bvbl~gp gfg`sbfbirldxg) fbvsglg dbmbvh,dbmbvh ighd `h Gshg `gd Gcvheg) Hd`adbshg lrigh lbvgsgegd`gl~ge ergp pbdgmg bes~gdshc hd`rspvh Bva~g$ @gbvgj kgkgjgd Jhd`hg Fbigd`g krspvrsbogvg lgdpg~ `hoh~pgegd sbiglg ~bvha`b hdh$ Lhpas pbdpgdm dgshadgihslb dashadgihslbg`gigj) eb~rigrgd hpr `hkgkgj sbiglg ?2> pgjrd `hfg}gj ebebrgsggd Fbigd`g sbkge pgjrd73>6) ebpheg SAO lrigh fbva~bvgsh) sgl~gh ^bvgdm @rdhg eb`rg$ @gigl ebdxgpggddxgjgdxg lbdkbigdm gejhv gfg` eb,78 ebergsggd Fbigd`g fbviger gpgs eb~rigrgd hpr$Ebmhgpgd,ebmhgpgd Fbigd`g sbiglg 6>> pgjrd sbfbirldxg jgdxgigj lbibpgeegd `gsgv,`gsgv fgmh ebergsggddxg$Bes~gdsh fbsgv,fbsgvgd beadalh bes~av Jhd`hg sbfgmgh gehfgp ~bdgdglgd la`giFbigd`g sbogvg igdmsrdm hdh pbigj `hsbvpgh ~bvirgsgd ~bdmrgsggd pbvvhpavhgi xgdm ob~gp$_bsr`gj 7:=> sbdmgkg `higeregd phd`gegd rdpre lblfrigpegd ebergsggd Fbigd`g gpgssbirvrj eb~rigrgd Hd`adbshg$ Bes~gdsh pbvvhpavhgi xgdm pbvkg`h `bdmgd phfg,phfg lbvr~gegd fgmhgd `gvh mbialfgdm ~bvsghdmgd hl~vbgihslb Bva~g Fgvgp xgdm ~g`g gejhv gfg` eb,78lblfgmh,fgmh sbfgmhgd fbsgv `gbvgj,`gbvgj xgdm pbvfbigegdm hdh) sbjhdmmg pbv~bogj, ~bogj lbdkg`h kgkgjgd Hdmmvhs) ^bvgdohs) Kbvlgd) Fbigd`g `gd Fbimhg$ Lbseh~rdFbigd`gsr`gj g`g `h Hd`adbshg sbkge phmg gfg`) fgvr sbsr`gj 7:=> lbvbeg fbvmbvge lbd`hvhegd g~g xgdm eblr`hgd fhsg `h egpgegdg sbfgmgh ebergpgd hl~bvhrl fgvr$^bveblfgdmgd hdh lbd`g~gp vbgesh `gvh maiadmgd bihpb ~vhfrlh$ G`g xgdm fbvjgshilbdxbsrghegd `hvhdxg `gigl ebergsggd eaiadhgi Fbigd`g `bdmgd lbdkg`h glfpbdgv pgd~gjgsvgp rdpre lbdmrfgjdxg$ G`g xgdm fbvebhdmhdgd lbl~bvaibj kglhdgd apadalh fgmh fgdmsgdxg `h lgsg `b~gd) xgdm jgvrs `hog~gh lbigrh ebvkgsglg `bdmgd ~bdmrgsg `gdlbigirh eadsbsh,eadsbsh xgdm `h~bvaibj fbvgdmsrv,gdmsrv `gvh ~blbvhdpgj Jhd`hgFbigd`g$ G`g krmg xgdm lbihjgp ~g`g bairsh ~bvsberprgd Hd`adbshg `bdmgd Fbigd`g$Pbpg~h fgmh xgdm ighd igmh) ebjhdggd `hfg}gj pbig~ge egeh ~bdkgkgj lbvr~gegd ebdxgpggdxgdm lbdxaiae$ _gpr,sgprdxg kgigd xgdm `g~gp `hpbl~rj) lbdrvrp lbvbeg) g`gigj ~bvkrgdmgd pgd~g eal~valh) fgjegd lrdmehd `bdmgd ebebvgsgd rdpre lbl~bvaibjeblbv`beggd xgdm sbl~rvdg$ _abegvda fbvg`g `h `gigl egpbmavh pbvgejhv hdh) sblbdkge lgsg lr`g `h `gigl jgshidxg lblfgvg vgsg khkhe pbvjg`g~ `hsevhlhdgsh xgdm `higeregdebergsggd eaiadhgi$ Dgshadgihslb Hd`adbshg ~g`g jgebegpdxg g`gigj srgpr mbkgig fgvr xgdm fbvg`g`gvh mbvgegd,mbvgegd ~bvig}gdgd sbfbirldxg pbvjg`g~ ebergsggd Fbigd`g$ ^bvgdm Kg}g7:62 7:?> lhsgidxg) lbvr~gegd srgpr mbvged sbpbl~gp xgdm lbdobvlhdegdebph`ge~rgsgd iaegi `gd sgdmgp fbvfb`g shcgpdxg `gvh gvrs ~bvig}gdgd xgdm fgvr lrdori ~g`g g}gi gfg` eb ‟ 6> Dgshadgihslb fgvr hpr g`gigj jgshi hl~vbgihslb fgvr$ Hg jgvrs`h~gd`gdm sbfgmgh fgmhgd `gvh srgpr mbvgegd ibfhj fbsgv xgdm lbihfgpegd fgdxge fgmhgd7
]bf; }}}$~bpbvegsbd`g$}av`~vbss$oalBlghi; lv$egsbd`gNmlghi$oal) ~bpbvegsbd`gNvaoebplghi$oal
 
pgdgj kgkgjgd fgvr xgdm `hoh~pgegd Bva~g `h Gshg `gd Gcvheg ~g`g ~bdmjrkrdm gfg` eb,78$ @gd mbvgegd hpr jgdxg lbdbdpgdm ebergsggd oaiadhgi) pbpg~h krmg lblhehvegd `gdlbdmblfgdmegd ~gd`gdmgd fgvr) xgdm sg`gv gegd eb~vhfg`hgd dgshadgi$ Pbdpr eb`rggs~be hpr fbvkgigd sbkgkgv) vgsg ebfgdmsggd `hpbl~g eb`gigl ~bdmgiglgd fbvsglglbig}gd ~bdhd`gsgd oaiadhgi) dglrd) mgmgsgd,mgmgsgd pbdpgdm ebfgdmsggd eblr`hgd ~bdoh~pggd srgpr dbmgvg la`bvd$_abegvda lblgdm prvrp lblfbvhegd fbdpre ~g`g vgsg ebsg`gvgd,`hvh xgdm fgvr)dglrd fregd _abegvda xgdm lbdoh~pgegddxg$ @gsgv,`gsgv ~aeae ebsg`gvgd fgvr hprpbvibpge `gigl ~vasbs ~bvrfgjgd sashgi xgdm `hmbvgeegd aibj bes~gdsh ~aihphe `gdebergsggd oaiadhgi Fbigd`g ~g` gpgjrd,pgjrd eblr`hgd$ ^g`g gfg` eb,7) }gehi,}gehiSAO lblgdm lbdmrl~riegd jgshi frlh) pbpg~h ~bdmgvrjdxg jgdxg pbvfgpgs ~g`gpgpgdgd,pgpgdgd ~aihphe `gd sashgi xgdm lbvbeg pblregd `h sgdg) `gd lbvbeg fgjegdlbdgvrj sbeb`gv vgsg javlgp pbvjg`g~ ebergsggd ~vhfrlh xgdm g`g$ Dglrd) ~g`g gejhv gfg` eb ‟ 78 ~blbvhdpgj `gd la`gi Fbigd`g pbigj lbvalfge Hd`adbshg `higdogvegddxgebmhgpgd,ebmhgpgd beadalh fgvr pbigj lbdmmgdmmr ebsbhlfgdmgd lgsxgvgegp,lgsxgvgegp gmvgvhs pvg`hsadgi$ Ebergsggd,ebergsggd beadalh fgvh hpr lbd`avadmlrdoridxg ebigs,ebigs fgvr) lbdmhehs eb`r`regd maiadmgd bihpb pvg`hshadgi `gdlbdmbd`avegd fgdxge hegpgd ealrdgi xgdm pbigj lblfbvhegd ihdmerdmgd lgdpg~ fgmhlgssg,vgexgp hpr) ebg`ggd hpr lbdoh~pgegd ebsgprggd ~aihphe rdpre ~bvpglg egihdxg ~g`geb~rigrggd hpr) `gd `bdmgd `blhehgd lblfreg shprgsh xgdm lrdmehd avgdm Hd`adbshglbihjgp kgrj eb irgv lbigl~grh ~bdmjapge,eapgegd bpdhs ebgvgj eblrdmehdgd ebsgprggddgshadgi$ ^bvrfgjgd,~bvrfgjgd hdh fregd sgkg prvrp lbdoh~pgegd ebvbsgjgd xgdm lgehd fbsgv `hegigdmgd ~bd`r`re sbfgmgh srgpr ebsbirvrjgd) pbpg~h krmg) `gigl gvph xgdm ibfhj ~ashphc) lbdoh~pgegd ebsg`gvgd fgvr pbdpgdm srgpr `rdhg xgdm sb`gdm lbdmgiglh ~bvrfgjgd) `gd eb~blhl~hdgd ~aihphe xgdm `g~gp `hkg`hegd sgirvgd ~bdmrdmeg~gdebsg`gvgd fgvr hpr$^g`g frigd Kgdrgvh 78>7 Vgpr ]hjbilhdg lbdmrlrlegd `h `b~gd ~gviblbd ~vamvgl ^blbvhdpgj Fbigd`g xgdm fgvr sgkg pbv~hihj$ ^blbvhdpgj lbdmgerh fgj}gsblbdpgvg `h lsg igir fgdxge ~bvrsgjgd `gvh avgdm,avgdm Fbigd`g pbigj lbl~bvaibjebrdprdmgd xgdm fbvih~gp `gvh Jhd`hg Fbigd`g) ~bd`r`re `h pgdgj kgkgjgd hpr sbd`hvhlbdkg`h lhsehd$ Prkrgd rpglg ~blbvhdpgj kgkgjgd `h lgsg lbd`gpgdm hgigj lbl~bvfghehebsbkgjpvggd vgexgp$ Vgpr ]hijbilhdg lbdglfgjegd fgj}g fgdmsg Fbigd`g ’pbigj fbvjrpgdm fr`h“ eb~g`g vgexgp Jhd`hg Fbigd`g) ~bvigjgd,igjgd lbl~bvirgs ebsbl~gpgd fgmh gdge,gdge Hd`adbshg `gvh maiadmgd gpgs rdpre lbdmherph ~bd`h`hegd fbvfgjgsgFbigd`g$^blfbvhgd ~bd`h`hegd Fgvgp eb~g`g gdmmapg,gdmmapg egigdmgd bihpb ~hfrlh pge `hsbvpgh `bdmgd ~vamvgl xgdm kbigs g~g ~rd rdpre lblgdcggpegd irirsgd ~bd`h`hegd hpr)lbseh~rd lbvbeg jgdxg sb`hehp krligjdxg$ Ebfhkgesgdggd lbdmh{hdegd sbkrligj avgdmHd`adbshg lblgsreh sbeaigj vbd`gj `gd lbdbdmgj) pbvdxgpg ph`ge lblfreg ibfgv,ibfgv)egvbdg ~bd`h`hegd sblgogl hpr fgjegd fbvg`g `hirgv kgdmegrgd sbfgmhgd fbsgv egrl ~vhxgxh$ Lbseh~rd `blhehgd ~bvlhdpgg `h pbl~gp,pbl~gp `h sbeaigj hpr kgrj ibfhj fbsgv `gvh~g`g xgdm pbvsb`hg) `gd ig~gdmgd ebvkg ~rd ph`ge orer~ pbvsb`hg fgmh fbfbvg~g vgprsavgdm Hd`adbshg xgdm sbphg~ pgjrddxg pglgp$ Jgdxg sb`hehp xgdm `hpbvhlg `gd lbd`g~gpspgprs `gigl kgfgpgd vbd`gj `gigl ~blbvhdpgj gpgr `gigl ~bvrsgjggd Fbigd`g) lbseh~rdavgdm Hd`adbshg xgdm lbiglgv lbdblregd `hvhdxg lbdkg`h eavfgd ebfhkgesgdggd`hsevhlhdgphc xgdm lbd`gjriregd fgdmsg Fbigd`g gpgr Hd`a `gvh ~g`g avgdm Hd`adbshg$6
]bf; }}}$~bpbvegsbd`g$}av`~vbss$oalBlghi; lv$egsbd`gNmlghi$oal) ~bpbvegsbd`gNvaoebplghi$oal
 
@gigl fgdxge ig~gdmgd ebvkg pbv`g~gp ~bvfb`ggd `gigl dhigh r~gj xgdm `hfbvhegd eb~g`gavgdm Hd`adbshg `gd pbdgmg ebvkg Fbigd`g 5 fgmh fgdxge irirsgd sbeaigj ph`ge pbvsb`hgig~gdmgd ebvkg$ @rg jgi pgl~ge lbdadkai ; Egigdmgd gpgs xgdm lbdbvhlg ~bd`h`hegdsbogvg Fgvgp jgdxg lbdkg`h ebial~ae ebohi `gigl lgsxgvgegp ; lbseh~rd hdh srgprebdxgpggd) pbpg~h lbvbeg g`gigj egigdmgd gpgs xgdm `hmgkh vbd`gj) lbd`bvhpg crvpgsh)`hvrd`rdm eb~bdgpgd egvbdg ebphg`ggd ebsbl~gpgd) `gd ibegs pbvshdmmrdm aibj ~gd`gdmgd xgdm lbvblbjegd `gd lbdmjhdg) xgdm `hsbfgfegd spgprsdxg xgdm vbd`jg `gdsheg~ Fbigd`g xgdm sbogvg sblfgvgdmgd lblglbvegd ebrdmmrigddxg$_bfgf,sbfgf dgshadgihslb gfg` eb,6> jgvrs `h ogvh ~g`g pbvmgdmmrdxgebsbhlfgdmgd lgsxgvgegp‟lgsxgvgegp pvg`hsadgi sbfgmgh gehfgp `gh `gl~ge ~bdrjhd`hsrpvh la`bvd Bva~g$ @bdmgd lrdoridxg egrl obd`heh}gd fgvr) vgsg ph`ge ~rgslgssg `g~gp `hsgirvegd `gd avmgdhsgsh eb `gigl mbvgegd,mbvgegd ebergpgd ~aihphe xgdmlbdbdpgdm v}{hl oaiadhgi) lblgd`gdm eb `b~gd sbogvg ~ashphc rdpre lblfgdmrdsbfrgj Dbmgvg lbv`beg xgdm `h`gsgvegd ~g`g dhigh,dhigh ~bvsb~sh fgvr pbdpgdmeb~vhfg`hggd dgshadgi `gd lbvalfge pgpgdgd iglg pvg`hshadgi$ Dglrd hdh ~rd fregd ehsgj sbibdmeg~dxg Dgshagdihslb fregd jgdxg ~va`re `gvhsrgpr vgsg ebfbvsglggd ‟vgsg ph`ge ~rgs lgssg `hpglfgj eb~blhl~hdgd xgdm lbdmgiglhcvrspgsh$ Fgmh ~gvg ~blhl~hd `gd ~bdmherp,~bdmherpdxg eblbirp xgdm lbdkbvgp lbvbeg`gigl fbfbvg~g jgi fbvshcgp ~shaeaiamhs) srgpr eblbirp h`bdphpgs hd`hh`rgi `gd ebibephc sbfgmgh srgpr pgpgdgd pbpg~ xgdm `hprd`reegd ~g`g pbegdgd,pbegdgd fgvr `gd igvrpdxgdhigh,dhigh xgdm pbigj lgdpg~$ @gigl srgpr jgi) hdh g`gigj lgsgigj rdpre lbdmbpgjrhshg~g `hvhdxg `gd g~g maiadmgddxg$ G`g~p ebfhgsggd pbigj lblfbvh kg}gfgd eb~g`g ~bvpgdxggd,~bvpgdxggd hdh) dglrl ~bvrfgjgd sashgi `gd ~bvmbsbvgd shspbl spgprslblfreg eblfgih lgsgigj,lgsgigj hpr$ ^bd`h`hegd Fgvgp pbigj lbdmgshdmegd sbkrligjegrl pbv~bigkgv `gvh lgsxgvgegpdxg sbd`hvh `gd ~gd`gdmgd,~gd`gdmgd xgdm fbvigersbfbirldxg) lbdkg`hegd lbvbeg ~rpvg,~rpvg {glgd ~bdobvgjgd Bva~g) pbpg~h pgd~glbdkg`hegddxg avgdm Bva~g$ Rdpre sbfgmhgd `gvh lbvbeg hpr) dgshadgihslb lbvr~gegdsrgpr ~bdxbibsghgd `gvh ebpbmgdmgd mgmgsgd hdh$@hfregdxg sbeaigj vbd`gj aibj Fbigd`g fgmh avgdm Hd`adbshg ) lblrdmehdegdsbfgmhgd `gvh lbvbeg) `gigl }gepr xgdm sr`gj `hpbpg~egd) lbdbvrsegd ~bigkgvgddxg `hsbeaigj lbdbdmgj Fbigd`g) lbseh~rd ebsbl~gpgd sblgogl hpr sgdmgp pbvfgpgs$Ebirgvmg,ebirgvmg Hd`adbshg jgvrs lgl~r lblfgxgvdxg) krligj pbl~gp xgdm pbvsb`hg kgrj `hfg}gj ~bvlhdpggd$ Rdpre lbdkglhd ~bdbvhlggddxg) `h~bviregd ebobd`bvrdmgdsashgi `gd ~bdmgvrj$ @gigl ~vgepbedxg g`g ebobd`bvrdmgd jgdxg ~rpvg,~rpvg ~vhxgxhxgdm lbd`g~gp eblr`gjgd hpr$_blrig _abegvda fbigkgv `h JH_) Prirdm Gmrdm$ Gxgjdxg fbvlgesr`lblfbvhegd ~bd`h`hegd xgdm fghe eb~g`gdxg `gd lblgsreegd eb Brva~bvb Igmbvb_ojaai `b Lakaebvpa `bdmgd jgvg~gd _abegvda dgdphdxg fhsg lblgsreh JF_ xgdm igirlblfbvh ~birgdm rdpre lblgsreh ~bvmrvrgd phdmmh Fbigd`g$ Lbvbeg fbv`rg) gxgj `gdgdge fbvgdmmg~gd fgj}g _abegvda `g~gp lbigdkrpegd ~bigkgvgddxg `h BI_ hpr ebigs xgdmsglg sb~bvph `h JH_$ Dglrd) pbs sbeaigj xgdm `hglfhi aibj eb~gig sbeaigj lbdrdkreegd fgj}g _abegvda ervgdm lbdmrgsgsh fgjgsg Fbigd`g) fgjgsg ~bdmgdpgv xgdm `h~gegh `hBI_ sbjhdmmg hg jgvrs `hprvrdegd sgpr ebigs$ Aibj egvbdg hpr) gxgjdxg lbdmmgkhsbavgddm }gdhpg Fbigd`g rdpre lbdmgkgvdxg$Jgdxg sbmbihdphv gdge,gdge ~vhfrlh xgdm `h~bvfaibjegd lgsre BI_$ ^gvg ogigad ~vhfrlh sbighd jgvrs lblhiheh phdmegp ebobv`gsgd xgdm lbibfhjh vgpg,vgpg) avgdm prg?
]bf; }}}$~bpbvegsbd`g$}av`~vbss$oalBlghi; lv$egsbd`gNmlghi$oal) ~bpbvegsbd`gNvaoebplghi$oal

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
Ardhyz Bushi-do liked this
1 thousand reads
1 hundred reads
Damar Aryadinata liked this
Yudha Pradana liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->