Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kedisiplinan Siswa

Kedisiplinan Siswa

Ratings: (0)|Views: 233 |Likes:
Published by Mattobi'i
Kedisiplinan siswa dipandang dari sudut psikologi perkembangan
Kedisiplinan siswa dipandang dari sudut psikologi perkembangan

More info:

Published by: Mattobi'i on Dec 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/30/2014

pdf

text

original

 
KEDISIPLINAN SISWA
Program layanan bimbingan dan konseling di sekolah yang baik adalah yangmampu memberikan dukungan besar kepada para siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan mereka. Sehubungan dengan upaya peningkatan kemampuan untuk menerima dan melakukan peraturan tata tertib siswa, setiap guru sekolah selayaknyamemahami seluruh proses perkembangan sosial dan moral siswa, khususnya yang berkaitan dengan masa prayuwana dan yuwana, yakni anak-anak dan remaja yang duduk disekolah menengah. Pengetahuan mengenai proses perkembangan sosial dan moral siswadengan segala aspeknya perlu dipahami sebagai bahan pertimbangan pokok dalammengupayakan peningkatan kemampuan untuk menerima dan melakukan peraturan tatatertib siswa.Apabila kita meneliti dunia pendidikan dalam praktek, masih banyak kita jumpaiguru-guru yang beranggapan, bahwa pekerjaan mereka tidak lebih dari menumpahkan air ke dalam botol kosong. Guru yang benar-benar dapat berhasil adalah guru yang menyadari bahwa dia mengajarkan sesuatu kepada manusia-manusia yang berharga dan berkembang.Dengan bekal kesadaran semacam itu di kalangan para pendidik, hal ini sudah memberikanharapan agar guru-guru menghormati pekerjaan mereka sebagai guru. Pekerjaan guruadalah lebih bersifat psikologis dari pada pekerjaan seorang dokter, insiyur, atau ahlihukum. Untuk itu, guru hendaknya mengenal anak didik serta menyelami kehidupankejiwaan anak didik sepanjang waktu. Guru hendaknya tidak jemu dengan pekerjaannya,meskipun dia tidak dapat menentukan atau meramalkan secara tegas tentang bentuk manusia yang bagaimanakah yang akan dihasilkannya di kelak kemudian hari. Ini menjadikenyataan, bahwa guru tak pernah mengetahui hasil akhir dari pekerjaannya.Sekolah-sekolah yang menekankan disiplin ketat terhadap murid-murid di sekolahserta menjadikan disiplin sebagai alat vital untuk menyampaikan bahan pelajaran kepadamurid-murid, maka sekolah-sekolah semacam itu belum memberi tempat yang terhormatterhadap psikologi dalam pendidikan. Disiplin pada hakikatnya hanya salah satu metodedalam pengajaran guna menumbuhkan kepatuhan ekstrinsik pada anak didik. Kita perlumerenungkan, bahwa kepatuhan ekstrinsik dapat merupakan perintang bagi perkembangan pribadi anak didik.Dalam psikologi, kepatuhan yang datang dari luar merupakan isyarat adanyakonflik antara otoritarianisme dan demokrasi. Dalam pendidikan, kepatuhan memang perlu, tetapi kepatuhan itu sendiri hendaknya tidak sepihak. Kepatuhan sebaiknya terjadisecara timbal balik di antara semua pihak yang terlibat di dalam pendidikan, baik itu anak didik, orang tua dan masyarakat, maupun tenaga pendidik. Semua pihak yang terlibatdalam proses pendidikan perlu mengarahkan perhatian kepada sifat dan hakikat anak didik,sehingga pelayanan pengajaran membuahkan pribadi-pribadi yang berkembang secarawajar dan efektif. Dalam hal ini penerapan psikologi kepribadian terutama perkembangansosial dan moral memerlukan pemikiran yang mendalam, agar pelayanan atau perlakuan pendidik terhadap anak didik sesuai dengan sifat hakikat anak didik.Pendidikan, ditinjau dari sudut psikososial (kejiwaan kemasyarakatan), adalahupaya penumbuhkembangan sumber daya manusia melalui proses hubungan interpersonal(hubungan antarpribadi) yang berlangsung dalam lingkungan masyarakat yangterorganisasi, dalam hal ini masyarakat pendidikan dan keluarga. Sedangkan dalammerespon perilaku di sekolah misalnya, siswa bergantung pada persepsinya terhadaptenaga pendidikan di sekolah dan teman-teman sebaya. Positif atau negatifnya persepsi
 
siswa terhadap guru dan teman-temannya itu sangat mempengaruhi kualitas hubungansosial para siswa dengan lingkungan sosial di sekolah dan bahkan kualitas moral siswa.Selanjutnya pendidikan baik yang berlangsung secara formal di sekolah maupunyang berlangsung secara informal di lingkungan keluarga memiliki peranan penting dalammengembangkan psikososial siswa. Perkembangan psikososial siswa, atau sebut saja perkembangan sosial siswa, adalah proses perkembangan kepribadian siswa selaku seoranganggota masyarakat dalam hubungan dengan orang lain. Perkembangan ini berlangsungsejak masa bayi hingga akhir hayatnya.Perkembangan sosial hampir dapat dipastikan juga perkembangan moral, sebab prilaku moral pada umumnya merupakan unsur fundamental dalam bertingkah laku sosial.Seorang siswa hanya akan mampu berperilaku sosial dalam situasi sosial tertentu secaramemadai apabila menguasai pemikiran norma perilaku moral yang diperlukan untuk situasisosial tersebut.Seperti dalam proses-proses perkembangan lainnya, proses perkembangan sosialdan moral siswa juga selalu berkaitan dengan proses belajar. Konsekuensinya, kualitashasil perkembangan sosial siswa sangat bergantung pada kualitas proses belajar (khususnya belajar sosial) siswa tersebut, baik di lingkungan sekolah dan keluarga maupundi lingkungan yang lebih luas. Ini bermakna bahwa proses belajar itu amat menentukankemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku sosial yang selaras dengan norma moralagama, moral tradisi, moral hukum, dan norma moral lainnya yang berlaku dalammasyarakat siswa yang bersangkutan.Secara umum, proses dapat diartikan sebagai runtutan perubahan yang terjadi dalam perkembangan sesuatu. Adapun maksud kata proses dalam perkembangan siswa ialahtahapan-tahapan perubahan yang dialami seorang siswa, baik yang bersifat jasmaniahmaupun yang bersifat rohaniah. Proses dalam hal ini juga berarti tahapan perubahantingkah laku siswa, baik yang terbuka maupun yang tertutup. Proses bisa juga berarti caraterjadinya perubahan dalam diri siswa atau respon/reaksi yang ditimbulkan oleh siswatersebut.Adalah hal yang pasti bahwa setiap fase atau tahapan perkembangan kehidupanmanusia senantiasa berlangsung seiring dengan kegiatan belajar. Kegiatan belajar dalamhal ini tidak berarti merupakan kegiatan belajar yang ilmiah. Dalam rangka memfungsikantahap-tahap perubahan yang menyertai perkembangannya, manusia harus belajar melakukan kebiasaan-kebiasaan tertentu umpamanya belajar melakukan kebiasaan-kebiasaan berperilaku positif yang sesuai norma sosial di sekolah pada saat atau masa perkembangan usia sekolah dipandang berkaitan langsung dengan perkembangan sosialdan moral siswa pada fase perkembangan berikutnya. Perkembangan sosial dan moraltersebut seyogianya selalu diperhitungkan secara cermat oleh para orang tua dan gurusebagai sesuatu yang harus terjadi secara ilmiah dan tepat pada waktunya. Perhatian orangtua dan juga guru (khususnya untuk fase masa sekolah) amat diperlukan, mengingatkeberhasilan pelaksanaan tugas perkembangan pada suatu fase akan sangat menunjangkeberhasilan tugas perkembangan pada fase-fase berikutnya.Masa remaja (
adolescence
) menurut sebagian ahli psikologi terdiri atas sub-submasa perkembangan sebagai berikut: 1) subperkembangan
 prepuber 
selama kurang lebihdua tahun sebelum masa puber; 2) subperkembangan
 puber 
selama dua setengah sampaitiga setengah tahun; 3) subperkembangan
 post-puber,
yakni saat perkembangan biologissudah lambat tapi masih terus berlangsung, pada bagian-bagian organ tertentu. Saat inimerupakan akhir masa puber yang mulai menampakkan tanda-tanda kedewasaan.Proses perkembangan pada masa remaja lazimnya berlangsung selama kurang lebih11 tahun, mulai usia 12-21 pada wanita dan 13-22 tahun pada pria. Masa perkembanganremaja yang panjang ini dikenal sebagai masa yang penuh kesukaran dan persoalan, bukan
 
saja bagi si remaja sendiri melainkan juga bagi para orang tua, guru, dan masyarakatsekitar. Bahkan, tak jarang para penegak hukum pun turut direpotkan oleh ulah dan tindak-tanduknya yang dipandang menyimpang.Mengapa demikian? Secara singkat jawabannya ialah karena individu remajasedang berada di persimpangan jalan antara dunia anak-anak dan dunia dewasa.Sehubungan dengan hal ini, hampir dapat dipastikan bahwa segala sesuatu yang sedangmengalami atau dalam keadaan transisi (masa peralihan) dari suatu keadaan ke keadaanlainnya selalu menimbulkan gejolak, goncangan, dan benturan yang kadang-kadang berakibat sangat buruk bahkan fatal (mematikan).Adapun tugas-tugas perkembangan masa remaja pada umumnya meliputi pencapaian dan persiapan segala hal yang berhubungan dengan kehidupan masa dewasa:1.Mencapai pola hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya yang berbeda jenis kelamin sesuai dengan keyakinan dan etika moral yang berlaku dimasyarakat.2.Mencapai peranan sosial sebagai seorang pria (jika ia seorang pria) dan peranansosial seorang wanita (jika ia seorang wanita) selaras dengan tuntutan sosial dan kultur masyarakatnya.3.Menerima kesatuan organ-organ tubuh sebagai pria (jika ia seorang pria) dankesatuan organ-organ sebagai wanita (jika ia seorang wanita) dan menggunakannyasecara efektif sesuai dengan kodratnya masing-masing.4.Keinginan menerima dan mencapai tingkah laku sosial tertentu yang bertanggung jawab di tengah-tengah masyarakatnya.5.Mencapai kemerdekaan/kebebasan emosional dari orang tua dan orang-orangdewasa lainnya dan mulai menjadi seorang “person” (menjadi dirinya sendiri).6.Mempersiapkan diri untuk mencapai karier (jabatan dan profesi) tertentu dalam bidang kehidupan ekonomi.7.Mempersiapkan diri untuk memasuki dunia perkawinan (rumah tangga) dankehidupan berkeluarga yakni sebagai suami (ayah) dan istri (ibu).8.Memperoleh seperangkat nilai dan system etika sebagai pedoman bertingkah lakudan mengembangkan ideologi untuk keperluan kehidupannya.Piaget dan Kohlberg menekankan bahwa pemikiran moral seorang anak, terutamaditentukan oleh kematangan kapasitas kognitifnya. Sedangkan di sisi lain, lingkungansosial merupakan pemasok materi mentah yang akan diolah oleh ranah kognitif anatersebut secara aktif. Dalam interaksi sosial dengan teman-teman sepermainan sebagaicontoh, terdapat dorongan sosial yang menantang anak tersebut untuk mengubah orientasimoralnya.Dalam tahap perkembangan kognitif formal-operasional, anak yang sudahmenjelang atau sudah menginjak masa remaja, yakni usia 11 tahun sampai dengan 15tahun, akan dapat mengatasi masalah keterbatasan pemikiran konkret-operasional. Dalam perkembangan kognitif tahap akhir ini seorang remaja telah memiliki kemampuanmengkoordinasikan baik secara simultan (serentak) maupun berurutan dua ragamkemampuan kognitif, yakni kapasitas menggunakan hipotesis dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Dengan kapasitas menggunakan hipotesis (anggapan dasar),seorang remaja akan mampu berfikir hipotesis, yakni berfikir mengenai sesuatu khususnyadalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan denganlingkungan yang ia respon.Dua macam kapasitas kognitif yang sangat berpengaruh terhadap kualitas skemakognitif itu tentu telah dimiliki pula oleh orang-orang dewasa. Oleh karenanya, seorangremaja pelajar yang telah berhasil menempuh proses perkembangan formal-operasionalsecara kognitif dapat dianggap telah mulai dewasa. Selanjutnya, seorang remaja pelajar 

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Amat Nainggolan liked this
Annas Fauzi liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->